
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
1 Minggu kemudian..
Terlihat Rima menghampiri Vanya dan Nisa yang kini tengah mengerjakan tugas sekolah mereka di ruang tv, dengan membawa 2 gelas jus mangga.
"Habis pembagian raport semester 1 ini kalian PKL kan ya?" Rima bertanya seraya meletakkan gelas itu di atas meja.
Vanya dan Nisa pun menganggukkan kepala tanpa mengalihkan fokus mereka dari layar laptop.
"Terus kalian udah di kasih tau mau di tempatin PKL di mana?" Rima kembali bertanya setelah duduk di sofa single yang berada di samping meja Vanya dan Nisa.
Nisa lantas menoleh pada Rima lalu menggelengkan kepalanya. "Kita belum tau.."
Rima sedikit mengerutkan keningnya. "Kok bisa gitu? Bukannya tempat PKL tu di tentuin sama sekolah dari 1 bulan sebelum libur semester 1 ya..?"
Vanya menoleh pada Rima lalu menjawab. "Itu dulu tan.. Kalo sekarang engga, soalnya sekarang pihak sekolah ngasih keistimewaan ke murid yang punya peringkat 1-10 buat milih sendiri mau PKL di mana."
Rima menatap Vanya untuk beberapa saat. "Peringkat kelas gitu maksudnya?"
"Bukan maaah.. Peringkat umum dari 5 kelas, dari kelas A sampe kelas E. Kan mulai taun ini kelas 11 sama kelas 12 pembagian kelasnya udah di campur rata sama kaya kelas 10. Kalo taun-taun sebelumnya emang kelasnya di bagi sesuai nilai murid, tapi mulai taun ini udah engga.. Makanya Tania yang kemaren dapet peringkat umum ke 6 bisa masuk kelas E, soalnya sekarang udah di sama ratain.. Katanya sih pas pengumuman itu biar yang kurang pinter bisa belajar dari yang lebih pinter.. Gitu.." jelas Nisa.
"Itu buat peringkat 1-10 di semester 1 atau yang pas kenaikan kelas kemaren?"
"Buat yang semester 1 ini Tan" jawab Vanya.
Rima lantas mengangguk-anggukan kepalanya. "Oooh.. Mamah baru tau"
"Ya soalnya mamah udah ga sekolah, hehe" sahut Nisa lalu menampilkan cengirannya.
"Heeeem..." Rima menatap Nisa dengan memicingkan matanya. "Ya kalo mamah masih sekolah, mamah ga bakalan punya kamu dong.."
"Hehe.. Ya gitu maksud Nisa.."
Rima lantas mencubit pipi Nisa dengan gemas. "Terus kalo kalian masuk 10 besar, kalian mau PKL di mana?"
"Berhubung Nisa sukanya ngedit, kalo Nisa emang masuk 10 besar, Nisa mau ngajuin di Box Color. Tempat nya juga kan ga jauh-jauh banget dari rumah, paling cuma 30 menitan" jawab Nisa.
Rima pun mengangguk-anggukan kepalanya. "Terus, Vanya mau PKL di mana?"
"Vanya sih ga usah di tanya mah, dia udah pasti PKL di PT. Rumah Linux. Vanya kan sukanya sama yang susah-susah" sahut Nisa.
Vanya lantas menatap Rima seraya tersenyum lebar. "Iya tan, Vanya mau ngajuin buat PKL di PT. Rumah Linux. Soalnya Vanya pengen belajar pemrograman sama pengembangan software."
__ADS_1
"Baguslah, kebetulan juga searah kan ya tempatnya, jadi kalian bisa pulang pergi bareng-bareng" ucap Rima.
"He em, lumaya kan, Vanya jadi bisa ngirit uang bensin" sahut Nisa.
Vanya pun hanya tersenyum canggung seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yaudah kalo gitu jusnya jangan lupa di minum sama tugasnya cepet di selesein, terus habis itu kita makan malem bareng-bareng. Mamah mau masak dulu" Rima berkata kemudian beranjak dari duduknya lalu mengusak kepala Vanya Dan Nisa sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana.
*****
Ke esokan harinya..
Saat bel istirahat berbunyi, Nisa memutuskan untuk menemani Vanya di dalam kelas. Karena selama mereka bersekolah, Vanya merupakan seorang siswi yang jarang menghabiskan waktu istirahatnya di luar kelas. Bahkan untuk pergi ke kantin sekali pun, hal itu bisa di hitung menggunakan jari.
Oleh sebab itu, terkadang banyak siswa laki-laki yang akan hilir mudik di depan kelas Vanya hanya untuk menatap wajah cantik sedikit judes milik gadis itu.
"Va" ucap Nisa pada Vanya yang kini sedang fokus dengan buku bacaannya.
"Hmm.." Vanya bergumam tanpa mengalihkan fokusnya dari buku bacaannya.
"Enak ya jadi orang cakep, engga ngapa-ngapain aja udah banyak yang suka" Nisa mengoceh tanpa sadar jika dirinya juga merupakan orang yang tengah di sukai bahkan di incar oleh banyak orang.
Mendengar ocehan Nisa yang sedikit ambigu, Vanya lantas menatap Nisa seraya menaikkan sebelah alisnya. "Maksudnya?"
"Itu tuh..." ucap Nisa seraya mengedikkan dagunya ke arah depan, dimana Haidar kini tengah di kelilingi beberapa siswa dan siswi.
Pict by: Baifern Pimchanok Luevisadpaibul
Lalu kembali menatap Nisa. "Emang lu ga sadar ya kalo lu juga banyak yang suka?"
"Emang iya?? Berarti gua cakep dong??" Nisa bertanya seraya menatap Vanya dengan wajah tengilnya.
Pict by : Mintranch
Vanya seketika memutar bola matanya malas lalu kembali fokus dengan bacaannya.
"Tapi Va, lu ga sadar apa kalo semenjak si Haidar masuk ke kelas ini, dia sering banget curi-curi pandang ke elu?"
"Perasaan Lu aja kali" ucap Vanya dengan acuh tak acuh.
Tapi ketahuilah, meskipun Vanya memberikan tanggapan kepada Nisa dengan acuh tak acuh. Jauh di dalam lubuk hatinya, Vanya membenarkan apa yang di katakan Nisa. Namun, Vanya berusaha untuk mengabaikannya. Karena dia tidak ingin berpikiran terlalu jauh tentang hal itu.
"Tapi Va, kali ini kayaknya dia ga cuma natap deh, kali ini dia nyamperin elu" ucap Nisa ketika Haidar beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah dimana Vanya dan Nisa duduk dengan tatapan pria itu yang tak lepas dari Vanya.
__ADS_1
Vanya yang mendengar itu seketika mengalihkan fokusnya dari buku bacaannya seraya berkata "Apa iy..."
Namun perkataannya itu seketika terhenti tat kala Haidar kini berdiri di sampingnya.
"Bisa ikut gua sebentar ga?" Haidar bertanya dengan suara khasnya yang berat dan sedikit serak.
Yang mana, hal itu membuat siswa dan siswi yang ada di kelas itu menatap mereka dengan rasa penasaran yang cukup tinggi. Karena selama satu minggu mereka mengenal Haidar, pria itu merupakan orang yang tidak akan berbicara jika tidak ada yang mengajaknya berbicara.
Dan setau mereka, Vanya juga bukanlah seorang gadis yang mau dengan mudah berurusan dengan makhluk berjenis kelamin laki-laki. Jangankan seorang laki-laki, bahkan para gadis saja terkadang sedikit sungkan untuk berurusan dengan Vanya.
Karena seperti yang mereka ketahui, gadis berotak pintar itu merupakan gadis dingin yang susah untuk di dekati. Hingga hanya orang-orang tertentu saja yang bisa berinteraksi dengannya.
Vanya yang mendengar itu pun lantas menatap Haidar dengan alis yang sedikit menukik. "Mau ngapain?" tanya Vanya kemudian.
"Ya udah ikut gua aja dulu" jawab Haidar.
"Tapi bentar lagi jam istirahatnya abis" Vanya berusaha menolak ajakan Haidar.
"Udah-udah sana, ikut aja dulu.. Istirahatnya masih ada 15 menit lagi.." Nisa berkata seraya mengambil buku yang sedang di pegang Vanya.
"Tapi nanti.."
"Udah ikut aja ga usah tapi-tapian.. Siapa tau penting kan" Nisa memotong ucap Vanya seraya sedikit mendorong tubuh gadis itu dengan lembut.
"Nanti kalo telat biar gua yang handle" Nisa kembali berkata seraya tersenyum manis.
"Yaudah, gua minjem temen lu bentar" ucap Haidar lalu menarik Vanya agar mengikutinya, mengabaikan Vanya yang sedikit memberikan pemberontakan.
"Yang lama juga ga papa" Nisa berkata kemudian dengan sedikit berteriak.
Yang mana, teriakan gadis itu mendapatkan hadiah berupa lirikan tajam dari Vanya.
Dan hal itu pun membuat siswa siswi yang ada di sana semakin merasa penasaran.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1