
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sinta tersenyum melihat Vanya dan Haidar yang tengah mengobrol santai di ruang tamu. Sinta juga melihat kalau Haidar sesekali akan menyingkirkan helaian rambut Vanya yang menutupi wajah gadis itu.
Hanya dengan melihat dari pancaran mata Haidar saja, Sinta sudah bisa melihat rasa cinta Haidar yang begitu besar untuk Vanya. Sinta mengucapkan rasa syukurnya karena Vanya telah bertemu dengan pria yang menyayanginya dengan tulus.
Untuk saat ini, mau pun hingga di masa yang akan datang. Sinta berharap kalau rasa sayang Haidar terhadap Vanya tidak akan pernah berubah.
Sinta tahu, dalam setiap hubungan pasti akan mengalami masalah yang berujung pertikaian. Tapi, semoga saja, Haidar dan Vanya bisa mempertahankan hubungan mereka hingga ajal menjemput salah satu dari keduanya.
Karena mau bagaimana pun, hanya doa dan harapan lag yang bisa dia lakukan untuk Vanya, keponakan yang paling dia sayangi.
Melihat waktu yang sudah menujukkan sore hari, Sinta pun memutuskan untuk mendekat Vanya dan Haidar.
"Ayok.. Jadi uwa anterin ke mamah kamu ga?"
Vanya dn Haidar menoleh pada Sinta.
"Mumpung belum kesorean, mending sekarang aja. Habis dari sana, kalian bisa istirahat lagi."
Vanya melirik Haidar sekilas, dia pun menganggukkan kepalanya.
Mereka lantas segera menuju rumah nenek Indah. Jaraknya yang tidak terlalu jauh, membuat mereka memutuskan untuk menuju rumah nenek Indah dengan berjalan kaki.
.......
.......
.......
Rumah Nenek Indah...
"Masuk gih ke dalem, tapi kamu jangan kaget ya liat kondisi mamah kamu."
"Tapi wa.."
Vanya menatap Sinta dengan di penuhi rasa keraguan.
"Ga papa.. Masuk aja.. Uwa kan udah bilang sama kamu, mamah kamu tu pengen ketemu sama kamu udah dari lama banget."
Vanya menghela nafasnya, dia menatap Haidar untuk sejenak.
Mengerti dengan keraguan Vanya, Haidar mengangguk kecil seolah meyakinkan Vanya kalau semuanya akan baik-baik saja.
Setelah menguatkan hatinya, Vanya pun perlahan mulai membuka pintu rumah itu.
Hingga...
__ADS_1
"Hah.."
Vanya terhenyak melihat Dewi, wanita yang sudah melahirkannya kini tengah duduk di atas kursi roda dengan kondisi yang sangat menyedihkan. Tapi sayangnya, Dewi sedang menonton televisi hingga tidak menyadari kehadiran Vanya.
Vanya lantas menoleh pada Sinta.
"Mamah sakit apa wa?"
Sinta menghela nafasnya, dia menatap Vanya dengan tatapan sendu.
"Mamah kamu kena stroke sejak 2 tahun yang lalu."
"Stroke?" Vanya menatap Sinta dengan raut wajah terkejutnya.
Sungguh, mengetahui hal itu, benar-benar membuat Vanya merasa sangat terkejut, hatinya tiba-tiba saja terasa begitu sakit seperti ada ribuan jarum yang menusuk.
Meskipun selama ini Dewi tidak pernah menganggapnya sebagai seorang putri, namun Vanya masih tetap menganggap Dewi sebagai ibunya. Karena mau bagaimana pun, bahkan mungkin hingga ajal menjemput, Vanya tidak bisa memungkiri fakta kalau Dewi adalah ibu kandungnya.
Ada darah Dewi yang mengalir deras di tubuh Vanya. Sebenci apa pun rasa yang di miliki Vanya terhadap Dewi, namun kasih sayangnya kepada Dewi tetap mengalahkan rasa bencinya. Melihat kondisi Dewi yang seperti ini, tentu saja membuat Vanya merasa sangat sedih.
Dewi adalah orang yang sangat lincah dan pandai dalam segala hal. Dewi tidak pernah merasa lelah dalam hal bekerja.
Dulu, Vanya sering kali melihat Dewi pergi di pagi hari dan pulang di malam hari. Bukan hanya untuk sekedar bermain, namun Dewi meninggalkan rumah untuk bekerja.
Kini, melihat kondisi Dewi yang seperti itu, sungguh membuat Vanya merasa sangat sedih. Vanya tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Dewi setelah dia mengidap stroke.
Vanya yang hanya melihatnya saja sudah merasa sangat sedih. Apa lagi Dewi yang mengidapnya. Dia yang dulu lincah dan sering bepergian kemana-mana, kini hanya bisa terkulai lemas tak berdaya. Bahkan hanya untuk sekedar duduk saja harus di bantu oleh orang lain.
Hahh.. Sungguh, Vanya benar-benar tidak bisa membayangkannya.
Saat Dewi hanya tinggal 4 langkah di depannya, Vanya seketika saja terdiam mematung tat kala Dewi menoleh kepadanya.
Jangankan untuk semakin mendekati Dewi, hanya untuk sekedari mengeluarkan suaranya saja Vanya merasa tidak mampu melakukannya.
Rasa takut tiba-tiba saja menghampiri Vanya. Mengingat Dewi yang sangat membencinya, membuat Vanya merasa takut kalau kedatangannya akan memperburuk kondisi Dewi.
Karena setau Vanya, seseorang yang mengidap penyakit stroke tidak boleh di hadapkan dengan suatu hal yang bisa memicu rasa stressnya. Karena jika hal itu terjadi, maka kondisinya akan semakin buruk.
Namun...
Rasa takut Vanya menghilang saat melihat Dewi yang tiba-tiba saja mengeluarkan air matanya.
"Va.. Nya.."
"Va.. Nya.. Ke si ni nak.."
Dewi berkata dengan sangat terbata-bata. Lidahnya yang kelu akibat penyakit stroke yang di deritanya, membuat dia sangat kesulitan untuk berbicara.
Namun, hal itu tidak berarti untuk Vanya. Gadis itu mampu membaca gerak bibir Dewi dengan sangat baik.
"Va nya.. Ke si ni.."
__ADS_1
Dewi melambaikan tangan kanannya yang lemah kepadanya Vanya, memberikan isyarat pada Vanya agar gadis itu mendekat padanya.
Vanya pun melanjutkan langkahnya, dia berhenti tepat di hadapan Dewi.
"Mah.." Lirih Vanya.
"Va.. Nya.."
Dewi merentangkan tangan kanannya, meminta Vanya untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Mamah.."
Tanpa berpikir apa pun lagi, Vanya pun merangsek masuk ke dalam pelukan Dewi.
Meskipun tangan kanannya lemah, namun Dewi tetap mampu menggerakkan tangan kanannya. Dia mencoba untuk mendekat Vanya dengan sangat erat.
"Maafin mamah.."
Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Vanya juga minta maaf.."
Ibu dan anak itu saling mendekap dengan sangat erat, isak tangis pilu saling bersahutan dari keduanya.
Sinta, yang melihat hal itu tak kuasa menahan rasa harunya. Air mata pun perlahan mulai mengalir membasahi pipinya.
Sinta merasa amat sangat bahagia, doa yang selama ini dia panjatkan akhirnya terkabul juga. Meskipun harus dengan jalan kepedihan, tapi setidaknya keinginan Sinta untuk melihat ibu dan anak itu bersatu akhirnya terkabul juga.
Sinta tau, bagaimana rasa sakit yang di derita Vanya akibat ke egoisan Dewi. Namun Dewi juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Dewi, karena di balik apa yang di lakukan Dewi kepada Vanya, tersimpan sejuta luka yang juga di alami Dewi.
Tapi biarlah.. Semuanya sudah berlalu, yabg terpenting untuk saat ini, ibu dan anak itu sudah laing memaafkan. Ibu dan anak itu kini sudah bersatu. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Sinta selain melihat bersatunya ibu dan anak yang sudah terpisah sedari kecil akibat suatu masalah.
"Makasih ya kamu selama ini udah ngejagain Vanya."
Sinta menoleh pada Haidar, dia menyunggingkan senyum harunya.
Haidar tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Udah seharusnya kayak gitu wa. Aku pasti bakalan ngejagain orang yang aku sayangi."
"Uwa harap, kamu bakalan ngejagain Vanya sampe seterusnya. Sampe kalian tua, sampe ajal menjemput kalian masing-masing."
"Tenang aja wa, meskipun aku ga tau kedepannya bakalan kayak gimana. Tapi aku pastiin, aku bakal ngejagain Vanya dengan sebaik mungkin."
Sinta menyunggingkan senyumnya. "Ya.. Semoga aja.."
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..