Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Tamu Spesial


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


Rubic Cafe...


"Va, ada yang nyariin lu tuh di depan."


Itu Sita, bartender, teman kerja Vanya.


"Siapa?" Vanya menoleh pada Sita yang baru saja datang.


Sita mengedikkan bahunya. "Ga tau, cowok.. Orangnya tinggi, putih, cakep pokoknya. Cowok lu kali."


Vanya mengernyitkan dahinya, bukan kah Haidar masih ada di California? 3 jam yang lalu, pria itu mengirim photo kalau dia tengah mengerjakan pekerjaannya. Tidak mungkin kan pria itu melewati perjalanan dari California menuju jogjakarta hanya dalam waktu 3 jam?


"Coba lu cek aja sana, dia nunggu di depan. Tadi gua suruh buat masuk sekalian ga mau dia. Katanya minta lu yang ke depan."


"Tapi ini, gimana?"


"Udah lu tinggal aja, masih sepi juga kok. Bentaran doang ga papa."


"Yaudah kalo gitu, gua ke depan bentar."


Sita menganggukkan kepalanya.


Vanya lantas berlalu pergi dari sana, dia berjalan menuju tempat di mana pria yang di maksud sita sedang menunggunya.


"Nyari cowok yang nyariin kamu ya?"


Tanya salah satu penjaga pintu masuk.


Vanya menganggukkan kepalanya.


"Itu, di sana."


Penjaga itu menunjuk seorang pria yang berdiri di dekat pohon dengan posisi membelakanginya.


Vanya mengernyitkan dahinya saat melihat pria itu, bentuk badan pria itu sama persis seperti Haidar. Hanya saja, rambut pria itu berwarna silver.


Tidak ingin hanya bertanya-tanya, Vanya lantas mendekati pria itu.


"Misi.. Mas nya nyariin saya ya?"


"Surprise.."


Pria itu membalikkan tubuhnya dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


"Haidar! Lu ngapain di sini?"


Senyum di wajah Haidar seketika saja luntur.


"Lu ga seneng ya gua dateng?"


"Bu, bukan gitu.. Tapi kan bukannya lu masih di California? Kapan lu balik ke sini? Kok ga ngabarin gua sih."


"Kalo gua ngabarin, namanya bukan surprise dong.."


"Terus itu tadi, lu boong soal ngerjain kerjaan lu?"


Haidar menggelengkan kepalanya. "Gua emang lagi ngerjain kerjaan gua. Tapi kan lu ga nanya di mana gua ngerjainnya."

__ADS_1


"Iya juga sih.." Vanya menggaruk pelipisnya.


"Btw, lu ga mau meluk gua?"


Haidar merentangkan tangannya, meminta Vanya untuk masuk ke dalam pelukannya.


Vanya seketika saja mengusap tengkuknya, dia tiba-tiba saja merasa gugup. Tapi meskipun begitu, dia secara perlahan tetap melangkah maju untuk masuk ke dalam pelukan Haidar.


"Dar! Jangan kenceng-kenceng! Gua ga bisa napas! Uhuk!!"


Vanya mencubit pinggang Haidar dengan cukup keras.


"Aw, sakit Va.."


Tangan kanan Haidar tergerak untuk menyentuh pinggangnya, tempat di mana Vanya mencubitnya. Sedangkan tangan kirinya masih setia menahan Vanya agar tetap berada di pelukannya.


"Ya elu lagian.. Lu mau bunuh gua?"


"Ya namanya juga orang kangen sih Va. Khilaf jadinya."


Vanya mendengus sebal. "Udah ih, kelamaan. Malu di liatin orang."


"5 menit lagi."


"Tapi gua harus kerja Daaaar.."


Haidar menghela nafasnya, dia lupa kalau mereka masih ada di tempat kerja. Di mana gadis itu masih ada pada jam kerjanya. Ah tidak, gadis itu bahkan baru memulai jam kerjanya.


Walaupun merasa sedikit enggan, Haidar tetap melepaskan pelukannya.


"Gua masuk ke dalem boleh?"


Vanya mengangguk kecil. "Boleh.. Tapi lu harus beli minum. Inget, beli.. No diskon, apa lagi gratis. Harus beli."


"Yaudah si iya Va, beli beli.. Tapi lu ya yang bikin minuman buat gua?"


Vanya mengernyitkan dahinya, dia mendongakkan wajahnya untuk menatap Haidar.


"Tenang sih, nanti gua kasih tips yang banyak banget."


Vanya tertawa renyah. "Ok deh kalo gitu, nanti gua bikinin minuman yang spesial."


"Tapi harus di kasih bonus."


"Bonus? Bonus minuman gitu?"


Haidar mengedikkan bahunya. "Nanti aja bonusnya gua minya di apartment."


"Maksud lu?" Vanya melirik Haidar dengan di penuhi rasa curiga.


"Apa sih yang lu pikirin? Gua cuma mau minta cium doang astaga.. Tapi kalo lu ngijinin buat ngelakuin yang lebih juga ***.. Awww!! Sakit Va.."


"Ya elu nya gitu sih."


"Lu tu ya, kebiasaan banget nyubir gua.. Untung sayang.."


"Kalo ga?"


"Udah gua lipet lipet jadi kecil, terus gua kantongin biar lu ga bisa nyubit gua lagi."


Vanya seketika saja terkekeh geli. "Udah lepas." Vanya menyingkirkan tangan Haidar dari pundaknya. "Terserah lu mau duduk di mana. Di depan meja bartender juga ga papa."


"Ok.."

__ADS_1


Vanya lantas masuk ke belakang meja bartender.


"Itu beneran cowok lu Va?"


Sita menatap Vanya dengan di penuhi rasa penasaran.


Vanya mengangguk kecil.


"Kok lu ga pernah bilang sama kita kalo lu udah punya cowok?"


Itu Defa, waiters.


Vanya mengangkat bahunya acuh. "Kalian ga pernah nanya."


"Kalo gua tau lu punya cowok modelan kayak gitu.. Beuuuh, gua ga papa dah jadi pelakor.."


Vanya seketika saja mencubit bibir Sita. "Gua sumpel tu mulut pake botol beer mau?"


Defa tertawa terbahak-bahak. "Makanya, kalo ngomong di jaga. Kena cubitan maut kan tu mulut."


"Yaelah.. Bercanda doang si, sensi amat. Rusak kan lipstick gua jadinya."


"Eh tapi Va, cowok lu beneran cakep tau. Dapet di mana?"


Vanya melirik Defa dengan mata yang memicing. "Di kiranya barang apa? Dia temen sekolah gua, satu kelas."


"Oooh.." Defa dan Sita mengangguk-anggukkan kepala.


"Tapi ga heran sih si Vanya bisa dapetin cowok yang cakep kayak begitu, orang dianya aja cantik."


Sita mengangguk setuju. "He eh, kok lu bisa cantik jayak begitu. Rahasianya apa? Perawatannya pake apa? Gua perawatan tiap hari tapi ga ada yang berubah."


"Gua ga perwatan."


"Pake air wudhu paling dia."


"Yeeuuh.. Dia kristen, tolol!" Sita menyentil dahi Defa. "Sejak kapan non muslim wudhu. Dia ibadah di gereja. Emangnya elu, islam KTP doang. Ibadah kagak, kerja di tempat beginian. Tobat Defff.. Tobat.."


"Lah, kagak ngaca. Lu juga sama, islam KTP doang. Kerja juga di tempat beginian! Malah elu yang ngajakin gua buat kerja di sini."


"Iya juga sih ya." Sita seketika saja tertawa renyah.


"Hush.. Udah-udah, ga usah bahas agama. Kita semua sama, ga ada yang bener soal ibadah. Udah ah, gua mau ngasih minuman ini dulu ke cowok gua."


Vanya berlalu pergi dari sana dengan membawa segelas minuman yang sudah dia racik.


"Mentang mentang tamu spesial, langsung di anterin sendiri. Biasanya mah ogah."


Vanya melirik Sita, dia mengacungkan jari tengahnya kemudian kembali berlalu pergi dari sana.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2