Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Vanya x Winda (Perpustakaan Umum)


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Nih kak.."


Winda menyerahkan lembaran soal bahasa inggris yang sudah dia jawab semuanya kepada Vanya.


"Udah?" Vanya menerima lembaran kertas itu seraya melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya. "Kok tumben cepet banget.."


"Kan belajar terus sama kakak.." Winda menampilkan senyumnya. "Jadinya tambah cepet deh jawab soal-soal yang di kasih sama kakak.."


Mendengar itu, lantas membuat Vanya menyunggingkan senyum kecilnya. Gadis itu lalu segera memeriksa jawaban yang di tuliskan oleh Winda di atas lembar kertas berisi soal yang sebelumnya Vanya buat.


Ya, saat ini Vanya sedang melakukan pertemuan pembelajaran dengan Winda di perpustakaan umum. Vanya sengaja meminta Winda untuk melakukan setiap pertemuan dengannya di perpustakaan umum.


Karena selain letak perpustakaan umum yang berada di tengah-tengah antara kosnya dan rumah Winda. Hal itu juga Vanya lakukan agar Winda lebih mudah untuk mencari kunci jawaban dari berbagai buku yang ada di perpustakaan itu.


Karena soal yang Vanya berikan, tidak hanya seputar dasar bahasa inggris. Melainkan berupa sejarah dan berbagai hal yang lainnya dalam berupa bahasa inggris. Jadi, tugas yang Vanya berikan untuk Winda adalah menemukan jawaban itu dan merubahnya ke dalam bahasa inggris.


Sebenarnya, Vanya bisa saja meminta Winda untuk mencari jawabannya di internet. Namun, hal itu merupakan hal yang terlalu mudah untuk di lakukan.


Yang Vanya inginkan dari Winda adalah bukan hanya sekedar mampu mengerti tentang apa yang Vanya ajarkan. Namun, Vanya juga ingin Winda memahami setiap apa yang Vanya ajarkan kepadanya.


Vanya juga ingin Winda mengolah kemampuan bahasa inggrisnya secara mandiri, agar nantinya Winda tidak hanya menguasi apa yang sudah di ajarkan oleh Vanya.


Oleh sebab itu, Vanya meminta Winda untuk menemukan jawaban dari setiap soal yang dia berikan melalui berbagai buku yang ada di perpustakaan. Dengan begitu, Winda secara tidak langsung juga menambah pengetahuan hal yang lain selain dari dasar bahasa inggris.


Setelah memeriksa jawaban yang di tuliskan oleh Winda, Vanya kembali menyerahkan soal itu pada Winda. Gadis itu kemudian melanjutkan kembali bacaannya tentang sejarah Vatikan yang sebelumnya dia baca selama dia menunggu Winda menyelesaikan tugasnya.


Melihat masih ada beberapa nomor yang di lingkari dengan lingkaran merah, lantas membuat Winda menatap Vanya dengan sangat memelas. Karena lingkaran merah yang tertera di sana berarti jawaban yang Winda tuliskan adalah jawaban yang salah.


"Yaaaah, kaaak.. Kok masih ada beberapa soal yang di lingkarin sih.."


Mendengar keluhan Winda, seketika membuat Vanya meletakkan buku yang tengah dia pegang kemudian mengambil kembali soal bahasa inggris yang sudah di letakkan Winda di atas meja. Gadis itu lantas mengambil pena miliknya seraya membuka lembar soal halaman terakhir.


Winda lantas memperhatikan apa yang akan di katakan oleh Vanya.


"No 58, 59 sama 50.. Kamu jawabnya ngasal.. Jawaban kamu ga ada hubungannya sama pertanyaannya."

__ADS_1


Vanya menyunggingkan senyum tipisnya kemudian menatap Winda yang duduk di hadapannya itu dengan sedikit menyelidik.


Mendapat tatapan seperti itu dari Vanya, seketika saja membuat Winda menampilkan cengirannya.


"Hehe.. Aku rada males berdiri buat nyari bukunya.. Kakiku pegel banget gara-gara lari estafet pas pelajaran olahraga." Winda berkata seraya masih saja menampilkan cengirannya.


Mendengar alasan yang di katakan Winda, lantas membuat Vanya menghela nafas kemudian menampilkan senyum kecilnya.


"Yaudah kalo gitu.. Berhubung besok lusa udah ujian kenaikan kelas, terus hari ini juga hari terakhir kakak ngajarin kamu, jadi hari ini les nya cukup sampai di sini aja. Yang penting kamu udah paham dasar-dasar bahasa inggris, jadi kamu bisa belajar mandiri buat hal yang lainnya."


Mendengar apa yang di katakan Vanya, lantas membuat Winda mengembangkan senyum sumringahnya. "Beneran ga papa nih kak?"


Vanya menganggukkan kepalanya. "Kalo emang kamu ngerasa capek banget, kamu udah boleh pulang.. Toh kita udah belajar selama 1,5 jam. Jadi ga masalah kalo kamu mau pulang lebih awal.. Kamu juga bisa istirahat buat ujian kenaikan kelas besok lusa." Vanya lantas melanjutkan kembali bacaannya.


Namun, alih-alih membereskan alat-alat tulisnya, Winda justru menatap Vanya untuk beberapa saat dengan pandangan yang sulit di artikan.


Menyadari tatapan Winda, lantas membuat Vanya kembali menatap gadis itu.


"Ada apa? Kamu ga beresin alat-alat tulis kamu?" Vanya bertanya kemudian.


Winda menggelengkan kepalanya. "Ga papa sih kak.. Cuma, aku ga bisa pulang sekarang."


"Kenapa?"


"Tumben ga di jemput pak *Doyo?"


*Note : Supit pribadi Winda.


"Pak Doyo lagi pulang kampung."


Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Yaudah kalo gitu, beresin aja alat-alat tulis kamu. Terus nunggu papah kamu di sini sama kakak.. Kakak di sini masih sampe nanti jam 5 kok."


"Okay.." Ucap Winda cepat kemudian segera merapikan alat-alat tulisnya ke dalam tas.


Setelah selesai merapikan alat-alat tulisnya, Winda menatap Vanya dengan di penuhi rasa penasaran.


"Kak?" Ucap Winda.


"Hm??" Vanya menyahut tanpa mengalihkan matanya dari buku yang tengah dia baca.


"Ceritain tentang kakak dong.."

__ADS_1


Mendengar hal itu, seketika saja membuat Vanya menatap Winda dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Tentang kakak?"


"He, em.." Winda menganggukkan kepalanya. "Aku penasaran deh sama semuanya tentang kakak, kok kakak bisa mandiri kayak gini.. Udah gitu pinter banget lagi.."


Vanya seketika saja terkekeh kecil, dia kembali meletakkan buku bacaannya untuk yang kesekian kalinya. Gadis itu lantas bersedekap dada seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Apa yang harus kakak ceritain? Kayaknya ga ada yang perlu di ceritain deh.."


"Yaaaah.." Winda seketika mendesah kecewa. "Apa aja kek.. Tentang keluarga kakak gitu? Atau keseharian kakak gitu? Atau yang istimewa yang ada di diri kakak gitu?"


"Keluarga kakak baik-baik aja.. Keseharian kakak juga gitu-gitu aja.. Yang istimewa??" Vanya memicingkan mata seraya mengerutkan bibirnya seolah tengah berpikir, gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya.


"Ga ada yang istimewa juga.. Kakak ya kayak gini, biasa-biasa aja.." Vanya berkata kemudian menyunggingkan senyum simpulnya.


Winda sekita saja mencebikkan bibirnya. "Yaudah deh, ganti pertanyaannya.. Cita-cita kakak apa?"


"Hmmm.. Cita-cita ya.." Vanya kembali berpikir untuk sejenak. "Jadi orang sukses mungkin."


"Ck, itu mah udah jelas cita-cita semua orang kak.. Siapa sih yang ga mau jadi orang sukses.."


Vanya kembali terkekeh kecil. "Lagian nih ya.. Tumben kamu penasaran tentang kakak? Biasanya juga kita cuma belajar, terus habis itu pulang.."


"Ya ga papa sih.." Winda lantas menopang dagu menggunakan tangan kanannya dengan bertumpu pada meja. "Dari pada nungguin jemputan sambil ngelamun, mending ngobrol sama kakak.. Mau mainan sosmed, bosen, yang di liat cuma yang kayak gitu-gitu aja.. Mau main game, aku ga suka main game."


Mendengar apa yang di katakan Winda, lantas membuat Vanya menghela nafasnya untuk sejenak sebelum akhirnya berkata.


"Yaudah kalo gitu, mau ngobrolin apa?"


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2