
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebelumnya..
"Coba aja teriak.. Ga bakalan ada yang denger, dan ga bakalan ada yang nolongin elu!!" Rayan berkata dengan acuh tak acuh seraya berjalan mendekati Vanya.
Vanya yang tidak memiliki pilihan lain pun akhirnya memilih untuk berteriak.
Namun, teriakannya harus teredam saat Rayan membekap mulutnya dengan sangat erat.
*****
"Ehhhmm... Ehhmm.. Ehhhmm..." Vanya terus saja berusaha memberontak dari cengkraman Rayan.
Namun apalah daya, sekuat apa pun tenaganya, sangat berbeda jauh dengan tenaga Rayan. Terlebih lagi Rayan adalah seorang laki-laki yang kini tengah di penuhi kabut emosi, juga dengan pakaian Vanya yang sedikit mengulitkannya untuk bergerak, sangat tidak memungkinkan untuk Vanya memberikan perlawanan yang berarti.
"Udah diem, tinggal nikmatin aja hmm... Ga bakalan lama kok.. Kalo emang gua ga bisa jadiin elu milik gua.. Se engganya gua bisa nyicipin tubuh elu.. Adil kan.." Rayan berkata kemudian mulai mengendus leher Vanya.
Vanya yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun kini hanya bisa berdoa dalam hatinya, semoga ada siapapun yang datang menolongnya.
*****
Di sisi lain...
Haidar yang sedang mengerjakan pekerjaannya pun merasa tidak fokus saat Vanya tak kunjung kembali..
Karena kebetulan, posisi ruangannya bekerja berhadapan dengan ruangan Vanya bekerja, jadi sangat memungkinkan untuknya bisa mengawasi setiap pergerakan gadis itu.
Sebenarnya, divisi Haidar termasuk salah satu divisi yang mengikuti acara tahunan yang di adakan kantor. Namun, karena divisi Vanya tidak mengikuti acara itu. Haidar memutuskan untuk tetap tinggal demi menemani gadisnya.
Jadi, saat ini hanya ada dirinya seorang yang berada di ruangannya.
Haidar yang sudah benar-benar merasa gelisah pun akhirnya memutuskan untuk mencari keberadaan Vanya. Pria itu menyusuri setiap ruangan yang ada. Namun, dirinya sama sekali tidak melihat keberadaan Vanya.
__ADS_1
Haidar lalu memutuskan untuk mendatangi ruangan tempat di mana Rayan bekerja.
"Misi, mau nanya.. Ada yang tau Rayan ga?" Haidar bertanya pada beberapa orang yang ada di sana.
Lalu, salah satu wanita yang bekerja di sana pun menoleh pada Haidar. "Bilangnya sih tadi mau ke kamar mandi, cuma sampe sekarang ga balik-balik.." Ucap wanita itu.
Haidar pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari sana.
"Ck, di mana sih.." Pria itu bergumam seraya terus mencari keberadaan Vanya.
Namun, langkahnya harus terhenti tat kala ada salah seorang OB yang tengah membersihkan lantai menyapanya.
"Cari apa mas? Kok kayaknya bingung gitu?"
"Ini, lagi cari temen saya, tapi kok ga ada.." Haidar menjawab cepat.
"Temennya yang mana ya?"
"Cewek, yang magang di divisi pemrograman, rambutnya panjang di gerai, pake baju batik warna merah. Tingginya se bahu saya, namanya Vanya."
Sang OB lantas terlihat berpikir untuk sejenak. "Oooh.. Mbak cantik yang suka bikin kopi kalo pagi-pagi itu ya.." Ucap OB itu.
Haidar pun menganggukkan kepalanya. "Iya, yang itu.."
"Tadi saya liat dia jalan sama cowok ke arah gudang penyimpanan di belakang. Saya kira udah balik, udah dari tad..."
Perkataan OB itu terhenti tat kala Haidar langsung berlari ke arah gudang penyimpanan.
Sang OB yang melihat hal itu pun hanya mengangkat bahunya acuh kemudian kembali melanjutkan kegiatannya.
Sedangkan Haidar, pria itu terus berlari mengabaikan beberapa orang yang menatapnya dengan tatapan penuh keheranan. Hingga saat dia hendak mendekati gudang, pria itu pun memelanlan langkah kakinya seraya memasang pendengarannya baik-baik.
Ketika Haidar sudah ada di depan pintu gudang, dia lantas menempelkan telinganya pada pintu gudang untuk mendengarkan apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Pria itu tseketika terbakar emosi saat mendengar suara aneh dari dalam sana. Di tambah lagi saat dia hendak mencoba membuka pintu gudang itu, emosinya kian bertambah besar tat kala mengetahui jika pintu gudang itu terkunci.
Haidar yang tidak sabar akan hal itu pun segera mendobrak pintu gudang itu dalam satu kali dobrakan.
__ADS_1
Emosi pria itu kian menjadi saat melihat Vanya yang sudah berlinang air mata kini tengah berada di bawah kungkungan Rayan dengan kondisi yang acak-acakan.
Rayan yang tidak menduga akan kedatangan Haidar pun seketika merasa terkejut. Karena, bagaimana mungkin bisa pria itu dengan mudahnya menemukan keberadaan mereka. Dan juga, gudang ini adalah gudang paling belakang yang seharusnya tidak banyak orang yang berlalu lalang di sana.
Tapi tidak dengan Vanya, gadis itu menghela nafasnya dengan sangat lega ketika melihat kedatangan Haidar. Gadis itu lantas menatap Haidar dengan penuh rasa takut yang terpancar dari matanya.
Haidar yang melihat hal itu pun segera masuk ke dalam gudang lalu menarik Rayan keluar dari sana. Dan seakan kehilangan akal, pria itu lalu memukuli Rayan dengan sangat brutal tanpa membiarkan Rayan membalas pukulannya barang satu kali pun.
"Anjing lu ya!! Berani-beraninya lu nyentuh apa yang jadi milik gua!!" Haidar berkata dengan di penuhi emosi seraya terus memukuli Rayan.
Yang mana, hal itu seketika mengundang perhatian beberapa orang yang mendengar keributan itu. Orang-orang yang melihat hal itu pun langsung menarik Haidar yang masih saja terus memukuli Rayan.
"Udah-udah mas.. Mati nanti anak orang!!" Ucap salah satu karyawan laki-laki yang menarik Haidar.
Haidar yang masih merasa sangat emosi pun seketika menghempaskan tangan orang-orang yang memegangnya. Pria itu kemudian meludah tepat di tubuh Rayan.
"Bajingan kaya dia emang pantes mati!!" Haidar berkata dengan sangat sarkas kemudian masuk ke dalam gudang.
Orang-orang yang bingung dengan apa yang terjadi pun hanya memperhatikan apa yang akan di lakukan Haidar selanjutnya.
Mereka seketika merasa sangat terkejut ketika melihat Haidar keluar dari gudang dengan menggendong Vanya ala bridal. Yang membuat mereka merasa sangat terkejut adalah kondisi Vanya yang terlihat sangat berantakan dengan beberapa memar yang terdapat di beberapa bagian tubuh Vanya.
Mereka benar-benar tidak menyangka jika akan ada kejadian seperti ini di kantor mereka. Mereka kemudian memberika jalan kepada Haidar yang akan membawa Vanya pergi dari sana.
Vanya yang sudah tidak memiliki tenaga pun hanya bisa menenggelamkam wajahnya pada dada bidang Haidar dengan isakan pilu yang terus saja keluar dari bibirnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..