
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Apartment Vino.
"Nih, di minum."
Vino memberikan segelas air hangat pada Vanya.
"Thanks."
Vanya meminum segelas air hangat itu hingga tandas.
Vino lantas duduk di samping Vanya.
"Are you okay?"
Vino hendak menyentuh bahu Vanya.
Namun, Vanya segera menghindarinya.
Vino pun menarik kembali tangannya dengan sedikit kaku.
Sadar dengan apa yang di lakukannya, Vanya menatap Vino dengan sedikit tidak enak hati. Karena sungguh, dia tidak berniat untuk menghindari pria itu.
Entahlah, mungkin itu hanya gerakan refleknya saja akibat dari kejadian yang baru saja dia alami.
"I'm sorry.. Aku, aku ga maksud kayak gitu.. Aku.."
"It's okay.. Aku ngerti kok." Vino menyunggingkan senyum kecilnya.
"Mau ganti baju dulu ga? Aku ada baju yang bisa kamu pake."
Vino merasa sedikit iba melihat Vanya yang tidak nyaman mengenakan pakaiannya yang robek di beberapa bagian.
Ya meskipun gadis itu sudah mengenakan kemeja milik Vino, namun Vino mengerti kalau Vanya masih merasa tidak nyaman karena di baliknya dia masih mengenakan kemeja bekas kejadian tadi.
Ayolah.. Kalian pasti paham kan, dengan Vanya yang masih mengenakan kemeja miliknya yang robek di beberapa bagian, sudah pasti tentu akan mengingatkan Vanya pada kejadian buruk yang sebelumnya dia alami.
Lagi pula, Vino sungguh merasa heran, bisa-bisanya pria bereng**sek itu melakukan hal yang sangat terhina seperti itu. Di tambah lagi, pria itu melakukannya di dalam kantor. Tempat di mana siapa saja bisa memergoki aksinya.
Apa kah pria itu tidak merasa malu?
Toh meskipun tidak di dalam kantor. Kenapa juga dia harus melakukan hal yang sangat be**jat seperti itu? Apa dia tidak ingat kalau ibunya juga adalah seorang wanita? Apa dia tidak ingat kalau dirinya juga lahir dari rahim seorang wanita?
Sungguh, Vino tidak mengerti pada jalan pikiran setiap pria yang melakukan tindakan kejahatan kekerasan sek**sual.
__ADS_1
"Kayaknya ga usah deh kak, mending kakak nganterin aku pulang aja." Tolak Vanya secara halus.
"Yakin? Kalo kamu di sini, se engganya aku bisa bantu kamu kalo ada apa-apa. Kita ga tau setelah ini apa yang bakalan di lakuin lakuin sama laki-laki itu. Belum tentu juga kan dia di tahan sama polisi, kita belum ngabarin orang kantor buat mengkasuskan masalah ini."
Vanya terdiam untuk sejenak. Dalam hatinya, dia menyetujui apa yang baru saja di katakan oleh Vino.
Setelah hal ini terjadi, tidak ada yang bisa menebak apa yang selanjutnya akan di lakukan oleh laki-laki itu. Terlebih lagi, Vanya belum memberitahu pihak kantor untuk mengangkat masalah ini ke ranah hukum.
"Tenang aja, aku ga bakalan ngapa-ngapain kamu. Aku engga se berengs**ek itu. Kalo perlu, kamu bisa tinggal di apartment ini sendirian untuk sementara waktu. Aku ga bakalan ganggu waktu kamu, kalo ada apa-apa kamu bisa ngehubungin aku lewat telpon. Jadi kamu ga harus ngerasa was-was atau waspada sama keha..."
Vanya menggelengkan kepalanya. "Aku ga mikir kayak gitu kak.."
Diam-diam, Vanya mengulum senyumnya karena mendengar Vino yang berbicara panjang lebar. Sungguh, Vanya sedikit tidak menyangka kalau Vino bisa berbicara panjang lebar seperti itu.
Tapi sejujurnya, hal itu membuat rasa terkejut yang di alaminya sedikit berkurang.
Ya, Vanya hanya merasa terkejut.
Entahlah.. Mungkin itu karena ini bukan kali pertama Vanya hampir menjadi korban pelecehan sek***sual. Sehingga Vanya tidak mengalami dampak yang terlalu buruk seperti apa yang di alaminya kala itu.
"Kakak boleh di sini kok buat nemenin aku, aku cuma ngerasa ga enak aja karena udah ngerepotin kakak."
"Aku ga ngerasa di repotin, apa salahnya membantu sesama manusia."
Vanya menyunggingkan senyumnya. "Thanks kak.."
Vino mengangguk kecil. "Mending kamu bersih-bersih badan kamu dulu. Habis iti kita langsung ngabarin pihak kantor buat bawa kasus ini ke jalur hukum. Aku juga dari tadi udah dapet telpon dari Irwan."
Vanya menganggukkan kepalanya.
Pt. Rumah Linux, Kantor Pusat.
"Jadi, kamu mau ngangkat kasus ini ke ranah hukum?"
Seorang pria tua menatap Vanya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Pria tua itu bernama Kalid, dia adalah pemilik PT. Rumah Linux yang juga merupakan ayah kandung Ridwan.
"Tunggu pah.. Itu bohong! Kita ngelakuinnya kare suka sama suka! Aku ga mungkin ngelakuin hal itu. Justru dia yang ngegodain aku!! Kenapa pertanyaan papah seolah-olah rela kalo sampe aku masuk penjara." Ridwan menyahut dengan cepat.
Vanya, yang mendengar itu sontak saja menundukkan kepalanya, dia berusaha menahan emosinya. Bersamaan dengan Irwan dan juga Vino yang kini menatap Irwan dengan di penuhi amarah.
Tapi, di balik itu, mereka juga merasa sedikit terkejut mengetahui fakta kalau Ridwan adalah anak dari pemilik perusahaan tempat di mana mereka bekerja.
"Jaga sopan santun kamu!" Kalid menunjuk muka Ridwan. "Ini masalah kantor, ini di area kantor. Posisi kamu sekarang adalah bawahan saya. Panggil saya selayaknya seorang bawahan memanggil atasannya."
Ridwan menatap Kalid dengan di penuhi rasa tidak percayanya. Dia tidak menyangka kalau Kalid akan berlaku seperti ini padanya.
Sungguh, selama ini, Kalid selalu mengabaikan apa yang dia lakukan.
__ADS_1
Tapi sekarang, kenapa pria tua yang sayangnya adalah ayahnya itu harus menanggapi apa yang dia lakukan.
"Tapi pak, saya bener-bener ga ngelakuin hal itu. Saya ga salah pak. Yang ada justru saya yang malah di aniaya. Bapak liat, wajah saya babak belur kayak gini." Ridwan masih berusaha untuk membela diri.
"Tutup mulut kamu Ridwan, saya ga butuh penjelasan dari kamu. Saya juga ga butuh pembelaan diri dari kamu! Kamu pikir saya bodoh? Semua buktinya sudah ada. Semuanya terpampang dengan sangat jelas. Apa kamu ga sadar kalo apa yang kamu lakuin itu udah mencoreng mama baik perusahaan kita?! Apa kamu ga sadar kalo apa yang kamu lakuin itu udah mencoreng nama baik saya?!" Kalid kini sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
"Papah bener-bener kecewa sama kamu, Ridwan." Pria tua itu kini merendahkan nada suaranya.
Hal itu membuat Ridwan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Papah bener-bener kecewa sama kamu! Selama ini, apa yang belum papah kasih ke kamu? Segala keinginan kamu pasti papah turuti. Bahkan selama ini papah ngebiarin kamu buat ngelakuin semua hal yang emang kamu mau lakuin."
"Coba kami pikir ulang, apa selama ini papah pernah nuntut kamu buat ngelakuin apa yang papah minta? Apa selama ini papah pernah nuntut sesuatu dari kamu? Kenapa kamu bisa ngelakuin hal sehina ini, Ridwan? Apa kamu lupa kalo ibu kamu itu perempuan? Apa kamu lupa kalo kamu juga lahir dari rahim seorang perempuan?!"
Ridwan tidak berani mengeluarkan suaranya. Entah apa yang ada di dalam benak dan pria itu sekarang. Karena yang pasti, pria itu benar-benar mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Kayaknya papah emang udah terlalu ngemanjain kamu sampe-sampe kamu lupa daratan." Kalid mengakhiri kalimatnya dengan nada suara yang di penuhi rasa kekecewaan.
Pria tua itu lantas menatap Vanya dengan di penuhi rasa bersalah. "Ga usah kamu, biar saya aja yang ngangkat kasus ini ke ranah hukum. Saya pastikan anak saya ga akan bisa nyentuh kamu barang untuk satu senti pun. Saya yang akan bertanggung jawab untuk semuanya. Termasuk sama kesehatan mental kamu. Saya akan membiayai pengobatannya secara keseluruhan, tanpa kurang satu peser pun. Tapi sebelum itu, saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang udah anak saya lakuin ke kamu. Ini kesalahan saya yang ga bisa mendidik anak saya dengan benar."
Kalid lantas beranjak dari duduknya kemudian melangkah ke arah pintu keluar ruangannya.
Mereka yang ada di sana pun menatap Kalid dengan tatapan bingung.
Dan betapa terkejutnya Ridwan, tepat setelah Kalid membuka pintu, ada dua orang aparat dari pihak kepolisian yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Tunggu bentar pah, papah beneran mau jeblosin aku ke penjara? Pah, ga bisa gini dong caranya!!"
Ridwan berusaha memberontak saat 2 orang aparat kepolisian itu hendak memborgol tangannya.
Namun Kalid seolah mengabaikan apa yang di katakan oleh Ridwan, pria tua itu hanya menatap Ridwan dengan tatapan datarnya.
"Paaaah!!!" Ridwan berteriak saat 2 orang aparat kepolisian itu menyeretnya keluar dari dalam ruangan itu.
Vanya, Vino dan Irwan pun hanya menatap Kalid dengan tatapan iba.
Karena mereka tahu, jauh di dalam lubuk hatinya, Kalid pasti mengalami kesedihan yang teramat besar.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..