
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah menunggu dalam waktu yang cukup lama, Vanya pun akhirnya bangun dari tidurnya.
Haidar yang tengah duduk di kursi yang ada di samping ranjang yang di tempati Vanya pun segera memperhatikan gadis itu baik-baik.
"Haidar?" Ucap Vanya tat kala dia sudah bisa menyesuaikan penglihatannya.
"Ya, ini gua Haidar.." Haidar menggenggam tangan kanan Vanya dengan lembut. "Are you okay?"
Vanya menghela nafasnya sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. "Don't worry.. I'm okay.."
Merasakan betapa mudahnya Vanya untuk di ajak komunikasi, seketika saja membuat Haidar sedikit mengerutkan keningnya. Dia tiba-tiba saja teringat akan perkataan Andi yang mengatakan kalau Vanya sedikit sulit untuk di ajak berkomunikasi.
Namun, dari apa yang dia alami saat ini, Vanya masihlah sama seperti sebelumnya. Bahkan gadis itu bersikap seolah tidak mengalami kejadian apa pun.
Tapi, di balik itu, Haidar justru merasa sangat khawatir. Karena, bagaimana mungkin bisa Vanya bersikap seperti itu setelah dia mengalami kejadian yang sangat buruk, bahkan hingga mengalami efek dari pasca trauma.
Setelah nengecup punggung tangan kanan Vanya, Haidar yang benar-benar merasa khawatir pun kembali bertanya. "Are you really okay?"
Tepat setelah Haidar menanyakan hal itu, kini dia mengerti tentang apa yang di maksud oleh Andi tat kala dia menatap mata Vanya yang tiba-tiba saja berubah menjadi tatapan kekosongan.
"Va?" Haidar mencoba untuk menyadarkan Vanya.
"Ivanya??"
Haidar lantas beranjak dari duduknya, kedua tangan pria itu kemudian terangkat untuk menangkup kedua belah pipi Vanya.
"Va.. Hey.. Sayang.." Haidar mengelus pipi kiri Vanya menggunakan ibu jari tangan kanannya.
Namun sayangnya, berapa kali pun Haidar mencoba untuk memanggil nama Vanya, gadis itu sama sekali tidak memberikan respon apa pun.
Haidar yang merasa panik pun segera menekan tombol untuk memanggil dokter seraya terus mencoba untuk menyadarkan Vanya dari kekosongannya.
Hingga tak lama setelah itu, seorang dokter perempuan bernama Tiya pun datang bersama dengan suster Tasyi yang memang kebetulan sedang bertugas menjadi asisten dokter.
"Dok, bisa tolong jelasin pacar saya kenapa?" Tanya Haidar cepat tat kala Tiya dan Tasyi memasuki ruangan.
Mendengar kata pacar yang keluar dari mulut Haidar, seketika saja membuat Tasyi berdehem kecil karena rasa penasarannya tentang siapa Vanya bagi Haidar pun kini sudah terjawab.
__ADS_1
"Pantes aja sampe kayak gitu, orang pacarnya.." Tasyi bergumam di dalam hatinya.
Sedangkan Tiya, dia segera menghampiri Vanya untuk memeriksa keadaan gadis itu.
"Sebentar ya, saya coba periksa dulu.." Tiya berkata seraya mulai memeriksa keadaan Vanya.
Haidar pun melihat apa yang di lakukan oleh Tiya dengan begitu seksama.
"Kapan dia bangun?" Tanya dokter Tiya setelah dia selesai memeriksa keadaan Vanya.
"Sekitar 10 menit yang lalu.." Jawab Haidar cepat.
"Apa pasien pernah mengalami hal yang buruk yang menyebabkan mentalnya terguncang?" Tiya bertanya kembali.
Haidar menganggukkan kepalanya. "Kejadiannya sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu.."
Tiya mengangguk-anggukkkan kepalanya. "Mm, begini.. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya pada Pak Andi.. Akan lebih baik untuk pasien di tangani oleh dokter psikolog. Karena secara fisik, pasien memang tidak mengalami hal apa pun. Tapi untuk mental, itu yang perlu kita tindak lanjuti." Tutur Tiya.
"Karena dari sejauh dari apa yang saya amati, pasien mengalami efek pasca trauma yang cukup parah sehingga membuat pasien merasa enggan untuk merespon apa pun. Hal itu bisa di sebabkan karena pasien yang terlalu terhanyut pada dunia alam bawah sadarnya sendiri. Kalau dari apa yang saya ketahui, jika di biarkan terlalu lama, pasien mungkin saja akan mengalami gejala bipolar. Tapi, untuk keterangan lebih lanjutnya, bisa di tanyakan pada dokter yang bersangkutan." Tutur Tiya kembali.
Meskipun merasa sedikit terkejut, namun Haidar tetap berusaha untuk mencerna setiap penjelasan yang di katakan oleh Dokter Tiya.
"Kalo gitu, kapan Vanya harus melakukan pemeriksaan?" Tanya Haidar kemudian.
"Kalau sesuai dengan yang di jadwalkan, berhubung Dokter Rizal sedang melakukan cek rutin pada beberapa pasien rawat jalan, mungkin beliau akan datang kesini sekitar 30 menit lagi. Tapi mungkin saja bisa lebih cepat dari pada itu." Tutur Tiya.
Haidar pun menganggukkan kepalanya.
"Kalai begitu, saya permisi dulu." Ucap Tiya.
Haidar kembali menganggukkan kepalanya.
Tiya dan Tasyi pun segera keluar dari ruangan itu.
Setelahnya, Haidar kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Pria itu mengelus kepala Vanya dengan lembut.
"Sayang.. Hei.. Lu beneran ga mau ngobrol gitu sama gua? Hmmm??"
Namun, Vanya yang memang sedang terfokus pada dunianya sendiri pun hanya diam tanpa ada niat untuk memberikan respon apa pun.
Yang mana, hal itu seketika saja membuat Haidar mengigit bibirnya karena menahan air matanya yang seakan mendesak untuk mengalir membasahi pipinya.
"Va.. Apa yang harus gua lakuin supaya lu mau ngomong lagi sama gua, hmmm??" Suara pria itu kini terdengar sedikit bergetar.
__ADS_1
Bahkan kini, tangan kiri Haidar yang tak hentinya mengelus rambut Vanya pun ikut sedikit bergetar karena menahan kesedihan yang di rasakannya.
Hingga pada akhirnya, sekuat apa pun Haidar menahan kesedihan yang dia rasakan, Haidar tetap saja mulai mengeluarkan air mata meskipun dalam diam.
Pria itu lantas kembali menggenggam tangan kanan Vanya, dia menatap Teya untuk sejenak kemudian mengecup punggung tangan Vanya dalam waktu yang cukup lama.
Haidar yang sudah tidak bisa menahan segala rasa yang ada di dalam hatinya pun kini mulai terisak kecil..
Percayalah, setelah sekian lama, ini adalah kali pertama lagi bagi Haidar untuk menangis hingga terisak seperti ini.
Haidar ingat, kali terakhir dia menangis pilu seperti ini adalah ketika dia kehilangan ibu dan adiknya. Setelah itu, hati Haidar benar-benar mati rasa dan tidak pernah tergugah untuk menangisi apa pun.
Tapi untuk kali ini, melihat keadaan Vanya yang seperti ini, Haidar tidak tau kenapa rasanya sama persis seperti saat dia kehilangan ibu dan adiknya.
Sakit, benar-benar sakit..
Pria itu kini menempelkan dahinya pada punggung tangan Vanya dengan isak tangis yang semakin terdengar pilu.
Tapi, ketahuilah, isakan yang terus keluar dari mulut Haidar mampu menyadarkan Vanya dari keterdiamannya.
Gadis itu menatap Haidar dengan sedikit bingung karena ini adalah kali pertama dia mendengar Haidar menangis pilu seperti ini.
Tangan kiri gadis itu lantas terangkat untuk menyentuh kepala Haidar.
"Dar.. Lu nangis?" Gadis itu bertanya dengan sedikit bingung.
Yang mana, hal itu membuat isak tangis Haidar berhenti saat itu juga.
Pria itu menatap Vanya dengan tatapan penuh harap.
"Va?"
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..