
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Besok caranya bersikap di depan Wulan haruas kayak gimana ya? Besok pasti suasananya canggung banget." Vanya bergumam seraya menatap lampu ruang tamu apartment Haidar.
"Ya tinggal bersikap kaya biasa lu bersikap aja, seolah ga terjadi apa-apa. Kan dari dulu juga sikap lu biasanya kaya gitu." Haidar menyahut dengan acuh tak acuh.
Haidar lantas berjalan menghampiri Vanya yang tengah berbaring di atas sofa. Pria itu membawa segelas susu hangat yang di inginkan Vanya.
"Nih di minum." Haidar menyerahkan gelas itu pada Vanya.
Vanya lantas beringsut untuk duduk kemudian menerima gelas berisi susu hangat yang di berikan Haidar.
"Makasih." Ucap Vanya kemudian meneguk susu hangat itu.
"By the way.. Lu belum cerita soal tempat latihan tadi." Haidar berkata setelah duduk di samping kiri Vanya.
Setelah meletakkan gelas itu di atas meja, Vanya lantas duduk bersila dengan posisi menghadap ke arah Haidar. Gadis itu menopang kepala menggunakan tangan kirinya pada sandaran sofa.
"Hmmm.. Apa yang harus gua ceritain?" Tanya Vanya kemudian.
Haidar mengedikkan bahunya. "Semuanya, maybe.."
"Hmmm.. Itu tempat yang sering gua datengin kalo gua lagi ngerasa kesel ataupun sedih."
Haidar melirik Vanya sekilas. "Sejak kapan?"
"Sejak...." Vanya lantas berpikir untuk sejenak. "Kelas 6 SD kalo ga salah."
Haidar seketika menoleh pada Vanya dengan dahi yang mengernyit bingung. "Emangnya umur segitu di bolehin buat gabung?"
"Ya... Engga sih aslinya." Vanya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Tapi karna gua maksa, yaudah deh, jadinya di bolehin."
Tangan kanan Haidar terangkat untuk menyentil dahi Vanya.
"Aaaiiissssh!!" Vanya seketika menatap Haidar dengan sangat sinis.
Gadis itu mengusap pelan dahinya yang sebelumnya di sentil oleh Haidar.
Namun, Haidar hanya menanggapinya dengan acuh tak acuh.
"Bayar?" Tanya Haidar kemudian.
__ADS_1
Vanya menganggukkan kepalanya. "Awalnya sih bayar per 1 bulan sekali, tapi semenjak gua masuk kelas 2 SMP, mas Ayas nyuruh gua buat ga bayar lagi." Gadis itu mengedikkan bahunya. "Mau di bayar juga ga di terima, katanya ga mau nerima uang dari anak kecil."
"Tcih.. Udah tau anak kecil, masih aja latihan kayak gituan." Haidar bergumam dengan sangat sarkas.
Vanya yang mendengar hal itu pun hanya bisa mencebikkan bibirnya.
"Emangnya orang rumah ga ada yang tau kalo lu sering kesana?"
Vanya menggelengkan kepalanya. "Setau gua sih ga ada yang tau. Gua juga kesananya kan ga sering-sering banget. Paling seminggu 2x atau pas lagi bener-bener stress aja."
Haidar mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tidur yuk ah, ngantuk gua.." Vanya melihat jam yang terpasang di dinding. "Udah jam 10 malem tuh.."
Haidar tersenyum lalu kembali menganggukkan kepalanya.
*****
Seperti apa yang di katakan Haidar semalam, Vanya benar-benar memberikan sikap yang seperti biasanya kepada Wulan, gadis itu bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Contohnya seperi sekarang ini, Vanya dengan santainya berjalan ke arah meja Wulan untuk memberikan laporan hasil kerjanya.
"Kak, ini laporan minggu lalu.." Vanya meletakkan laporan itu di atas meja kerja Wulan. "Ah ya, yang 2 hari kemarin aku ga berangkat itu udah ijin ya sama Pak Tomi langsung ya."
Tapi, Wulan justru menatap Vanya dengan tatapan kesal. Wulan dengan sengaja mengabaikan apa yang Vanya katakan padanya.
Sedangkan Wulan, dia hanya bisa menatap Vanya dengan tatapan tajamnya. Karena sungguh, melihat Vanya yang bersikap seperti itu, benar-benar membuat Wulan merasa seperti menjadi sebuah lelucon. Sejujurnya, Wulan berharap Vanya akan memakinya atau menunjukkan sikap ke tidak sukaannya.
Namun, apa yang di dapatkan oleh Wulan. Vanya benar-benar bersikap acuh tak acuh seolah tidak terjadi apa-apa. Kini Wulan merasa sedikit heran, apa kah Vanya tidak memiliki emosi atau perasaan? Bagaimana mungkin bisa gadis itu bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka?
Haaah.. Wulan pun akhirnya memilih untuk kembali melanjutkan pekerjaannya dengan perasaan yang tidak menentu. Karena sungguh, memikirkan hal itu membuat perasaan Wulan menjadi tidak karuan.
Vanya yang diam-diam memperhatikan sikap Wulan pun hanya bisa menyunggingkan senyum simpulnya. Benar apa kata Haidar, lebih baik untuk bersikap acuh tak acuh seperti biasanya. Karena dengan bersikap seperti itu, lawan kita akan merasa terganggu.
Karena ya.. Posisinya di sini bukan lah Vanya yang salah.. Jadi, biarkan hanya Wulan saja yang merasa terbebani. Toh Haidar juga lebih memilih Vanya. Jadi, untuk apa Vanya terlalu memikirkan hal itu? Yang harus Vanya lakukan hanyalah mempertahankan hubungannya dengan Haidar agar menjadi baik-baik saja.
Saat Vanya sedang fokus mengerjakan pekerjaannya, gadis itu tiba-tiba sedikit berjengkit kaget karena pipi sebelah kirinya di tempeli botol minuman dingin.
Vanya lantas menoleh pada orang yang menempeli pipinya dengan minuman dingin itu yang ternyata adalah Haidar.
"Haisssh.. Lu emang niat bikin gua jantungan apa gimana si!" Vanya berkata dengan sedikit gemas karena Haidar akhir-akhir ini sering sekali membuatnya terkejut.
Haidar mengedikkan bahunya. "Lucu aja liat muka kaget lu." Pria itu berkata dengan acuh tak acuh seraya meletakkan botol itu di atas meja kerja Vanya.
Vanya pun hanya menanggapinya dengan mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
"Ngapain lu kesini?" Tanya Vanya kemudian.
"Mau ngajak makan siang.. Tuh liat," Haidar mengedikkan dagunya pada jam tangan yang di pakai Vanya. "Udah jam 12 lebih 10."
"Kalo lu makan siang sendirian aja gimana? Ga papa kan? Gua masih ada kerjaan yang belum selesai soalnya.." Vanya berkaya
Haidar terlihat berpikir untuk sejenak sebelum akhirnya bertanya. "Mau gua bantuin? Biar cepet kelar."
Vanya yang mendengar hal itu pun menaikkan sebelah alisnya. "Emang bisa?" Gadis itu sedikit meragukan kemampuan Haidar.
"Lu ngeremehin gua?"
Vanya pun hanya mengangkat bahunya acuh.
Haidar lantas menarik salah satu kursi kosong yang ada di sana, pria itu sedikit menggeserkan kursi yang di duduki Vanya agar memberikan sedikit ruang untuk dirinya. Pria itu kemudian duduk di samping kiri Vanya.
"Okaaaay.. Jadi, apa yang perlu gua bantuin?" Tanya Haidar kemudian.
Vanya menatap Haidar untuk beberapa saat, gadis itu tersenyum kecil merasakan betapa pedulinya Haidar kepada dirinya. Gadis itu lantas kembali menatap layar komputer yang ada di depannya.
Vanya lalu membuka satu file yang belum selesai di kerjakannya. "Ini, ini codingannya belum kelar. Gua rada capek mikir."
"Okay.." Ucap Haidar kemudian merenggangkan jari-jari tangannya sebelum akhirnya mulai menggerakan jari-jari tangannya di atas keyboard.
Mereka lantas mengerjakan pekerjaan Vanya dengan tawa canda yang terus keluar dari mulut mereka masing-masing.
Wulan yang melihat hal itu kini semakin merasa kesal. Gadis itu benar-benar merasa penasaran, apa yang di miliki Vanya hingga Haidar tidak bisa berpaling dari gadis itu?
Karena jika di lihat dari penampilan, Wulan lebih unggul dari Vanya. Begitu pula dengan kasta, Wulan pikir kalau kasta Wulan lebih lah tinggi jika di bandingkn dengan Vanya.
Lantas, apa yang membuat Haidar tidak bisa melirik ke arah Wulan.
Tidak ingin merasa semakin kesal, Wulan pun akhirnya memilih untuk keluar dari ruangan itu.
Meninggalkan Vanya dan Haidar yang sibuk dengan dunia mereka sendiri.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..