
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Di sisi lain..
Santa Barbara, California..
Seorang pria dengan raut wajah mengeras tengah berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
π(Gua udah mastiin kalo dia beneran di culik sama orang-orang suruhannya Palkan. Tapi gua ga tau dia di bawa ke mana, gua kehilangan jejaknya dia.)
Raut wajah pria itu semakin mengeras. "Cari lagi, telusuri setiap sudut, lu haris usahain sebisa mungkin buat mastiin dia baik-baik aja. Gua balik sekarang."
π(Ok, gua usahain sebisa mungkin.)
Pria itu pun memutus panggilan. Dia lantas segera bersiap untuk pulang.
"Loh, kamu mau kemana?"
Seorang pria paruh baya mengernyitkan dahinya melihat putranya yang tengah bersiap seperti hendak pergi ke belahan dunia lain.
"Aku harus pulang pah.."
Pria paruh baya itu semakin mengernyitkan dahinya.
"Pulang? Bukannya jadwal kepulangan kamu masih 7 bulan lagi ya?"
Pria itu menoleh pada sang ayah. "Ga bisa pah.. 7 bulan kelamaan, ada keadaan terdesak yang harus segera aku tangani. Ini ga bisa di tunda."
Pria paruh baya itu menghela nafasnya. "Apa ini ada hubungannya sama dia?"
Pria yang lebih muda menganggukkan kepalanya. "Dia ada di tangan Palkan. Aku takut kalo dia sampe di jual, papah tau sendiri kan Palkan itu dari golongan apa. Keselamatan dia, tergantung sama kecepatan aku nyelametin dia."
"Yaudah, kamu boleh pulang. Semua urusan perusahaan, biar papah yang atur. Keselamatan dia lebih penting. Tapi satu hal yang harus kamu inget, kamu juga harus hati-hati. Papah bantu kamu buat nyiapin jet pribadi."
Pria yang lebih muda mengangguk kecil, dia kembali bersiap untuk segera pulang.
.......
.......
.......
Sementara itu..
Vanya menggelengkan kepalanya yang terasa sangat berdenyut, efek obat yang sempat dia hirup masih terasa begitu memabukkan.
Gadis itu mengerjapkan matanya tat kala merasakan penglihatannya yang menghitam, berharap agar ada sedikit cahaya yang masuk ke dalam netranya.
Namun sayangnya, sekuat apa pun mencoba, dia tetap tidak bisa melihat apa pun.
Hal itu sontak saja membuat dia merasa panik, bayangan akan rasa traumanya tiba-tiba saja mencuat, nafasnya kian lama kian memburu.
__ADS_1
Gadis itu lantas mencoba untuk menggerakkan tubuhnya. Tapi, tubuhnya pun sulit untuk di gerakkan karena dia sedang dalam keadaan terikat dalam posisi duduk di atas kursi.
Kini Vanya menyadari, bukan ruangannya yang gelap, melainkan ada sesuatu yang menutupi kedua matanya.
Vanya mencoba berusaha untuk tetap tenang, dia terus mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk melawan bayangan akan rasa traumanya di kala itu. Dia berusaha membayangkan sesuatu yang sekiranya bisa membuatnya merasa tenang.
Tidak, dia tidak berusaha untuk memberontak, berteriak atau pun meminta tolong. Karena dia tahu, sekuat dan sekeras apa pun dia melakukannya, hal itu tetap akan berakhir dengan sia-sia.
Tak lama setelah itu, Vanya dapat mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya.
Tidak hanya satu atau dua, jika Vanya boleh mengira, Vanya pikir setidaknya ada 4 orang yang mendekatinya.
"Buka penutup matanya!"
Seorang wanita terdengar memberikan perintah.
Tunggu.. Vanya merasa sangat familiar pada suara wanita yang baru saja dia dengar.
Saat seseorang menarik penutup matanya, Vanya mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahanya yang masuk ke dalam netranya.
Vanya merasa sangat terhenyak melihat seorang wanita yang sangat di kenalinya tengah duduk di hadapannya. Dengan di temani 4 orang pria berbadan besar seperti kumpulan berandalan.
Vanya lntas menatap wanita itu dengan dahi yang mengernyit, persimpangan di dahinya tercetak dengan sangat sempurna.
"Tante Ayu?"
Ayu menarik sudut bibirnya. "Kenapa? Kaget?"
"Maksud tante apa ngelakuin hal ini ke aku? Salahku apa tan? Aku ga pernah ngusik hidup tante."
"Kamu masih tanya salah kamu apa!"
Ayu mencengkram wajah Vanya.
"Denger ya! Gara-gara kamu, saya ga bisa punya anak! Gara-gara kamu selamet dari museum, saya di ceraikan sama Bagas! Gara-gara kamu, saya di terlantarkan sama keluarga besar saya! Gara-gara kamu, saya harus hidup luntang lantung! Dan gara-gara kamu juga saya harus hutang sana sini demi mencukupi kebutuhan hidup saya!!"
Ayu menghempaskan wajah Vanya dengan sangat kasar, nafas wanita itu terdengar sangat memburu.
Ayu menatap Vanya dengan penuh kebencian, sudut bibirnya terangkat menampilkan senyum liciknya.
"Tapi, berkat kamu, sekarang saya udah ga harus hidup susah lagi.. Berkat kamu, saya bisa merintis karir saya lagi.."
Ayu tiba-tiba saja terkekeh kecil.
"Haaah.. Senang rasnya bisa menjual seorang gadis."
Vanya terdiam, dia tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa.
Kalau boleh jujur, di satu sisi, sebenarnya Vanya merasa senang karena hidup Ayu menderita. Vanya benar-benar merasa senang karena Ayu mendapatkan karma atas perbuatannya sendiri.
Namun di sisi lain, Vanya juga merasa sedih, marah dan kecewa.
Kenapa harus dirinya lagi dan lagi yang di jadikan tumbal?
Kenapa harus selalu dirinya yang di salahkan atas apa yang terjadi?
__ADS_1
Kenapa harus selalu dirinya yang kembali mengalami penderitaan?
Kesalahan apa yang telah dia lakukan?
Perbuatan buruk apa yang telah dia kerjakan?
Kenapa harus selalu dia dan dia yang menjadi sasaran kemaran Ayu?
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak Vanya.
Belum selesai rasa frustasinya atas kejadian kemarin, kini dia harus kembali di buat frustasi oleh tingkah Ayu yang lagi dan lagi menjadikan dirinya sebagai tumbal.
Tapi, Vanya tidak menunjukkan rasa frustasinya. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Datar, benar-benar datar. Bahkan tingkat kedatarannya mengalahkan tembok yang baru selesai di amplas.
"Kenapa kamu ga ngasih reaksi apa pun? Kamu ga ngerasa kaget gitu? Atau kamu ga ngerasa takut gitu?"
Ayu menatap Vanya dengan alis yang saling bertaut.
Tapi sedetik kemudian, Ayu menyunggingkan senyumnya.
"Aaah.. Apa jangan-jangan kamu justru ngerasa seneng ya? Dengan begitu, kamu ga perlu susah payah nyari kerjaan.. Kamu cukup tiduran, ngangkang, terus dapet uang.. Oooh.. Pasti yang itu."
Vanya hanya diam, tapi bukan berarti dia menyetujui apa yang di katakan Ayu. Hanya saja, Vanya terlalu malas meladeni wanita gila itu.
Jujur, Vanya memang takut. Tapi, Vanya merasa sangat enggan untuk menunjukkan rasa takutnya. Karena hal itu justru akan membuat Ayu merasa semakin senang.
Biarkan lah dia diam hanya untuk saat ini, nanti dia akan memikirkan cara untuk meloloskan diri.
"Yaudah lah ya, mending aku pergi.. Takutnya nanti para pelanggan kelamaan nunggu."
"Dadaaaah calon lon**te.."
Ayu mengedipkan sebelah matanya pada Vanya kemudian berlalu peegi dari sana.
Seperginya Ayu, salah satu pria yang ada di sana kembali menutup kedua matanya Vanya.
Mereka lantas membawa Vanya dari sana.
Vanya pun hanya bisa pasrah, bersiap untuk menghadapi apa yang selanjutnya akan dia hadapi.
Karena dalam situasi genting seperti ini, tidak ada yang bisa dia lakukan selain tetap tenang.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1