
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haidar menyunggingkan senyumnya menatap wajah damai Vanya saat sedang tertidur. Gadis itu kini tertidur di pelukannya akibat terlalu lelah menangis.
Ya, benar-benar tertidur di pelukannya.
Haidar sedikit tidak menyangka kalau mendapatkan hati Vanya kembali tidak sesulit yang dia bayangkan selama ini.
Meskipun Vanya sempat tidak mau mendengarkan penjelasan darinya. Tapi, berkat segala usaha yang di lakukan Haidar untuk membujuk Vanya agar mau mendengarkan penjelasannya, Vanya pun akhirnya mau mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi.
Haidar tidak hanya sekedar tau, dia sangat mengerti. Sebenarnya Vanya masih sangat marah padanya, tapi setidaknya Haidar bisa merasa sedikit lebih tenang karena Vanya mau bersikap lunak padanya setelah dia menjelaskan semuanya.
Terbukti dari gadis itu yang bersedia untuk tetap bermalam bersamanya.
Ketahuilah.. Pada awalnya, Vanya tidur sendirian. Tapi, karena Haidar tidak kuasa menahan rasa rindunya. Haidar diam-diam menyelinap tidur di samping Vanya.
Haidar tiba-tiba saja terkekeh kecil. Gadis itu masih sama seperti gadis yang dia kenal dulu. Bahkan kebiasaan gadis itu masih sama seperti ketika dia bersamanya.
Di mana gadis itu akan tertidur lelap dengan sangat mudah saat terlalu lelah menangis, juga bagaimana cara dia beringsut masuk ke dalam pelukan Haidar saat sedang dalam tidur lelapnya.
Haidar tau kalau Vanya melakukannya tanpa gadis itu sadari, tapi tetap saja hal itu membuatnya merasa bahagia. Karena hanya dengan hal yang di lakukan Vanya, membuat Haidar tau. Jauh di dalam lubuk hati gadis itu, masih tersimpan nama Haidar.
Haidar benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh Vanya. Tangannya yang bebas terangkat untuk mengelus wajah Vanya.
Hal itu sontak saja membuat Vanya merasa terganggu.
"Mmm! Diem ih.."
Vanya mencoba untuk menyingkirkan tangan Haidar dari wajahnya.
Namun, Haidar tidak menghentikan aksinya. Dia tetap mengelus wajah Vanya.
"Ck! Haidar, di.."
Tunggu dulu.. Haidar?
Sejak kapan dia tidur bersama Haidar?
Bukannya tadi...
Vanya membuka kedua matanya, dia menatap Haidar dengan alis yang saling bertaut.
Haidar seketika sana menyunggingkan senyum manisnya. "Hai babby.."
Vanya merasa sangat terkejut saat benar-benar menyadari kalau dirinya kini tengah tertidur di dalam pelukan Haidar.
Bukannya tadi dia tidur sendirian? Kenapa dia sekarang bisa tertidur di dalam pelukan Haidar?
Ah, dia lupa kalau Haidar sudah pasti akan menyelinap diam-diam untuk tidur di sampingnya.
Vanya lantas hendak beringsut untuk menjauh dari Haidar.
Haidar tentu saja mencegahnya. Dia menahan pinggang Vanya agar gadis itu tidak bisa menjauh darinya.
__ADS_1
"Dar, lepasin!"
Gadis itu berusaha memberontak dari pelukan Haidar.
"Diem Va, sebentar aja.."
"Ck! Lepasin Dar.. Lu udah janji!"
"Iya, gua janji buat mulai lagi semuanya dari awal. Tapi tolong, sebentar aja. Gua kangen banget sama lu.."
Vanya pun diam, dia membiarkan Haidar memeluknya. Dia bahkan membiarkan Haidar membenamkan wajahnya pada dada bidang pria itu.
Diam-diam, dia menikmati aroma tubuh Haidar yang tidak berubah. Aroma tubuh Haidar benar-benar masih sama seperti apa yang dia ketahui.
Ah tidak, sebenarnya ada sedikit yang berbeda. Aroma tubuh Haidar kini sedikit lebih maskulin. Entahlah, mungkin itu karena perubahan hormon dalam tubuh Haidar.
Vanya lantas menghirup aroma tubuh Haidar dalam-dalam. Jujur saja, jauh di dalam lubuk hatinya, Vanya juga merindukan Haidar.
Ah tidak, lebih tepatnya sangat merindukan Haidar.
Vanya merindukan pelukan hangat dari Haidar. Merindukan perlakuan lembut dari Haidar. Merindukan pengertian dari Haidar. Ah, Vanya benar-benar merindukan semuanya.
Vanya akui, Vanya sebenarnya merasa sangat senang atas kembalinya Haidar. Terlebih lagi, setelah Haidar menceritakan alasan kenapa dia bisa menghilang, membuat Vanya sedikit banyaknya bisa mengerti kenapa Haidar menghilang tanpa kabar.
Tapi, Vanya juga masih sangat merasa marah dan kecewa. Marah karena Haidar tidak segera menghubunginya saat dia sudah memiliki kesempatan untuk melakukannya, juga kecewa karena Haidar membiarkannya berpikiran negatif sepanjang waktu.
Alasannya karena takut Vanya akan marah. Lantas, apa pria ini tidak takut kalau dia akan sampai benar-benar kehilangan Vanya? Apa pria ini tidak takut kalau Vanya bisa saja jatuh ke pelukan pria lain?
Jika saja di saat dia sudah memiliki kesempatan itu dan langsung menghubunginya, mungkin saja Vanya tidak akan se marah da se kecewa ini.
Tapi ya, mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Setidaknya, Haidar kini sudah kembali.
Karena Vanya juga berpikir, jika dia ada di posisi Haidar, mungkin juga dia akan merasakan ketakukan yang sama.
Namun, Vanya juga tidak langsung menerima Haidar kembali begitu saja, ada banyak rasa yang harus dia susun kembali.
Kendati demikian, Vanya tetap bersedia untuk mengulang semuanya dari awal lagi. Karena ya, jauh di dalam lubuk hatinya, hingga saat ini pun masih ada nama Haidar yang tersimpan dengan begitu baik di hatinya.
Mungkin, jika Haidar meninggalkannya karena wanita lain, Vanya sudah pasti akan melupakan Haidar saat itu juga. Lain halnya dengan ini, Vanya bisa memahaminya dengan baik. Hanya saja, Vanya masih merasa marah.
"Dar.. Gua ga bisa nafas.."
Vanya mencubit dada Haidar karena pria itu memeluknya terlalu erat.
Haidar seketika saja menyunggingkan senyum canggungnya, dia lantas sedikit melonggarkan pelukannya.
"Sorry.. Gua terlalu rindu."
"Udah ih, lepas aja.. Udah kelamaan. Lu bilangnya tadi sebentar aja kan."
Haidar menghela nafasnya, jujur saja, dia merasa sangat enggan untuk melepaskan Vanya dari pelukannya.
"Ralat deh ralat, gua meluk elu nya semaleman ini aja. Besok-besok, gua meluk elu nya kalo elu udah ngasih ijin dengan suka rela."
Vanya mengernyitkan dahinya. "Ck! Ga bisa gitu.."
"Bisa Va.."
__ADS_1
"Daaar!!"
"Shut! Udah diem.. Gua masih kangen."
"Astagaaa.. Lepas Dar.. Gua juga belum mandi dari kemaren, iiish!"
"Yaudah ga usah mandi. Ga mandi juga tetep cantik, tetep wangi."
Vanya memutar bola matanya. "Rayuan lu basi!"
"Gua ga lagi ngerayu Va.. Gua beneran ini.. Lu ga mandi aja tetep cantik, tetep wangi."
"Tapi badan guanya lengket.. Ga nyaman. Gua pengen mandi."
"Lu kan ga bawa baju ganti."
"Terus koper lu isinya apa kalo bukan baju? Kalo lu ga mau minjemin, masih ada bathrobe yang nganggur."
Haidar menghela nafasnya, dia sudah tidak bisa lagi membalas perkataan Vanya. Karena sejatinya, di dalam kopernya memang sudah ada pakaian lengkap untuk Vanya yang sebelumnya sengaja dia siapkan.
Meskipun dia merasa sangat enggan untuk melepaskan pelukannya, namun dia tetap melepaskan pelukannya. Dia membiarkan Vanya untuk melakukan apa yang dia inginkan.
Namun, Belum sempat Vanya benar-benar beranjak dari kasur. Haidar sudah kembali menahannya dengan menggenggam tangan gadis itu.
"Ck, apa lagi?"
Vanya menoleh pada Haidar dengan alis yang menukik tajam.
"Tapi lu nya jangan pergi."
Vanya menghela nafasnya. "Gimana gua bisa pergi, Dar? Dompet ga ada, hp juga ga tau di mana."
"Tadi katanya lu mau nekat jalan kaki."
"Ga jadi, ngebayanginnya aja udah Capek."
"Udah ah, lepas."
Vanya menarik tangannya kemudian berlalu pergi menuju kamar mandi.
Haidar menatap pintu kamar mandi dengan senyum bahagia yang terus tersungging di bibirnya. Rasa lelahnya setelah perjalanan selama kurang lebih 20 jam lamanya kini hilang begitu saja setelah dia melihat Vanya baik-baik saja.
Ketahuilah, Haidar belum mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak pun semenjak dia menginjakkan kakinya di tanah jogjakarta.
Tapi, dia tidak mempermasalahkan hal itu. Karena yang terpenting, Vanya kini sudah aman berada di tangannya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..