Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Kalung


__ADS_3

...Happy reading πŸ’•...


...Hope you enjoyed......


...----------------...


"Siang pak.."


Para karyawan menyapa Haidar saat pria itu melewati mereka.


Haidar mengangguk kecil untuk membalas sapaan dari mereka.


Pria itu terus melangkah menuju lobby untuk menunggu kedatangan Vanya.


Melihat kehadiran Haidar, tentu saja membuat semua orng6bertugas di lobby merasa sangat terkejut.


Bukan tanpa alasan, selama Haidar menjabat sebagai CEO di OT Company, ini adalah kali pertamanya Haidar turun ke lobby di waktu siang. Biasany, pria itu hanya akan mengerjakan pekerjaannya di ruangannya. Toh, kalau pun dia keluar, itu hanya untuk menghadiri rapat atau pertemuan saja.


Katakanlah, pria itu hampir tidak pernah menginjakkan kakinya di lobby. Karena kalau pun dia akan bertemu dengan client, dia akan langsung menuju basment tempat di mana mobilnya terparkir.


Salah seorang staf karyawan perempuan yang ada di sana pun berinisiatif untuk mendekati Haidar yang saat ini sedang duduk di sofa, tempat di mana biasanya para tamu menghabiskan waktu dalam menunggu giliran untuk bertemu orang yang di tuju.


"Selamat siang pak, ada yang bisa saya bantu?"


Haidar lantas menoleh pada perempuan itu. "Ga perlu, kamu bisa kembali ke kerjaanmu. Saya cuma lagi nunggu calon istri saya."


Perempuan itu mengerjapkan matanya. Terkejut? Tentu saja. Selama ini, dia tidak pernah mendengar rumor yang mengatakan kalau atasan tampannya itu menjalin hubungan dengan seorang gadis.


Bisa di katakan, dia merupakan salah seorang perempuan yang sedang berusaha untuk mendekati Haidar. Jadi, ketika mendengar kalau atasannya itu sedang menunggu calon istrinya, membuat dia benar-benar merasa angat terkejut.


"Ca, calon istri?"


Haidar menganggukkan kepalanya.


"Ka, kalau begitu, saya permisi dulu."


Haidar mengangguk kecil.


Tepat saat perempuan itu pergi meninggalkan Haidar, terlihat Vanya yang memasuki pintu lobby.


Haidar menyunggingkan senyumnya melihat Vanya yang tampak menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Haidar pikir, sepertinya Vanya tengah mencari letak receptionist.


Haidar pun beranjak dari tempatnya, pria itu melangkah mendekati Vanya yang masih berdiri di dekat pintu masuk.


"Babby.."


Haidar memanggil Vanya dengan suara yang sangat lantang.


Hal itu sontak saja memicu perhatian semua orang yang da di sana. Karena kebetulan, lantai satu merupakan letak di mana cafetaria berada. Di mana saat ini, merupakan waktu untuk makan siang. Yang sudah pastinya, sebagian besar staf karyawan menghabiskan waktunya di sana untuk mengisi kekosongan perut mereka.


Mereka terus saja menggulirkan mata kesana kemari. Gadis mana yang saat ini sedang di maksud oleh Haidar? Gadis mana yang sangat beruntung mendapatkan panggilan manis dari Haidar?


Terlebih lagi, Haidar tampak tersenyum manis saat mengucapkan kata panggilan itu. Hal itu tentu saja membuat para perempuan muda yang bekerja di sana merasa sangat iri.


Perhatian semua orang pun tertuju ada Vanya saat mengetahui Kalau Vanya lah yang menjadi tujuan Haidar. Ada banyak dari mereka yang memuji Vanya, tapi tidak sedikit pula yang memandang Vanya dengan tajam karena merasa sangat iri.


Lantas, apa reaksi Vanya?


Gadis itu menatap Haidar dengan mata yang memicing. Dia benar-benar merasa sangat malu karena menjadi pusat perhatian semua orang. Vanya sangat yakin, jika di lihat, wajahnya sepertinya saat ini sudah sangat memerah.


"is there something wrong? Muka kamu merah banget."


"Kelakuan kamu tu.. Semua orang ngeliatin kita. Aku maluuuu.."


Haidar mengernyitkan dahinya.


"Malu? Kenapa harus malu?"


Vanya menggertakkan giginya karena merasa sangat gemas pada Haidar.

__ADS_1


"Ah, tau ah.."


Vanya berlalu pergi begitu saja.


Haidar pun hanya bisa terkekeh geli. Bukan kah tingkah gadis itu sangat menggemaskan?


"Vaaa.. Tunggu.."


Hidar mengikuti langkah Vanya dengan cepat.


"Sayang, hey.."


Vanya menghentikan langkahnya, dia menatap Haidar dengan sedikit kesal.


"Ck! Apa lagi?"


"Kamu salah jalan sayang, harusnya kesana."


Vanya seketika saja menutup wajahnya menggunakan tas yang dia bawa karena merasa sangat malu.


"Kamu ga ngasih tau!!"


Haidar mengerjapkan matanya. "Kamu ga nanya."


"Haish.."


Vanya pun berlalu pergi menuju arah yang di tunjukkan oleh Haidar. Dengan Haidar yang mengikutinya dari belakang seraya terus menahan rasa gemasnya pada Vanya.


"lucu banget ya mereka.."


Salah satu staf karyawan perempuan yang sedari tadi memperhatikan Vanya dan Haidar berkata dengan suara yang sedikit tertahan karena merasa sangat gemas.


"He em.. Pengen deh punya hubungan kayak gitu."


Perempuan yang lain menyetujuinya.


Sahut perempuan lainnya lagi.


"Ya iya lah.. Ya kali cowok sekelas Pak Haidar milih cewek yang ga ada apa-apa nya kayak kita."


"Halah.. Paling juga tu cewek jual body sama muka. Paling juga otaknya cuma abal-abal."


Salah satu perempuan yang baru saja datang ikut menyahuti obrolan mereka.


"Husss.. Sembarangan lu kalo ngomong. Lu ga tau apa kalo waktu itu sempet ada berita kalo ada cewek yang berpartisipasi buat nyelesein proyek yang di solo. Dia kayaknya."


"Ga usah berasumsi, mana mungkin cewek se muda dia berpartisipasi di proyek besar. Dari mukanya aja masih keliatan kayak anak sekolahan. Kesannya jadi kayak sugar babby."


"Khem!!"


Mereka seketika saja menoleh pada seorang pria yang merupakan asisten pribadi Haidar.


"Si, siang pak.."


Sapa salah seorang perempuan dengan sangat canggung.


"Kalian lagi makan siang?"


"Iya pak.. Bapak mau gabung?"


"Kalo lagi makan siang, mulutnya di pake buat makan. Jangan di pake buat gosipin orang."


Pria itu berlalu pergi dari sana.


"Elu sih.."


"Kok gua?"


"Udah udah.. Buruan makan, keburu habis nanti jam makan siangnya."

__ADS_1


.......


.......


.......


"Kamu ngapain nyuruh aku kesini?"


"Tunggu bentar."


Haidar beranjak dari tempatnya, dia melangkah menuju meja kerjanya kemudian meraih satu kotak perhiasan dari dalam laci meja kerjanya.


Pria itu lantas kembali mendekati Vanya, dia kembali duduk di samping Vanya.


"Nih."


"Ini apa?"


Vanya menerima kotak perhiasan itu dengan sedikit bingung.


"Buka aja."


"Kalung? Buat aku?"


Haidar menganggukkan kepalanya.


"Buat apa? Aku ga suka pake kayak ginian."


"Ck!"


Haidar menatap Vanya dengan mata yang sedikit memicing. Benar kan apa yang Haidar katakan sebelumnya? Vanya sudah pasti akan menolak kalung pemberiannya ini.


"Di pake aja sih. Gelang tangan ga mau, gelang kaki ga mau, cincinnya cuma cincin pertunangan, anting aja kamu pake anting yang kamu beli sendiri. Pake ya.. Aku mesen ini udah dari 3 bulan yang lalu loh. Se engganya, ada satu perhiasan dari aku yang kamu pake. Anggap aja kalung ini buat nunjukkin kalo usahaku nyari uang buat kamu tu ga sia-sia."


"Harus ya?"


"Harus Va.. Sini, aku pakein."


Haidar mengambil kalung itu dari tangan Vanya, dia lantas memakaikan kalung itu pada leher Vanya.


"Aku sengaja ga mesen kalung yang terlalu mewah karena aku tau kamu ga suka make perhiasan. Aku tau kamu pasti nolak kalung ini, tapi buat yang satu ini aja, tolong di pake ya."


Vanya menatap Haidar untuk sejenak. Jujur saja, dia memang merasa sangat enggan untuk memakai perhiasan yang di berikan oleh Haidar. Bukan karena Vanya tidak ingin, hanya saja, Vanya terlalu malu untuk memakainya. Vanya sadar kalau dirinya tidak pantas memakai perhiasan seperti ini.


Tapi, di sisi lain, Vanya juga merasa tidak enak hati jika harus selalu menolak untuk memakai perhiasan yang di berikan oleh Haidar.


"Makasih ya."


Haidar menganggukkan kepalanya.


"Sini peluk, aku butuh asupan tenaga."


Haidar merentangkan kedua tangannya, meminta Vanya untuk masuk ke dalam pelukannya.


Vanya menyunggingkan senyumnya, dia pun merangsek masuk ke dalam pelukan hangat Haidar dengan perasaan bahagia.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi πŸ’•


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2