Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Bukan Tandingan


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelumnya...


Sedangkan Rina, dia yang merasa harga dirinya di injak-injak pun semakin menatap Vanya dengan sangat nyalang. Hingga..


PLAAKKKK...


*****


Tangan Rina terangkat untuk menampar pipi kiri Vanya.


Sungguh, tamparan yang Rina berikan bukanlah tamparan main-main. Terbukti dari sudut bibir Vanya yang kini terluka hingga mengeluarkan darah.


Namun, setelah melakukan tamparan itu, Rina benar-benar merasa terkejut karena Vanya tidak bergeming dari tempatnya. Bahkan kepala gadis itu sama sekali tidak terlihat bergerak sedikitpun.


Bukan hanya Rina, semua orang yang melihat hal itu pun sama terkejutnya. Karena hal mustahil bagi siapapun untuk tetap bertahan dalam posisinya ketika mendapatkan tamparan yang sangat keras.


Tapi tidak dengan Nisa, gadis itu hanya menghela nafasnya karena dia tau betul kenapa Vanya bisa tetap terlihat biasa saja. Ya, apa lagi jika bukan karena terbiasa..


Sedangkan Vanya, gadis itu hanya tersenyum simpul lalu memberikan Nisa kode berupa lirikan mata agar mereka segera pergi dari sana. Karena meskipun Vanya sudah benar-benar merasa emosi, gadis itu tetap berusaha mengontrol emosinya demi menghindari masalah yang bisa saja nantinya akan mempengaruhi nilainya.


Setelah melihat Nisa yang beranjak dari duduknya, Vanya lantas berjalan melewati Rina dengan sedikit menyenggol bahu gadis itu.


Namun, baru beberapa langkah Vanya berjalan, gadis itu merasa sedikit terkejut karena Rina tiba-tiba saja menjambak rambutnya.


"Mau kemana lu cewek sia..lan!!" Rina berkata dengan sangat geram.


Yang mana, hal itu seketika membuat orang-orang yang ada di sana kian menahan nafas mereka. Menantikan hal apa lagi yang akan terjadi, hingga mengabaikan bel pertanda berakhirnya jam istirahat yang telah berbunyi.


Tapi tidak dengan Haidar, dia yang melihat hal itu dari kejuhan segera mempercepat langkahnya untuk menghampiri Vanya. Namun, langkah pria itu seketika terhenti tat kala menyaksikan Vanya yang tiba-tiba saja membanting tubuh Rina dengan begitu mudahnya.


Ya, setelah mendapatkan jambakan dari Rina, Vanya lantas memegang tangan Rina yang kini tengah menjambak rambutnya, lalu memutarkan tubuhnya sendiri guna memlintir tangan Rina hingga gadis itu melepaskan rambutnya yang ada di genggaman gadis itu. Dan dengan gerakan cepat, Vanya sedikit menundukkan tubuhnya kemudian membanting tubuh Rina hingga gadis itu terlentang di atas lantai dengan di iringi suara debuman yang cukup keras.

__ADS_1



Pict by : Pinterest


*Note : Gambar hanya sekedar ilustrasi..


Semua orang yang menyaksikan hal itu pun seketiak meringis membayangkan betapa sakitnya tubuh Rina yang terbanting itu. Tidak terkecuali Haidar dan Nisa, mereka benar-benar di buat melongo tak percaya melihat apa yang baru saja di lakukan oleh Vanya.


Sedangkan Vanya, setelah membanting tubuh Rina. Gadis itu lantas menyibakkan rambutnya ke belakang, lalu melayangkan tatapan tajamnya pada Rina yang kini juga tengah menatapnya dengan nyalang seraya meringis kesakitan.


Kedua teman Rina yang melihat itu pun segera membantu Rina untuk berdiri. Hingga ketika Rina akan mengeluarkan umpatannya, Vanya lebih dulu bersuara.


"Dari awal, gua udah berusaha buat ga ngeladenin lu karena gua masih ngehargain lu sebagai kakak kelas gua. Kalo aja lu cukup berhenti sampe nyiram kepala gua, lu ga bakalan mungkin berakhir kaya gini. Dan satu hal yang perlu lu inget sampe kapan pun. Lu... Sama sekali bukan tandingan gua." Vanya berkata dengan suara rendahnya yang begitu tajam dan menusuk.


Dan ketika Rina akan membalas perkataan Teya, lagi-lagi dia harus menelan kembali kalimatnya tat kala *Bu Laila menghampiri mereka dengan membawa tongkat panjang yang terbuat dari rotan.


*Bu Laila : Guru BK (Bimbingan Konseling) + guru pelajaran kimia.


Bu Laila lantas menatap Vanya dan Rina dengan sangat tajam.


"Kamu," Bu Laila menunjuk Rina menggunakan tongkat rotannya. "Dan kamu," Bu Laila beralih menunjuk Vanya. "Ikut saya ke ruang BK"


Mendapat amukan dari Bu Laila, siswa dan siswi yang masih berkerumun pun segera membubarkan diri. Tapi tidak dengan Haidar, Nisa, Angga, dan kedua teman Rina. Mereka masih setia berdiri di tempatnya.


Namun, Bu Laila tidak menghiraukan mereka. Wanita itu kembali menatap Rina dan Vanya sebelum akhirnya berlalu pergi menuju ruang BK, di ikuti oleh Rina yang di papah oleh kedua temannya.


Sedangkan Vanya, ketika gadis itu hendak melangkah, Nisa lebih dulu mencekal lengannya.


"Va.." ucap Nisa dengan sangat lirih.


"Gua baik-baik aja kok" Vanya berkata kemudian tersenyum lembut.


"Yakin?"


Vanya menganggukkan kepalanya.


"Mau gua anterin ga?"

__ADS_1


Vanya menggelengkan kepalanya. "Ga usah, lu balik ke kelas aja, sayang entar kalo pelajarannya ke lewat." ucap Vanya lalu melepaskan tangan Nisa yang masih mencekal lengannya.


Setelahnya, gadis itu berlalu pergi dari sana. Meninggalkan Haidar, Angga, dan Nisa yang kini tengah menatap punggungnya dengan tatapan penuh kekhawatiran.


*****


"Siapa yang mau jelasin kejadiannya?" Bu Laila bertanya kepada Vanya dan Rina yang kini sedang berdiri di hadapannya.


Berbeda dengan Vanya yang menatap lurus ke depan, Rina justru menundukkan kepala seraya mengusap sudut matanya seolah-olah sedang menghapus air matanya.


"Saya, saya ga salah Bu.. Ibu liat sendiri kan kalo Vanya ngebanting saya. Badan saya aja sekarang rasanya sakit semua," Rina berkata dengan suara yang sedikit tertahan seakan sedang menahan tangisnya.


Mendengar pembelaan diri Rina yang begitu dramatis, seketika mampu membuat Vanya menyunggingkan senyum simpulnya, senyum simpul yang bahkan tidak di sadari oleh Bu Laila maupun Rina itu sendiri.


Bu Laila menghela nafasnya sejenak lalu berkata. "Ibu ga tanya siapa yang salah dan siapa yang ga salah. Yang ibu tanyain itu kronologi kejadiannya kaya gimana!!"


Rina lantas menatap Bu Laila lalu kembali berkata dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya. "Padahal saya tadi cuma hiks ngomong baik-baik sama Vanya bu.. Tapi, hiks Vanya malah ngehina saya yang engga-engga hiks.. Tadi hiks saya juga hiks udah minta maaf sama Vanya kalo misal hiks ada omongan saya yang nyinggung dia hiks.. Tapi, tapi hiks dia malah hiks ngebanting saya Bu. Sekarang hiks, badan saya jadi sakit hiks semua Bu, huhu..." gadis itu kini mulai menangis dengan pilu.


Yang mana hal itu cukup membuat Bu Laila menatap Rina dengan penuh rasa iba. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Bu Laila sedikit tidak mempercayai apa yang sudah di katakan Rina. Karena selama dia mengenal Vanya, gadis itu bukanlah gadis yang akan dengan mudah berurusan dengan masalah hingga membuat gadis itu menjadi salah satu siswi favouritenya.


Si tambah lagi dengan melihat kondisi wajah Vanya yang juga tidak terlihat baik-baik saja, semakin membuat Bu Laila sulit untuk mempercayai perkataan Rina.


Tapi, meskipun begitu, Bu Rina tetap berusaha professional dengan tidak membela siapapun.


"Benar begitu Vanya?" Bu Laila bertanya kemudian menatap Vanya.


Namun, ketika Vanya hendak menjawab pertanyaan Bu Laila, kalimatnya harus dia telan kembali ketika mendengar seseorang kini tengah mengetuk pintu BK yang tertutup.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2