
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rima yang baru saja masuk ke dalam rumah seketika merasa sangat senang karena melihat Vanya yang ada di rumahnya. Rima pun segera menghampiri Vanya dan Nisa yang tengah menonton acara di televisi.
"Duh, anak gadis satu ini.. Kamu kapan dateng, hm??" Rima berkata seraya merentangkan tangannya, meminta Vanya untuk masuk ke dalam pelukannya.
Vanya pun tersenyum kemudian menghampiri Rima yang berdiri di dekat sofa. "Tadi sore, Tan. Pulang kerja langsung ke sini." Gadis itu menjawab seraya masuk ke dalam pelukan hangat Rima.
"Kamu sibuk banget ya? Kok jarang banget main kesini.. Tante kangen banget loh sama kamu.." Rima berkata seraya mempererat pelukannya pada Vanya.
"Hehe.. Ya gitu tante, Vanya ngambil job freelance soalnya. Jadi banyak kerjaan." Vanya menjawab seraya merasakan betapa hangat dan menenangkannya pelukan yang Rima berikan.
Pelukan kasih sayang seorang ibu yang hanya bisa Vanya dapatkan dari Rima. Orang yang selama ini telah merawatnya dengan sangat tulus dan dengan penuh kasih sayang.
Rima menghela nafasnya kemudian melepaskan pelukannya. Wanita itu lantas memegang kedua bahu Vanya. "Kamu tu loh, jangan kerjaan terus yang di urusin. Urusin juga badan kamu!! Masa badan kamu sampe kurusan kaya gini." Wanita itu berkata seraya menelisik tubuh Vanya.
"Nih nih, pipi kamu aja sampe ga ada dagingnya kaya gini loh ah.." Rima kembali berkata seraya mencubit-cubit pelan pipi sebelah kiri Vanya.
Nisa yang melihat kelakuan konyol Rima pun seketika memutar bola matanya malas. "Maaaaah, lepasin Vanya nya ih, kasian.. Masa mamah dateng-dateng langsung di nindas Vanya kaya gitu. Mending mamah mandi deh, bau asemnya kecium sampe sini.." Gadis itu berkata seraya menutup hidungnya.
Yang mana hal itu seketika membuat Rima mencium bau badannya sendiri. "Hih, ngaco.. Mamah wangi gini kok di bilang bau asem."
Vanya yang melihat kelakuan ibu dan anak itu pun hanya bisa terkekeh geli.
"Yaudah kalo gitu, tante mandi dulu. Abis itu kita makan malem bareng ya, nanti tante masakin makanan kesukaan kamu." Rima mengusap kepala Vanya kemudian berlalu pergi dari sana.
Nisa yang melihat hal itu pun seketika mengeluarkan protesannya dengan sedikit berteriak. "Loh, loh maaaah.. Nisa ga di masakin makanan kesukaan Nisa gitu?"
"Ga, mamah bosen masakin kamu.." Rima membalas teriakan Nisa tanpa menghentikan langkahnya.
Vanya yang melihat hal itu pun lagi-lagi di buat terkekeh geli. Gadis itu lalu kembali duduk di sofa seraya menatap Nisa yang juga tengah menatapnya.
"Yang anak kandungnya tu sebenernya siapa sih!! Kok ya bisa-bisanya dia lebih mentingin elu, heran gua." Nisa menggerutu lalu mencebikkan bibirnya.
Vanya pun hanya menanggapi gerutuan Nisa dengan tawa renyahnya lalu memutuskan untuk kembali menonton televisi.
__ADS_1
Namun percayalah, di balik gerutuan Nisa yang terdengar sarkas itu, terselip perasaan lega di hatinya. Karena setidaknya, dia bisa melihat sedikit senyum bahagia yang terpancar di wajah Vanya.
Karena sungguh, Nisa benar-benar sudah menganggap Vanya sebagai saudar kandungnya sendiri. Jadi, di saat Vanya merasakan kesedihan, Nisa juga pasti akan merasakan kesedihan yang sama.
Nisa lantas menatap Vanya untuk beberapa saat kemudian mengembangkan senyum tipisnya. Gadis itu lalu menyandarkan kepalanya pada bahu kiri Vanya sebelum akhirnya kembali memfokuskan pandangannya pada layar televisi.
.....
Setelah mereka menyelesaikan makan malam, mereka lalu memutuskan menikmati pemandangan malam hari di rooftop, dengan di temani coklat hangat sebagai minuman untuk menghangatkan tubuh mereka.
Pict by : Pinterest
*Note: Anggap aja waktunya di malam hari ya wakk.. Ingat, gambar hanya sekedar ilustrasi.
"Gimana kerjaanmu Va? Aman?" Rima bertanya seraya menatap langit malam yang di hiasi beberapa Bintang.
Vanya sekilas mlirik Rima yang duduk di samping kanannya. "Aman kok tan."
"Ga ada masalah apa-apa kan?"
Namun, Vanya tidak segera menjawab pertanyaan Rima. Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kemudian menghela nafasnya.
"Baguslah kalo gitu, se engganya rasa khawatir tante sedikit berkurang." Rima berkata seraya tersenyum lega.
Vanya lalu menoleh untuk menatap Rima kemudian mengembangkan senyum tulusnya. "Makasih ya tan, udah selalu khawatir sama Vanya."
Rima pun membalas tatapan Vanya. "Sama-sama sayang.. Kamu kan juga anak tante. Kalo kamu ada masalah apa-apa, dateng langsung ke sini. Jangan di pendem sendiri, ya.. Meskipun tante ga bisa bantu, se engganya kamu bisa nenangin hati kamu di sini."
Vanya yang mendengar hal itu seketika membuat matanya sedikit berkaca-kaca. "Vanya sayang sama tante.." Gadis itu berkata seraya memeluk Rima dengan sangat erat.
"Tante juga sayang sama kamu." Rima menyahut seraya membalas pelukan Vanya.
Nisa yang sedari tadi hanya diam dan menyimak pun berdehem dengan cukup kuat.
"Ekheeem!!"
Rima lantas menoleh pada Nisa yang duduk di sebelah kanannya tanpa melepaskan pelukannya pada Vanya. "Eh, kamu dari tadi di sini ternyata?"
__ADS_1
Yang mana, hal itu seketika membuat Nisa mencebikkan bibirnya. "Nisa berasa jadi anak tiri!!" Gadis itu berkata dengan sedikit bersungut-sungut.
"Kok anak tiri sih? Kamu kan anak pungutnya mamah." Rima berkata dengan acuh tak acuh.
Nisa kini semakin mencebikkan bibirnya. "Mamaaaaaah.." Gadis itu merengek dengan sangat dramatis.
Vanya dan Rima pun seketika tertawa renyah.
"Ututututu, sini anak mamah sayang, hmm.." Rima menarik Nisa agar ikut memeluknya.
Nisa pun membalas pelukan Rima dengan sedikit enggan namun dengan senyum bahagia yang terukir di wajahnya.
"Haaaah.. Kalo gini kan berasa jadi keluarga lengkap yang bahagia." Rima berkata seraya menepuk-nepuk lembut bahu Vanya dan juga Nisa.
"Udah ah, jatuhnya kaya teletubbies." Nisa berkata seraya melepaskan pelukannya kemudian kembali memandang langit malam.
Vanya pun juga ikut melepaskan pelukannya lalu meneguk coklat hangatnya.
"Hih, kamu mah ga bisa nikmatin momen-momen romantis." Rima mengeluarkan protesannya seraya merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
Dan terjadi lagi lah perdebatan sengit antara ibu dan anak itu.
Vanya yang melihat hal itu pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi, di dalam hatinya, Vanya membenarkan perkataan Rima tentang menenangkan hatinya.
Karena ya, setelah Vanya berkumpul dengan Rima dan Nisa. Hal itu benar-benar bisa membuat hatinya merasa sedikit tenang.
Vanya lantas menghela nafasnya kemudian merebahkan punggungnya pada sandaran kursi. Vanya melirik sekilas pada Rima dan Nisa yang terus saja berdebat. Gadis itu lalu menyunggingkan senyum tipisnya kemudian menatap langit malam dengan tatapan sendu.
Tatapan penuh kerinduan akan kehadiran Nenek Indah yang mungkin saja sedang melihatnya dari atas sana.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..