
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Perlahan, Bagas berjalan ke arah Vanya dengan langkah yang sedikit limbung. Jantungnya bergemuruh dengan mat sangat cepat. Kilasan-kilasan kenangan buruk yang dia lakukan di masa lalu, seketika saja terbayang di benaknya.
Bagas mencoba untuk membayangkan kenangan indah yang dia lakukan bersama Vanya. Namun sayangnya, dia tidak berhasil melakukannya. Sekuat apa pun dia mencoba, kenangan indah itu kalah dengan kenangan buruk yang dia lakukan pada Vanya.
Melihat Vanya yang tumbuh menjadi gadis cantik nan anggun, membuat perasaan bersalah Bagas kepada Vanya menjadi semakin membesar.
Bagas tidak tahu, bagaimana Vanya menjalani kehidupannya selama ini. Bagas benar-benar menjadi seorang ayah yang sangat tidak bertanggung jawab. Bagas sungguh menjadi seorang ayah yang berdosa kepada putrinya.
Meskipun Bagas tahu kalau Vanya ada di dekatnya, Bagas memilih untuk mengabaikannya, Bagas memilih untuk tidak memperdulikannya. Bagas sudah menjadi ayah yang di penuhi dengan dosa karena tidak bisa membersarkan putrinya dengan sangat baik.
Semua itu karena Bagas terlalu percaya pada Ayu, Bagas terlalu termakan kata manis yang selalu di katakan oleh Ayu. Bagas terlalu percaya pada kata cinta yang selalu di ungkapkan oleh Ayu.
Bagas selama ini benar-benar sudah menjadi pria yang sangat bodoh. Bagas terlalu mempercayai orang lain sehingga mengabaikan putrinya, darah dagingnya sendiri. Bahkan hingga melukai putrinya, entah secara fisik mau pun mental.
Bagas ingat betul, bagaimana dia memaki Vanya, bagaimana dia memukul Vanya dengan tangannya sendiri. Bagas ingat semuanya, perlakuannya itu benar-benar terbayang dengan sangat jelas di benaknya.
Sungguh, Bagas merasa sangat menyesal telah melakukan semua itu pada darah dagingnya sendiri.
Bagas ingin rasanya menemui Vanya barang untuk satu kali saja, dia ingin meminta maaf pada Vanya atas semua perlakuan buruk yang telah dia lakukan. Namun sayangnya, dia terlalu pengecut, dia terlalu takut, dia terlalu malu.
Bahkan hanya untuk sekedar memantau perkembangan hidup Vanya saja, Bagas terlalu takut untuk melakukannya.
Bagas tidak menyangka, kalau Vanya masih mau menginjakkan kakinya di rumah ini. Bagas tidak menyangka kalau Vanya masih sudi datang untuk menemuinya.
Seharusnya Bagas yang menemui putrinya, bukan malah justru putrinya yang menemuinya. Sekali lagi, Bagas merasa telah menjadi seorang ayah yang benar-benar payah.
__ADS_1
"Maafkan papah.."
Bagas duduk bersimpuh di depan Vanya dalam jarak 1 meter, kepalanya menunduk dengan sangat dalam. Dia terlalu malu menunjukkan wajah penuh dosanya kepada Vanya. Sungguh, Bagas benar-benar merasa sangat malu.
Hal itu sontak saja membuat Haidar dan bi Asih merasa sangat terkejut. Mereka tidak menyangka kalau Bagas akan melakukan hal itu.
Tak terkecuali Vanya, dia juga merasa terkejut melihat Bagas yang duduk bersimpuh seperti itu. Tapi dengan begitu, Vanya kini tahu kalau Bagas tidak benar-benar membencinya.
Sejatinya, Vanya sedari dulu juga sadar kalau Bagas bersikap buruk padanya setelah menikah dengan Ayu.
Vanya tentu saja merasa marah, dia juga merasa kecewa. Dia marah pada Bagas karena Bagas terlalu mencintai Ayu, dia kecewa pada Bagas karena Bagas terlalu termakan buaian yang di berikan oleh Ayu.
Vanya mengerti, Bagas butuh seorang pendamping di dalam hidupnya. Tapi, kenapa Bagas harus sampai terlalu terlena pada apa yang di berikan oleh Ayu? Vanya benar-benar kecewa pada hal itu.
Vanya benar-benar kecewa karena Bagas mengingkari semua janji yang dia berikan untuk Vanya. Janji untuk selalu menyayangi Vanya, janji untuk selalu ada di samping Vanya, Janji untuk selalu menjadi orang yang paling bisa di andalkan oleh Vanya. Bagas benar-benar mengingkari semuanya, dan itu semua karena Ayu.
Kendati demikian, Vanya tidak membenci Bagas. Mana mungkin Vanya sampai membenci ayah kandungnya sendiri. Vanya justru merasa rindu pada Bagas. Ya, selama ini Vanya diam-diam merindukan pria yang berstatus sebagai ayah kandungnya itu.
Tapi Vanya menahan keinginannya itu. Bukan tanpa alasan, Vanya menyimpan keinginannya itu rapat-rapat karena Vanya masih merasa marah dan juga kecewa. Bukan hanya karena rasa marah dan kecewa saja, tapi juga karena rasa takut.
Vanya benar-benar takut emosinya kembali terguncang kalau dia sampai benar-benar menemui Bagas. Sungguh, Vanya masih ingin menjaga kewarasannya.
Itu lah sebabnya kenapa Vanya menunda waktu untuk menemui Bagas saat Haidar mengajaknya untuk menemui Bagas.
Bi Asih yang merasa tidak tega pun hendak melangkah mendekati Bagas, namun niatnya itu dia urungkan tat kala Vanya beranjak dari duduknya.
Perlahan, Vanya melangkah mendekati Bagas. Air mata sedari tadi sudah menumpuk di pelupuk matanya, bahkan hingga membuat pandangan matanya mengabur. Jantungnya pun sedari tadi tidak ada hentinya berdetak dengan sangat kencang.
Vanya menghentikan langkahnya di depan Bagas, gadis itu menjatuhkan lututnya di atas lantai, tepat di hadapan Bagas yang masih saja mendukkan kepalanya.
Tangannya yang bergetar terangkat untuk menyentuh bahu Bagas.
__ADS_1
"Pah.." Lirih Vanya.
Hal itu sontak saja membuat Bagas menangis tersedu-sedu.
"Maafin papah Va.. Demi Tuhan, papah menyesal.. Papah bener-bener nyesel karena udah bersikap buruk sama kamu, papah nyesel karena udah nyia-nyiain anak perempuan papah satu-satunya. Papah pengecut Va, papah ga berani nemuin kamu. Papah terlalu malu buat nunjukkin wajah papah ke kamu. Papah ga tau gimana caranya papah harus minta maaf sama kamu. Papah.."
Bagas terdiam, dia terkejut saat Vanya tiba-tiba saja memeluknya. Hatinya sungguh terasa sangat sakit. Bahkan setelah semua perlakuan buruk yang dia lakukan pada putrinya, putrinya tetap sudi untuk bersentuhan dengannya.
Entah untuk yang ke berapa kalinya, lagi dan lagi, Bagas benar-benar merasa menjadi ayah yang gagal.
"Maafin papah Va.. Maaf.. Papah bener-bener minta maaf.. Papah salah.. Papah minta maaf.."
"Cukup pah.. Papah ga perlu minta maaf, papah ga salah.. Papah waktu itu cuma khilaf kan? Jadi papah ga usah minta maaf lagi. Hati Vanya sakit liat papah kayak gini.."
Vanya mendekap tubuh kurus Bagas dengan sangat erat. Demi Tuhan, hati Vanya sungguh sakit melihat keadaan Bagas yang begitu tidak terawat.
Apa selama ini ayahnya tidak pernah makan dengan benar? Apa selama ini ayahnya tidak pernah lagi memakan vitaminnya dengan baik? Kemana hilangnya semua otot yang dia miliki? Kenapa tubuhnya begitu kurus seperti ini?
Sakit.. Sungguh, hati Vanya benar-benar terasa sakit..
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
__ADS_1
Bye bye..