
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vanya berdiri dengan bersedekap dada seraya menatap Haidar yang kini tengah duduk di tribun lapangan basket.
Gadis itu menghela nafasnya dengan jengah karena Haidar tak kunjung bersuara.
"Lu ngapain sih ngajakin gua kesini?" Vanya bertanya seraya menatap Haidar dengan sangat tajam.
"Haidar, please.. Kalo ga ada yang penting, mending gua balik ke kelas deh.." Vanya kembali berkata tat kala Haidar hanya diam tanpa ada niatan untuk mengeluarkan suata sedikit pun.
Akhirnya Haidar menghela nafasnya sejenak kemudian menoleh untuk menatap Vanya. "Kenapa sikap lu seolah olah ga kenal sama gua?"
Mendengar pertanyaan Haidar yang menurutnya sedikit tidak masuk akal, Vanya seketika mengernyitkan dahinya lalu berkata. "Ya emang gua ga kenal kan sama lu."
"Lu ga lupa kan kalo kita pernah ketemu di olimpiade debat Bahasa Inggris?"
"Tapi kan bukan berarti kita udah saling kenal dong.." Vanya menjawab dengan acuh tak acuh seraya memalingkan wajahnya.
Haidar seketika memalingkan wajah seraya mengatupkan mulutnya rapat-rapat ketika mendengar perkataan Vanya yang memang sangat masuk akal.
"Shi...t gua harus ngomong apa lagi" Haidar berkata dalam hati.
Sungguh, ini adalah kali pertamanya merasa di acuhkan. Bahkan kini yang mengacuhkannya adalah gadis yang tengah di sukainya.
Selama ini, karena Haidar merupakan orang yang sangat sulit untuk di sentuh. Jika ada gadis yang mendekatinya, maka Haidar akan langsung mengacuhkan gadis itu secara terang-terangan tanpa memikirkan perasaan gadis yang di acuhkannya.
Dan setelah mengalaminya sendiri, kini Haidar mengerti bagaimana rasanya ketika di acuhkan oleh seseorang. Apa lagi orang itu adalah gadis yang di sukainya. Sungguh, hati haidar merasa sedikit tercubit.
Vanya lantas menaikkan sebelah alisnya lalu menatap Haidar dengan tatapan yang sedikit meremehkan. "Jadi lu ngajakin gua ke sini cuma mau bahas hal itu doang? Ga penting tau ga.." ucap Vanya kemudian hendak berlalu pergi dari sana.
Namun, langkahnya terhenti tat kala Haidar berkata.
"Gua suka sama lu"
Ya, Haidar menyukai Vanya sejak awal mereka bertemu di olimpiade debat Bahasa Inggris. Awalnya, Haidar merasa bahwa mungkin saja rasa sukanya itu hanya sekedar perasaan kagum atas sikap dan perilaku gadis itu yang sangat tegas.
Namun, semakin Haidar mencoba untuk mengenyahkan perasaannya itu, Haidar justru semakin menggebu untuk mendapatkan hati gadis itu. Bahkan tak jarang gadis itu muncul di dalam lamunannya.
Hingga setelah berpikir dengan cukup matang, Haidar memutuskan untuk meminta kepada ayahnya agar memindahkan Haidar ke SMK Pelita Jaya dengan dalih untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.
__ADS_1
Karena selain Vanya bersekolah di SMK Pelita Jaya, sekolah itu juga memang merupakan sekolah yang jauh lebih unggul jika di bandingkan dengan SMK Garuda.
Selain itu juga, Haidar merasa percaya diri untuk pindah ke SMK Pelita Jaya karena nilainya yang selalu di atas rata-rata. Jadi hal itu cukup memungkinkan untuk dirinya di terima bersekolah di SMK tersebut.
Dan ya, di sinilah dia sekarang.. Duduk di hadapan gadis yang di sukainya dan akan mulai berusaha untuk mendapatkan hati gadis pujaannya itu.
Sedikit gila memang, tapi itu lah Haidar.. Seorang pria yang tidak akan menyerah untuk mendapatkan apa yang sudah memporak porandakan hatinya.
"Vanya.." Haidar mencoba menyadarkan Vanya yang kini hanya menatapnya tanpa memberikan respon apa pun.
"Ga usah ngaco deh.." ucap Vanya kemudian.
"Gua serius Va.. Gua suka sama lu semenjak kita ketemu di olimpiade"
"Tcih.." gadis itu memalingkan wajahnya seraya tersenyum simpul. "Jokes lu garing, ga lucu.." ucap Vanya dengan acuh tak acuh.
Ketahuilah, meskipun Vanya berkata dengan acuh tak acuh. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, Vanya menjadi semakin penasaran akan sosok pria yang bernama Haidar itu. Dan entah kenapa, kini jantung Vanya berdetak sedikit lebih kencang dari biasanya.
Namun, di saat gadis itu berusaha untuk terlihat biasa saja. Pertahanan gadis itu tiba-tiba saja sedikit goyah saat mendengar Haidar berkata.
"Gua ga bercanda Va, buat apa gua bela-belain pindah ke sini kalo bukan buat ngejar lo"
Vanya pun menatap Haidar dengan rasa terkejutnya. "Lu gila ya??" gadis itu bertanya dengan alis yang menukik tajam.
"Ya, gua gila. Dan lu yang udah bikin gua gila" ucap Haidar seraya membalas tatapan Vanya dengan tak kalah tajam.
Ketahuilah, Gadis itu kini sedang berusaha mati-matian untuk menghindari perasaan asing yang tiba-tiba saja hinggap di hatinya.
"Vaa.." Haidar mencoba memanggil Vanya agar gadis itu tidak pergi begitu saja.
"Vanyaaa.."
Tapi percuma saja, gadis itu sama sekali tidak menghiraukan panggilan Haidar.
"Cih.." pria itu lantas berdecih lalu menengadahkan wajah dengan senyum kecil yang terpatri di wajahnya.
Tapi sedetik kemudian, pria itu tiba-tiba saja terkekeh tat kala mengingat kembali percakapannya dengan Angga tempo hari.
Flashback On..
Beberapa hari setelah Haidar mulai bersekolah di SMK Pelita Jaya. Saat bel istirahat berbunyi, pria itu menemui Angga yang merupakan teman bermainnya dan juga merupakan tetangga rumahnya.
Angga yang tengah berlatih basket pun melambaikan tangannya pada Haidar lalu segera ijin kepada teman-temannya untuk meninggalkan lapangan.
"Tumben lu nyamperin gua, ada apa?" Angga bertanya pada Haidar yang kini sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
Angga seketika terkekeh saat Haidar hanya menatapnya dengan tajam tanpa ada niatan merespon pertanyaannya, pria itu lantas memilih untuk duduk di kursi pemain cadangan lalu meminum air mineral miliknya.
"Lu beneran pindah ke sini cuma buat dapetin hati si Vanya?" Angga bertanya kemudian menengadahkan kepalanya untuk menatap Haidar dengan rasa tidak percayanya.
Haidar menatap Angga untuk beberapa saat kemudian mendudukan dirinya di samping Angga lalu berkata. "Itu tujuan utamanya"
Mendengar Haidar yang menjawab pertanyaannya dengan begitu mantap, seketika membuat Angga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lu rada gila sih kalo emang beneran kaya gitu" Angga berkata seraya menatap Haidar dengan penuh rasa heran.
Haidar mengangkat bahunya acuh. "Anggap aja gua gila, gua ga punya alesan lain selain itu"
Angga lantas memalingkan wajahnya lalu berkata. "Bro, lu yakin sama perasaan lu? Kita masih SMK coy, bisa aja perasaan lu cuma sekedar rasa penasaran doang."
"Percuma juga lu bilang kaya gitu, sekarang gua udah ada di sini"
Angga seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya iya sih, telat ya gua bilangnya."
Haidar pun hanya menanggapinya dengan senyum simpul.
Angga lantas menepuk bahu Haidar lalu berkata. "Kalo saran gua sih ya, mending lu fokus aja buat belajar. Kalo soal buat dapetin hati si Vanya, lu bisa ngelakuinnya pelan-pelan. Sebelumnya gua udah pernah bilang kan kalo pas kelas 10, gua pernah satu kelas sama Vanya?"
Haidar menganggukkan kepalanya.
"Nah dari sepengamatan gua selama satu tahun, Vanya bukan tipe cewek yang gampang buat di dapetin. Jangankan cowok nih ya, cewek aja suka ngerasa segan buat ngobrol sama dia. Selain gara-gara orangnya yang emang berjiwa tegas, dia tu emang auranya agak beda aja gitu dari cewek yang lain, kaya gimana ya.. Susah dah ngejelasinnya.. Beda aja gitu.. Gua aja sampe sekarang masih penasaran, kira-kira cowok modelan kaya gimana yang bisa dapetin si Vanya." tutur Angga.
Haidar pun diam-diam menyetujui perkataan Angga tentang aura Vanya yang sedikit berbeda dari kebanyakan gadis lainnya. Karena Haidar pun juga merasakannya, bahkan semenjak awal dia bertemu dengan Vanya. Entahlah, gadis itu seperti memikiki benteng pertahanan yang cukup sulit untuk di tembus.
Angga langas menatap Haidar yang terlihat sedang merenung. "Tapi lu coba deh minta saran sama si Nisa, katanya sih mereka udah sahabatan dari kecil. Siapa tau dia bisa jadi jalan buat lu deket sama si Vanya"
Haidar pun tersenyum simpul. "Thanks" ucap Haidar kemudian menepuk bahu Angga sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana.
Flashback Off..
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..