Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Target


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa waktu pun berlalu.. Kini, kelas Vanya dan Haidar tengah mengadakan sesi pelajaran olahraga. Yang mana, saat ini mereka di haruskan untuk memainkan permainan basket.


Setiap sesi pelajaran olahraga, setiap 2 kelas akan di gabung menjadi 1. Pembaigan kelasnya adalah A dan C, B dan E, serta D dan F. Hal itu bertujuan untuk membagi pengaturan jadwan pelajaran olahraga dengan kelas yang lainnya agar tidak terlalu bentrok.


Setelah para siswa dan siswi mengganti seragam mereka dengan seragam olahraga, kini mereka pun berkumpul di lapangan basket.


Tak lama setelah mereka berkumpul, sang guru olahraga yang bernama pak Wawat pun masuk ke dalam lapangan basket.


"Ok anak-anak.." Pak Wawat meniup peluitnya. "Saatnya kita melakukan pemasan terlebih dahulu."


Mereka pun berkumpul di tengah lapangan dan mulai berbaris dengan rapi untuk melakukan pemanasan.


Setelah melakukan pemanasan, mereka pun melakukan pengambiln nilai dalam permainan basket sesuai dengan kelas masing-masing.


Saat pengambilan nilai tengah berlangsung, bola basket yang di gunakan tiba-tiba saja bocor. Yang mana, hal itu mengharuskan mereka untuk menghentikan permainan.


"Ngga, coba kamu liat di belakang, ada bola cadangan ga?"


Angga menganggukkan kepalanya, dia berjalan ke arah belakang lapangan basket kemudian membuka tempat penyimpanan bola cadangan.


Saat melihat isi di dalam ruangan itu, Angga sedikit mengerutkan keningnya karena tak ada satu pun bola basket cadangan yang ada di sana.


Karena seingatnya, kemarin, Angga sempat melihat masih ada beberapa bola basket cadangan yang tersimpan di sana.


"Ck, apa gua ngelindur ya? Tapi, kemaren kayaknya masih banyak deh."


Angga bergumam seraya terus mengingat-ingat bahwa kemarin masih banyak bola cadangan yang tersedia di sana.


"Gimana, ada ga?" Tanya pak Wawat.


Angga menggelengkan kepalanya, "ga ada pak.."


Pak wawat kemudian menoleh pada Vanya yang sedang berdiri di sampingnya. "Va, kamu yang paling berani buat ke gudang belakang kan? Bisa tolong ambilin bola nya di sana?"


Vanya menganggukkan kepalanya.


"Nih kunci lemari penyimpanannya, lemari nomor 9 ya." Pak Wawat menyerahkan kunci itu pada Vanya.


Saat Vanya hendak berlalu pergi, Nisa beranjak dari duduknya kemudian menghampiri Vanya.


"Yok, gua temenin." Nisa berkata seraya merangkul Vanya.


Mereka berdua pun menuju ke gudang belakang, tempat penyimpanan alat-alat olahraga yang lebih lengkap.


Saat sampai di gudang belakang, Nisa sedikit bergidik ngeri merasakan hawa dingin di area sana.


"Hih, pantes pak Wawat bilang kalo elu yang paling berani kesini. Orang serem gini tempatnya." Nisa bergumam seraya menggenggam erat tangan kiri Vanya.


Karena ya, selama bersekolah di sini, Nisa sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di area gudang belakang sekolah.


"Elu mah, beginian takut. Tapi kerjaannya nonton film horor.." Vanya mengejek Nisa yang semakin memegang erat tangan kirinya.

__ADS_1


"Ck.." Nisa mencebikkan bibirnya. "Itu mah beda lagi sih Va.. Itu kan cuma film.."


"Udah ah, lepasin.. Gimana mau bawa bolanya kalo elu megangin tangan gua kayak gini." Vanya berusaha melepaskan tangan kirinya yang masih saja di pegang erat oleh Nisa.


Nisa pun mau tidak mau melepaskan tangan kiri Vanya, ya walau pun merasa sedikit enggan.


Vanya lalu membuka pintu gudang itu. "Mau bantuin ga? Lu bawa 2, gua bawa 2. Biar sekalian.. Kalo cuma bawa 1 doang nanggung.."


"Yaudah deh, tapi jangan jauh-jauh dari gua ya.."


"Iya iya.. Dasar penakut.."


Mereka pun masuk ke dalam gudang. Vanya lalu segera membuka lemari no 9. Mereka lalu mengambil bosa basket itu dengan masing-masing mengambil 2 buah bola.


Setelah mengunci lemari itu kembali, mereka segera keluar dari dalam gudang itu. Namun, saat Vanya hendak keluar dari rungan, dirinya tersandung yang menyebabkan kunci lemari yang di pegangnya terjatuh entah kemana.


"Lu ga papa, Va?" Nisa bertanya dengan raut wajah khawatirnya.


"Ga papa, tapi kunci lemarinya ga tau jatoh di mana." Vanya menggulirkan matanya ke setiap penjuru arah.


"Yaudah, di cari dulu." Nisa lantas hendak membantu Vanya untuk mencari kunci lemari itu.


Namun, Vanya segera mencegahnya. "Ga usah, mending lu balik dulun aja. Biar gua nyari kuncinya sendirian, nanti yang lain nunggunya kelamaan."


"Yakin nih?"


"Iya gapapa.."


"Yaudah deh, gua ngasihin bolanya dulu, entar gua balik lagi kesini buat bantuin elu."


Vanya menganggukkan kepalanya.


Hanya selang beberapa detik setelah Nisa pergi dari sana, tiba-tiba saja muncul 2 orang gadis yang merupakan siswi baru di sekolah itu. Yang mana hal itu berarti, 2 gadis itu adalah anak kelas 10, adik kelas Vanya.


Mereka datang kesana dengan niat untuk mengambil raket karena kelas mereka kebetulan tengah mengadakan sesi olahraga.


Saat 2 siswi itu hendak masuk ke dalam gudang, salah satu siswi dengan rambut di kucir kuda bernama Tata menghentikan langkahnya tat kala melihat Vanya yang tengah mencari sesuatu di antara tumpukan alat-alat olahraga.


Yang mana, hal itu membuat salah satu siswi lain dengan rambut tergerai bernama Winda pun ikut menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" Winda bertanya dengan sedikit bingung.


"Coba deh lu liat kedalem Win.. Bukannya itu kak Vanya ya?"


Winda pun melihat ke dalam gudang dari jendela.


"Kak Vanya? Siapa?" Winda masih tidak mengerti, siapa yang di maksud oleh Tata.


"Ck, itu loh ah.. Anak kelas 12 A yang pacaran sama pemain inti tim basket.. Yang pinter banget itu, yang selalu jadi peringkat 1 umum. Yang selalu di gosipin sama kakak kelas 11."


"Ooooh..." Winda mengangguk-anggukkan kepalanya. "Jadi itu orangnya.."


"Kok lu bisa tau?" Winda menaikkan sebelah alisnya.


"Gua pernah di tunjukkin sama kak Anya."


Winda kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jadi itu orang yang harus gua ganggu hidupnya?" Gadis itu bergumam di dalam hatinya.


"Tapi kok si tante bisa sampe benci banget ya sama dia? Sampe bela-belain nyuruh gua buat masuk ke sekolah ini. Padahal kan kalo di liat-liat, orangnya keliatannya biasa aja deh.. Malah keliatan ok banget buat seukuran anak gadis.. Buat apa coba di gangguin? Ah bodo lah.. Yang penting gua dapet tambahan uang jajan." Winda kembali bergumam di dalam hatinya.


"Heh Ta.." Winda menyenggol Tata. "Ngapain sih kita cuma ngeliatin dia di sini. Udah ayok masuk aja ke dalem, keburu yang lain nungguin.."


"Yaudah ayok.."


Tata pun membuka pintu gudang.


"Misi kak.." Ucap Tata pelan.


Vanya yang tengah berjongkok di dekat tumpukan net voli seketika menoleh pada asal suara.


"Eh ya, gimana?" Vanya bertanya dengan sedikit bingung.


"Gila.. Cakep banget Wiiiinn..." Tata berbisik gemas pada Tata yang berdiri di sampingnya.


Melihat tingkah lucu Tata, seketika membuat Vanya menaikkan sebelah alisnya. Dia tersenyum kecil kemudian kembali bertanya.


"Ada apa ya?"


Tata pun kembali tersadar dari rasa gemasnya. "Ah.. Itu.. Anu, aku mau ngambil raket kak.." Sahut Tata cepat.


"Ooh.. Ambil aja, di rak no 3." Vanya lalu kembali mencari kunci yang masih belum dia temukan.


Tata lantas segera mendekati rak no 3. Sedangkan Winda, dia menunggu di dekat pintu. Gadis itu menggulirkan matanya ke setiap penjuru arah.


Winda menemukan tumpukan tongkat pramuka yang tersandar di dinding. Dia memperkirakan, jika dia sedikit menarik jaring net voli, mungkin saja tumpukan tongkat pramuka itu kan jatuh dan menimpa Vanya.


"Bisa nih gua kerjain dikit." Tata bergumam di dalam hatinya.


Namun....


........


Hayooo.. Apa nih yang bakalan terjadi?


Berhasilkah? Atau justru rencana Winda akan gagal??


Tapi, siapa yang menggagalkan rencana Winda??


Ada yang bisa nebak?? Kasih tau di kolom komentar yak..


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2