
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua bulan berlalu..
Di hari setelah sikap Bagas dan Ayu mulai berubah, di hari itu pula Vanya mulai melewati hari-harinya dengan sangat berat. Bukan lagi karena Bagas yang sering membentaknya, tapi juga karena Ayu yang mulai menunjukkan sikap aslinya.
Mulai dari Ayu yang sering membentak Vanya karena kesalahan kecil, menyuruh Vanya untuk mengerjakan ini dan itu, juga memfitnah Vanya dalam hal apapun, hingga membuat Bagas sering kali menghukum Vanya dengan tidak memberikan uang jajan.
Bahkan beberapa hari yang lalu, Ayu sengaja memecat Bi Asih dan menyuruh Vanya untuk mengerjakan semua pekerjaan Bi Asih. Parahnya, ketika Bagas bertanya mengenai hal itu, Ayu beralasan bahwa Bi Asih sendiri lah yang mengundurkan diri. Juga ketika Bagas mencarikan pengganti Bi Asih, Ayu sering menolaknya dengan alasan tidak cocok.
Padahal.. Pada Kenyataannya, Ayu sengaja memecat Bi Asih agar leluasa untuk menyiksa Vanya. Tidak hanya itu saja, Vanya sering kali mendapatkan hukuman dengan tidak di beri jatah makan malam. Hingga membuat Vanya tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar karena rasa lelah juga rasa lapar.
Begitulah kehidupan Vanya setelah kejadian itu, Waktunya ketika di rumah pun hanya Vanya habiskan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, lalu mengurung diri di kamar. Tak jarang Vanya mengabaikan rasa laparnya, hingga membuat badannya menjadi sedikit kurus.
Pernah satu kali Vanya bertanya kenapa Ayu tiba-tiba membencinya, alasannya sederhana.. Itu semua karena Vanya telah merebut semua perhatian Bagas dari Ayu, hingga membuat Ayu lambat laun mulai membenci Vanya.
Namun, selama Vanya tidak mendapatkan kekerasan fisik, Vanya hanya bisa pasrah dan mencoba untuk menerima semuanya dengan hati yang lapang. Karena Vanya sadar, dia tidak akan bisa melawan, yang dia bisa lakukan hanyalah mencoba bersabar dan terus berdoa.
Contohnya seperti hari ini, tepat di hari ulang tahun Vanya yang ke 11. Hari di mana seharusnya Vanya merasa bahagia, hari di mana seharusnya Vanya mendapatkan ucapan selamat. Vanya justru memulai hari itu dengan lesu juga dengan mata yang lebam.
Karena semalam, di saat Vanya meminta alat menggambar yang baru sebagai hadiah ulang tahun. Bukannya mendapatkan apa yang Vanya inginkan, gadis kecil itu justru kembali mendapatkan makian. Alasannya, dari pada membeli alat gambar yang baru, sebaiknya uang itu di simpan untuk Vanya masuk ke sekolah menengah pertama.
Dan ya, lagi dan lagi Vanya hanya bisa pasrah..
Vanya menghela nafasnya seraya melirik jam yang tertempel di dinding, lalu kembali menatap pantulan dirinya yang semakin kurus di depan cermin.. Setelah kembali menghela nafasnya, Vanya meraih tas nya lalu segera turun ke bawah dan berlalu pergi begitu saja, mengabaikan Bagas yang terus saja memanggilnya.
Karena semenjak Bagas mulai sering membentaknya, Vanya merasa enggan untuk sarapan bersama, hingga sering kali Vanya mengabaikan Bagas. Bahkan, Vanya lebih memilih berjalan kaki dari pada harus di antar oleh Bagas. Vanya juga lebih memilih memecahkan celengannya dari pada harus meminta uang saku kepada Bagas.
Tapi, untungnya Vanya memiliki Nisa dan Rima yang selalu siap menolongnya dalam hal apapun. Seperti sekarang ini, karena Vanya sudah terlalu sering telat sampai di sekolah karena berjalan kaki, membuat Nisa meminta Rima agar setiap pagi mau menunggu Vanya di persimpangan jalan dekat rumah Vanya.
Dan beruntungnya lagi, Rima menyetujui hal itu. Karena Rima juga sungguh merasa kasihan atas nasib buruk yang di terima gadis se usia anaknya itu. Rima hanya tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anaknya jika berada di posisi Vanya, oleh sebab itu Rima mau membantu Vanya dalam hal apapun. Karena bagaimana pun juga, Rima sudah menganggap Vanya seperti putrinya sendiri.
"Kamu udah sarapan belum?" Rima bertanya pada Vanya yang baru saja memasuki mobilnya.
__ADS_1
"Heleh.. Nisa yakin kalo Vanya belum makan dari semalem" sahut Nisa.
"Bener Va?" tanya Rima memastikan seraya mulai melajukan mobilnya.
Vanya pun hanya bisa mengusap tengkuknya canggung karena dia tidak tau harus menjawabnya seperti apa.
Rima yang mendapatkan tanggapan seperti itu pun hanya bisa menghela nafasnya, dia sungguh ingin menarik Vanya agar terbebas dari belenggu Bagas dan Ayu. Namun apa lah daya, dia sama sekali tidak memiliki hak untuk melakukan hal itu.
"Yaudah, kalo gitu nanti kamu sarapan bareng Nisa ya di sekolah. Tante udah bawain makanan buat kamu" ucap Rima.
"Makasih tante, maaf ngerepotin"
"Ga ngerepotin kok sayang, tante seneng bisa bantuin kamu.." ucap Rima seraya tersenyum lalu kembali berkata "Oh ya, itu di jok paling belakang ada kado buat kamu"
"Kado?? Buat Vanya tan??" Vanya bertanya dengan alis yang sedikit menukik.
Rima melirik Vanya sekilas lalu tersenyum "Iya, kado buat kamu.. Kata Nisa hari ini kamu ulang tahun.."
Nisa menoleh pada Vanya yang duduk di jok belakang lalu berkata "udah cepet ambil, itu kado spesial dari aku.. Tapi mamah yang beliin, hehe.."
Vanya pun segera meraih kado itu lalu membukanya, hingga tak terasa matanya mulai berkaca-kaca saat melihat isi kado itu.
Vanya menganggukkan kepalanya.
"Suka.. Suka banget.. Makasih banyak tante.. Makasih banyak Nis.." Vanya berkata seraya menghapus air matanya yang mulai mengalir.
Rima pun tersenyum lalu berkata "sama-sama sayang.. Giat belajar ya.."
"He em.. Sekali lagi makasih tante.."
"Udah, jangan nangis.. Nanti mata kamu tambah bengkak, sana kalian masuk kelas, udah sampe" ucap Rima.
Dua gadis kecil itu pun segera turun dari mobil dan berlalu menuju kelas mereka.
*****
Sepulang sekolah, Vanya hendak pulang dengan berjalan kaki, karena kebetulan Nisa sudah lebih dulu pulang akibat perutnya yang sakit. Namun, saat Vanya sampai di gerbang, dia di kagetkan oleh Bagas yang sudah datang menjemputnya.
__ADS_1
Mau tidak mau, Vanya akhirnya pulang bersama Bagas. Di sepanjang perjalanan, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut ayah dan anak itu. Mereka lebih memilih untuk fokus melihat jalanan yang lumayan penuh dengan kendaraan.
Hingga Bagas pun mengeluarkan suaranya
"Va.."
Tidak mendapatkan tanggapan dari putrinya, Bagas menepikan mobilnya lalu menatap Vanya yang sedang menatap jalanan lewat kaca jendela mobil.
"Va.." ucap Bagas sekali lagi.
"Va.. Papah minta maaf ya.. Akhir-akhir ini papah jadi kasar sama kamu, papah bener-bener minta maaf sama kamu, apa pun alasannya, papah udah salah sama kamu" ucap Bagas dengan sedikit terbata-bata.
Namun, Vanya masih enggan memberikan tanggapan. Jujur, bukan permintaan maaf dari Bagas yang sebenarnya Vanya harapkan.
"Vanya ga mau maafin papah ya? Padahal papah mau pamitan sama Vanya, papah habis nganterin kamu pulang mau langsung pergi keluar kota buat 4 hari" Bagas berkata dengan suara yang sedikit bergetar.
Vanya pun menghela nafasnya lalu menoleh pada Bagas.
"Ayo pulang pah, aku capek. Kalo emang papah mau keluar kota, papah hati-hati aja di jalan" ucap Vanya lalu kembali memalingkan wajahnya.
Bagas menatap Vanya lekat-lekat, dia sedikit terkejut karena Vanya mulai menyebut dirinya sendiri dengan (aku). Sekasar itu kah Bagas akhir-akhir ini hingga membuat Vanya mulai merubah cara berbicaranya?
"Vanya, papah.."
Belum sempat Bagas menyelesaikan ucapannya, Vanya sudah lebih dulu berkata
"Aku udah maafin papah, jadi sekarang mending kita pulang aja.. Aku capek banget pah"
Bagas pun hanya bisa menghela nafasnya, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan Vanya. Akhirnya, setelah kembali menghela nafasnya, Bagas segera melajukan mobilnya kembali.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..