
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed.....
...----------------...
Blue Sky Cafe..
"Va.."
"Hm??"
Vanya menjawab tanpa mengalihkan fokusnya dari ice cream yang tengah dia santap.
"Betah kerja di sana?"
Vanya menganggukkan kepalanya.
"Lu ga ada niatan buat nyari kerja yang lainnya gitu? Atau kalo ga, ga usah kerja deh.. Lu cukup diem aja di rumah.."
"Daaar..."
Vanya menghela nafasnya, dia mantap Haidar dengan tatapan jengah.
"Kita udah bahas hal ini puluhan kali. Tolonglah.."
Haidar mendesah lelah, dia bersedekap dada seraya memalingkan wajahnya.
"Gua cuma ga suka aja lu ketemu sama banyak cowok. Padahal gua aja mampu loh kalo lu minta gua buat bikinin lu tempat usaha."
"Haidar."
"Ck, iya iya.."
Vanya pun kembali menyantap ice cream nya.
"Eh, tapi Va.."
"Ck, apa lagi?!"
"Gua udah pernah ngomong apa belum sih sama lu? Lu makin cantik kalo lu lagi marah."
Vanya seketika saja memutar bola matanya.
"Ga usah sok-sokan ngerayu deh, rayuan lu udah basi."
Haidar menggaruk pelipisnya.
"Udah ga ngaruh lagi ya?"
Vanya hanya mengangkat bahunya acuh.
"Vanya?"
Vanya menoleh ke arah belakangnya, di mana di sana ada Vino yang tengah berjalan ke arahnya.
"Kak Vin? Kakak ngapain di sini?"
"Ini cafe punya tante ku."
Vanya pun ber "oh" ria.
Vino melirik Haidar sekilas.
"Ini temen kamu?"
"Gua pa.."
"Iya, itu temen aku."
Vanya segera memotong perkataan Haidar.
Hal itu sontak saja membuat Haidar menatap Vanya dengan raut wajah yang di penuhi rasa ketidak percayaan.
__ADS_1
Bisa-bisanya gadis ini menganggapnya sebagai teman.
Dan juga, apa itu tadi? Aku? Kamu? Hey.. Sejak kapan Vanya bisa se akrab itu dengan seorang pria?
Apa jangan-jangan pria ini yang bisa membuat Vanya melupakannya?
Rasa takut seketika saja menghampiri Haidar. Terlebih lagi, Vanya dengan gamblangnya mengatakan pada pria itu kalau dia hanyalah sekedar teman.
"Boleh gabung?"
"Boleh kak, duduk aja."
Haidar mengernyitkan dahinya mendengar Vanya yang dengan mudahnya mengijinkan pria itu untuk bergabung bersama dengan mereka.
Apa gadis itu lupa kalau mereka saat ini sedang berkencan?
Astaga.. Kenapa Haidar tiba-tiba saja merasa emosi!! Ah tidak bukan emosi, lebih tepatnya, Haidar merasa cemburu.
Ingin sekali rasanya Haidar menarik Vanya untuk pulang saat ini juga.
Tapi tidak, Haidar tidak akan melakukannya. Haidar akan berusaha untuk menahan rasa cemburunya. Haidar harus menunjukkan pada Vanya kalau dia tidak lah sama seperti Haidar yang dulu.
"Kamu ga mau kenalin aku ke temen kamu?"
"Ah iya." Vanya menggaruk pelipisnya. "Dar, ini Kak Vino. Temen gua waktu gua masih kerja di PT. Rumah Linux. Kakak bisa manggil dia Haidar. Dia temen aku di SMK."
"Ooh.. Jadi kalian satu sekolahan?"
Vanya menganggukkan kepalanya.
Vino tampak berpikir untuk beberapa saat. "Tapi kok aku ga pernah ngeliat kamu jalan sama dia ya?"
"Dia baru balik dari California."
"California?"
"He em.." Vanya mengangguk kecil. "Lebih tepatnya Santa Barbara."
Vanya mengangguk kecil. "Lumayan.."
"Kakak sendiri, udah lama di sini?"
"Engga, aku baru aja dateng. Mau ngasih undangan pernikahan."
"Kakak mau nikah?"
Vino seketika saja terkekeh kecil. "Bukan, ini undangan pernikahan punya sepupu aku yang tinggal di deket rumah aku. Lagian juga, gimana aku mau nikah, kamu nya aja nolak aku terus."
Hal itu sontak saja membuat Vanya mengerjapkan matanya.
"Ha ha.." Vanya tertawa canggung, dia melirik Haidar.
Vanya menggaruk pelipisnya melihat Haidar memalingkan wajahnya dengan raut wajah yang tampak sedikit kesal. Ah tidak, sebenarnya raut wajah Haidar benar-benar terlihat kesal.
"Eh sorry.. Lupa kalo di sini masih ada temen kamu."
"A ha ha.. Ga papa.."
Vanya benar-benar tidak tahu harus memberikan respon seperti apa. Vanya juga heran, kenapa Vino tiba-tiba saja berubah menjadi pria yang seperti itu.
Kemana perginya sikap kaku dan dinginnya pria itu? Apa sebelum datang kesini pria itu sempat di rasuki oleh sesuatu?
Haidar menghela nafasnya, dia sungguh tidak tahan menghadapi situasi seperti ini. Tidak, lebih tepatnya dia tidak tahan menahan rasa cemburunya.
Ketahuilah, sebenarnya Vino sangat menyadari perubahan raut wajah Haidar. Dia tahu kalau saat ini Haidar tengah menahan emosinya. Vino bahkan sudah melihat rasa tidak suka haidar padanya saat pertama kali dia menyapa Vanya.
Sejujurnya, Vino tidak berniat untuk menggoda Vanya. Namun, melihat raut wajah Haidar yang begitu tidak menyukainya, membuat Vino tiba-tiba saja merasa tergugah untuk menggoda Vanya.
Entahlah.. Vino juga tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu. Mungkin, Vino hanya ingin menunjukkan kalau dia juga dekat dengan Vanya.
Ya meskipun jika di bandingkan, sepertinya Haidar jauh lebih dekat dengan Vanya. Tapi setidaknya Vino bisa menunjukkan kalau selama Haidar tidak ada di sini, Vanya lebih dekat dengan dirinya.
"Tapi beneran loh Va, aku nikahnya nunggu kamu siap buat aku nikahin."
__ADS_1
Sudah cukup, Haidar tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya. Dia beranjak dark kursinya dengan cara yang cukup kasar.
"Ayo pulang Va."
Nada suara Haidar terdengar begitu rendah.
Hal itu jelas saja membuat Vanya merasa serba salah. Dia tidak mengerti, kenapa Tuhan harus mempertemukan kedua pria ini.
"Tapi.. Ini.."
"Ivanya Basudewi.."
Suara Haidar kini benar-benar semakin rendah, sarat akan emosi yang begitu besar. Terlbih lagi, Haidar kini sudah menyebut nama lengkapnya.
"Yaudah kak, aku pulang dulu."
Tanpa menunggu tanggapan dari Vino, Vanya beranjak dari kursinya. Gadis itu menggenggam tangan Haidar kemudian menarik Haidar untuk segera pergi dari sana.
Jujur saja, Vanya merasa sedikit takut kalau saja Haidar akan memarahinya. Tapi, ayolah.. Kenapa juga Haidar harus memarahinya, itu jelas-jelas bukan salahnya. Vanya saja tidak tahu kalau Vino akan menggodanya seperti itu.
Tapi, tetap saja.. Vanya takut kalau saja Haidar akan memarahinya.
Namun salah.. Rasa takutnya itu tidak terbukti. Karena selama dalam perjalanan, Haidar hanya diam. Tidak ada satu patah kata pun yang terucap dari mulut pria itu.
Mulut pria itu seolah di bubuhi lem perekat yang begitu kuat sehingga membuat mulutnya benar-benar terkunci rapat.
"Dar.. Lu marah?"
Vanya menoleh pada Haidar dengan sedikit ragu.
"Haidar.."
Haidar menghela nafasnya, dia menepikan mobilnya. Karena sungguh, kepalanya bmterasa begitu berdenyut karena terus menerus menahan amarahnya.
"Jujur, gua marah Va.."
Pria itu berusaha berbicara dengan nada suara se normal mungkin. Dia tidak ingin membuat Vanya semakin membencinya kalau dia sampai tidak bisa mengontrol emosinya.
"Tapi apa bisa gua marah? Apa boleh gua marah? Hak gua buat marah apa? Sedangkan lu aja nganggep gua cuma sekedar temen. Mana ada temen yang marah buat hal kayak tadi?"
Vanya terhenyak, dia tidak menyangka kalau Haidar akan mengatakan hal itu. Vanya tiba-tiba saja merasa bersalah karena tidak mengakui Haidar di depan Vino.
Sejujurnya, Vanya awalnya ingin mengakui Haidar sebagai kekasihnya. Namun, Vanya ingin melihat reaksi seperti apa yang Haidar tunjukkan saat Vanya akrab dengan pria lain.
Sungguh, Vanya tidak menyangka kalau kejadiannya akan seperti ini.
"Sorry.."
Haidar menoleh pada Vanya.
"Gua yang harusnya minta maaf ke elu.. Ga seharusnya gua ngajak lu pulang. Ga seharusnya gua marah sama ke akraban kalian. Gua harusnya sadar, gua ga punya hak buat cemb.."
Kalimat yang terucap dari mulut Haidar seketika saja terhenti saat Vanya mengecup bibirnya. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa kaku seperti seonggok patung yang tidak bernyawa.
"Sorry.. Gua ga ada maksud buat kayak gitu.. Gua cuma pengen liat reaksi lo aja.. Gua ga tau kalo kejadiannya bakal kayak gini. Gua.."
Kini Vanya yang harus menghentikan kalimatnya tat kala Haidar menciumnya.
Vanya tidak menolak, dia memejamkan matanya. Mencoba untuk menikmati sapuan lembut bibir Haidar di bibirnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1