
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
Sepulang dari pesta ulang tahun Lidia, Vanya segera membersihkan diri karena tubuhnya terasa sedikit gerah akibat wine yang sempat dia minum.
Setelah mengenakan pakaian santai, Vanya lantas merebahkan tubuhnya di atas kasur. Gadis itu melirik jam yang terpasang di dinding. Melihat waktu yang kini menunjukkan pukul 22.45, lantas membuat Vanya memutuskan untuk menghubungi Nisa.
Tanpa harus menunggu lama, Nisa pun mengangkat panggilannya. Vanya mengaktifkan mode pengeras suara kemudian meletakkan ponsel itu di samping kepalanya.
π(Halo.. Ada apa Va? Udah lama nih lu nelpon gua duluan?)
"Halo Nis.. Gua ganggu ga?"
π(Kalo buat elu mah, sesibuk apa pun juga gua ga ngerasa terganggu.)
"Tcih!" Vanya seketika saja menyunggingkan senyum kecilnya. "Ga usah alay deh.."
π(Diiih.. Di bilangin juga.. Yaudah si, ada apa? Ada yang mau di ceritain? Biasanya kan kalo lu nelpon gua duluan, pasti ada yang mau di ceritain.)
Vanya menghela nafasnya untuk sejenak. "Eeemmm.. Gimana ya nyeritainnya.."
π(Elah.. Tinggal cerita aja.. Tentang apa sih? Apa tentang manager baru lu itu?)
"Bukan." Sahut Vanya cepat.
π(Ya terus?)
"Ini soal anak manager gua yang lama, yang waktu itu pernah gua ceritain ke elu."
π(Oh.. Cowok yang elu bimbing di tempat kerja itu?)
Ya, Vanya pernah menceritakan tentang Vino pada Nisa. Tidak hanya itu saja, Vanya juga menceritakan tentang sikap Vino yang tidak jauh berbeda dengan Haidar. Bahkan tentang bagaimana pria itu selalu mengingatkan Vanya pada Haidar. Vanya menceritakan itu semua pada Nisa.
Karena ya, seperti yang kalian ketahui. Hanya Nisa satu-satunya orang yang dapat di percaya oleh Vanya. Dan juga, hanya Nisa satu-satunya orang yang selalu bisa mengerti keadaan Vanya.
Lagi pula, Nisa selalu berpesan pada Vanya untuk menceritakan semua hal yang menjadi beban pikiran untuk Vanya. Karena dengan begitu, Vanya bisa sedikit mengontrol depresinya yang bisa kambuh sewaktu-sewaktu.
Ingat, Vanya memiliki penyakit mental berupa depresi yang bahkan hingga saat ini terkadang akan kambuh jika dia terlalu banyak memiliki beban pikiran.
Karena jika depresi Vanya kambuh, satu-satunya cara agar dia bisa kembali normal hanya dengan melukai dirinya sendiri. Istilahnya adalah self harm.
Nisa mengetahui hal itu karena Nisa pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Vanya tengah menggores pahanya menggunakan serpihan kaca.
Setelah Nisa melihat hal itu, Nisa memaksa Vanya untuk membuka bajunya. Nisa ingin melihat seberapa banyak luka yang di miliki gadis itu. Dan ya, sesuai dengan dugaan. Tidak hanya satu atau 2 goresan luka yang di miliki oleh gadis itu.
Cukup sudah Vanya selalu melakukan self harm, Nisa tidak ingin Vanya terus menerus melakukan hal itu. Oleh sebab itu, Nisa selalu memgingatkam Vanya untuk menceritakan semua hal yang di alami Vanya kepadanya.
π(Kenapa emangnya sama dia?)
"Dia.." Vanya terlihat ragu untuk mengatakannya. "Dia ngajakin gua kencan."
π(What!!! Serius lu??)
__ADS_1
Vanya merubah posisinya menjadi tidur menelungkup, gadis itu merebahkan kepalanya dengan kedua tangannya sebagai bantalan.
"He, em.. Serius gua.. To the point banget malah dia ngomongnya."
π(Kenapa ga lu terima aja? Ga ada salahnya kan mencoba untuk yang ke dua kalinya.. Ya meskipun dia ngingetin elu sama si Haidar, tapi kan tetep aja ga ada salahnya buat mencoba. Maybe, sikap dia agak beda dari Haidar. Or bahkan mungkin lebih baik dari pada si Haidar. Coba deh belajar buat ngeliat dia sebagai dia. Jangan ngeliat dia sebagai Haidar."
"Hmmm.." Vanya menghela nafasnya dalam-dalam, gadis itu memikirkan apa yang baru saja Nisa katakan. "Harus gitu ya?"
π(Ya ga harus sih Va sebenernya.. Cuma kan ga ada salahnya buat mencoba. Ya kalo emang ga cocok, yaudah jadi temen aja. Anggap aja itu sebagai pengalaman buat lu dalam mengenal cowok baru. Just listen to me, hidup ga akan berwarna kalo lu ga punya pengalaman dalam hal apa pun. Nyatanya gua aja bisa kok ngelupain kak Bayu setelah mencoba buat kenal sama cowok baru."
Sedikit pemberitahuan, Nisa kini memiliki seorang kekasih yang merupakan penduduk asli Bali. Pria yang juga merupakan kakak tingkatnya di universitas tempat dia belajar.
"Hmm.." Vanya kembali menghela nafasnya. "Iya bener juga sih apa yang lu omongin, tapi masalahnya.."
π(Masalahnya?)
"Gua rada ga enak sama dia.." Sahut Vanya dengan nada yang terdengar sedikit bingung.
π(Ga enak kenapa?)
Vanya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. "Gua udah dua kali nolak ajakan dari dia."
π(Aaaa...) Jika itu merupakan panggilan video, Vanya dapat melihat kalau Nisa kini tengah mengangguk-anggukkan kepalanya. Nisa tidak terkejut atas penolakan Vanya, karena ini bukan kali pertama Vanya menolak ajakan kencan dari seorang pria.
Ingat, bahkan Haidar saja sampai merasa frustasi akibat penolakan yang terus menerus di berikan oleh Vanya.
π(Yaudah si, terus kenapa emangnya kalo elu udah dua kali nolak dia? Toh ini juga bukan pertama kalinya elu nolak cowok. Bersikap kayak biasanya aja, bersikap selayaknya elu bersikap. Kalo dia ngajak elu buat yang ke tiga kalinya, berarti kan dia emang bener-bener pengen deket sama elu. Jangan sampe lu nolak dia buat yang ke tiga kalinya.)
"Hm, gitu ya.."
π(He, em.. Tapi, kalo setelah kencan lu masih ngerasa ga cocok, yaudah stop..)
π(Yaudah, tidur sana.. Meskipun besok hari sabtu dan lu libur, tapi lu tetep butuh istirahat yang cukup kan.. Sama, jangan lupa minum obat, gua ga mau lu mati sebelum gua liat lu punya cucu..)
Vanya seketika saja terkekeh geli. "Iya-iya, gua udah minum obat kok.."
π(Bagus deh kalo gitu.. See yeah.. Good night dear..)
"Good Night.."
Sambungan pun terputus.
Setelah merenung untuk beberapa saat, Vanya pun memutuskan untuk memejamkan matanya guna mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah..
*****
Di sisi lain..
Ke esokan harinya...
Setelah Vino menyelesaikan olahraga paginya, pria itu memutuskan untuk beristirahat di kursi yang ada di teras rumahnya.
Dia menatap jalanan kompleks rumahnya yang sangat sepi seraya sesekali melirik ponselnya yang dia letakkan di atas meja.
Vino sungguh menanti kabar dari Vanya. Vino berharap kalau Vanya akan segera menghubunginya. Sungguh, Vino tidak ingin mendapatkan penolakan untuk yang ketiga kalinya.
__ADS_1
Tapi, meskipun Vanya kembali menolaknya, Vino tetap tidak akan menyerah. Vino akan tetap berusaha untuk mendekati gadis itu.
Melihat waktu yang kini sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Vino seketika saja menghela nafasnya dengan sangat berat.
Ya, mungkin saja Vanya benar-benar menolaknya karena gadis itu hingga saat ini belum juga menghubunginya.
Vino pun memutuskan untuk beranjak dari sana, pria itu meraih ponselnya kemudian melangkah menuju kamarnya dengan langkah yang sedikit berat.
Karena meskipun Vino sudah siap dengan penolakan yang lagi-lagi di berikan oleh Vanya, tapi hal itu tetap saja membuat Vino merasa sedikit kecewa.
Karena, oh ayolah.. Siapa yang tidak merasa frustasi jika terus menerus mendapat penolakan.
Namun, saat langkah Vino kini berada di ruang tamu, Vino merasakan ponselnya bergetar pertanda ada pesan masuk.
Melihat nomor asing yang mengiriminya pesan, seketika saja membuat Vino menghentikan langkahnya.
"Mungkinkah?" Gumam Vino seraya membuka pesan itu.
From : +628xxxxxxxxxx
(*this is my residential address. you can pick me up at 10.00 am. See yaa.. π)
*Note : Ini alamat tempat tinggal gua. Lu bisa jemput gua jam 10 pagi.
"What the! That's real? *she really accepted my date request?" Vino tidak bisa menyembunyikan perasaan antusiasnya.
Terlebih lagi, melihat pesan dari Vanya yang di akhiri dengan emoticon senyum. Meskipun hanya senyum biasa, namun tetap membuat Vino tidak bisa menahan senyumnya.
Vino pun segera membalas pesan itu.
(Ok, see ya..)
Setelah mengirim pesan itu pada Vanya, Vino pun segera naik ke lantai dua, tempat di mana kamarnya berada dengan langkah yang sedikit tergesa. Vino benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Tanpa dia sadari, kalau kedua orang tuanya sejak tadi memperhatikan tingkah Vino yang seperti seorang remaja yang baru saja merasakan jatuh cinta.
"Itu Vino kan pah?" Tanya Rindu seraya menatap ke lantai dua.
"Harusnya sih iya mah.." Sahut Vino.
"Mamah takut ada jin aneh yang masuk ke tubuh Vino pas Vino jogging tadi."
"Hussh.. Kamu nih.." Tomi terkekeh geli. "Yaudah si mah, biarin aja."
Rindu pun hanya mengedikkan bahunya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..