Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Kehilangan


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed.....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, akhirnya mereka sampai di kediaman Rima. Bagas lantas mengantar Vanya hingga ke depan pintu.


"Selamat pagi tante" ucap Vanya saat Rima kebetulan sedang ada di ambang pintu.


"Eh selamat pagi sayang.. Kok baru dateng?" ucap Rima lalu menyambut kedatangan Bagas dan Vanya.


"Biasa, anak gadis kan kalo dandan lama" jawab Bagas seraya terkekeh.


"Lohh.. Papah tu yang kelamaan ngelamun" sahut Vanya cepat.


"Sudah-sudah, ayo masuk ke dalem, Nisa udah nungguin kamu loh dari tadi" ucap Rima.


"Kalo gitu papah tinggal dulu ya. Kalo udah selesai langsung telpon papah ya, nanti papah jemput" ucap Bagas.


Vanya pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Loh, Pak Bagas engga masuk dulu aja?" tanya Rima.


"Engga Bu, saya ada beberapa pekerjaan.. Jadi tolong titip Vanya sebentar ya" jawab Bagas.


"Iya gapapa, santai aja. Jemputnya kalo udah selesai aja kerjaannya, Vanya biar main dulu disini sama Nisa" ucap Rima.


"Yaudah kalo gitu saya permisi dulu ya" Ucap Bagas lalu bergegas pergi dari sana.


"Hati-hati pah" teriak Vanya seraya melambaikan tangannya.


Bagas pun membalas lambaian tangan Vanya lalu segera melajukan mobilnya.


"Yuk masuk" ucap Rima lalu merangkul bahu Vanya untuk masuk ke dalam.


"Kamu kok baru dateng sih Iv.. Aku udah nungguin kamu loh dari tadi" Nisa berkata seraya menarik Vanya agar berdiri di sampingnya.


"Hehe, maaf ya" ucap Vanya.


"Karena temen-temen Nisa udah pada dateng semua, jadi kita mulai aja acaranya" ucap Rima..


Mereka pun akhirnya merayakan ulang tahun Nisa dengan riang gembira.


Namun, baru saja acara berlangsung selama 15 menit, tiba-tiba Bagas kembali datang untuk menjemput Vanya dengan muka yang sedikit panik. Yang mana hal itu membuat semua orang yang disana terkejut, tak terkecuali Vanya.


Vanya pun langsung berdiri lalu menghampiri Bagas


"Ada apa pah?" tanya Vanya.

__ADS_1


Alih-alih menjawab pertanyaan Vanya, Bagas justru berbicara kepada Rima.


"Bu Rima, maaf sebelumnya saya udah ganggu acaranya. Tapi inu mendesak, saya harus membawa Vanya kembali" ucap Bagas dengan suara yang sedikit bergetar.


Rima yang sedikit mengerti situasi pun menganggukkan kepalanya


"Iya ga papa Pak"


"Nisa, maafin om ya, om ngajak Vanya pulang sekarang"


Nisa menoleh ke arah Rima dan mendapatkan anggukan kepala.


"Iya om gapapa, besok kan Nisa masih bisa main sama Vanya di sekolah" ucap Nisa.


"Yaudah kalo gitu, saya pamit. Ayo Vanya" ucap Bagas lalu menggandeng tangan Vanya.


Vanya hanya bisa menurutinya dengan pasrah, dia pun berpamitan pada Nisa dengan sedikit melambaikan tangannya.


Saat sudah memasuki mobil, Vanya bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Papah kenapa sih? Kok papah mukanya pucet gitu?"


Bagas tidak menjawab pertanyaan Vanya, dia bergegas melajukan mobilnya dengan sedikit terburu-buru.


Melihat Bagas yang seperti itu, entah kenapa jantung Vanya tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang. Di iringi dengan rasa takut yang juga tiba-tiba menghinggapi hatinya.


Vanya menoleh pada Bagas lalu bertanya sekali lagi


"Papah jangan bikin Vanya takut deh.."


Bagas melirik Vanya sekilas lalu berkata "Vanya tau kan papah sayang sama Vanya?"


"Vanya tau pah.. Vanya juga sayang sama papah.. Tapi papah tu kenapa?" sahut Vanya.


Tangan kiri Bagas terulur untuk menggenggam tangan mungil Vanya lalu berkata "Pokoknya papah minta kamu buat percaya sama papah kalo semuanya pasti baik-baik aja.. Ok?"


"Paaah..." rengek Vanya.


"Nanti papah jelasin semuanya, sekarang kita pulang, kemasi beberapa baju kamu, terus kita ke Bandung, ya..."


Vanya pun akhirnya memilih untuk bungkam, dia hanya akan mencoba untuk percaya kepada Bagas.


*****


Bagas dan Vanya tiba di badung saat matahari mulai terbit. Namun, Bagas tidak langsung membawa Vanya ke rumah nenek Indah. Dia lebih dulu memarkirkan mobilnya di jarak beberapa meter dari rumah nenek Indah.


Pria itu menghembuskan nafasnya terlebih dahulu lalu mulai membangunkan putri kecilnya itu.


"Vanya, bangun sayang.. Kita udah nyampe" ucap Bagas seraya menepuk-nepuk pipi Vanya dengan lembut.

__ADS_1


Setelah beberapa kali mencoba, gadis kecil itu akhirnya membuka matanya lalu hendak turun dari dalam mobil. Namun, sebelum Vanya membuka pintu mobil, Bagas terlebih dulu mencegah Vanya, lalu menggenggam tangan mungil gadis kecil itu dengan erat.


"Vanya liat papah sebentar"


Vanya pun menoleh pada Bagas, lalu menatap pria dewasa itu dengan tatapan bingung juga penasaran.


"Vanya dengerin papah baik-baik" ucap Bagas lalu kembali menghembuskan nafasnya dengan sangat berat.


"Sebentar, kok papah parkir di depan rumah tante Mulan?" tanya Vanya setelah kesadarannya terkumpul sepenuhnya.


"Makanya Vanya dengerin papah dulu baik-baik" ucap Bagas cepat.


Gadis kecil itu pun menganggukkan kepalanya.


"Gini, nanti kalo kita nyampe sana, Vanya cukup berpikir kalo semuanya pasti baik-baik aja.. Dan papah mohon banget sama Vanya, Vanya cukup inget kalo Vanya punya papah yang sayang banget Vanya. Vanya juga harus inget kalo papah selalu ada buat Vanya.. ok?" ucap Bagas dengan suara yang sedikit tertahan.


Mendengar apa yang di katakan Bagas, seketika membuat Vanya merasa ketakukan. Jantungnya kian berdetak dengan sangat cepat. Pikiran positif yang sedari tadi dia jaga akhirnya runtuh saat itu juga.


"Vanya.. kamu dengerin papah ga?" tanya Bagas.


Vanya menganggukkan kepalanya.


"Vanya percaya sama papah kan?"


lagi, gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Yaudah, kita sekarang ke rumah nenek" ucap Bagas lalu melajukan mobilnya.


Saat Memasuki halaman rumah nenek Indah, tiba-tiba saja pikiran Vanya menjadi kosong setelah melihat ada bendera kuning yang berkibar di sana. Vanya tidak bodoh, mungkin dia memanglah seorang anak kecil berusia 10 tahun. Tapi Vanya sungguh mengerti apa itu arti dari bendera kuning yang berkibar.


Gadis kecil itu meremat tangannya dengan sangat kuat hingga jari-jari tangannya memutih. Dia berusaha untuk tidak percaya dengan apa yang ada di pikirannya.


Namun saat Bagas menuntun Vanya untuk masuk ke dalam rumah, gadis kecil itu berhenti di ambang pintu, dunianya seakan runtuh saat itu juga.


Disana, ada tubuh yang terbujur kaku sedang berbaring di dalam peti mati. Tubuh dengan wajah yang amat sangat Vanya kenali. Dia adalah dunia gadis kecil itu, dia adalah separuh hidup gadis kecil itu, dia adalah tumpuan hidup gadis kecil itu.


Dia adalah seorang wanita tua yang selalu menyayanginya, selalu mengasihinya, dan selalu memanjakannya. Dia juga adalah seseorang yang selalu mengajarkan Vanya apa itu arti kehidupan, apa itu arti kesabaran, apa itu arti merelakan, apa itu arti mengikhlaskan..


Ya, dia adalah nenek Indah..


"Vanya.. Ya ampun sayang.. Vanya, hey.." Bagas berteriak panik saat Vanya tiba-tiba kehilangan kesadarannya.


...-TBC-...


thanks for reading..


jangan lupa kritik dan saran..


salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


bye bye..


__ADS_2