Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Metode


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ayok turun.." Haidar berkata setelah memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah.


Vanya menatap Haidar dengan pandangan sedikit memelas. "Gua deg-degan.."


Yang mana, hal itu seketika membuat Haidar terkekeh kecil. "Nanti juga ilang deg-degannya.."


Haidar lantas mengelus kepala Vanya dengan sangat lembut, pria itu mencoba untuk menenangkan Vanya yang benar-benar merasa gugup.


Namun, Vanya tetap menatap Haidar dengan tatapan memelasnya.


"Yaudah, gini deh.. Tarik nafas pelan-pelan, terus buang.. Kaya gini.." Haidar memberikan contoh pada Vanya.


Vanya pun melakukan apa yang di contohkan oleh Haidar. Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.


Setelah menarik nafas untuk yang ke sekian kalinya, Vanya pun menganggukan kepalanya.


"Ayok turun.." Ucap Vanya kemudian.


"Yakin? Udah ga terlalu gugup?"


Vanya menganggukkan kepalanya. "Ayo, nanti keburu gua gugup lagi.." Gadis itu berkata seraya menatap Haidar dengan sangat tajam.


"Tcih.." Haidar menampilkan senyum kecilnya.


Sungguh, gadisnya ini benar-benar sangat unik.


Mereka pun segera keluar dari dalam mobil kemudian melangkah menuju ke dalam rumah.


Saat mereka masuk ke dalam rumah, mereka sudah di tunggu oleh Andi yang duduk di sofa ruang tamu dengan segelas kopi dan sebuah buku yang menjadi teman setia Andi dalam kesehariannya.


Melihat kedatang Haidar dan Vanya, lantas membuat Andi segera meletakkan bukunya di atas meja.


Andi menatap Vanya dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya.


"Kok lama? Katanya jam 10 nyampe.."


"Sorry pah, aku bangunnya kesiangan." Haidar mencoba memberikan alasan yang sedikit masuk akal pada Andi.


Ya meskipun yang sebenarnya membuat mereka datang di jam setengah 11 siang adalah karena Haidar harus menenangkan rasa gugup Vanya terlebih dahulu. Namun Haidar tidak mengatakan alasan yang sebenarnya.


Karena jika dia mengatakan alasan yang sebenarnya, bisa-bisa Haidar membangunkan singa betina yang tengah tertidur.


Jadi, dari pada dia membuat masalah untuk dirinya sendiri. Lebih baik Haidar mencari aman dengan memberikan alasan yang sedikit masuk akal.


Meskipun Andi sedikit sanksi akan alasan yang Haidar katakan karena Haidar tidak mungkin bangun di atas jam 6 pagi, namun Andi tetap menerima alasan itu.


"Yaudah ga papa, yang penting kalian jadi dateng.. Sini duduk.." Andi berkata kemudian.

__ADS_1


Vanya pun segera menghampiri Andi, gadis itu mengulurkan tangannya pada Andi untuk menyalami Andi.


"Siang om.. Saya Vanya.." Vanya berkata dengan sangat sopan.


Andi pun menerima uluran tangan gadis itu dengan sangat senang hati.


"Lebih cantik aslinya ya dari pada yang di foto."


Mendengar apa yang di ucapkan oleh Andi, seketika membuat Vanya mengusap tengkuknya canggung.


"Makasih om.." Gadis itu berkata dengan sedikit canggung seraya duduk di sofa yang berhadapan dengan Andi.


Tapi sedetik kemudian, Vanya tiba-tiba saja menatap Andi dengan tatapan bingung.


"Eeeh.. Om punya foto saya?"


Gugup yang Vanya rasakan tiba-tiba saja menghilang saat itu juga setelah mengingat perkataan Andi mengenai fotonya. Karena seingatnya, dia sama sekali tidak pernah mengunggah fotonya di akun sosial media mana pun.


Jangankan mengunggah fotonya, akun sosial media saja Vanya benar-benar tidak memiliknya. Apa kah mungkin Haidar diam-diam mengunggah fotonya di akun sosial media pria itu?


Tapi, setau dia, Haidar juga tidak pernah mengunggah fotonya. Bahkan foto bersama pun mereka tidak memiliki. Atau kah jangan-jangan pria itu diam-diam mengambil foto dirinya?


Melihat Vanya yang sedikit bingung, lantas membuat Andi tiba-tiba saja terkekeh gemas. Karena benar apa yang di katakan oleh Haidar, gadis itu benar-benar terlihat sangat menggemaskan.


"Engga, om ga punya foto kamu.. Haidar yang nunjukkin foto kamu ke om."


Mendengar apa yang di katakan oleh Andi, seketika membuat Vanya menaikkan sebah alisnya. Gadis itu lantas menoleh pada Haidar yang duduk di sampingnya.


Pria itu lalu menoleh pada Andi dengan alis yang sedikit menukik. "Dih, papah ngapain jadi bawa-bawa nama Haidar. Kapan Haidar nunjukkin foto Vanya ke papah? Fitnah ini pah.. Pencemaran nama baik ini namanya."


Namun, Andi hanya merespon Haidar dengan mengangkat bahunya acuh. "Ya kali papah bohong."


Vanya kali ini menatap Haidar dengan mata yang memicing, gadis itu benar-benar tidak tau harus percaya pada siapa. Di sisi lain, Haidar terlihat sangat panik seolah dia tidak melakukan hal itu. Di sisi lainnya lagi, Vanya sedikit ragu jika Andi berbohong kepadanya.


Yang mana, tatapan Vanya yang sangat menyelidik itu benar-benar membuat Haidar merasa salah tingkah. Haidar lantas menatap Andi dengan sedikit memelas, meminta Andi agar kembali menarik ucapannya.


Namun, alih-alih membantu Haidar, Andi justru berusaha untuk menahan kekehannya.. Karena sungguh, Andi benar-benar menikmati wajah panik Haidar yang baru kali ini dia lihat.


Andi sedikit tidak menyangka jika kejahilannya itu mampu membuat Haidar merasa sangat panik.


Tapi ketahuilah, di balik kejahilannya itu, Andi mencoba untuk mencairkan suasana agar Vanya tidak terlalu merasa gugup. Karena tanpa harus di pertanyakan pun, sikap gadis itu benar-benar terlihat sangat gugup.


Ya meskipun metodenya ini sedikit mengorbankan Haidar. Tapi terbukti kan jika metodenya ini benar-benar mampu mengurangi gugup yang tengah Vanya rasakan.


"Pah.." Ucap Haidar dengan sedikit tajam karena Andi terlihat acuh tak acuh.


"Apa?" Andi menatap Haidar dengan dahi yang sedikit mengernyit. "Udah ah, mending kita makan dulu.. Papah yakin, kalian pasti belum makan apa-apa. Papah juga sengaja belum makan, biar bisa makan bareng sama kalian."


Andi pun beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi begitu saja.


Meninggalkan Haidar yang masih saja panik karena Vanya terus menatapnya dengan sangat menyelidik.


Haidar lantas meneguk ludahnya dengan sedikit kasar. "Va.. Gua ga pernah nunjukkin foto lu ke papah.. Percaya deh sama gua.."

__ADS_1


Vanya seketika menaikkan sebelah alisnya. "Terus? Ga mungkin kan papah lu bohong.."


Sejujurnya, Vanya tidak merasa keberatan jika Haidar menunjukkan fotonya kepada Andi. Hanya saja, Vanya merasa sangat penasaran, foto yang seperti apa yang Haidar tunjukkan pada Andi.


"Seriusan Va, gua ga nunjukkin foto elu ke papah.. Papah liat foto lu di IG nya si Angga.."


Mendengar apa yang di katakan Haidar, seketika membuat Vanya menampilkan ekspresi bingungnya.


"Angga?"


Haidar menganggukkan kepalanya. "Iya.. Si Angga kan nge posting foto kita yang pas pembagian raport semester 1. Kita kan pernah foto bareng-bareng."


"Emang papah lu bisa langsung ngenalin gua?"


"Ya siapa lagi kalo bukan si Angga yang ngasih tau, dia kan ce esan sama papah.."


"Ooooooohh..." Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Melihat respon Vanya yang sangat santai, sontak saja membuat Haidar menatap Vanya dengan sedikit melongo tak percaya.


"Lu ga marah?"


Vanya seketika mengernyitkan dahinya, gadis itu menggelengkan kepalanya. "Engga, siapa yang marah?"


"Terus itu tadi?"


"Dih, siapa yang marah.. Gua cuma penasaran aja, kira-kira foto yang modelan kayak gimana yang lu tunjukin ke papah elu."


"Tcih.." Haidar hanya bisa berdecih kecil.


Dia sungguh tidak menyangka kalau ekspresi penasaran Vanya terlihat sangat mengerikan seolah-olah hendak menerkamnya saat itu juga.


"Jadi lu ngira gua marah?" Vanya bertanya seolah tidak memiliki dosa.


"Tau ah.."


Haidar lantas beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi begitu saja.


"Lah?" Gadis itu menatap Haidar dengan sangat bingung.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2