Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Tertarik


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada sore hari yang cerah.. Terlihat seorang pria tampan nan gagah yang tengah menghabiskan sore harinya di halaman belakang rumahnya, dengan menikmati segelas kopi panas dan sebatang rokok yang di apit jarinya.


Saat pria itu tengah menghisap kumpulan nikotin dari sebatang rokok itu, dia menoleh pada seorang pria paruh baya yang memanggil namanya.


"Vin?" Ucap pria paruh baya itu.


Ya, pria tampan nan gagah yang tengah duduk di kursi yang terletak di halaman belakang itu adalah Vino. Dan pria paruh baya yang memanggilnya itu, siapa lagi jika bukan Tomi.. Ayah dari pria tampan nan gagah itu.


"Hmm?" Sahut Vino kemudian mengalihkan tatapannya kembali pada luasnya halaman belakang rumahnya yang di tumbuhi dengan berbagai bunga yang di rawat oleh ibunya.


"Kamu ga main sama temen-temen kamu? Ini hari minggu loh.." Tanya Tomi seraya duduk di kursi yang bersebelahan dengan Vino.


Mereka duduk bersebelahan dengan meja kecil sebagai pembatas di antara mereka.


"Males." Jawab Vino dengan sangat, singkat, jelas dan padat.


Pak Tomi seketika saja menghela nafasnya, dia benar-benar tidak habis pikir pada anaknya itu. Dari mana dia bisa mendapatkan sifat dingin dan kakunya itu. Padahal, di antara Tomi maupun *Rindu, tidak ada yang memiliki sifat yang seperti itu.


*Note : Rindu adalah ibu dari Vino, atau istri dari Tomi.


Setelah hening untuk beberapa saat, Tomi kembali membuka percakapan.


"Kamu betah kerja di sana?"


Vino menganggukkan kepalanya.


"Terus, Vanya gimana?"


Vino seketika saja mengernyitkan dahinya. "Gimana apanya?"


"Cara kerjanya.. Bisa nuntun kamu buat kerja di sana ga?"


Karena ya, Vino bukanlah kelulusan dari bidang multimedia atau dari hal perkomputeran. Jadi, sedikit wajar jika Vino tidak begitu memahami pengoperasian aplikasi.


Vino pun ber 'Oh' ria.. "Oooh.."

__ADS_1


"Jadi?" Tanya Tomi lagi. Ingin sekali rasanya Tomi mendengar anaknya itu mengatakan hal yang lebih dari 5 kata. Ah tidak, setidaknya 1 kalimat panjang saja sepertinya sudah cukup untuk Tomi.


Vino menghela nafasnya untuk sejenak. Pria itu mematikan rokoknya kemudian berkata. "Sejauh ini, Ok-ok aja."


"Selain itu?"


Vino menoleh pada Tomi. "Maksud papah?"


Tomi mengedikkan bahunya. "Kepribadiannya? Atau orangnya gitu.."


"Baik.. Apa lagi? Vino baru kenal Vanya selama beberapa minggu. Vanya juga ga begitu deket sama Vino. Dia deket sama Vino kalo as ngajarin apa yang Vino ga ngerti aja." Vino berkata dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya.


Hal itu seketika saja membuat Tomi mengerjapkan matanya. Apa kah telinga dan matanya kehilangan fungsi? Apa benar dia baru saja melihat senyum yang tersungging di bibir anaknya? Apa benar dia baru saja mendengar anaknya berbicara panjang lebar?


Waaah.. Sepertinya setelah ini Tomi harus memeriksakan mata dan telinganya.


Tapi, tunggu dulu.. Tomi baru sadar, Vino seperti itu akibat mereka yang membahas Vanya. Apa jangan-jangan anaknya itu tertarik pada Vanya?


"Kamu suka sama dia?" Tomi menatap Vino dengan lekat-lekat.


Vino seketika saja memalingkah wajahnya. "Tcih.. Papah ga usah ngaco deh.."


Nah kan.. Sepertinya tebakan Tomi benar adanya.. Lagi pula, siapa yang tidak akan tertarik pada gadis itu. Visual yang melebihi rata-rata gadis indonesia pada umumnya. Kecerdasan yang mumpuni, kepribadian yang bisa di bilang memadai. Lebih dari cukup untuk membuat para pria tertarik pada gadis itu.


Vino seketika saja menaikkan sebelah alisnya. "Papah nyuruh Vino buat pacaran sama Vanya?"


"Apa salahnya? Toh usia kamu juga udah mateng buat punya pasangan. Selama ini juga papah belum pernah liat kamu pacaran. Papah ga keberatan kalo Vanya jadi menantu keluarga ini. Malahan apah seneng kalo Vanya emang jadi menantu keluarga ini."


"Papah ngehayalnya terlalu jauh."


"Loh.. Dapet restu loh ini kamu tuh.. Harusnya kamu seneng karna papah dukung kamu."


Vino seketika saja memutar bola matanya. "Apa sih pah.."


"Dengerin papah ya Vin.. Kalo kamu emang suka, kejar.. Jangan cuma di liatin aja, nanti keburu di ambil orang."


"Papah kira dia barang?" Sahut Vino cepat.


Namun, ketahuilah, di dalam hatinya. Vino membenarkan apa yang baru saja di katakan oleh Tomi. Karena jika boleh jujur, Vino sebenarnya merasa sedikit tertarik pada Vanya.


Selain tertarik pada visual Vanya yang berbeda dengan para gadis yang selama ini di kenal olehnya. Vino juga tertarik akan kepribadian Vanya yang sangat tertutup dan acuh tak acuh.

__ADS_1


Vino yang selama ini selalu berkata kalau tidak akan ada satu orang pun gadis yang bisa membuatnya tertarik, setelah bertemu dengan Vanya, Vino sepertinya harus menarik kembali perkataannya.


Karena setelah bertemu dengan Vanya, Vino merasa sedikit tertantang untuk mendekati gadis itu. Vino benar-benar merasa penasaran, kenapa Vanya bersikap seolah tidak tertarik kepadanya. Ah tidak.. Bahkan bisa di bilang kalau Vanya benar-benar tidak tertarik kepadanya.


Sungguh, Vino merasa sangat penasaran akan hal itu. Apa kah karena di masa lalu Vanya mengalami hal yang buruk mengenai laki-laki? Atau kah karena Vino tidak termasuk dalam kriteria gadis itu?


Tapi, jika di pikir kembali soal kriteria. Vino bisa saja masuk ke dalam kriteria gadis itu. Secara, Vino memiliki visual yang melebihi rata-rata pria Indonesia pada umumnya. Vino juga berasal dari keluarga yang bisa di bilang kaya raya. Sangat aneh jika Vanya sama sekali tidak tertarik padanya.


Lantas, apa mungkin saja memang karena gadis itu memiliki masa lalu yang buruk mengenai laki-laki?


Aaah.. Memikirkan hal itu, seketika saja membuat kepala Vino sedikit berdenyut. Belum lagi mendengar Tomi yang sedari tadi tidak hentinya meminta dia untuk segera mendekati Vanya, benar-benar membuat kepala Vino kini semakin berdenyut.


"Dia cantik loh Vin.. Pinter juga.. Masa iya kamu ga suka sama dia.. Papah aja su.."


"Emangnya papah se suka itu ya sama Vanya?" Vino memotong perkataan Tomi.


Tomi seketika saja terkekeh kecil. "Iya.." Pria itu menjawab tanpa ragu. "Kalo misal papah masih muda dan belum ketemu sama mamah kamu. Mungkin aja papah bakalan berusaha buat jadiin Vanya sebagai istri apah."


Mendengar hal itu, sontak saja membuat Vino mendelik ke arah Tomi. "Ga usah ngawur pah!"


"Ya kan itu juga misal.. Karena berhubung papah udah punya mamah kamu dan udah punya anak 2, jadi ga ada salahnya kan kalo papah nyuruh anak papah buat datepin Vanya."


"Atau kalo kamu ga mau, papah nyuruh kakak kamu aja yang deketin Vanya. Kakak kamu juga kan masih single, umurnya juga cuma beda 2 tahun sama kamu. Masih cocok lah kalo di sandingin sama Vanya." Tambah Tomi.


Vino seketika saja mendengus kesal. Alih-alih menanggapinya, Vino memilih untuk beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi begitu saja.


"Vin.. Kamu belum jawab papah.. Kalo kamu ga mau, papah jodohin sama kakak kamu loh!!" Teriak Tomi seraya menatap Vino.


Namun, Vino hanya menanggapinya dengan melambaikan tangannya.


Tomi yang melihat hal itu pun hanya bisa terkekeh geli seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2