Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Memaafkan?


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kak, kak, tunggu.." Winda berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah Vanya.


"Kak.." Ucap Winda saat dirinya sudah berjalan di samping Vanya.


Vanya pun menoleh sekilas pada Winda.


"Sepulang kakak kerja, aku bisa minta waktunya sebentar ga? Ada yang mau ak.."


Namun, belum sempat Winda menyelesaikan kalimatnya, Vanya dengan cepat segera memotong perkataan Winda.


"Kalo mau bahas apa yang lu lakuin waktu itu, mending ga usah. Gua udah ngelupain hal itu." Vanya berkata dengan ekspresi datarnya.


"Aku cuma mau minta maaf kak.. Aku bener-bener nyesel banget udah ngelakuin hal utu." Winda berkata lirih dengan suara yang sedikit bergetar.


Mendengar hal itu, lantas membuat Vanya menghentikan langkahnya. Begitu pula dengan Winda, gadis itu ikut menghentikan langkahnya kemudian menghadap ke arah Vanya.


Vanya menghela nafasnya kemudian menghadap ke arah Winda.


"Kalo lu emang nyesel sama apa yang ku lakuin, rubah sikap licik lu itu. Berubah jadi lebih baik lagi. Jangan sampe lu nyakitin orang lain lagi, cukup gua yang ngerasin dampak dari apa yang udah lu lakuin." Tutur Vanya.


Winda menundukkan kepalanya dalam-dalam, gadis itu perlahan menganggukan kepalanya.


"Maaf kak.. Aku janji ga akan kayak gitu lagi.." Lirih Winda.


"Jangan janji sama gua, janji sama diri lu sendiri!" Vanya menekankan kalimatnya.


Winda kembali menganggukkan kepalanya, gadis itu mengangkat wajahnya untuk menatap Vanya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Tapi kak, aku bener-bener pengen minta maaf sama kakak.."


Vanya menghela nafasnya kemudian berkata. "Gua emang agak susah buat maafin lu, tapi gua udah ngelupain apa yang lu lakuin ke gua. Cukup bersikap kayak biasanya."


"Kakak ga mau nanya kenapa aku ngelakuin hal itu?"


Vanya menggelengkan kepalanya. "Gua udah tau.."


Winda seketika saja mengerjapkan matanya. "Kakak tau?"


Vanya kembali menganggukkan kepalanya. Karena ya, dia sudah tau semuanya. Dia bisa mengetahui hal itu karena dia tidak sengaja mendengar percakapan antara Haidar dan Nisa. Jadi, Vanya sudah mengetahui alasan Winda melakukan hal itu padanya.

__ADS_1


"Kakak ga marah?" Tanya Winda.


"Gua marah.. Tapi gua bisa memaklumi hal itu karna lu ga tau apa-apa. Tapi tolong, lain kali, kalo lu belum memastikan semuanya dengan benar. Jangan pernah ngelakuin hal bodoh kayak gitu lagi. Lu tau kan kalo perbuatan lu itu udah masa depannya orang? Dan kemungkinan terburuk dari apa yang lu lakuin itu adalah kematian karena kejadian kayak gitu bisa aja ngerusak mental seseorang. Jadi stop main-main sama mental dan nyawa seseorang." Tutur Vanya.


Meskipun Vanya berbicara tanpa menggunakan emosi, tapi percayalah, penuturan Vanya benar-benar mampu membuat mental Winda jatuh seketika. Winda benar-benar semakin jatuh terpuruk pada rasa penyesalan yang dia alami.


Winda lagi-lagi menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Maaf.." Hanya itu yang bisa Winda katakan. Dia sungguh tidak tau lagi harus mengatakan apa selain dari kata maaf. Tangan gadis itu terangkat untuk mengelap sudut matanya yang mengeluarkan air mata.


Melihat Lidia tengah berjalan ke arah mereka, lantas membuat Vanya berkata. "Udah, lupain aja semuanya. Jangan terpuruk sama rasa bersalah lu. Yang penting lu udah nyadarin kesalahan yang udah lu lakuin."


Winda menganggukkan kepalanya.


"Kalian ngapain di sini?" Tanya Lidia.


"Nungguin lu kak.." Sahut Vanya cepat.


"Ci elah pada nungguin gua.." Lidia menatap Vanya dengan tatapan mengejek.


Vanya yang melihat hal itu pun hanya bisa memutar bola matanya malas. Gadis itu lantas merangkul bahu Winda kemudian berlalu pergi dari sana.


Vanya berusaha agar Lidia tidak menyadari jika mata Winda terlihat memerah akibat sempat mengeluarkan air mata.


"Hish.. Sukanya gitu dia mah.. Ninggalin.." Lidia bergumam dengan sedikit bersungut-sungut seraya mengejar langkah Vanya dan Winda.


Ke esokan harinya...


Sejenak, Winda menatap bingkisan yang di bawanya dari rumah kemudian melirik Vanya dengan perasaan yang sedikit bimbang.


Winda berencana memberikan bingkisan itu untuk Vanya. Meskipun Vanya berkata padanya untuk bersikap seperti biasanya, namun percayalah, Winda benar-benar masih merasa sangat canggung. Terlebih lagi, belum ada kata maaf yang benar-benar di ucapkan oleh Vanya.


Setelah mengumpulkan tekadnya, Winda pun akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri Vanya dengan membawa bingkisan itu. Dan kebetulan, hari masih terlalu pagi, hanya ada Winda dan Vanya yang ada di dalam ruangan itu. Jadi, setidaknya Winda bisa lebih leluasa untuk memberikan bingkisan itu pada Vanya.


"Kak?" Ucap Winda.


"Hmm?" Vanya menoleh pada Winda.


Winda meletakkan bingkisan itu di atas meja. "Kemaren mamahku baru aja pulang dari jepang terus bawa beberapa oleh-oleh makanan dari sana, jadi aku bawain beberapa camilan ini buat kakak."


Melihat Vanya yang hanya menatapnya, Winda lantas kembali berkata. "Tenang aja, ini masih di segel semua kok.. Aku ga ngasih yang aneh-aneh kok.. Aku kan udah janji buat ga ngul.."


"Makasih.." Ucap Vanya cepat kemudian meraih bingkisan itu untuk dia simpan di dalam lemari mejanya.

__ADS_1


Yang mana, hal itu seketika saja membuat Winda mengulum senyumnya. "Yaudah, kalo gitu aku balik ke meja aku lagi ya kak.. Maaf kalo aku ngasihnya cuma dikit.."


Vanya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian menganggukkan kepalanya.


Winda lantas segera kembali menuju meja kerjanya dengan perasaan yang bahagia.


Namun, baru 2 langkah dia berjalan, Vanya sudah memanggil namanya.


"Win.." Ucap Vanya.


Winda pun menghentikan langkahnya kemudian kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Vanya.


"Ya kak?" Tanya Winda.


"Aku sebenernya udah maafin kamu dari semenjak aku tau alesan kenapa kamu ngelakuin hal itu ke aku.. Cuma, aku masih agak marah sama kamu.. Tapi, itu bukan berarti aku ngelarang kamu buat bersikap kayak biasanya ke aku. Aku cuma butuh waktu buat akrab lagi sama kamu." Tutur Vanya.


Mendengar hal itu, sontak saja membuat mata Winda sedikit berkaca-kaca. "Kakak beneran udah maafin aku?" Gadis itu bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.


Vanya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian menganggukkan kepalanya.


"Makasih kak.." Ucap Winda.


Vanya kembali menganggukkan kepalanya.


"Aku bakalan janji sama diriku sendiri buat berubah jadi lebih baik lagi.." Tutur Winda.


Vanya kembali menyunggingkan senyum kecilnya kemudian berkata. "Yaudah, kalo gitu kamu balik ngerjain tugas kamu lagi.. Jangan terlalu terpuruk sama rasa bersalah kamu. Aku baik-baik aja kok.."


Winda menyunggingkan senyumnya. "Mmmm.." Gadis itu menganggukkan kepalanya kemudian segera kembali ke meja kerjanya dengan perasaan yang sangat bahagia.


Vanya yang melihat hal itu pun hanya bisa menyunggingkan senyum simpulnya. Karena ya, se marah apa pun Vanya pada Winda. Namun Vanya tetap berusaha memafkan perbuatan Winda karena gadis itu memang tidak tau apa-apa sebelumnya.


Terlebih lagi, memaafkan adalah jalan terbaik untuk dia kembali menjalani hidupnya dengan normal.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2