Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Prasangka Buruk


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mari kita flashback ke beberapa saat sebelum Nisa dan Haidar mengejar Winda..


Setelah menyelesaikan ujiannya pada pelajaran pertama, Nisa segera mengumpulkan kertas ujiannya ke meja guru yang bertugas senagai pengawas.


Setelahnya, Nisa pun segera memanfaatkan waktu istirahatnya itu untuk menemui Haidar.


Gadis itu sedikit berlari ke arah kelas Haidar agar segera menemui pria itu.


Beruntungnya, Nisa datang bertepatan dengan Haidar yang keluar dari kelasnya.


Haidar yang melihat kedatangan Nisa yang bernafas dengan sedikit tersengal-sengal pun menatap gadis itu dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Lu kenapa?" Haidar bertanya dengan sedikit keheranan.


Namun, alih-alih menjawab, Nisa justru menarik Haidar agar sedikit menjauh dari kelasnya. Dia menarik tangan kanan Haidar agar pria itu mengikutinya menuju halaman belakang sekolah mereka.


Meskipun merasa sedikit bingung, namun Haidar memilih untuk mengikuti langkah Nisa.


Sesampainya di halaman belakang, Nisa pun segera melepaskan tangan kanan Haidar dari genggamannya.


"Vanya mana?" Tanya Nisa cepat.


Haidar kembali mengernyitkan dahinya. "Vanya? Bukannya Vanya ada di kelas sama elu ya?"


Mendengar apa yang di katakan oleh Haidar, seketika saja membuat Nisa kembali bernafas dengan normal.


"Hah??" Nisa menatap Haidar dengan sangat bingung. "Tadi lu bilang apa? Vanya ada di kelas sama gua?"


Haidar menganggukkan kepalanya. Dia lantas mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam saku celana yang dia kenakan kemudian membuka pesan yang sebelumnya di kirimkan oleh Vanya.


"Waaahh.. Ada yang ga beres nih!!" Nisa bergumam setelah dia membaca pesan itu.


"Lu ga sadar apa kalo bahasa sama cara pengetikannya aja beda? Ini bukan Vanya Dar!! Bahasanya Vanya ga kayak gitu!! Dia juga ga mungkin make lebih dari 1 titik!!" Nisa berkata seraya menatap Haidar dengan alis yang menukik tajam.


"Gua sadar sih.. Tapi gua ga mikir jauh.." Haidar mengusap tengkuknya canggung.


"Ash, elu gimana si ah!!" Nisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ok, gini deh.." Nisa menatap Haidar dengan sangat serius. "Kapan terakhir kali lu ketemu sama Vanya?"


"Kemaren sore." Sahut Haidar cepat.


"Di mana?"

__ADS_1


"Apartment gua.."


"Terus?"


"Terus dia keluar sama Win.. Eh.." Haidar seketika menatap Nisa dengan alis yang menukik tajam.


"Win siapa?" Nisa terdengar tidak sabar menunggu kelanjutan kalimat yang akan di katakan oleh Haidar.


"Winda.. Lu tau kan anak kelas 10 yang di ajarin bahasa inggris sm Vanya?" Haidar segera bertanya meskipun pikirannya melayang kemana-mana.


Nisa lantas mengangguk cepat.


"Kemaren sore dia katanya pergi sama si anak kelas 10 itu."


"Pergi kemana?"


"Bentar-bentar.." Haidar lantas membuka akun sosial media milik Om Heru yang sebelumnya di tunjukkan oleh Vanya.


Haidar laku menujukkannya pada Nisa.


Nisa pun melihat akun sosial media milik Om Heru itu dengan sangat teliti.


"Ini... Galeri ya?" Nisa menoleh pada Haidar.


Haidar menganggukkan kepalanya. "Katanya punya om nya si Winda."


Selain itu juga, Nisa berpikir tentang di mana dia pernah melihat wajah Winda. Karena seperti yang sudah di katakan olehnya pada Vanya tempo hari ketika dia dan Vanya berada di perpustakaan sekolah. Nisa benar-benar merasa familiar dengan wajah Winda.


Namun, hingga sekarang ini, Nisa masih saja tidak bisa mengingat, wajah siapa yang sekiranya mirip dengan wajah Winda.


Karena tak kunjung memdapatkan ingatan apa pun, Nisa pun kembali menoleh pada Haidar.


"Coba siniin lagi hp lu.." Nisa berkata kemudian.


Haidar pun menyerahkan ponselnya pada Nisa tanpa bertanya apa pun.


Nisa lantas kembali membuka akun sosial media milik Om Heru. Dia lalu mulai menggulir setiap foto yang di posting Om Heru di akun sodial media miliknya.


Namun sayangnya, sejauh apa pun menggulir, Nisa sama sekali tidak bisa menemukan satu petunjuk pun.


Tak hilang akal, Nisa lantas melihat setiap orang yang mengikuti akun sosial media milik Om Heru. Dia berharap, dia menemukan akun sosial media milik Winda di sana.


Hingga setelah menggulir untuk beberapa saat.


"Ketemu!!" Nisa berseru setelah menemukan akun sosial media milik Winda.


Gadis itu lalu segera melihat setiap foto yang di posting oleh Winda.


"Apanya yang ketemu?" Haidar menatap Nisa dengan sedikit bingung.

__ADS_1


"Ck, diem dulu.. Gua perlu nyari tau sesuatu.." Gadis itu menyahut tanpa mengalihkan perhatiannya dari apa yang tengah di carinya.


Haidar pun akhirnya memilih untuk diam dan membiarkan Nisa mencari apa yang sedang di carinya. Meskipun Haidar memang merasa penasaran, namun Haidar memilih untuk tidak menganggu Nisa.


Namun sayangnya, Nisa juga sama sekali tidak menemukan satu petunjuk pun dari postingan milik Winda.


"Haaaa... Apa perasaan gua aja kali ya.." Nisa bergumam seraya hendak menyerahkan kembali ponsel itu kepada Haidar.


Namun, saat dia hendak mengulurkan ponsel itu pada Haidar, dia mengurungkan niatnya tat kala mengenali salah satu akun yang mengomentari salah satu postingan milik Winda. Dia mengenali akun itu dari foto profil milik akun tersebut.


"Eeeehhh... Kok.." Nisa bergumam kemudian membuka akun yang dia kenali itu..


"Kenapa sih Nis?" Haidar kini menatap Nisa dengan sedikit bingung.


Namun, Nisa mengabaikan Haidar. Gadis itu memilih untuk fokus melihat setiap postingan yang ada di akun itu.


Sampai ketika Nisa menemukan satu postingan berupa beberapa potret foto 2 orang perempuan beda usia yang memiliki caption 'My lovely Nephew', seketika saja membuat prasangka buruk Nisa terhadap Winda kini kian membesar.


"Kan bener kan kalo dia mirip sama seseorang.. Wah gila sih ini kalo dugaan gua sampe bener-bener jadi kenyataan!!" Nisa menggerutu seraya terus menatap foto itu.


"Lu kenapa sih Nis? Apa sih yang lu temuin?" Tanya Haidar cepat.


Namun sayangnya, saat Nisa hendak menjelaskan apa yang baru saja dia temukan, bel sekolah pertanda waktu istirahat pun sudah lebih dulu berbunyi.


Nisa pun akhirnya memilih untuk mengembalikan ponsel itu pada Haidar.


"Gini.. Screenshot'in akun ini, terus kirim ke gua.. Nanti kalo lu udah nyelesein materi pelajaran yang ke 2, lu langsung temuin gua di lorong loker. Nanti gua bakalan jelasin semuanya.." Nisa berkata cepat.


Meskipun Haidar ingin segera memenuhi rasa penasarannya, namun mengingat bel sekolah sudah berbunyi. Haidar memilih untuk menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui apa yang di katakan oleh Nisa.


Tanpa berkata apa pun lagi, Nisa pun akhirnya berlalu pergi dari sana untuk menuju ke kelasnya.


Seperginya Nisa, Haidar pun juga berlalu pergi dari sana menuju ke kelasnya. Namun, sebelum itu, dia sudah lebih dulu melakukan apa yang di minta oleh Nisa.


Yaitu melakukan tangkapan layar akun sosial media yang baru saja di buka oleh Nisa, lalu mengirimkan hasil tangkapan layar itu kepadanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2