
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebelumnya..
Angga, Nisa dan Victor pun hanya menggelengkan kepala mereka lalu mulai kembali bercakap-cakap. Mengabaikan Vanya yang masih saja merasa sedikit bingung.
Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun memutuskan untuk kembali ke aula.
Namun, ketika mereka hendak beranjak, Haidar segera menahan tangan Vanya.
*****
"Lu bertiga duluan aja, nanti Vanya nyusul bareng gua.." Ucap Haidar.
Mereka bertiga pun menganggukkan kepala tanpa bertanya apa pun.
Setelah 3 temannya pergi, Haidar segera menuntun Vanya agar mengikutinya.
Vanya pun hanya diam dan mengikuti kemana Haidar akan membawanya. Gadis itu lantas menyunggingkan senyum simpulnya tat kala Haidar membawanya ke lapangan Basket.
"Lu ngapain bawa gua keisini?" Vanya bertanya setelah mereka memasuki lapangan basket.
Haidar melirik Vanya sekilas. "Ngajakin lu main basket.."
Pria itu lalu melepaskan tangan Vanya yang ada di genggamannya kemudian berjalan ke arah penyimpanan bola basket.
Vanya kemudian bersedekap dada seraya memperhatikan apa yang akan di lakukan Haidar.
"Lu beneran ngajakin gua main basket?" Vanya bertanya saat Haidar menghampirinya dengan membawa sebuah bola basket.
Haidar mengedikkan bahunya. "Anggap aja buat ngebuktiin nilai tinggi lu di pelajaran basket.."
"Jadi ceritanya lu nantangin gua?" Vanya bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
Haidar pun menganggukkan kepalanya.
"Ok.. Tapi main beneran ya, jangan ngalah.. Ga lucu kan kalo pemain inti kalah sama pemain abal-abal.."
Ya, setelah berhasil memenangkan 1 pertandingan berkat Haidar yang mencetak angka terbanyak, pelatih team basket pun menunjuk Haidar untuk menjadi pemain inti. Karena sejatinya, di sekolahnya yang sebelumnya pun Haidar juga menjadi pemain inti di team basketnya.
Haidar seketika terkekeh kecil lalu bertanya. "Lu ga bawa HP kan?"
Vanya menggelengkan kepalanya. "Engga, HP gua di bawa Nisa." Gadis itu menjawab seraya menggulung lengan bajunya hingga sebatas siku.
Pict by : Pinterest
*Note : Gambar hanya sekedar ilustrasi.
Haidar lantas menatap penampilan Vanya untuk beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan hoodie yang di pakainya kemudian melangkah menghampiri Vanya.
"E, eh.. Ngapain??" Vanya bertanya tat kala haidar melingkarkan hoodie itu ke pinggangnya.
"Biar gua bisa fokus." Haidar menjawab seraya mengikat hooide itu agar terpasang di pinggang Vanya.
"Tcih.." Vanya pun hanya menanggapinya dengan berdecih kecil.
Setelahnya, mereka berdiri berhadapan di tengah lapangan dengan sebuah bola basket yang di apit lengan kiri Haidar.
"Main doang kan?" Vanya bertanya saat Haidar mengeluarkan sebuah koin.
Haidar menaikkan sebelah alisnya. "Mau taruhan?"
__ADS_1
"Taruhannya?"
"Kalo gua menang, lu jadi pacar gua. Kalo lu yang menang, gua jadi pacar lu.."
Vanya seketika memutar bola matanya malas. "Mending ga usah taruhan.."
Haidar terkekeh kecil. "Ok, ga usah taruhan.. So, mau angka atau gambar?"
"Angka.."
Haidar lantas melempar koin itu ke atas kemudian menangkapnya kembali.
"Cewek emang selalu menang.." Ucap Haidar seraya menyerahkan bola basket pada Vanya tat kala koin itu menunjukkan angka.
Vanya seketika terkekeh kecil lalu bertanya. "Ngitung poinnya gimana?"
"Sesuai berapa kali masuknya bola aja, biar gampang."
"Waktunya?"
Haidar kemudian melihat jam besar yang terpasang di atas pintu seraya berkata."45 menit dari sekarang, nanti kita udahan pas jarum panjangnya nunjuk angka 12."
"Ok.." Sahut Vanya lalu mulai mendribble bola.
Mereka pun kini mulai bermain dengan serius. Di awali dengan Haidar yang mendapatkan 1 poin di menit ke 7 setelah berhasil merebut bola dari Vanya. Di susul oleh Vanya yang juga mendapatkan 1 poin di menit 13 setelah dengan susah payah merebut bola itu dari Haidar.
Mereka terus bermain dengan sangat sengit hingga kini poin mereka seri dengan angka 6-6.
"2 Menit lagi Va..." Haidar berkata seraya menyunggingkan senyum kecilnya karena kini bola berada di tangannya.
Vanya lantas melirik pada jam dinding.
Yang mana, hal itu di manfaatkan oleh Haidar untuk melewati Vanya. Pria itu lalu mendribble bola itu sejenak sebelum akhirnya memasukan bola itu ke dalam ring dengan teknik lay-up.
Vanya yang melihat itu pun seketika berdecak kesal. Gadis itu lantas memilih untuk duduk guna meluruskannya kakinya yang terasa lemas seraya mulai mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Hmm.. Percaya deh yang udah jadi pemain inti." Gadis itu menjawab dengan nafas yang masih sedikit tersengal-sengal.
Haidar seketika tertawa renyah. "Capek?" Pria itu bertanya seraya memainkan bola basket yang ada di tangannya.
"Hmmm.." Vanya menganggukkan kepalanya. "Emang lu ga capek?" Gadis itu bertanya dengan sedikit heran karena nafas Haidar yang masih sangat teratur.
"Lumayan.." Sahut Haidar kemudian menggelindingkan bola itu ke sembarang arah.
Lalu tiba-tiba.. "E, eh, gua lupa.. Gua dudukin hoodie lu.." Vanya berkata dengan sedikit panik seraya hendak beranjak dari duduknya.
Namun, haidar segera menahan Vanya agar tetap dalam posisinya. "Udah ga papa, di pake alas duduk aja. Lagian di pake juga kan buat di kotorin.."
"Sorry ya, gua beneran lupa.. Entar gua balikin kalo udah gua cuci.." Vanya berkata dengan sedikit tidak enak hati.
Haidar pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Setelah melewati keheningan untuk beberapa saat, Haidar lantas menoleh pada Vanya yang hanya terdiam dengan pandangan matanya yang fokus menatap ke arah pintu lapangan basket yang tertutup.
"Va.." Ucap Haidar kemudian.
"Hm.." Vanya menyahut tanpa mengalihkan pandangannya.
"Gua boleh nanya buat yang terakhir kalinya ga sebelum kita liburan semester?"
"Boleh.."
Haidar terdiam sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Lu mau jadi pacar gua ga?"
Vanya menyunggingkan senyum kecilnya lalu menoleh pada Haidar sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya tanpa ragu.
Yang mana, hal itu seketika membuat Haidar mengerjapkan matanya. Karena sungguh, Haidar merasa sangat terkejut atas tanggapan Vanya yang benar-benar di luar perkiraannya.
__ADS_1
"Beneran?" Haidar bertanya dengan di penuhi rasa tidak percaya.
Vanya kembali menganggukkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya ke depan.
"Va, lu beneran mau jadi pacar gua?" Haidar kembali bertanya karena masih merasa tidak percaya.
Vanya mengangkat bahunya acuh kemudian beranjak dari duduknya. Mengabaikan Haidar yang terus saja menatapnya hingga membuat kepala pria itu sedikit mendongak.
"Va.. Lu beneran mau jadi pacar gua kan?" Haidar kembali mengulangi pertanyaannya karena Vanya tidak kunjung memberikan tanggapan.
"Iya, gua mau.." Sahut Vanya dengan acuh tak acuh seraya hendak berlalu pergi dari sana.
Haidar yang melihat itu pun segera beranjak dari duduknya kemudian menarik Vanya masuk ke dalam pelukannya.
"Gua meluk lu bentar ga papa kan?" Haidar bertanya cepat untuk mengantisipasi kalau saja Vanya menolak pelukannya.
Namun, alih-alih menolak, tangan Vanya justru terangkat untuk membalas pelukan Haidar.
Yang mana, hal itu seketika membuat Haidar mengembangkan senyum bahagianya.
"Va.." Ucap Haidar seraya mengelus kepala Vanya dengan lembut.
"Hmm.."
"Kayaknya gua butuh dokter jantung.."
"Kenapa?" Vanya bertanya dengan aslinya yang sedikit menukik.
"Jantung gua rasanya kayak mau pecah saking bahagianya.."
Vanya seketika terkekeh geli lalu memukul punggung Haidar main-main. "Ngaco lu.."
"Seriusan Va.. Lu denger kan bunyinya, dag dug dag dug dag dug.. Cepet banget.."
Gadis itu lagi-lagi terkekeh geli. "Iya iya gua percaya.. Udah ah ayok, nanti Nisa nyariin.."
Haidar kemudian melepaskan pelukannya dengan sedikit enggan.
"Kalo gitu, gue boleh nyium lu ga?"
Vanya menggelengkan kepalanya kemudian mulai melangkah pergi dari sana.
"Yaaaah.. Vaaa.. Dikit aja.." Ucap Haidar seraya menyusul Vanya.
"Vaaaaa...."
Vanya lantas menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Haidar.
Haidar pun ikut menghentikan langkahnya lalu tersenyum canggung saat Vanya menatapnya dengan sangat tajam. Pria itu merasa sedikit was-was ketika Vanya berjalan cepat ke arahnya, pria itu lantas menyiapkan diri kalau-kalau Vanya akan marah kepadanya.
Namun, Haidar lagi-lagi di buat terkejut ketika Vanya justru menarik dasinya untuk mengecup bibirnya selama beberapa detik.
Vanya kemudian melepaskan dasi Haidar lalu membalikan tubuhnya. "Udah ayok, nanti Nisa ngamuk kalo di tinggal kelamaan." Gadis itu berkata dengan acuh tak acuh sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana.
Meninggalkan Haidar yang masih tak bergeming dari rasa terkejutnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..