
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tok.. Tok.. Tok..
Vanya mengetuk pintu ruangan pak Tomi.
"Masuk." Terdengar pak Tomi menyahut dari dalam sana.
Vanya pun segera masuk ke dalam ruangan pak Tomi. Di mana di dalam ruangan itu ada pak Tomi dan juga pak Ridwan yang tengah duduk di sofa.
"Sini masuk Va, duduk dulu. Ada yang pengen bakap bicarakan sama kamu." Kata pak Tomi.
"Baik pak." Sahut Vanya.
Gadis itu menyapa pak Ridwan dengan tersenyum kecil seraya sedikit menganggukkan kepalanya, dia lantas duduk di sofa panjang yang bersebelahan dengan sofa yang di duduki oleh pak Tomi dan juga pak Ridwan.
"Ada apa ya pak?" Vanya bertanya dengan sedikit penasaran.
"Begini, berhubung pak Ridwan ini baru banget di jogja. Beliau minta saya buat nyarikan asisten pribadi buat beliau. Jadi, kalau misalkan nanti beliau ketemu sama client, beliau bisa ngajak asisten pribadinya buat nunjukkin jalan." Tutur pak Tomi.
"Asisten pribadi pak?" Vanya sedikit mengernyitkan dahinya. "Bukannya kalo mau ketemu client, biasanya di temenin sama mbk Desi ya pak?"
"Iya asisten pribadi. Pak Ridwan butuh asisten pribadi soalnya kemaren itu Desi baru aja mengajukan cuti hamil. Jadi, posisi sekertaris kosong untuk sementara waktu. Kalau misalkan mau cari sekertaris baru, butuh waktu lama karena kita perlu kandidat yang memungkinkan. Kamu tau sendiri kan kalo posisi sekertaris itu engga gampang."
Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi, mohon maaf sebelumnya pak, saya masih belum ngerti maksud dan tujuan bapak manggil saya kesini."
Pak Tomi seketika saja menggaruk pelipisnya. "Ah iya, saya malah lupa ngasih tau kamu soap tujuan saya nyuruh kamu ke sini. Maksud saya manggil kamu kesini, saya mau minta kamu buat jadi asiten pribadinya pak Ridwan untuk sementara waktu selama posisi sekertaris masih kosong."
Vanya seketika saja menampilkan ekspresi bingungnya. "Saya, pak?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.
Pak Tomi menganggukkan kepalanya. "Iya, kamu.. Saya percaya sama kamu kalau kamu bisa buat jadi asisten pribadinya pak Ridwan."
"Tapi pak.."
__ADS_1
"Selama saya ngenal kamu, kamu cukup mudah untuk menyesuaikan diri, kamu juga cukup mudah untuk belajar. Terlebih lagi, kamu kan pinter bahasa inggris, jadi saya milih kamu buat jadi asistennya pak Ridwan. Solanya kan kamu tau sendiri, client kita ga cuma dari Indonesia aja." Pak Tomi menyunggingkan senyum kecilnya. "Kamu tenang aja, ini hanya untuk sementara waktu. Kamu juga hanya perlu nemenin pak Ridwan buat ketemu client aja. Selebihnya, kamu bisa bekerja kayak biasanya."
"Kamu ga keberatan kan kalo jadi asisten pribadi saya? Nanti juga kamu bakalan saya kasih bonus tambahan kalau misalkan kamu mau jadi asisten pribadi saya." Pak Ridwan menimpali perkataan pak Tomi.
Vanya menghela nafasnya untuk sejenak. Dia merasa sedikit bimbang karena suatu hal, haruskah dia menerima tawaran ini? Tapi, mendengar adanya bayaran tambahan, membuat Vanya merasa sedikit tergiur untuk menerima tawaran ini.
"Gimana? Kamu setuju ga?" Tanya Pak Tomi.
"Boleh saya pikir-pikir dulu ga pak?" Vanya bertanya dengan sedikit tidak enak hati.
Melihat wajah Vanya yang bimbang, lantas membuat Pak Tomi menghela nafasnya. "Kamu ga enak sama senior kamu ya?"
Vanya seketika saja mengusap tengkuknya canggung, dia merasa sedikit kikuk karena pak Tomi bisa menebak dengan sangat tepat perihal apa yang menjadi kebimbangannya.
"Saya kan udah pernah bilang sama kamu, ga usah mikirin senior. Kamu saya pilih karena emang kinerja kamu yang bisa saya percaya. Ga usah mikirin orang lain, cukup mikirin diri kamu sendiri aja. Toh kamu juga kerja pake otak kamu sendiri kan. Kamu juga ngerasain sendiri kalau di sini kerjanya individu. Jadi kamu ga harus ngerasa ga enak sama senior-senior kamu." Pak Tomi berusaha untuk meyakinkan Vanya.
Vanya lantas menyunggingkan senyum canggungnya.
"Kalo misalkan nanti ada senior yang gangguin kamu, nanti kamu bisa bilang ke saya. Saya yang bakalan tanggung jawab sama semuanya." Tutur pak Ridwan dengan serius, dia benar-benar berusaha untuk meyakinkan Vanya.
Mendengar hal itu, seketika saja membuat Vanya sedikit mengernyitkan dahinya. Kali ini dia merasa bingung, kenapa pak Ridwan juga berusaha untuk meyakinkan dirinya. Bukan kah pak Ridwan baru mengenal dirinya? Toh jika di pikir lagi, masih banyak staf karyawan lainnya yang lebih mumpuni jika di bandingkan dengan dia.
Vanya kini merasa semakin bimbang, haruskah dia menerima tawaran itu? Atau haruskan dia menolak tawaran itu?
Tapi, mengingat kalau dia kini tengah mengumpulkan uang untuk mendaftar ujian paket C, membuat Vanya merasa ingin menerima tawaran itu. Karena jika di pikir kembali, kalau Vanya menerima tawaran itu. Vanya bisa lebih cepat mengumpulkan uang untuk mengikuti ujian pake C.
Setelah menghela nafasnya, Vanya pun menganggukan kepalanya. Dia akhirnya memilih untuk menerima tawaran itu, mengabaikan prasangkanya terhadap tujuan apa yang sebenarnya di inginkan oleh pak Ridwan.
"Kamu mau jadi asisten pribadi saya?" Pak Ridwan menginginkan jawaban pasti.
Vanya menganggukkan kepalanya. "Ya pak, saya terima tawarannya."
Pak Ridwan menyunggingkan senyum simpulnya. "Bagus, kalo gitu, mulai sekarang, kamu udah jadi asisten pribadi saya."
"Baik pak.." Sahut Vanya.
"Kalo gitu, nanti saya ngehubungin kamu kalo saya mau ketemu sama client. Untuk soal bonus yang tadi saya bilang, bisa kita bahas sambil jalan." Tutur pak Ridwan.
__ADS_1
Vanya mengangguk kecil. "Baik pak.."
"Yaudah, kamu bisa kembali kerja." Kata pak Tomi.
"Baik pak, saya permisi." Vanya sedikit menundukkan kepalanya kemudian beranjak dari duduknya.
Dia lantas keluar dari ruangan itu kemudian segera kembali ke ruangannya sendiri.
Sesampainya di ruangannya, Lidia menggeserkan kursinya untuk mendekat ke arah Vanya.
"Ngomongin apa aja kalian? Kok lama banget.."
Vanya mengedikkan bahunya. "Pak Tomi minta gua buat jadi asisten pribadinya pak Ridwan."
"Hah?" Lidia menatap Vanya dengan sedikit bingung. "Kok asisten pribadi? Bukannya ada Mbak Desi ya?"
"Mbak Desi cuti hamil, jadi posisi sekertaris lagi kosong. Dia minta gua buat jadi asisten pribadinya pak Ridwan buat sementara, sampe nanti posisi sekertaris udah ke isi lagi."
"Nunggu sampe mbak Desi selesai cuti hamil gitu?"
Vanya menggelengkan kepalanya. "Ga tau.. Kalo ga salah sih, tadi bilangnya sampe ada yang ngisi posisi sekertaris. Tapi ga tau juga tepatnya kayak gimana."
Lidia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terus lu nerima tawaran itu?"
Namun, Vanya hanya mengangkat bahunya acuh kemudian segera melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..