Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Ayah dan Anak - Part 1


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Loh, kamu pulang? Kok ga bilang dulu, kalo bilang dulu kan papah bisa minta bibi masak makan malem buat kamu." Andi berkata saat melihat Haidar memasuki rumah.


Namun, Haidar tidak menanggapi perkataan Andi. Pria itu hanya berdiri seraya menatap sendu pada Andi yang tengah duduk di sofa dengan sebuah buku yang berada di genggamannya.


Andi yang melihat hal itu pun menghela nafasnya. "Sini duduk dulu." Andi berkata kemudian meletakkan buku yang sebelumnya tengah dia baca.


Haidar pun menghampiri Andi lalu duduk di sofa yang ada di sebelah sofa single yang di duduki Andi.


"Kamu udah makan?" Tanya Andi.


Haidar menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


Andi mengembangkan senyumnya. "Kayaknya kamu capek banget, mending kamu istirahat aja dulu.. Nanti biar papah minta tolong Bibi buat nganterin makanan ke kamar kamu."


Namun, Haidar lagi-lagi tidak memberikan tanggapan apa pun.


Andi yang sudah terbiasa akan sikap Haidar pun hanya membiarkannya, pria itu lalu mengambil buku yang ada di atas meja kemudian kembali melanjutkan bacaannya.


"Pah.." Ucap Haidar kemudian.


"Hmm?" Andi menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah dia baca.


"Papah ga nanya, kenapa aku pulang?" Haidar bertanya dengan suara yang terdengar sedikit lirih.


Andi yang mendengar hal itu pun kembali meletakkan buku itu ke atas meja. " Buat apa papah nanya, toh ini juga rumah kamu. Kamu berhak buat pulang pergi kapan aja."


"Papah ga marah sama Haidar? Haidar selalu pulang pergi se enak hati Haidar." Haidar kini sedikit menahan suaranya, bahkan kini dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.


Karena sungguh, entah kenapa, Haidar tiba-tiba saja merasa sangat bersalah setelah mendapatkan respon dari Andi yang sangat lembut. Jujur, selama ini, Haidar selalu mengabaikan Andi entah untuk alasan apa pun itu.


Namun, selama itu juga, Haidar sama sekali tidak merasakan perasaan apa pun di dalam hatinya. Tapi entah kenapa, kini dia tiba-tiba merasakan perasaan bersalah yang teramat besar kepada Andi.


Haidar yang tidak mendapatkan respon apa pun dari Andi pun mengangkat wajahnya untuk menatap Andi.


"Pah.." Ucap Haidar kemudian.


"Ah ya, papah ga marah." Andi berusaha menormalkan ekspresi terkejutnya.

__ADS_1


Karena ketahuilah, ini adalah kali pertamanya Haidar menanyakan tentang apa yang di rasakan oleh Andi. Namun, meskipun Andi merasa sedikit terkejut, Andi berusaha untuk terlihat biasa saja.


"Kenapa kamu nanya kaya gitu?" Andi bertanya seraya membenarkan posisi duduknya.


"Ga papa," Haidar menggelengkan kepalanya. "Haidar pengen nanya aja, selama ini Haidar selalu berbuat sesuka hati Haidar tanpa mikirin perasaan papah."


Andi lantas menghela nafas kemudian mengembangkan senyum tulusnya. "Haidar, kamu anak papah. Yang gedein kamu itu papah. Yang ngurusin kamu itu papah. Yang pengen kamu ada di dunia ini juga papah. Kamu mau ngelakuin hal apa pun yang kamu suka, asalkan hal itu ga berdampak buruk buat kamu dan bikin kamu seneng, papah ga akan marah. Papah bakalan selalu ngedukung kamu. Papah sebagai orang tua, cuma bisa berharap supaya kamu selalu bahagia."


Mendengar penuturan Andi, seketika membuat Haidar kembali menundukkan kepalanya. Dia kini benar-benar merasa seperti seorang anak yang durhaka. Anak yang selalu berbuat semaunya tanpa memikirkan perasaan orang tuanya.


Padahal, jika di pikir kembali, Andi tidak pernah memarahinya. Meskipun Haidar melakukan kesalahan terburuk sekali pun, Andi akan selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Sedangkan Haidar, dia tidak pernah memperlakukan Andi dengan baik. Bahkan, untuk berbicara pun hanya untuk seperlunya saja.


Ya meskipun terkadang Haidar meminta saran kepada Andi, itu bukan berarti Haidar banyak berbicara dengan Andi. Karena ketika Haidar sudah mendapatkan solusi, dia akan berlalu pergi begitu saja kemudian kembali menjalani kesehariannya dengan Andi bak orang asing.


Setelah menghela nafasnya, Haidar pun berlutut di depan Andi kemudian berkata. "Maafin Haidar pah, Haidar selama ini udah egois."


Yang mana, hal itu seketika membuat mata Andi terlihat berkaca-kaca. "Papah juga minta maaf, papah belum bisa jadi papah yang baik buat kamu." Pria itu berkata seraya menepuk-nepuk pelan bahu Haidar.


Haidar pun kini berjanji di dalam hatinya. Setelah hari ini, Haidar akan memperbaiki semuanya sikapnya kepada Andi. Karena Haidar sadar, jika bukan Haidar, siapa lagi yang akan mengisi hari tua Andi nantinya.


******


Setelah melewati momen yang cukup haru, 2 pria beda usia itu pun kini menghabiskan malam dengan bermain catur gazebo yang ada di belakang rumah.


"Aman pah." Haidar menyahut seraya memajukan pion caturnya.


"Terus di sekolah kamu gimana?"


"Baik-baik aja. Malah Haidar jadi pemain inti tim basket."


"Bagus lah, terus kapan kira-kira ngadain olimpiade basket?"


"Kalo ga salah sih rencananya setelah masa PKL kita selesai."


Andi mengangguk-anggukan kepalanya. "Banyak yang naksir kamu ga di sana? Dulu papah di sekolah banyak yang naksir loh.. Harus bangga kamu jadi anak papah."


Haidar seketika menaikkan sebelah alisnya. "Sejak kapan papah jadi orang yang percaya diri banget?"


Andi yang mendengar hal itu pun hanya bisa tertawa renyah.


Mereka terus berbincang seraya memainkan permainan catur itu dengan suasana malam yang terasa sangat hangat bagi Andi maupun Haidar.


Hingga beberapa saat berlalu, Andi pun memberikan pertanyaan yang sejak tadi sudah ada di dalam benaknya.

__ADS_1


"Terus, hubungan kamu sama Vanya gimana?"


Haidar yang mendengar hal itu pun seketika menatap Andi dengan tatapan mata yang sedikit terkejut.


"Papah tau Haidar punya pacar?"


Andi lantas terkekeh kecil. "Apa sih yang papah ga tau tentang kamu. Inget, papah ini pengusaha. Jadi, mata sama telinga papah tu ada di mana-mana. Meskipun papah ga nyari tau, pasti ada aja yang ngasih tau papah."


Haidar mengusap tengkuknya canggung. "Ya gitu lah pah.. Sejauh ini sih baik-baik aja.."


"Yakin lagi ga ada masalah?" Andi bertanya seraya menatap Haidar dengan menaikkan sebelah alisnya.


Haidar seketika mengernyitkan dahinya. "Kok papah bisa tau?"


Andi mengedikkan bahunya. "Keliatan dari muka kamu, kusut. Ga mungkin kamu tiba-tiba pulang ke rumah kalo ga ada masalah."


Haidar menatap Andi dengan di penuhi rasa tidak percayanya. "Emang Haidar kalo pulang udah pasti ada masalah ya?"


"Sejauh ini sih iya." Andi menyahut dengan acuh tak acuh.


Yang mana, hal itu seketika membuat Haidar berdehem kecil.


"Udah, kalo ada masalah tu cerita aja.."


"Itu.." Haidar berucap dengan sedikit ragu.


Andi yang mengerti keraguan Haidar pun mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Mau denger kisah papah sama mamah waktu dulu ga?"


Haidar terlihat berpikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2