Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Murid Les Private


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa waktu pun berlalu...


Kini, Nisa dan Vanya yang sudah mendapatkan waktu istirahat pun memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahat mereka di perpustakaan sekolah.


Sudah 15 menit berlalu sejak mereka berada di perpustakaan. Namun, sedari awal mereka duduk di sana, Vanya sudah fokus berkutat dengan berbagai macam buku yang berbahasa inggris. Bahkan hingga membuat Vanya sedikit mengabaikan keberadaan Nisa.


Nisa yang sudah mulai bosan bermain ponsel pun akhirnya memutuskan untuk memulai percakapan.


"Va?" Ucap Nisa.


"Hm..?"


Vanya menyahut tanpa nenoleh pada gadis itu, dia terlalu fokus dengan kegiatan yang tengah dia lakukan. Yaitu membuat soal berbahasa inggris.


"Lu beneran jadi ngajarin bahasa inggris si anak kelas 10 itu?"


"He, em.." Vanya menganggukkan kepalanya. "Ini udah yang ke 4 kalinya."


"Terus, lu ngajarin dia secara cuma-cuma gitu?"


"Engga.." Vanya mengembangkan senyum kecilnya. "Gua di bayar setiap 1x pertemuan.. Lumayan lah buat nambah-nambahin bayar uang gedung."


Ya, 2 bulan yang lalu, Bu Agung selaku wali kelas dari kelas 10 B itu mendatangi Vanya yang tengah mengajarkan pelajaran matematika kepada Erika di perpustakaan.


Erika adalah siswi perempuan yang saat ini menduduki bangku kelas 11. Adik kelasnya yang sudah menjadi murid les nya sejak awal Vanya menduduki bangku kelas 11.


Itu berarti, Erika sudah belajar matematika dari Vanya selama 1 tahun ajaran. Sejak Erika awal masuk kelas 10, dan sejak Vanya awal masuk kelas 11. Tapi, Vanya tidak mengajari Erika ketika Vanya melakukan masa PKL.


Waktu itu, ketika melihat Bu Agung sengaja mendatanginya di perpustakaan. Vanya menatap Bu Agung dengan tatapan sedikit bingung, karena guru itu sangat jarang sekali memiliki keperluan dengannya.


Dan juga, bukan kah akan lebih baik jika Bu Agung meminta Vanya untuk mendatanginya di ruangannya. Vanya lantas berpikir, hal penting apa yang membuat Bu Agung sampai repot-repot mendatangi Vanya di perpustakaan.


Namun, setelah Bu Agung menjelaskan maksud dari kedatangannya adalah meminta Vanya untuk menjadi guru les Bahasa Inggris salah satu muridnya, Vanya pun mengerti kenapa Bu Agung sampai repot-repot mendatanginya.


Karena ya, Bu Agung adalah tipikal orang yang akan mengambil hati seseorang terlebih dahulu sebelum dia meminta bantuan kepada orang itu.

__ADS_1


Tapi, Vanya tidak serta merta langsung menyetujui apa yang Bu Agung minta. Karena selain dia sudah memiliki Erika sebagai tanggung jawabnya, Vanya pun sebentar lagi akan menjalani ujian kelulusan sekolah. Vanya sedikit takut kalau nanti dia tidak bisa mengatur waktu untuk dirinya sendiri dalam hal belajar.


Karena ya, seperti apa yang kita ketahui, Vanya juga menerima job freelance yang di berikan oleh Pak Tomi. Jadi, Vanya sedikit takut jika nantinya dia tidak memiliki waktu untuk dirinya belajar guna menghadapi ujian kelulusan yang akan datang.


Tapi, setelah Bu Agung memberikan penawaran yang lebih dari cukup atas jasa mengajarnya itu. Vanya pun menerima tawaran yang di berikan oleh Bu Agung tanpa berpikir panjang lagi.


Untuk masalah pembagian waktu, Vanya akan memikirkan hal itu sambil berjalan.


Vanya menerima tawaran itu tidak hanya semata-mata karena dia suka dengan lembar kertas yang di namakan uang. Dia menerima tawaran itu demi melunasi uang gedung sekolah yang hingga saat ini masih dia bayar dengan cara mencicil.


Dan ya, begitulah. Kini, Vanya memiliki 2 adik kelas yang menjadi tanggung jawabnya sebagai murid les privatenya.


Setelah pertimbangan yang cukup matang, dia akhirnya membagi waktu untuk mengajari 2 siswi itu dengan cara pada minggu pertama, dia akan mengajari Erika. Pada minggu kedua, dia akan mengajari siswi yang lainnya. Pada minggu ke 3, dia akan kembali lagi mengajari Erika. Dan pada minggu ke empat, dia kembali lagi mengajari siswi yang lainnya.


Jadi, selama 2 bulan terakhir ini, karena kini dia memilik tanggung jawab untuk mengajari 2 siswi. Ketika dia memiliki waktu istirahat pada jam sekolah, Vanya akan lebih sering mehabiskan waktu istirahatnya itu di perpustakaan sekolah.


Hal itu dia lakukan guna menyiapkan materi pembelajaran yang akan dia berikan kepada 2 siswi berbeda angkatan itu.


Ya meskipun dalam 1 bulan Vanya hanya melakukan 2 pertemuan dengan masing-masing dari 2 siswi itu, tapi Vanya tetap harus mempersiapkan materi pembelajarannya sejak jauh-jauh hari.


Dan ya, sesibuk itulah Vanya selama 2 bulan terakhir ini. Mengerjakan job freelancenya, belajar untuk dirinya sendiri, dan mempersiapkan materi untuk mengajari 2 siswi yang menjadi muridnya.


Seperti sekarang ini, gadis itu fokus berkutat dengan materi pembelajaran bahasa inggris, karena besok adalah waktu untuk dia mengajari salah satu siswi yang menjadi muridnya. Dengan di temani oleh Nisa yang selalu setia mendukung apa pun yang di lkukan oleh Vanya.


"Va, lu beneran ga mau balik lagi ke rumah gua gitu? Atau kalo engga, tinggal di kios lagi deh buat ngurusin laundryannya mamah.. Toh elu juga di bayar kan sama mamah.. Kalo lu butuh duit banyak, mamah juga ga bakalan keberatan kok nambahin bayaran elu.. Lu ga capek apa ngerjain semua hal itu? gua aja yang ngeliatnya capek loh.."


Ya, meskipun Nisa selalu mendukung apa pun yang di lakukan oleh Vanya. Gadis itu tetap saja selalu merasa tidak tega jika Vanya harus melakukan semua hal itu.


Apa lagi dengan mengetahui waktu istirahat Vanya yang semakin hari semakin berkurang, membuat Nisa semakin merasa tidak tega kepada Vanya. Sahabat sejak kecil yang sudah sepeti saudara kandungnya sendiri.


Setelah menghela nafasnya, Vanya lantas meletakkan alat tulisnya kemudian menatap Nisa yang duduk di hadapannya itu dengan mata yang memicing tajam.


"Nis.. Kita udah bahas hal ini berkali-kali loh.." Vanya berkata dengan suara datarnya.


Karena ya, ini bukan kali pertama Nisa membujuknya untuk kembali menggantungkan hidup kepadanya. Bukannya Vanya merasa tidak cukup atas apa yang sudah di berikan oleh Rima dan Nisa kepadanya.


Tapi, yang Vanya pikirkan adalah sudah lebih dari cukup untuk dirinya selalu menggantungkan hidupnya pada Rima dan Nisa. Vanya ingin hidup mandiri tanpa merepotkan siapapun lagi.


Untuk apa yang telah di berikan oleh Rima dan juga Nisa, dia akan selalu mengingatnya sampai kapan pun itu. Bahkan, Vanya berniat untuk membalas kebaikan mereka suatu saat nanti, di aaat Vanya sudah mampu untuk membalas kebaikan mereka.


Saat Nisa hendak menyahuti perkataan Vanya, gadis itu harus menelan kembali kalimatnya tat kala Vanya melambaikan tangannya ke arah taman. Karena kebetulan, mereka berdua duduk tepat di dekat jendela yang menghadap ke arah taman yang ada di sekolah mereka.

__ADS_1


Nisa yang duduk membelakangi jendela pun membalikkan tubuhnya untuk melihat orang yang mendapatkan lambaian tangan dari Vanya.


"Siapa?"


Nisa bertanya seraya menatap gadis yang tengah mengisyaratkan bahwa dirinya akan menghampiri Vanya.


"Dia anak kelas 10 yang gua ajarin bahasa inggris." Sahut Vanya.


Mendengar itu, lantas membuat Nisa semakin menatap gadis yang tengah berjalan ke arah perpustakaan itu dengan sangat intens.


"Namanya siapa sih." Nisa kembali menatap Vanya.


"Namanya?"


Nisa menganggukkan kepalanya.


"Namanya Winda."


Ya, siswi yang di ajarkan Bahasa Inggris oleh Vanya adalah Winda, keponakan Ayu.


"Winda?"


"Hmm.." Vanya menganggukkan kepalanya.


"Kok gua kayak ga asing ya sama wajahnya.." Nisa berkata dengan dahi yang sedikit mengernyit.


"Perasaan lu aja kali.."


"Masa iya sih.."


Nisa semakin mengernyitkan dahinya. Gadis itu mencoba untuk mengingat akan wajah yang terlihat mirip dengan Winda.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2