
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat Haidar hampir sampai di rumah Nisa, pria itu sedikit memelankan laju mobilnya tat kala melihat sebuah mobil yang keluar dari gerbang rumah itu. Haidar lantas memusatkan perhatiannya pada kursi kemudi guna melihat orang yang mengemudikan mobil itu.
"Dia mau pergi kemana?" Haidar bergumam tat kala melihat orang yang mengemudikan mobil itu adalah Vanya.
Haidar merasa sedikit bingung karena Vanya terlihat tidak mengenakan pakaian kantornya. Pria itu pun memutuskan untuk mengikuti kemana Vanya akan pergi.
Beruntungnya, hari ini Haidar memutuskan untuk menggunakan mobil milik Andi. Di mana Vanya tidak mengenali mobil itu. Dan beruntungnya juga, kaca mobil milik Andi merupakan jenis kaca film. Jadi, sangat tidak memungkinkan untuk Vanya menyadari jikalau Haidar tengah mengikutinya.
Selama dalam perjalanan, Haidar mencoba untuk menghubungi Vanya. Namun sayangnya, gadis itu tetap mematikan ponselnya hingga membuat Haidar sama sekali tidak bisa menghubunginya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit lamanya, Haidar sedikit mengernyitkan dahinya tat kala Vanya memarkirkan mobilnya tepat di depan tempat pelatihan tarung bebas.
Haidar kini semakin mengernyitkan dahinya tat kala melihat interaksi Vanya dengan dengan seorang pria yang mengenakan pakaian security yang menjaga pintu tempat itu.
"Apa dia sering kesini ya? Kayaknya akrab banget sama satpamnya." Haidar bergumam seraya terus memperhatikan Vanya.
Setelah Vanya memasuki tempat itu, Haidar pun memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya. Pria itu berjalan menuju tempat itu dengan di penuhi rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Ada perlu apa ya mas?" Tanya sang security.
Haidar lantas melirik sekilas pada namtag yang ada di dada si security yang bertuliskan WAHYU.
"Gini pak, kalo misalkan saya mau liat-liat dulu ke dalem, boleh ga ya? Kalo cocok, saya mau daftarin adik saya ke sini." Haidar mencoba untuk memberikan alasan yang sedikit masuk di akal.
"Oooh.. Boleh-boleh mas.. Masuk aja ga papa, nanti masnya bisa ngobrol-ngobrol sama petugas yang ada di dalem." Wahyu pun menyahut dengan sangat ramah.
"Makasih pak.."
"Ya, silahkan.."
Haidar pun masuk ke dalam tanpa ragu. Dia merasa sedikit kagum pada tempat itu yang sangat luas dan juga sangat bersih. Di mana, tepat di tengah-tengah ruangan itu, terdapat sebuah ring yang mana Haidar sudah tau pasti jika ring itu merupakan arena untuk berduel.
Pict by : Pinterest
*Note : Anggap aja lagi banyak orang yang latihan ya wakk..
__ADS_1
Haidar juga sedikit mengagumi alat-alat untuk berlatih di tempat itu yang terbilang cukup lengkap. Pria itu lantas menggulirkan matanya kesetiap sudut untuk mencari keberadaan Vanya.
Namun sayangnya, yang Haidar bisa lihat hanyalah orang-orang asing yang tengah berlatih menggunakan berbagai alat. Saat Haidar hendak melangkahkan kakinya untuk masuk lebih ke dalam, ada seorang pria yang Haidar tebak jika pria itu berusia sekitar di atas 25th datang menghampirinya.
"Ada perlu apa ya mas?" Tanya pria itu.
"Saya mau liat-liat aja mas. Kalo cocok, saya mau daftarin adik saya di sini."
"Ooh.. Kenalin, saya Ayas, saya pelatih di sini." Ayas menyodorkan tangan kanannya, meminta Haidar untuk bersalaman dengannya.
Haidar pun menyalami Ayas. "Saya Haidar."
"Kalo gitu ayo saya temenin buat liat-liat, sekalian ngobrol-ngobrol. Siapa tau nanti masnya beneran cocok sama tempat ini."
Haidar pun menganggukkan kepalanya, menyetujui ajakan Ayas. Namun, saat mereka hendak melangkah, ada seorang pria lain yang datang menghampiri mereka. Pria itu terlihat berbisik pada Ayas yang hanya di tanggapi anggukan kepala oleh Ayas.
Setelah si pria pergi, Ayas pun menatap Haidar dengan sedikit tidak enak hati. "Gini mas, saya kebetulan ada urusan, kalo masnya liat-liat sendiri ga papa?"
"Ga papa mas." Sahut Haidar.
Tapi, saat Ayas hendak meninggalkan Haidar. Ayas menghentikan niatnya tat kala melihat Vanya yang baru saja keluar dari ruang ganti.
"Vaaa.. Vanya.." Ayas memanggil Vanya seraya melambaikan tangannya, meminta Vanya agar mendekat ke arah Haidar.
Sedangkan Vanya, dia yang belum menyadari keberadaan Haidar karena terhalang samsak tinju pun segera menghampiri Ayas. Namun, saat tinggal beberapa langkah lagi. Vanya seketika menghentikan langkahnya, dia merasa sangat terkejut karena melihat keberadaan Haidar.
Tapi di balik rasa terkejutnya, Vanya juga merasa sedikit bingung. Bagaimana bisa pria itu mengetahui keberadaannya?
Melihat Vanya yang terdiam, lantas membuat Ayas mengerutkan keningnya. "Heh, malah ngalamun, sini.."
Vanya segera menetralkan rasa terkejutnya itu kemudian kembali melangkah menghampiri Ayas dengan sedikit enggan.
"Ada apa mas?" Tanya Vanya kemudian.
"Jadi gini, ini mas Haidar mau liat-liat.. Katanya kalo cocok mau daftarin adiknya di sini."
Mendengar penjelasan dari Ayas, seketika membuat Vanya berdecih kecil. Bisa-bisanya pria itu menumbalkan almarhum adiknya hanya untuk di jadikan sebuah alasan.
"Bisa ya kamu temenin, mas ada kerjaan soalnya." Ayas kembali berkata tat kala Vanya tidak meresponnya.
Vanya pun akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pasrah.
Mendapat anggukan dari Vanya, seketika membuat Ayas mengembangkan senyumnya. Pria itu lantas menoleh pada Haidar. "Ini namanya Vanya, meskipun masih muda, tapi dia salah satu senior di sini. Jadi masnya bisa nanya apa aja ke Vanya. Kalo gitu, saya tinggal dulu ya."
__ADS_1
Haidar pun menganggukkan kepalanya.
Setelah Ayas berlalu pergi, Vanya segera menarik tangan Haidar agar mengikutinya. Gadis itu menarik Haidar menuju lantai atas tempat pelatihan itu.
Haidar pun hanya mengikuti langkah Vanya dengan seulas senyum tipis yang terus terpatri di wajahnya. Pria itu merasa sedikit lega karena rasa rindunya sudah sedikit terobati.
Saat mereka sampai di lantai atas, Haidar lagi-lagi di buat kagum akan kebersihan tempat itu. Di mana di lantai itu merupakan tempat makan atau bisa di bilang seperti kantin.
"Wuiih.. Sapa tuh Va?" Terdengar teriakan seorang gadis.
Haidar seketika menoleh pada asal suara, di mana di sudut ruangan itu ada seorang gadis berambut ikal yang tengah menatap ke arah mereka dengan di penuhi rasa penasaran.
"Cowok gua." Vanya menyahut tanpa menoleh pada gadis itu.
Haidar yang mendengar hal itu pun kembali menyunggingkan senyum tipisnya. Pria itu merasa sangat bahagia karena Vanya mengakui status mereka.
Saat Vanya dan Haidar sudah duduk di meja yang ada di dekat jendela, si gadis berambut ikal tadi pun segera menghampiri mereka dengan membawa kertas kecil dan bolpoin. Haidar kini bisa menebak jika gadis itu adalah salah satu pegawai di sini.
"Khem.. Lu hutang cerita ya ke gua.." Gadis itu berkata seraya menatap Vanya dengan tatapan jahilnya.
Vanya seketika memutar bola matanya malas.
Si gadis berambut ikal yang melihat hal itu pun menampilkan cengirannya. "Ok, ok.. Jadi, mau pesen apa?" Gadis itu bertanya seraya bersiap untuk mencatat pesanan.
"Udah ga usah di catet, bikinin minuman buat gua sama kopi item 1."
"Ok, di tunggu 5 menit ya.." Gadis itu pun berlalu pergi dari sana.
Vanya lantas menatap Haidar untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata. "Jelasin apa ya perlu lu jelasin.."
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1