
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
sebelumnya...
Vanya yang terlalu fokus menatap ke depan pun tidak menyadari jika kini Haidar tengah menatapnya dengan sangat intens.
Hingga tiba-tiba saja...
*****
Kelopak mata gadis itu terbuka dengan sangat lebar saat Haidar mengecup sekilas sudut bibirnya yang terluka.
Melihat reaksi Vanya yang sangat nenggemaskan, seketika membuat Haidar tak kuasa menahan kekehannya.
"Khem, sorry, gua kelepasan.." ucap Haidar seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tapi ketahuilah, meskipun pria itu meminta maaf. Pria itu mengucapkannya dengan nada yang seakan tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Yang mana, hal itu seketika membuat Vanya melayangkan tatapan tajamnya pada Haidar yang kini tengah tersenyum ke arahnya seakan tanpa memiliki dosa. Bibir gadis itu kini sedikit berkedut menahan emosinya yang sebentar lagi akan meledak.
"Lu.. " Tangan gadis itu terangkat untuk menunjuk wajah Haidar.
Haidar lantas menaikkan sebelah alisnya, menunggu dengan sigap untuk merenima reaksi seperti apa yang akan di berikan oleh Vanya. Haidar bahkan sudah menyiapkan diri kalau saja gadis itu meluapkan emosi dengan menampar wajahnya.
Namun, Haidar seketika merasa panik saat Gadis itu hanya mendengus lalu hendak turun dari atas brankar.
"Duduk diem, jangan kemana-mana.. Ok gua salah, gua kelepasan, gua minta maaf." Haidar berkata seraya menahan bahu Vanya agar tidak beranjak dari duduknya.
"Ck, minggir!!" Gadis itu berusaha untuk melepaskan diri.
"Gua salah Va, gua salah.. Lu boleh maki-maki gua atau nampar gua juga boleh. Tapi please, jangan kemana-mana."
Vanya lantas menatap Haidar dengan nyalang. "Minggir ga!!"
Haidar menggeleng-gelengkan kepalanya. "Engga sebelum lu ga marah lagi"
__ADS_1
"Ck" gadis itu berdecak kemudian bersedekap dada lalu memalingkan wajahnya.
"Va, gua minta maaf.. Gua janji, lain kali, kalo gua mau nyium lu, gua bakalan minta ijin dulu sama lu."
Vanya seketika melirik Haidar dengan sangat sinis. "Bercanda lu ga lucu!!"
"Gua ga bercanda, gua serius Va.."
"Ck, mau lu tu apa sih sebenernya!!" Gadis itu terlihat mulai kehilangan kesabarannya.
"Gua mau lu ngasih gua kesempatan Va, gua bener-bener udah ga tau lagi harus deketin lu pake cara apa.." Sahut Haidar cepat.
Tapi sayangnya, gadis itu hanya diam tanpa ada niat untuk menanggapi perkataan Haidar.
Haidar seketika menghela nafasnya. "Va.." Ucap Haidar seraya menyentuh bahu Vanya.
"Ck, apa sih.." Gadis itu menyahut seraya menyingkirkan tangan Haidar.
Namun pria itu tetap mempertahankan kedua tangannya di bahu Vanya.
"Va.. Please, tatap mata gua.."
"Vaaa...."
"Sebentar aja.. Biarin gua ngomong dulu." Ucap Haidar cepat tat kala Vanya mencoba untuk menarik tangannya dari genggaman Haidar.
Vanya pun akhirnya memilih diam dan mencoba untuk mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Haidar.
Haidar menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya berkata dengan suaranya yang sedikit tertahan. "Va.. Gua mohon banget sama lu, kasih gua kesempatan buat deket sama lu. Gua ga main-main, Va.. Gua beneran suka sama lu, gua beneran pengen jagain lu, gua beneran pengen bahagian lu, gua beneran pengen jadi orang yang selalu ada buat lu, gua.." Haidar menjeda kalimatnya untuk sejenak, kemudian kembali berkata. "Gua, gua beneran sayang sama lu Va.."
Haidar yang sudah merasa sangat putus asa pun tidak lagi peduli jika dia harus menjatuhkan harga dirinya dengan memohon pada Vanya. Karena sungguh, gadis itu membangun tembok pertahanan yang terlalu tebal. Sehingga membuat Haidar tidak bisa lagi berpikir tentang cara seperti apa agar gadis itu mau sedikit membuka hati untuknya.
Katakanlah Haidar sedikit tidak waras karena begitu tergila-gila kepada Vanya. Tapi mau di pungkiri dengan cara apapun, memang begitulah Kenyataannya. Haidar benar-benar sudah jatuh dengan sangat dalam pada pesona seorang Vanya.
"Vaaa.. Gua mohon.. Kasih gua kesempatan.." Haidar kembali berkata dengan suara yang sedikit bergetar.
Vanya seketika menelan ludahnya dengan sedikit kasar tat kala melihat mata Haidar yang mulai berkaca-kaca.
"Va.. Please.. Apa gua harus sujud di kaki lu supaya lu mau ngasih kesempatan buat gua? Kalo emang itu yang lu mau , gua bisa ngelakuinnya Va. Sekali pun lu nyuruh gua buat nyium kaki lu, bakal gua lakuin Va. Asal lu ngasih kesempatan buat gua.." Suara pria itu terdengar semakin bergetar karena Vanya tak kunjung memberikan respon.
__ADS_1
"E, eh.. Ga gitu juga Dar.." Vanya berkata seraya menahan tangan Haidar tat kala pria itu benar-benar akan bersujud.
"Terus gua harus gimana Va??" Haidar bertanya dengan suara yang terdengar sangat putus asa.
"Gua.. Gua ga tau, gua takut.." Vanya berkata dengan sangat lirih..
Tembok pertahanan gadis itu kini mulai sedikit goyah..
"Apa yang lu takutin Va?? Gua emang ga bisa janji buat ga nyakitin lu.. Tapi sumpah, gua bakalan berusaha buat selalu bahagiain elu Va.."
"Gua beneran ga tau Dar.. Gua cuma takut buat percaya sama cowok.. Gua, gua..." Perkataan gadis itu seketika mulai tergantikan dengan isakan kecil.
Dan ya, pada akhirnya, tembok pertahanan yang selama ini Vanya bangun pun kini benar-benar goyah..
Haidar lantas menarik Vanya untuk masuk ke dalam pelukannya, dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun pria itu mengelus kepala Vanya dengan lembut.
Sungguh, Haidar merasa terkejut karena Vanya tiba-tiba saja terisak pilu. Dia tidak menyangka jika gadis itu ternyata menyimpan luka yang begitu dalam. Meskipun Haidar tidak tau luka seperti apa itu tepatnya. Namun, melihat mata Vanya yang memancarkan rasa keputus asaan, membuat Haidar bisa menebak jika gadis itu menyimpan luka yang sangat besar.
Setelah Vanya melerai isakannya, Haidar lantas melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Vanya dengan menahan rasa gemas. Karena sungguh, alih-alih terlihat jelek, wajah sembab gadis itu justru terlihat sangat nenggemaskan.
Namun, Haidar segera mengesampingkan rasa gemasnya itu lalu segera menghapus air mata Vanya menggunakan ibu jarinya seraya berkata. "Maaf, gua terlalu maksain lu.. Maaf banget.."
"Jangan nangis lagi ya.. Maaf, gua salah.. Gua janji, gua ga bakalan maksain lu lagi.. Gua bakalan berusaha sendiri buat dapetin hati lu.. Hmm.."
"Maafin gua ya.." Haidar kembali berkata seraya menyelipkan helaian rambut Vanya ke belakang telinga gadis itu.
Vanya menggelengkan kepalanya. "Lu ga salah, gua aja yang terlalu cengeng." Vanya berkata kemudian mengembangkan senyum kecilnya.
Yang mana, hal itu seketika membuat jantung Haidar berdetak dengan sangat cepat. Bagaiman tidak? Ini adalah kali pertama Vanya tersenyum kepadanya. Meskipun itu hanyalah sebuah senyuman kecil. Tapi sungguh, hal itu mampu membuat Haidar semakin merasa jatuh hati kepada Vanya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..