
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
"Eh, eh.. Kenapa nih!" Vanya bergumam saat mobil yang di kendarainya tiba-tiba saja melaju dengan pelan.
"Apa yang salah coba?" Vanya kini terlihat bingung, karena sedari tadi, Vanya tidak mengangkat kakinya dari pedal gas.
"Ck! Bensinnya penuh loh!" Vanya mencoba untuk menginjak pedal gas sedalam mungkin.
Namun, bukannya melaju dengan kencang. Mobilnya justru melaju dengan semakin pelan. Vanya lantas menepikan mobilnya agar tidak mengganggu pengendara yang lain.
Vanya pun keluar dari dalam mobilnya, dia menutup pintu mobilnya dengan sedikit kasar kemudian segera membuka cup mesin mobilnya. Saat cup mesin mobilnya terbuka, Vanya seketika saja memalingkan wajahnya karena mesin mobilnya mengeluarkan asap yang cukup banyak.
"Hemphh!" Vanya mendengus saat mencium bau tidak sedap yang berasal dari mesin mobilnya.
"Haish!! Padahal 5 hari yang lalu baru aja gua service, kok bisa kayak gini sih!" Vanya menatap mesin mobilnya yang masih mengeluarkan asap, meskipun tidak sebanyak waktu awal.
Tanpa menutup kembali cup mesin mobilnya, Vanya lalu membuka pintu mobilnya untuk meraih tasnya yang ada di dalam mobil. Gadis itu kemudian mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam tas yang baru saja dia raih.
Setelah menyimpan tasnya kembali ke dalam mobil, Vanya lalu segera menghubungi Malik, petugas tempat service mobil yang sudah dia kenal karena dia selalu melakukan service mobil di tempat Malik bekerja.
π(Halo mbk Vanya, ada yang bisa saya bantu?)
"Halo mas, ini mobil saya tiba-tiba ga bisa jalan, tapi mesinnya masih bisa nyala. Pas saya buka cup mesinnya, mesinnya ngeluarin asap banyak banget. Bisa tolong di cek ke sini ga? Saya ada di jalan xxx."
π(Oh, bisa mbk. Saya sama temen saya kesitu sekarang, paling 20 menitan. Tolong di tunggu ya.)
"Yaudah mas, saya tunggu."
π(Baik mbk.)
Sambungan pun terputus.
Vanya lalu menghubungi Lidia untuk memberitahukan kalau dia akan terlambat datang ke kantor.
π(Halo Va, tumben pagi-pagi gini udah nelpon. Ada apa?)
"Halo kak, bisa tolong tulisin catetan keterlambatan dateng ga? Mobil gua mogok di jalan xxx, ini gua lagi nunggu tukang service buat benerin mobil gua."
π(Oooh.. Ok, nanti gua tulisin. Tapi jangan lupa buat ngelampirin foto bukti ya.)
Vanya pun menghela nafasnya. "Siap.. *Thanks alot ya kak.."
*Note : Terima kasih banyak.
π(Hmm.. *No big deal, honey..)
*Note : Bukan masalah besar.
Sambungan pun terputus.
__ADS_1
Vanya lalu menyandarkan tubuhnya pada badan mobil, dia menunggu kedatangan Malik seraya memainkan ponselnya. Vanya sengaja menunggu Malik di luar agar Malik lebih mudah menemukannya.
Beruntungnya, Vanya berhenti tepat di bawah pohon yang cukup rindang, sehingga membuat Vanya tidak terlalu terkena sinar matahari. Lagi pula, hari masih pagi. Jadi, sinar matahari belum terlalu terik.
10 menit pun berlalu, Vanya tiba-tiba saja mengernyitkan dahinya tat kala ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan mobilnya. Vanya lantas menatap mobil itu dengan sedikit bingung, dia merasa tidak asing dengan mobil itu.
Hingga ketika sang pemilik mobil keluar dari dalam mobil itu, Vanya pun menyunggingkan senyum kecilnya karena sang pemilik mobil itu adalah Vino.
Gadis itu lantas menegakkan tubuhnya saat Vino mendekatinya.
"Mobil lu mogok?" Vino bertanya saat melihat mesin mobil Vanya yang sedikit mengeluarkan asap.
Vanya menganggukkan kepalanya.
"Udah ngehubungin petugas service?" Tanya Vino.
Vanya kembali menganggukkan kepalanya. "Paling 10 menit lagi juga dateng."
Vino lantas melirik jam yang terpasang di pergelangan tangannya. "30 menit lagi jam masuk kantor."
"He em.." Vanya mengangguk kecil. "Tapi ga papa, gua udah minta tolong kak Lidia buat nyatetin alasan keterlambatan dateng."
Vino mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ga mau bareng gua aja?"
Vanya lantas berpikir untuk sejenak. "Tapi gua lagi nungguin petugas service."
"Ya di tunggu aja dulu. Kalo udah dateng, nanti berangkat bareng gua."
"Emm.. Engga usah deh ga papa kak. Gua ga mau ngerepotin, nanti gua berangkat naik ojek online aja."
Vanya mengusap tengkuknya canggung. "Yakin nih ga ngerasa di repotin?"
Vino menganggukkan kepalanya.
"Tapi, nanti mobil gua gimana?" Vanya menatap mobilnya dengan tatapan bingung.
Vino mengedikkan bahunya. "Minta tolong aja sama petugasnya buat nganterin mobil lu ke kantor. Jarak dari sini ke kantor kan ga nyampe 20 menit."
"Emm.. Ok deh.. Tapi, kakak ga papa nemenin gua di sini?" Vanya menatap Vino dengan tidak enak hati.
Vino mengangguk kecil. "Ga papa.."
Vanya lantas menghubungi Lidia untuk membatalkan ijin keterlambatannya.
Hingga tak lama setelah itu, Malik pun datang ke lokasi bersama seorang temannya menggunakan sepeda motor.
Setelah memarkirkan motornya, Malik pun turun dari motornya kemudian segera mendekati Vanya. "Maaf ya mbk udah nunggu lama.. Ini jamnya pada berangkat kerja sama sekolah, jalannya jadi agak macet." Pria itu berkata dengan sedikit tidak enak hati.
Vanya menyunggingkan senyum kecilnya. "Ga papa mas, yang penting masnya sekarang udah di sini."
"Yaudah kalo gitu, saya coba cek dulu ya yang rusaknya apa." Ucap Malik.
"Bentar dulu deh mas." Ucap Vanya.
__ADS_1
"Ya mbk, gimana?" Tanya Malik.
"Ini kan saya udah mau telat masuk kerja, kalo misalnya saya tinggal aja gimana? Nanti saya minta tolong sama masnya buat nganterin mobil saya ke tempat kerja saya bisa ga ya kira-kira? Nanti ongkosnya saya tambahin." Tutur Vanya.
"Oh, boleh mbak, ga papa.."
"Yaudah kalo gitu, nanti tolong anterin ke PT. Rumah Linux ya mas. Kalo udah di sana, bilang aja sama satpam yang ada di sana kalo mau nganterin kunci punya saya. Nanti saya turun ke bawah buat ngambil kunci mobilnya."
"Siap mbak.."
"Makasih banyak ya mas.." Ucap Vanya.
"Sama-sama mbak.."
Vanya lalu memberikan kunci mobilnya pada Malik. Gadis itu mengambil tas miliknya yang masih berada di dalam mobil kemudian mendekati Vino.
"Udah?" Tanya Vino.
Vanya menganggukkan kepalanya. "Udah.."
Vino dan Vanya pun segera berangkat ke kantor.
Saat dalam perjalanan, Vino beberapa kali melirik Vanya yang sibuk dengan ponselnya. Pria itu menghela nafasnya karena merasa sangat canggung dalam situasi ini.
Tidak ingin menghabiskan waktu dengan keheningan, Vino pun memutuskan untuk memulai percakapan.
"Va?" Ucap Vino.
"Hm?" Vanya menoleh pada Vino. "Kenapa kak?"
"Nanti sore lu senggang ga? Gua mau ngajak lu makan." Vino berkata dengan sedikit ragu.
Vanya menatap Vino dengan tidak enak hati. "Sorry kak.. Lain kali aja ya.."
Vino seketika saja mengusap tengkuknya, dia sedikit tidak siap menerima penolakan ini untuk yang ke dua kalinya. Namun, meskipun begitu, Vino tetap menampilkan senyum kecilnya.
"Yaudah ga papa, lain kali aja." Ucap Vino.
"Sorry ya kak.."
Vino menganggukkan kepalanya. "Ga papa.." Pria itu pun kembali memfokuskan dirinya untuk mengemudi dengan perasaan yang sedikit bercampur aduk.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..