
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ke esokan harinya..
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya, Vanya lantas menghampiri ruangan atasannya yang bernama Pak Tomi. Sesampainya di depan pintu, gadis itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan sang atasan.
Tok.. Tok.. Tok..
"Permisi pak.. Ini saya Vanya.. Saya boleh masuk?" Ucap Vanya.
Lalu terdengar sahutan dari dalam. "Ah ya, sini masuk aja.."
"Permisi pak.." Ucap Vanya seraya masuk ke dalam ruangan.
"Ya, duduk.." Sahut Tomi.
Vanya pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Tomi dengan meja kerja pria itu sebagai pembatas di antara mereka.
"Gimana, gimana?? Ada apa?" Tanya Tomi.
"Begini pak, saya tadi mau ngambil job freelance yang bapak tawarkan tempo hari. Tapi Kak Wulan nyuruh saya buat minta langsung ke bapak, soalnya Kak Wulan ga nerima amanat apa-apa dari bapak katanya.." Tutur Vanya.
"Oooh..." Tomi menganggukkan kepalanya. "Iya, kemaren kan saya bilang sama kamu buat ngambil kerjaannya ke Wulan ya.. Cuma saya malah lupa ga ngasih tugasnya ke Wulan.."
Tomi lalu mengeluarkan sebuah flashdisk dari dalam laci mejanya kemudian meletakkan flashdisk itu ke hadapan Vanya. "Itu ada 4 design banner yang harus kamu kerjain. Kira-kira kamu bisa nyeleseinnya dalam waktu 2 minggu ga?"
"Bisa pak.." Vanya menjawab seraya mengambil flashdisk itu.
"Yaudah, kalo gitu nanti buat detail yang lain-lainnya saya kirim lewat email ya.." Ucap Tomi.
"Baik pak, terima kasih.." Ucap Vanya lalu beranjak dari duduknya kemudian sedikit menundukkan kepalanya sebelum akhirnya berlalu pergi dari.
Saat Vanya hendak kembali masuk ke dalam ruangannya, gadis itu harus menghentikan langkahnya tat kala ada salah seorang pria yang juga merupakan salah satu murid magang dari divisi yang berbeda datang menghampirinya.
"Va.." Ucap Rayan.
__ADS_1
Vanya pun menoleh pada Rayan dengan tatapan penuh tanda tanya. "Ada apa?"
"Bisa bantuin gua sebentar ga?"
"Bantuin apa??"
"Gua di suruh ngambil kertas poster di gudang, kalo ngambil sendiri susah bawanya. Udah minta tolong sama yang lain, tp yang lain pada sibuk semua." Rayan berkata dengan wajah yang sedikit tidak enak hati.
Vanya yang mendengar itu pun terlihat sedikit menimang hal itu. Karena, untuk apa Rayan di suruh mengambil kertas poster dalam jumlah banyak? Bukan kah beberapa divisi sedang mengikuti acara tahunan yang di adakan oleh kantor. Di tambah lagi, bagian percetakan juga hari ini sedang di tutup.
Namun, Vanya segera menghilangkan pemikirannya itu kemudian menganggukkan kepalanya. Karena mungkin saja divisi bagian Rayan memang sedang membutuhkan hal itu.
"Yaudah ayok.." Gadis itu menyetujuinya tanpa menaruh kerucigaan apapun.
Mereka pun segera berjalan ke gudang tempat penyimpanan ATK tanpa tau jika sedari tadi Haidar tengah memperhatikan mereka.
*****
Sesampainya di gudang, Vanya masuk terlebih dahulu kemudian menghampiri tumpukkan kotak yang berisi kertas HVS.
"Butuh berapa banyak kertasnya?" Vanya bertanya seraya mengeluarkan beberapa gulungan kertas poster.
Namun, Vanya mengerutkan keningnya karena Rayan tidak juga menjawab pertanyaannya. Saat gadis itu membalikkan tubuhnya, dia sedikit terkejut ketika melihat Rayan justru tengah bersandar pada pintu dengan menghisap sebatang rokok.
Rayan yang mendengar pertanyaan itu pun seketika terkekeh kecil kemudian menatap Vanya dengan sangat tajam. "Lu tu polos atau bodoh Va.. Bisa-bisanya gampang banget gua kibulin.." Pria itu berkata kemudian kembali menghisap rokoknya.
"Gua ga ngerti maksud lu.."
Rayan pun menghisap rokoknya untuk yang terakhir kalinya, lalu menjatuhkan rokok itu ke lantai kemudian mematikan rokok itu dengan menginjaknua.
"Lu tau kan gua suka sama lu!! Tapi kenapa lu mesti jual mahal banget ke gua!! Haaaa!!" Rayan berkata dengan sangat tajam seraya berjalan menghampiri Vanya dengan perlahan.
Ya, sejak awal mereka masuk untuk melakukan PKL, Rayan tertarik pada Vanya. Berbagai cara dia lakukan untuk memdekati Vanya. Bahkan, tidak hanya 1 atau 2x Rayan mengatakan perasaannya pada Vanya.
Namun, gadis itu selalu saja menolaknya dengan menggunakan sebuah senyuman kecil yang membuat Rayan sedikit merasa emosi. Apa lagi dengan tempramental Rayan yang terbilang buruk. Pria itu merasa jika Vanya selama ini benar-benar sangat merendahkannya karena gadis itu selalu saja membuang pandangannya saat bersitatap dengannya.
Jadi, ketika Rayan tau jika sebagian besar karyawan yang bekerja di sini akan mengikuti acara tahunan yang di adakan kantor. Rayan memanfaatkan kesempatan itu untuk membalaskan sakit hatinya kepada Vanya.
Rayan tidak peduli tentang konsekuensi apa yang akan di hadapinya nanti, yang terpenting dia bisa memberikan pelajaran kepada Vanya atas rasa sakit hatinya akibat penolakan terang-terangan yang di lakukan oleh gadis itu.
__ADS_1
Vanya yang merasa sedikit was-was pun segera menyanggah perkataan Rayan.."Gini.. Gua ga ada maksud buat jual mahal sama lu Yan.. Cuma emang gua bisa deket sama lu.." Gadis itu berkata seraya memundurkan langkahnya hingga punggungnya terantuk lemari penyimpanan.
Yang mana, hal itu seketika di manfaatkan Rayan untuk mengungkung Vanya, kemudian menangkup pipi kiri gadis itu menggunakan tangan kanannya.
"Kenapa?? Apa karna gua jelek?? Apa karna gua ga tajir?? Hmm... Sampe-sampe lu terus-terusan buang muka kalo ga sengaja tatapan sama gua!! Apa gua sehina itu di mata lu??" Rayan berkata dengan suara yang sangat mengintimidasi dan di sertai kilatan emosi yang terpancar dari matanya.
Vanya yang melihat hal itu pun berusaha membalas perkataan Rayan dengan sangat tenang. "Yan, gua ga ada maksud buat kaya gitu.. Kita bisa bicarain hal ini baik-baik.. Engga gini caranya, ok.. Kalo emang gua salah, gua minta maaf.."
"Maaf lu bilang?? Permintaan maaf lu udah telat!!" Pria itu kini mulai mengelus pipi Vanya menggunakan ibu jarinya.
Vanya yang mendapatkan perlakuan itu pun hanya bisa menahan nafasnya kemudian memalingkan wajahnya.
Yang mana, hal itu seketika membut emosi Rayan semakin meluap-luap. "Kenapa?? Lu ga suka diginiin? Ga usah sok suci deh.. Dengan tampilan lu yang kaya gini.. Gua yakin kalo lu udah di jebol.. Jadi, gimana kalo kita ngelakuinnya di sini, hmm? Mumpung lagi sepi.." Pria itu berkata seraya mulai mengelus lengan Vanya.
"Ga usah gila lu ya!!" Vanya sedikit berteriak seraya mendorong tubuh Rayan hingga pria itu sedikit bergeser dari tempatnya.
Hal itu pun di manfaatkan Vanya untuk kabur dari tempat itu. Namun, Vanya seketika merasa panik tat kala pintu gudang itu terkunci rapat. Gadis itu lantas menatap Rayan dengan sangat tajam.
"Yan.. Ini ga lucu Yan.. Lu jangan main-main sama gua ya!!" Vanya berkata seraya menunjuk Rayan dengan penuh rasa emosi.
Rayan pun hanya menanggapinya dengan terkekeh kecil. "Lu ga akan bisa keluar.." Pria itu berkata seraya meletakkan kunci itu di atas lemari yang tidak akan bisa di jangkau oleh Vanya.
Vanya yang melihat hal itu pun kini semakin merasa panik. "Buka pintunya, atau gua bakalan teriak!!" Gadis itu berkata dengan suara yang sedikit bergetar.
"Coba aja teriak.. Ga bakalan ada yang denger, dan ga bakalan ada yang nolongin elu!!" Rayan berkata dengan acuh tak acuh seraya berjalan mendekati Vanya.
Vanya yang tidak memiliki pilihan lain pun akhirnya memilih untuk berteriak.
Namun, teriakannya harus teredam saat Rayan membekap mulutnya dengan sangat erat.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..