
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rindu menyunggingkan senyumnya tat kala melihat Vino yang menuruni tangga. Namun, dia tiba-tiba saja mengernyitkan dahinya karena Vino berlalu tanpa ada niat untuk sarapan pagi bersama.
"Vin?" Ucap Rindu.
Vino menghentikan langkahnya kemudian menoleh pada Rindu yang tengah duduk di meja makan bersama dengan Tomi.
"Kamu ga sarapan dulu?" Tanya Rindu.
Vino menggelengkan kepalanya. "Keburu telat.."
"Paling juga ga sabar pengen ketemu Vanya." Sahut Tomi cepat.
Vino seketika saja memutar bola matanya.
Rindu pun mendelikkan matanya pada Tomi. "Udah, papah kamu ga usah di dengerin.. Hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut ngendarain mobilnya."
"Mmm.." Vino menganggukkan kepalanya kemudian kembali berlalu pergi dari sana.
"Vanya siapa pah?" Tanya Rindu.
"Cewek yang kerja di perusahaannya *Harun. Yang pernah papah ceritain ke mamah itu loh.." Jawab Tomi.
*Note: Harun adalah pemilik perusahaan Pt. Rumah Linux.
Rindu seketika saja ber 'Oh' ria.. "Oooh.. Cewek yang papah suruh buat bimbing Vino itu?"
Tomi menganggukkan kepalanya.
"Emang gimana sih pah orangnya? Kok kayaknya papah setuju banget kalo Vino deket sama dia. Malah kesannya kayak sengaja ngejodohin gitu." Rindu menatap Tomi dengan rasa ingin tahu yang amat besar.
"Cocok lah pokoknya kalo di sandingin sama Vino.."
"Se perfect itu ya?" Rindu kini merasa semakin penasaran.
"Mamah juga pasti suka deh kalo udah ketemu langsung sama orangnya. Jarang-jarang soalnya ada cewek yang punya kepribadian kayak Vanya."
Rindu menghela nafasnya karena Tomi membuat dirinya merasa semakin penasaran. "Mamah jadi tambah penasaran.."
"Kapan-kapan papah bawa mamah buat ketemu sama Vanya."
Rindu seketika saja menyunggingkan senyumnya. "Boleh tuh.."
"Yaudah kalo gitu, papah udah selesai.." Tomi lantas melirik ponselnya. "Ini dari tadi udah pada nyuruh papah buat on ZOOM.. Hari ini kan rapat penentuan resto baru kita yang di jepang."
Rindu menganggukkan kepalanya.
Tomi pun beranjak dari sana kemudian menuju ruang kerjanya.
.....
__ADS_1
Di sisi lain..
Sesampainya di kantor, setelah memarkirkan mobilnya. Vino segera masuk ke dalam kantor tempat di mana dia bekerja.
Saat Vino sudah memasuki ruangannya, dia menatap Vanya yang sudah sibuk dengan pekerjaannya. Vino merasa sedikit heran, jam berapa gadis itu tiba di kantor? Bukan kah ini masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas.
Merasakan dirinya yang tengah di tatap oleh seseorang, lantas membuat Vanya mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang tengah menatap ke arahnya.
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Vino segera mengalihkan tatapannya. Pria itu lantas segera menyalakan komputernya agar Vanya tidak curiga kalau dirinya lah yang sedari tadi menatap Vanya.
Vino kini merasa sedikit heran. Apakah dia menatap Vanya dengan terlalu intens hingga gadis itu menyadari kalau ada seseorang yang tengah menatapnya?
Vanya yang melihat hal itu pun hanya mengangkat bahunya acuh kemudian kembali memfokuskan diri untuk mengerjakan pekerjaannya.
Tanpa dia sadari, kalau Vino kini kembali menatap ke arahnya.
Lagi pula, Vino juga merasa heran pada dirinya sendiri. Kenapa beberapa hari terakhir ini dirinya sangat ingin menatap Vanya dengan berlama-lama. Apa kah Vanya memiliki sejenis magnet yang bisa menarik perhatiannya?
Namun, tatapannya itu harus kembali teralihkan tat kala seseorang memasuki ruangan itu.
Tidak ingin semakin larut pada bayang-bayang Vanya, Vino pun memilih untuk memfokuskan diri pada pekerjaannya.
Hingga saat Vino tengah mengoperasikan suatu aplikasi, dia merasa sedikit kesulitan karena lagi-lagi dia melakukan suatu kesalahan dalm mencantumkan kode.
Vino lantas melirik Vanya yang terlihat begitu fokus pada pekerjaannya. Dia merasa ragu, haruskan dia meminta bantuan Vanya? Dia tidak ingin terus menerus mengganggu pekerjaan Vanya. Namun, jika dirinya tidak bertanya, dia tidak akan berhasil mengoperasikan aplikasi itu.
Tidak ingin menganggu Vanya, Vino pun memilih untuk kembali mencobanya sendiri. Namun, setelah mencoba untuk ke sekian kalinya, hasilnya selalu saja gagal. Vino yang merasa sedikit frustasi pun mau tidak mau akhirnya memutuskan untuk mendekati Vanya guna meminta bantuan pada gadis itu.
"Va.." Ucap Vino.
"Ada yang ga ngerti lagi?" Tanya gadis itu.
Vino menganggukkan kepalanya.
Vanya pun beranjak dari kursinya.
Melihat hal itu, Vino lantas segera menuju kembali ke meja kerja. Namun, sebelum itu, Vino menarik kursi yang biasa di gunakan oleh Vanya ketika gadis itu mengajarinya.
Menyadari apa yang baru saja dia lakukan, seketika saja membuat Vino mengernyitkan dahinya. Untuk apa dia menarik kursi itu? Namun, Vino hanya menghela nafasnya karena dia sudah terlanjur menarik kursi itu untuk Vanya. Ah, entahlah.. Mungkin itu hanya insting alaminya saja karena Vanya terlalu sering mengajarinya.
Sedangkan Vanya, melihat Vino yang berinisiatif menarik kursi untuknya, seketika saja membuat gadis itu menaikkan sebelah alisnya. Apa pagi ini Vino salah menyantap makanan? Kenapa Vino tiba-tiba saja memiliki rasa inisiatif?
Namun, Vanya hanya mengangkat bahunya acuh. Karena dengan begitu, Vanya tidak harus mengeluarkan tenaganya untuk menarik kursi itu.
Vanya pun segera duduk di sebelah Vino, dia duduk di kursi yang sebelumnya di tarik oleh Vino.
"Yang mana yang ga ngerti?" Vanya bertanya kemudian.
Vino pun menunjuk bagian yang tidak di mengertinya menggunakan jari telunjuknya.
Vanya lantas meneliti setiap kode yang di cantumkan oleh Vino dengan sangat teliti. Hingga tanpa Vanya sadari, dahinya sedikit mengernyit karena terlalu serius dalam melihat setiap baris kode itu.
Yang mana, hal itu justru membuat Vino menyunggingkan senyum kecilnya. Dia merasa kalau Vanya terlihat semakin menggemaskan ketika dia tengah serius seperti ini. Belum lagi melihat mulut gadis itu yang terus bergerak akibat menggumamkan setiap kode. Membuat Vanya terlihat berkali-kali lipat lebih menggemaskan.
"Aaa.. Kodenya bener semua kok kak.." Vanya berkata seraya menoleh pada Vino.
__ADS_1
Vino seketika saja mengalihkan tatapannya dari wajah Vanya menuju ke layar komputer dengan sedikit gugup. Dia sedikit takut kalau Vanya sampai menyadari jika sedari tadi dirinya diam-diam memperhatikan Vanya.
"Khem." Vino berdehem kecil untuk menetralkan rasa gugupnya. "Tapi kok gagal?" Pria itu bertanya dengan suara baritone nya.
Karena pada dasarnya, suara Vino memang sudah seperti itu. Tanpa harus di rendahkan pun, suara Vino sudah terdengar sangat berat. Jika saja Vanya sama dengan gadis yang lainnya, Vanya mungkin saja sudah tergoda hanya dengan mendengar suara Vino.
"Soalnya di bagian ini harusnya kakak ngasih spasi dulu, baru ngelanjutin kodenya." Vanya menunjuk bagian yang harus di berikan spasi menggunakan cursor.
"Gini nih.. Tingal di tambahain spasi." Vanya menekan tombol spasi. "Terus enter." Vanya menekan tombol enter. "Jalan kan aplikasinya.." Vanya menoleh pada Vino.
Vino mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berani mengalihkan tatapannya dari layar komputer. Entahlah, Vino merasa sedikit gugup jika harus bertatapan dengan Vanya. Ah tidak, lebih tepatnya, Vino merasa tidak bisa mengendalikan dirinya jika dirinya harus bertatapan dengan Vanya.
Vanya pun menyunggingkan senyum kecilnya. "Ada lagi yang mau di tanyain?"
Vino menggelengkan kepalanya.
"Yaudah, kalo gitu gua balik ke meja." Ucap Vanya.
Vino mengangguk kecil.
Vanya lantas beranjak dari kursinya, saat dia hendak menarik kursi itu untuk dia kembalikan ke tempat semula. Vanya harus menghentikan niatnya tat kala Vino menyebut namanya.
"Va?" Ucap Vino.
"Hmm?" Vanya menoleh pada Vino yang kini menatapnya.
"Sepulang kerja, bisa temenin gua makan ga?" Vino bertanya tanpa ada keraguan sedikit pun.
Tapi percayalah, bahkan Vino saja sebenarnya tidak meyangka kalau ajakan itu bisa tercuap begitu saja dari mulutnya.
Mendengar hal itu, seketika saja membuat Vanya mengerjapkan matanya. Tapi sedetik kemudian, Vanya menyunggingkan senyum kecilnya.
"Maaf kak, ga bisa.. Kapan-kapan aja ya.." Gadis itu berkata kemudian berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu tanggapan dari Vino.
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Vino sedikit menjatuhkan rahangnya. Dia sedikit tidak menyangka kalau Vanya baru saja menolak ajakannya.
"Tcih! Baru kali ini gua di tolak sama cewek." Vino menyunggingkan senyum tidak percayanya.
Tapi percayalah, alih-alih merasa sakit hati. Vino justru merasa semakin tertarik untuk mendekati Vanya. Vino merasa semakin tertantang untuk bisa mendapatkan gadis itu.
Sepertinya, setelah ini, Vino harus berpikir tentang cara seperti apa agar gadis itu setidaknya menerima ajakannya untuk makan bersama.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1