Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Terlalu Satu Frekuensi


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah melewati makan bersama, kini Vanya, Haidar dan Andi pun berkumpul di halaman belakang rumah Andi. Merema duduk di gazebo kecil yang ada di sana dengan karpet tebal sebagai alas duduk mereka, dan dengan meja kecil yang berada di antara mereka.



Pict by : Pinterest


Vanya duduk di antara Haidar dan Andi yang sedang bermain catur.


"Jadi, orang tua kamu ada di mana sekarang?" Tanya Andi kemudian.


Sejujurnya, Andi sudah mengetahui latar belakang Vanya dengan sangat jelas. Namun, Andi ingin mendengar kejelasan dari mulut gadis itu sendiri. Andi tidak ingin menjadi orang yang menerka-nerka atau pun berasumsi sesuai dengan kehendaknya sendiri.


Mendengar pertanyaan dari Andi, seketika membuat Vanya menghela nafasnya. Gadis itu merasa sedikit enggan untuk bercerita tentang kedua orang tuanya. Namun, gadis itu tetap memberi tahu Andi mengenai orang tuanya.


Vanya lantas menoleh pada Andi yang ada di sebah kirinya, dia mengembangkan senyum kecilnya kemudian berkata. "Mamah ada di garut, kalo papah ada di sini."


Gadis itu kini terlihat sudah benar-benar tidak canggung lagi dalam menghadapi Andi.


Karena di saat mereka ber 3 makan bersama, Andi banyak bercerita dan mengajak Vanya berbicara tentang hal apa pun itu. Dan ya, merasakan Andi yang benar-benar ramah dan asik untuk di ajak berbicara, Vanya pun kini sudah merasa tidak canggung lagi dalam menghadapi Andi. Bahkan rasa gugupnya sudah benar-benar menghilang saat mereka makan bersama.


"Oooh.." Andi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terus, kamu kok mutusin buat nge kos?"


"Pengen belajar mandiri aja om.. Soalnya papah sama mamah juga masing-masing udah pada nikah lagi.. Jadi agak kurang nyaman aja kalo tinggal bareng sama mereka." Vanya berusaha memberikan alasan yang terdengar sangat masuk akal.


"Tapi kamu masih di biayain kan sama orang tua kamu?"


Mendengar hal itu, seketika membuat Haidar menggenggam tangan kanan Vanya yang ada di bawah meja. Seolah meminta gadis itu untuk berhenti jika merasa enggan untuk membjcarakannya.


Namun, Vanya menoleh pada Haidar yang ada di sebelah kanannya dengan senyum kecil yang mengembang di bibirnya. Seolah berkata kalau semuanya baik-baik saja.


Vanya lantas kembali menatap Andi. "Masih kok om.. Cuma Vanya ngambil job freelance yang di tawarin sama manager di tempat PKL Vanya sama Haidar. Ya itung-itung belajar nyari uang om.. Kan lumayan juga bisa buat nambah uang saku Vanya."


Mendengar penjelasan Vanya, seketika membuat Andi mengembangkan senyum kecilnya. Andi sedikit tidak menyangka jika gadis itu tetap akan menjaga nama baik orang tuanya di saat dia sudah di perlakukan dengan sangat buruk.


Karena ya, mau bagaimana pun masalah itu di tutupi, hanya dengan menjentikkan jarinya saja, Andi sudah pasti akan mengetahui hal apa saja yang sudah terjadi. Bahkan untuk masalah yang sudah terkubur selama berpuluh-puluh tahun pun Andi akan tetap mencari tau hingga dia benar-benar tau.


Tidak ingin mengorek masa lalu Vanya lebih jauh lagi, Andi pun mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Terus, menurut kamu, Haidar gimana orangnya?" Tanya Andi kemudian.


Mendengar pertanyaan Andi, sontak saja membuat Haidar menatap Andi dengan dahi yang mengernyit.


"Maksud om, sifatnya Haidar?" Vanya bertanya dengan sedikit bingung.


Andi mengedikkan bahunya. "Ya sifatnya, ya tingkahnya, ya apa aja.."


Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jujur banget boleh ga om?"


"Oh jelas boleh banget dong.." Andi berkata dengan sangat bersemangat.


"Hmm.. " Vanya lantas berpikir untuk beberapa saat. "Kalo soal sifatnya sih sebenernya ga ada masalah sama sekali sih om.. Vanya suka-suka aja sama sifatnya.. Selain baik sama dewasa, dia juga bisa nyelesein masalah dengan sangat mudah.."


Andi mengangguk-anggukan kepalanya. "Baguslah kalo gitu.. Terus, kalo soal sikap?"


Vanya menampilkan cengiran kecilnya, gadis itu sedikit mendekatkan kepalanya pada Andi.


Andi pun merespon apa yang di lakukan oleh Vanya dengan menghadapkan telinga pada gadis itu.


"Agak nyebelin.."


Setelah membisikkan 2 kata itu, Vanya kembali menegakkan tubuhnya.


Oh ayolah.. Setidaknya, jika mereka ingin membicarakan tentang dirinya, berbicaralah di belakangnya. Jangan berbicara tepat di hadapannya yang sudah pasti akan mendengar hal apa saja yang di bicarakan oleh mereka.


Namun, Andi dan Vanya tetap mengabaikan keberadaan Haidar. Mereka justru kini semakin membahas tentang kejelekan apa saja yang di miliki oleh Haidar.


"Iya om.. Vanya aja ga nyangka kalo Haidar tu sebenernya orang yang banyak ngomong.."


Andi menaikkan sebelah alisnya. "Kok bisa gitu?"


"He em, soalnya pas awal dia masuk ke kelas tuh, wajahnya kayak gini."


Vanya membuat poker face andalannya, mencoba menirukan ekspresi wajah Haidar saat pria itu baru pertama kali masuk ke dalam kelas.


Yang mana hal itu seketika membuat Haidar menatap Vanya dengan sedikit sinis.


"Tcih.." Haidar berdecih kecil, dia merasa sangat gemas akan tingkah Vanya yang seperti itu.


Andai saja tidak ada Andi, Haidar mungkin saja sudah menghujani wajah Vanya dengan ciuman.


Sedangkan Andi, melihat Vanya yang berusaha menirukan ekspresi wajah datar yang selalu Haidar tampilkan, seketika membuat Andi tertawa renyah.

__ADS_1


Karena sungguh, melihat Vanya yang menampilkan wajah yang seperti itu. Alih-alih terlihat menakutkan, gadis itu justru terlihat sangat menggemaskan.


Andi kini tidak lagi merasa penasaran, kenapa Haidar bisa tergila-gila kepada Vanya. Bahkan sampai rela untuk pindah sekolah hanya demi mendapatkan hati gadis yang kini sudah menjadi kekasihnya itu.


Andi juga benar-benar di buat terkesan oleh Haidar yang sangat pintar dalam memilih pasangan. Andi sedikit tidak menyangka kalau Vanya benar-benar bisa jauh melebihi apa yang di perkirakannya.


Karena setelah melihat dan berbicara dengan Vanya secara langsung, kalau saja Andi se usia dengan Haidar. Andi juga pasti akan langsung jatuh hati pada gadis itu. Bahkan untuk saat ini pun Andi benar-benar terpesana akan kharisma unik yang menguar dari diri gadis itu.


Setelah melerai tawanya, Andi kembali menatap Vanya dengan di penuhi rasa penasaran. "Terus-terus, selain itu, apa lagi?"


"Selain itu, Haidar juga suka maksa.. Kalo misal apa yang di minta belum keturutan, dia bakalan ngekorin Vanya kemana pun Vanya pergi. Sampe sampe nih ya om, Vanya ngerasa kalo Vanya nih udah berubah jadi ayam betina yang telurnya baru aja netes. Kemana-mana di ekorin terus sama anak-anaknya."


Andi kembali tertawa renyah melihat ekspresi wajah Vanya yang terlihat sangat serius dalam mengatakan hal itu. Pria itu bahkan sampai melupakan permainan catur yang sedang dia mainkan bersama dengan Haidar.


Haidar yang sudah tidak tahan karena merasa di abaikan pun memutuskan untuk beranjak dari sana.


"Loh, mau kemana kamu? Belum selesai ini mainnya." Andi bertanya seakan tidak memiliki dosa.


Haidar pun hanya menatap Andi dengan jengah. "Mau bikin kopi, Haidar di sini seraya kayak anak tiri yang ga di anggap.. Kalian terlalu se frekuensi, Haidar males sama kalian.."


Haidar pun berlalu bergi begitu saja tanpa menunggu tanggapan dari Andi maupun Vanya.


Melihat Haidar yang seperti itu, lantas membuat Vanya dan Andi saling melemparkan pandangan.


"Pacar kamu kenapa?" Andi bertanya seakan benar-benar tidak menyadari apa yang membuat Haidar merajuk.


Namun, Vanya yang juga tidak menyadarinya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Anak om kan emang kaya gitu, kadang suka ga jelas." Gadis itu berkata dengan wajah bingungnya.


Andi yang mendengar hal itu pun hanya bisa terkekeh geli.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2