
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah beberapa hari berlalu, Vanya pun memutuskan untuk kembali masuk ke kantor demi mengejar ketertinggalannya dalam mendapatkan nilai.
Namun, selama beberapa hari itu, Haidar sama sekali tidak mengijinkan Vanya untuk kembali ke kosrnya. Pria itu meminta Vanya untuk tetap tinggal di apartmennya selama Vanya menghabiskan waktunya untuk beristirahat.
Vanya pun mau tidak mau menyetujuinya, karena selain Haidar yang terus memaksa, Vanya juga berpikir, setidaknya dia bisa tidur nyenyak selama beberapa hari ke depan.
Vanya juga tidak tau, kenapa dia bisa tidur dengan sangat nyenyak tanpa merasakan mimpi yang di alaminya. Padahal, Haidar berkata, Vanya masih terus mengalami mimpi selama beberapa hari ini.
Namun, Vanya tidak mau terlalu memikirkan hal itu. Biarkan lah Vanya merasakan ketenangan untuk beberapa hari ini.
Kini, Vanya terlihat tengah bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Va.. Udah?" Tanya Haidar yang terlihat membuka pintu kamar yang tidak tertutup rapat.
Karena ya, selama Vanya di apartmentnya. Mereka selalu tidur di kamar yang sama. Bukan Haidar bermaksud untuk mengambil kesempatan. Hanya saja, 1 kamar yang lainnya tidak terdapat kasur ataupun sofa.
Toh meskipun mereka tidur dalam satu kamar dan di atas kasur yang sama, Haidar sama sekali tidak terpikirkan untuk berbuat macam-macam kepada Vanya. Haidar benar-benar hanya ingin tidur dengan memeluk gadis pujaannya.
Jadi, tidak ada salahnya kan mereka tidur di atas kasur yang sama?
Setelah sedikit merapikan rambutnya, Vanya pun menoleh pada Haidar lalu tersenyum. "Udah.. Yok.." Ucap gadis itu kemudian beranjak dari duduknya.
Mereka pun segera berangkat menuju kantor.
Sesampainya di kantor, mereka lantas masuk ke dalam ruangan mereka masing-masing.
Wulan yang melihat kedatangan Vanya pun mengembangkan senyumnya. "Va, kamu udah baikan?"
Vanya menoleh pada Wulan lalu membalas senyuman wanita itu. "Udah kak, sebenernya hari jum'at tu udah pengen masuk. Cuma tanggung kan sabtu minggunya libur, jadi yaudah di bablasin aja.." Gadis itu berkata seraya duduk di tempatnya.
"Yaudah kalo gitu.. Nanti kalo ada apa-apa atau ngerasain gimana-gimana bilang ya, jangan di tahan.."
"Iya kak.. Makasih ya.."
Wulan menganggukkan kepalanya. "He em.. Sama-sama.."
Mereka pun saling melempar senyuman kemudian mulai mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing.
Hingga tak terasa, jam makan siang pun tiba. Wulan yang sudah menyelesaikan pekerjaannya sejak 30 menit yang lalu pun segera menghampiri Vanya.
"Va, udah selesai belum?"
Vanya lantas sedikit mendongakkan wajahnya untuk menatap Wulan yang berdiri di sampingnya. "Udah nih, cuma tinggal nge save aja.."
"makan siang bareng kakak yuk.. Ada yang mau kakak omongin ke kamu.."
Vanya terlihat berpikir untuk beberapa saat kemudian menganggukkan kepalanya. "Boleh, bentar aku save dulu datanya.." Gadis itu berkata kemudian menyimpan hasil pekerjaannya.
Wulan pun memperhatikan apa yang tengah di lakukan Vanya dengan sabar.
__ADS_1
"Yuk.." Ucap Vanya setelah mematikan komputer kemudian beranjak dari duduknya.
Wulan tersenyum lalu menggandeng tangan Vanya menuju kantin.
Saat mereka keluar dari ruangan, mereka menghentikan langkah tat kala berpapasan dengan Haidar yang terlihat akan memasuki ruangan Vanya. Karena memang di setiap harinya, Haidar selalu menghabiskan waktu makan siangnya dengan Vanya.
"Mau kemana?" Tanya Haidar kemudian.
"Makan siang.." Jawab Vanya cepat.
"Sama.." Haidar melirik Wulan sekilas yang terlihat tersenyum ke arahnya.
Vanya pun menganggukan kepalanya.
"Yaudah ayok.." Ucap Haidar seraya hendak berlalu menuju kantin.
Namun, Vanya segera menghentikan Haidar dengan menggenggam tangan pria itu.
"Eeeeeh.. Lu makan sendiri aja ya.. Gua ada bisnis sama kak Wulan.."
Haidar lantas menatap Vanya dengan menaikkan sebelah alisnya. "Bisnis?"
Vanya menampilkan cengirannya. "Biasa.. Bisnis masalah perempuan.."
Haidar yang mendengar hal itu pun mengangkat bahunya acuh. "Ok.. Tapi inget.. Jangan makan yang pedes ya, nanti lambung lu kumat.."
Vanya seketika memutar bola matanya malas. "Ck, iya iya.."
"Yaudah, gih.. Gua di sini aja.." Haidar berkata kemudian mengusak kepala Vanya dengan gemas.
Wulan pun mengikuti Vanya dengan perasaan yang sedikit tak menentu. Karena setelah melihat interaksi antara Haidar dan Vanya, membuat Wulan menjadi sedikit ragu untuk meneruskan niatnya.
Karena.. Oh, ayolah.. Siapa yang tidak akan berpikir jauh jika melihat interaksi yang sangat intim antara 2 orang yang memiliki jenis kelamin berlawanan.
Ya.. Wulan akui, niatnya membawa Vanya menghabiskan waktu makan siang bersama adalah untuk bertanya-tanya tentang Haidar. Karena setelah berpikir dengan cukup matang. Wulan pikir, tidak ada salahnya kan dia mencoba untuk mendekati Haidar.
Tapi, setelah melihat interaksi antara Haidar dan Vanya, membuat Wulan berpikir kembali untuk melanjutkan niatnya..
Namun, meskipun begitu.. Di dalam hati Wulan yang paling dalam, dia masih mencoba untuk berpikir jika interaksi mereka hanya interaksi antara 2 orang sahabat.
Haaah.. Wulan benar-benar merasa bimbang.. Haruskah dia melanjutkan niatnya? Atau haruskah dia membuang jauh-jauh perasaannya itu?
Hingga tak terasa, mereka pun sudah sampai di kantin.
"Aku mau pesen burger, kakak mau pesen apa?" Tanya Vanya kemudian.
"Emmm.." Wulan terlihat berpikir untuk beberapa saat. "Samain aja, biar cepet bikinnya.."
Vanya menganggukkan kepalanya. "Minumnya?"
"Es jeruk aja.."
"Ok.. Kalo gitu kakak tunggu di meja aja, biar aku yang mesenin.."
"Ah, ok.." Ucap Wulan kemudian berjalan menuju meja yang berada di dekat jendela.
__ADS_1
Setelah memesan makanan mereka, Vanya pun menghampiri Wulan dengan membawa pesanan mereka masing-masing.
"Chaaa.. Makan siang dateng.." Vanya berkata seraya duduk di kursi yang berhadapan dengan Wulan setelah meletakkan makanan yang di bawanya.
"Makasih.." Ucap Wulan kemudian mulai melahap makanannya.
Begitu pun dengan Vanya, dia juga mulai melahap makan siangnya.
Setelah mereka menyelesaikan makan siang mereka, Vanya lantas menatap Wulan yang tengah meminum minumannya.
"Jadi, kakak mau ngomong apa?" Tanya Vanya kemudian.
"Uhuk.. Uhuk.." Wulan yang mendengar pertanyaan itu seketika tersedak minumannya sendiri.
"Pelan-pelan kak minumnya.. Ga ada yang minta.." Vanya berkata seraya menyerahkan kotak tisu pada Wulan.
Wulan pun menampilkan cengirannya. "Hehe.."
"Jadi, gimana? Apa yang mau kakak omongin?"
Wulan lantas menatap Vanya dengan sedikit ragu. "Ah.. itu... Duh gimana ya ngomongnya.."
"Ngomong aja ga papa.." Sahut Vanya cepat.
"Ini.. Em.. Soal Haidar.."
Vanya seketika menatap Wulan dengan menaikkan sebelah alisnya. "Haidar?"
"Iya.. Haidar.."
"Sssh.. Emang kenapa sama Haidar?"
Wulan meneguk ludahnya dengan sedikit kasar kemudian menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Jadi.. Gini.. Kakak, emmm.." Wulan meremat tangannya di bawah meja. Haruskah dia mengatakannya?
Vanya kembali menaikkan sebelah alisnya, menunggu apa yang akan Wulan katakan padanya.
"Kakak suka sama Haidar.." Dan ya.. perkataan itu pun lolos dari bibir Wulan dengan sangat lirih, bahkan terdengar seperti sebuah bisikan.
Namun, hal itu masih bisa di dengar jelas oleh Vanya. Yang mana, hal itu seketika membuat Vanya mengerjapkan matanya karena merasa terkejut atas apa yang di katakan oleh Wulan.
"Hah?" Ucap Vanya kemudian dengan wajah yang melongo tak percaya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1