
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mengemudikan mobilnya dalam waktu kurang lebih sekitar 20 menit, Vino kini hampir sampai di alamat tempat tinggal Vanya.
Saat dia memasuki kawasan yang di mana setiap bangunannya merupakan tempat kost, lantas membuat Vino mengernyitkan dahinya.
"Nge kost kah dia? Gua kira tinggal sama ortunya." Vino berkata di dalam hatinya seraya terus mengikuti arah yang ada di maps.
Vino lantas berhenti di salah satu bangunan kost yang bernomorkan 26.
"No. 26." Gumam Vino.
Vino pun mematikan mesin mobilnya kemudian turun dari mobilnya. Saat Vino hendak membuka pagar tempat kost itu, Vino mengurungkan niatnya karena dia tidak tau letak kamar Vanya.
Vino pun mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya untuk menghubungi Vanya. Namun, lagi-lagi dia harus mengurungkan niatnya saat ada seorang gadis yang menghampirinya.
"Maaf, cari siapa ya mas?" Tanya gadis yang sepertinya sehabis pulang dari pasar karena gadis itu membawa kantung belanja yang berisi sayuran.
"Vanya." Ucap Vino.
"Ooh, dek Vanya. Yaudah, masuk aja mas. Kamarnya ada di lantai 3, kamar no 15." Gadis itu berkata seraya membukakan pintu gerbang untuk Vino.
Sedikit informasi, meskipun Vanya masih di tempat kost yang sama, namun Vanya kini telah pindah ke kamar yang terletak di lantai 3. Vanya pindah ke lantai 3 semenjak Haidar benar-benar pergi meninggalkannya.
"Yaudah, mari mas." Ucap Gadis itu setelah membukakan pintu pagar untuk Vino.
Vino mengangguk kecil kemudian segera menuju kamar yang di maksud oleh gadis itu.
Vino melihat nomor yang tertera pada pintu setiap kamar yang ada di lantai 3. Pria itu lantas berhenti di kamar yang terletak tepat di ujung lorong, yang di mana di pintu kamar itu tertera angka 15.
Vino pun mengetuk pintu kamar itu.
"Ya, sebentar."
Vino menyunggingkan senyum kecilnya saat mendengar suara Vanya yang menyahut dari dalam kamar. Entah kenapa, saat mendengar suara Vanya yang begitu halus, Vino tiba-tiba saja merindukan sosok Vanya.
Anggaplah Vino sedikit gila karena tiba-tiba saja tertarik pada gadis yang bahkan belum dia kenal lebih jauh, tapi mau bagaimana lagi, memang begitulah adanya.
"Hai.." Ucap Vino saat Vanya telah membuka pintu kamarnya.
Vanya seketika saja mengernyitkan dahinya. "Loh, kak Vin?" Gadis itu lantas melirik jam yang terpasang di dinding kamarnya. "Bukannya gua bilangnya jam 10 ya? Ini baru jam setengah 10 loh.. Gua aja baru selesai mandi."
Vino mengusap tengkuknya canggung, dia pun tahu jika Vanya baru saja menyelesaikan mandinya. Karena meskipun gadis itu sudah mengenakan pakaiannya, namun gadis itu masih belum melepaskan handuk yang melilit di kepalanya.
__ADS_1
Tapi, meskipun merasa canggung, Vino masih sempat merasa terpana melihat muka Vanya yang tidak memakai polesan make up sedikit pun. Karena sungguh, Vanya benar-benar terlihat sangat menggemaskan saat dia tidak memakai polesan make up.
"Khem!" Vino berdehem kecil guna sedikit mengurangi rasa canggungnya. "Gua kira jalanannya bakalan macet, jadi gua kesininya agak pagian."
"Em.." Vanya menggaruk pelipisnya. "Tapi, gua belum siap-siap."
"Yaudah, lu siap-siap aja. Gua tunggu di depan." Vino berkata seraya hendak berlalu pergi dari sana.
Namun, Vanya segera menghentikannya. "E, eh, ga papa. Masuk aja, tunggu di sini aja. Di luar panas." Gadia itu mempersilahkan Vino untuk masuk ke dalam kamarnya.
Karena ya, meskipun waktu masih menunjukkan pukul setengah 10, namun matahari sudah sangat terik. Membuat Vanya merasa sedikit tidak tega jika harus membiarkan Vino menunggunya di luar.
"Ga papa nih gua masuk?" Tanya Vino.
Vanya menganggukkan kepalanya. "Ga papa.. Tapi sorry, kamar gua ga se gede kamar kakak di rumah.
Vino menyunggingkan senyum tipisnya, pria itu pun melepaskan sepatunya kemudian masuk ke dalam kamar Vanya. Vino kini menyunggingkan senyum kecilnya karena kamar Vanya benar-benar wangi khas kamar seorang gadis.
Vanya pun juga masuk ke dalam kamarnya, gadis itu membiarkan pintu kamarnya setengah terbuka untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.
"Kakak duduk aja dulu, gua mau siap-siap bentar." Ucap Vanya.
Vino mengangguk kecil kemudian duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan.
Pria itu memperhatikan kamar Vanya yang bernuansa putih. Meskipun kamar itu memang tidak terlalu besar, namun kamar itu sangat nyaman karena Vanya menata kamar itu dengan sangat baik. Vino kini semakin tertarik pada Vanya setelah melihat betapa bersih dan rapi nya gadis itu.
Pict by : Pinterest
Setelah mengeringkan rambutnya, Vanya pun mulai mengoleskan make up tipis pada wajahnya. Di hanya memakai bedak dan liptint. Karen tanpa harus menggunakan pensil alis pun, alis Vanya sudah tebal dan juga rapi. Begitu pula dengan bulu matanya, Vanya memiliki bulu mata yang panjang dan juga lentik. Sehingga membuat dia tidak perlu memoleskan terlalu banyak make up di wajahnya.
"Lu suka warna putih?" Tanya Vino, dia mencoba untuk berbasa basi guna menghilangkan suasana yang terasa sangat canggung.
Vanya melirik Vino melalui cerminnya. "Engga, gua suka warna item. Kamar ini gua bikin warna putih cuma karna biar keliatan bersih aja."
Vino pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu, keheningan pun kembali terjadi.
Vino lantas memilih untuk memainkan ponselnya.
Selesai dengan make upnya, Vanya lalu menoleh pada Vino yang tengah memainkan ponselnya.
"Kak?" Ucap Vanya.
Vino pun mematikan ponselnya kemudian menoleh pada Vanya. "Hm?"
__ADS_1
"Kita mau pergi kemana?"
"Mau dataran rendah apa dataran tinggi?" Vino balik bertanya.
Vanya lantas berpikir untuk sejenak. "Dataran tinggi."
"*Then, we will go there."
*Note : Kalau begitu, kita pergi ke sana.
"Ok." Ucap gadis itu mengambil pakaian dari dalam lemarinya kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengenakan pakaian itu.
Setelah menunggu untuk beberapa saat, Vino pun melihat Vanya yang keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan kaos hitam yang di padukan dengan celana jeans panjang.
Pict by : Pinterest
Vanya membiarkan rambutnya tergerai karena Vanya tidak terlalu terbiasa mengikat rambutnya.
"Udah?" Tanya Vino.
"Bentar." Ucap gadis itu seraya meraih tas selempang berwarna putih yang tergantung kemudian meraih jaket jeans yang senada dengan celananya.
Vanya lantas mengambil sepatu kets berwarna putih yang senada dengan tas yang dia kenakan kemudian memakai sepatu itu.
"Berangkat sekarang?" Vanya bertanya setelah selesai memakai sepatunya.
Vino mengangguk kemudian beranjak dari duduknya.
Mereka pun keluar dari kamar itu.
Setelah Vino mengenakan sepatunya kembali dan setelah Vanya mengunci pintu kamarnya. Mereka pun segera berangkat menuju tempat yang menjadi tujuan mereka berdua.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1