
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain...
Haidar yang kini tengah duduk di sofa seraya menonton televisi pun melirik jam yang terpasang di dinding. Yang di mana, waktu kini telah menunjukkan pukul 21.00 WIB.
Haidara lantas kembali menonton televisi yang entah sedang menyiarkan acara apa. Karena sungguh, sedari tadi, meskipun matanya tertuju pada layar televisi. Fokusnya tetap tertuju pada Vanya yang tidak kunjung memberikan kabar kepadanya.
Sebenarnya, Haidar bisa saja menghubungi Vanya terlebih dahulu. Namun, Haidar tidak ingin mengganggu waktu gadis itu.
Ya meskipun hingga saat ini perasaan gelisah Haidar semakin membesar. Haidar tetap menahan dirinya untuk tidak mengganggu waktu gadisnya.
10 menit pun berlalu...
Kini, kegelisahan Haidar pun semakin lama semakin menjadi.
"Haaahh.. Ck, Vanya kok belum nge chat gua ya?"
Haidar pun memutuskan untuk menghubungi gadis itu.
Namun, hingga pada panggilan ke 5, Vanya tetap tidak mengangkat panggilannya.
Haidar pun melemparkan ponselnya ke sembarang arah dengan perasaan yang sedikit kesal. Sungguh, dirinya benar-benar merasa sangat khawatir kepada Vanya. Terlebih lagi, sejak Vanya mengatakan kalau hendak pergi dengan Winda. Perasaan Haidar sudah gelisah sejak saat itu.
Tapi, tak lama setelah itu, ponsel Haidar berbunyi yang menandakan kalau ada pesan masuk untuknya.
Haidar lantas segera meraih ponselnya kalau-kalau saja pesan itu merupakan pesan yang di kirimkan oleh Vanya untuknya.
Dan benar saja, setelah membaca nama si pengirim pesan yang memang Vanya. Haidar pun segera membuka pesan itu.
Namun, Haidar sedikit mengernyitkan dahinya setelah dia selesai membaca pesan itu.
Yang di mana, pesan itu berbunyi.
(Sorry, gua lupa ga ngabarin elu.. Gua udah di kosan.. Elu tidur aja, gua juga tadi sebenernya udah tidur.)
Setelah membaca pesan itu untuk yang ke 4x nya, Haidar pun mencoba untuk menghubungi Vanya.
Namun sayangnya, dia tidak bisa menghubunginya karena Vanya sudah lebih dulu mematikan ponselnya.
"Dih.. Kok mati!"
Haidar bergumam seraya kembali melihat pesan dari Vanya yang sebelumnya dia terima.
"Kok bahasa sama cara pengetikannya agak laen ya?"
__ADS_1
"Ck, hah.. Dah lah.." Haidar pun kembali melemparkan ponselnya ke sembarang arah.
Pria itu memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di atas kasur.
*****
Ke esokan harinya....
Nisa yang kini tengah duduk di kursinya, berulang kali melirik ke arah jam yang terpasang di dinding kemudian melirik ke arah pintu masuk kelasnya.
Dirinya benar-benar merasa sangat gelisah menunggu Vanya yang hingga saat ini tak kunjung datang.
Karena, waktu kini sudah menunjukkan pukul 07.55. Yang di mana hal itu berarti, sebentar lagi ujian kelulusan akan segera di mulai.
Nisa yang tak kuasa lagi menahan kegelisahannya pun akhirnya beranjak dari kursinya dengan niat untuk menemui Haidar. Dia ingin menanyakan keberadaan Vanya pada Haidar yang notabenenya adalah kekasih dari gadis itu. Jadi, mungkin saja Haidar lebih mengetahui tentang keadaan gadis itu.
Karena di saat Nisa mencoba untuk menghubungi ponsel Vanya, gadis itu tidak bisa di hubungi karena dia mematikan ponselnya.
Namun, ketika Nisa sudah di ambang pintu, dia harus mengurungkan niatnya tat kala bel pertanda ujian kelulusan sudah di mulai pun sudah lebih dulu berbunyi.
"Duuuuh... Kemana sih tu anak!! Pengen lulus apa engga sih sebenernya!!!"
"Lagian juga.. Kenapa sih si Haidar ga nemuin gua buat ngabarain keadaan Vanya!!"
Nisa menggerutu seraya kembali duduk di kursinya.
*****
Di sisi lain..
Dia lantas mengambil ponsel Vanya dari dalam tas gadis itu kemudian segera mengetikkan pesan untuk Haidar.
(Gua udah di kelas.. Sorry ga bisa memuin lu, gua mau belajar dulu.. Solnya semalem gua ga sempet belajar.)
Setelah menggumamkan kalimat itu, Winda pun menekan tombol kirim agar pesan itu terkirim pada Haidar.
Jadi ya, itulah alasan kenapa Haidar tidak memunculkan batang hidungnya di kelas yang Nisa dan Vanya tempati.
Setelah mematikan ponsel milik Vanya, Winda pun kembali memasukkan ponsel itu ke dalam tas Vanya yang masih berada di dalam mobilnya.
Dia kemudian segera menuju kelasnya untuk menjalani ujian kenaikan kelas.
Tapi ketahuilah, selama Winda menjalani ujian kenaikan kelas, gadis itu benar-benar tidak bisa fokus mengisi jawaban dari soal ujiannya. Karena fokusnya benar-benar tertuju pada Vanya yang kemarin dia kurung di dalam galeri milik Om Heru.
Tapi, meskipun begitu, Winda tetap berusaha untuk mengisi semua soal pertanyaan yang tertera di lembaran kertas itu semampunya.
Hingga setelah Winda menyelesaikan ujian kenaikan kelasnya dalam mata pelajaran yang kedua untuk hari ini, Winda pun segera berjalan dengan langkah cepat menuju tempat parkiran penjemputan di mana Pak Doyo sudah menunggunya.
Saat membuka pintu mobil di tempat kursi penumpang, Winda tidak segera masuk ke dalam mobil. Gadis itu terfokus untuk beberapa saat pada tas milik Vanya.
__ADS_1
Mengingat kalau hari ini mobilnya akan di gunakan oleh Wulan karena mobil Wulan sedang dalam perbaikan, lantas membuat Winda berpikir keras tentang di mana dia harus menyimpan tas milik Vanya.
"Kalo di bagasi, ga mungkin.. Nanti kak Wulan ada kemungkinan bakalan buka bagasi."
"Di bawa pulang juga tetep ga bisa, nanti kak Wulan tetep bakalan liat."
"Duuuh.. Gimana ya?"
Menyadari Winda yang tak kunjung masuk ke dalam mobil, lantas membuat Pak Doyo menoleh pada Winda.
"Ada apa non?" Tanya Pak Doyo kemudian.
"Emmm.. Ini pak.. Ini kan tas punya teman Winda yang kemaren. Mau Winda balikin, tapi dia hari ini ga masuk.. Mau Winda bawa pulang, takutnya Winda nanti malah kelupaan.. Soalnya kan mobilnya nanti mau di pake kak Wulan, kalo kak Wulan tau, takutnya nanti kak Wulan banyak nanya.. Bapak kan tau sendiri kalo kak Wulan paling ga suka kita bawa barang punya orang lain.." Tutur Winda dengan wajah yang terlihat sangat bingung.
Mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Winda, lantas membuat Pak Doyo mengembangkan senyum kecilnya. "Kenapa harus bingung sih non.. Kan ada loker sekolah, kenapa ga non taro disitu aja.. Kan lebih gampanh kalo non mau balikin ke temen non."
"Oh iya.." Winda menepuk dahinya pelan. "Yaudah kalo gitu, Bapak tunggu bentar ya.. Winda naro tas punya temen Winda di loker dulu.."
"Siap non.. Santai aja, ga usah buru-buru.." Sahut Pak Doyo.
"Ok pak.."
Winda pun meraih tas milik Vanya kemudian segera berjalan menuju loker miliknya setelah dia memastikan keadaan sekitar yang terlihat sepi karena sebagian besar dari para murid masih berada di dalam kelas.
Namun, saat Winda hendak berbelok menuju lorong yang mengarah ke arah loker. Dia tiba-tiba saja mematung tat kala melihat Nisa dan Haidar yang saat ini tengah menatap ke arahnya.
Setelah menetralkan detak jantungnya yang mulai berpacu dengan cepat, Winda lantas hendak melanjutkan kembali langkahnya menuju loker. Dia akan bersikap seolah dia tidak tahu apa-apa.
Tapi, setelah menyadari apa yang menjadi fokus dari tatapan Nisa dan juga Haidar, Winda tiba-tiba saja menggenggam erat tas milik Vanya yang tengah di bawanya itu.
"Mati gua!!" Gumam gadis itu tat kala melihat Nisa dan Haidar yang mulai melangkah me arahnya.
Winda sungguh tidak menyangka kalau dirinya akan tertangkap basah hanya karena tas milik Vanya yang tengah di bawanya. Padahal, kalau di pikir-pikir kembali, tas milik Vanya yang tengah di bawanya itu merupakan tas yang siapa saja bisa memilikinya.
Dan tanpa berpikir panjang lagi, Winda pun membalikkan tubuhnya dengan gerakan cepat kemudian segera berlari untuk menghindari Nisa dan juga Haidar.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1