
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
"Tumben Nisa ga ngangkat Video Call dari gua.." Vanya bergumam seraya menatap layar ponselnya.
Vanya yang kini tengah berbaring di atas kasurnya pun memilih beringsut untuk duduk karena merasa sedikit bosan.
Gadis itu duduk termenung seraya menyalakan lalu mematikan kembali ponselnya. Dia termenung memikirkan hal-hal menyebalkan yang di alaminya selama dia menjadi asisten pribadi pak Ridwan.
Awalnya, Vanya menikmati pekerjaannya sebagai asisten pribadi dari pak Ridwan. Namun, lambat laun, Vanya kini mulai merasa enggan untuk menjadi asisten pribadi pak Ridwan.
Bukan karena merasa lelah, bukan juga karena uang bonus yang di berikan pak Ridwan terlalu sedikit. Melainkan karena sikap pak Ridwan yang semakin lama semakin berani kepadanya.
Tidak lagi hanya sekedar merangkul atau menepuk bahu, pak Ridwan kini mulai berani menyentuhnya secara terang-terangan. Contohnya seperti mengelus pahanya. Pria itu pun secara terang-terangan memberikan tatapan seolah ingin melahapnya saat itu juga.
Tidak hanya itu saja. Pak Ridwan bahkan berulang kali melontarkan kata-kata menggoda dengan dalih berupa candaan. Hanya orang bodoh yang akan menganggap bahwa godaan itu benar-benar hanya sebuh candaan.
Tapi, karena Vanya bukanlah orang yang mudah di lecehkan. Vanya berulang kali memberikan peringatan agar pak Ridwan tidak melakukan hal itu.
Namun, meskipun begitu, pak Ridwan seolah mengabaikan peringatannya. Pria itu semakin hari justru semakin berani menggodanya.
Seperti waktu kemarin. Ketika Vanya menemani pria itu untuk bertemu dengan salah satu client di sebuah restoran yang terletak di hotel. Pria itu dengan berani menawari Vanya untuk bermalam bersama di hotel itu.
Vanya yang tidak menyetujui hal itu, tentu saja menolaknya dengan tegas. Bahkan gadis itu dengan berani mengancam akan melaporkannya pada pihak atas yang lebih berwenang atas tindakannya itu.
Karena kalian juga sudah pasti tahu. Tindakan yang di lakukan oleh pak Ridwan sudah termasuk ke dalam kategori pelecehan verbal dan non verbal.
Beruntungnya, setelah mendengar ancaman dari Vanya. Pak Ridwan langsung meminta maaf atas tindakan yang sebelum-sebelumnya dia lakukan.
Tapi, Vanya merasa sedikit sanksi jika pak Ridwan akan berhenti melakukan tindakan itu.
Karena ketika pria itu meminta maaf padanya, Vanya tidak dapat melihat pancaran mata ketulusan. Vanya merasa kalau pria itu meminta maaf padanya seolah-olah hanya sekedar agar Vanya tidak melaporkan tindakannya pada pihak atas.
Ah, entahlah.. Kepala Vanya rasanya sedikit berdenyut jika harus memikirkan tentang pria itu.
Andai saja Vanya tidak membutuhkan uang bonus yang di berikan oleh pria itu, mungkin saja Vanya sudah berhenti menjadi asisten pribadinya semenjak pria itu mulai melakukan tindakan yang menyebalkan.
Vanya yang merasa jenuh karena hanya menghabiskan hari liburnya di kamar kos pun memutuskan untuk beranjak dari kasurnya. Gadis itu berniat untuk berkeliling kota guna menghilangkan rasa jenuhnya.
Namun, Vanya harus mengurungkan niatnya tat kala mendengar ponselnya yang berdering pertanda ada panggilan masuk.
__ADS_1
Melihat kalau orang yang menghubunginya adalah Nisa, Vanya lantas kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi tengkurap.
Setelah menyamankan posisi tidurnya, Vanya pun mengangkat panggilan video itu.
π(Selamat sore sayaa..ng.. Eh, muka lu kenapa? Kok kusut gitu.. Ada masalah apa?) Nisa menatap Vanya dengan di penuhi rasa kekhawatiran.
Vanya menghela nafasnya. "Ga ada masalah apa-apa sih sebenernya.. Gua cuma lagi kesel aja.."
π(Kesel kenapa? Coba cerita sama gua.. Jangan di pendem sendiri, entar kalo stressnya kumat malah repot loh jadinya.. Lu kan orangnya ga bisa berteman sama siapapun. Gua yakin, kalo stress lu kumat. Ga bakalan ada yang nolongin elu! Jadi, mending lu ngungkapin rasa kesel elu ke gua.)
Vanya seketika saja terkekeh kecil. "Lu kelamaan hidup di bali, bukannya tambah kalem, malah tambah bawel ya.."
Nisa memutar bola matanya. π(Ga usah ngehina deh.. Gua jadi kayak gini juga gara-gara ngeladenin cewek-cewek gila yang ada di kampus gua. Udah ah, jangan ngalihin pembicaraan. Cepet cerita!)
"Ck, iya iya.."
Vanya pun mulai menceritakan hal apa yang membuatnya merasa kesal.
π(Waaaah.. Bau bau cowok berengs*ek tuuuh..) Nisa pun kini terdengar kesal.
"Bukan cuma bau bau.. Emang dasarnya berengs*ek tu orang.."
π(Pasti tu cowok udah bangkotan. Makanya dia kelakuannya kayak begitu!) Nisa berkata dengan sedikit bersungut-sungut.
Nisa mengernyitkan dahinya. π(Serius lu va?)
Vanya menganggukkan kepalanya. "Bentar deh, gua screenshot'in photo profil WA nya."
Setelah mengambil tangkapan layar yang di maksud, Vanya pun mengirimkan tangkapan layar itu pada Nisa.
Melihat tangkapan layar yang di kirimkan oleh Vanya, seketika saja membuat Nisa menjatuhkan rahangnya.
π(Njing!! Dia bule, Va?)
Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Blasteran dia.. Dia juga katanya gede di luar, makanya butuh asisten pribadi."
π(Ya pantes aja kelakuannya kayak begitu, kebiasaan sama budaya luar yang bebas sih.. Makanya sikap dia ke elu kayak gitu.)
Vanya menghela nafasnya untuk sejenak. "Ya meskipun dia kebiasaan sama budaya luar yang bebas. Harusnya dia punya kode etik dong.. Emang dia pikir semua cewek bisa dia perlakuin kayak gitu apa!" Gadis itu berkata dengan sedikit emosi.
π(Eh tapi Va, kalo di pikir-pikir lagi, kenapa ga lu pepet aja. Lumayan kan bisa lu jadiin sugar daddy.. Secara kan, dari tampilannya aja nunjukkin kalo dia berasal dari kalangan atas. Udah pasti banyak tuh duitnya.)
__ADS_1
Memdengar ide gila yang baru saja di utarakan oleh Nisa, seketika saja membuat Vanya menatap gadis itu dengan tatapan sinis.
"Gila lu ya! Gua masih mampu nyari duit sendiri."
Nisa menampilkan cengiran lebarnya. π(Ya kan gua cuma ngasih saran Va...)
Vanya memutar bola matanya. "Saran lu sesat tau ga!! Apa jangan-jangan, lu di situ punya sugar daddy ya.." Vanya kini menatap Nisa dengan tatapan menyelidik.
π(Heh! Sembarangan.. Nyokap gua lebih dari mampu ya kalo cuma sekedar buat ngebiayain hidup sama pendidikan gua.) Nisa berkata dengan sedikit bersungut-sungut.
Vanya seketika saja terkekeh geli. "Eh tapi Nis, ngomongin soal nyokap lu. Gimana keadaannya? Baik-baik aja kan?"
π(Baik.. Baik banget malah.. Saking baiknya nih ya, beberapa hari ini dia jadi sering senyum-senyum sendiri. Takut gua jadinya.)
Vanya mengernyitkan dahinya. "Kok bisa gitu? Lagi bahagia kali dia.."
π(He em.. Bahagia.. Dapet gebetan baru soalnya..)
π(Heh!! Sembarangan kamu Nis.. Jangan percaya Va!) Terdengar suara Rima yang berteriak menyahuti perkataan Nisa.
Vanya seketika saja tertawa lepas. Vanya lalu dapat melihat kalau Rima merebut ponsel Nisa.
π(Ga usah di dengerin Va.. Yang ada malah dia yang sekarang sering komat kamit sendiri gara-gara ada cowok yang deketin dia.)
π(Eh mah.. Ga usah sembarangan ya.. Mana ada cowok itu ngedeketin Nisa.. Yang ada malah ngajakin ribut tiap hari..)
Vanya yang menyaksikan perdebatan ibu dan anak itu pun hanya bisa tertawa renyah. Sungguh, Vanya merindukan masa-masa di mana mereka berkumpul bertiga.
Namun, meskipun begitu, hanya dengan berkomunikasi melalui panggilan video pun sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa rindunya.
Selain itu, Vanya juga setidaknya bisa sedikit melupakan rasa kesalnya terhadap Ridwan.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..