
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Jika waktu bisa ku putar kembali, aku ingin kembali ke masa kemarin. Masa di mana aku masih bisa melihat senyuman penyembuh segala kesedihanku."
^^^Ivanya Basudewi^^^
*****
Sebelumnya...
"Vanya.. Ya ampun sayang.. Vanya, hey.." Bagas berteriak panik saat Vanya tiba-tiba kehilangan kesadarannya.
*****
Yang mana hal itu juga membuat semua yang ada di sana merasa panik. Tidak ingin membuat keributan lebih jauh, Bagas pun segera menggendong Vanya menuju kamar gadis kecil itu, dan di ikuti oleh Sinta (Kakak Dewi).
"Ini teteh bawa minyak kayu putih, mau kamu yang olesin apa teteh yang olesin?" tanya Sinta kepada bagas.
"Biar saya aja yang olesin teh. Teteh kalo mau lanjut gapapa, biar Vanya saya aja yang jagain, nanti ngerepotin teteh" jawab Bagas.
"Ga usah bilang gitu Bagas, Vanya itu kan keponakan teteh juga" ucap Sinta seraya menyerahkan minyak kayu putih yang dia bawa.
"Makasih banyak teh" ucap Bagas seraya menerima minyak kayu putih itu lalu mulai mengoleskannya ke hidung dan leher Vanya.
"Bentar ya, teteh ambilin minum anget dulu buat Vanya"
"Iya makasih teh, maaf ngerepotin"
"Udah gapapa" ucap Sinta lalu segera berlalu dari sana.
Setelah beberapa saat, Sinta kembali dengan membawa segelas air hangat.
"Teteh taro sini ya minumnya, teteh mau bantuin yang lain dulu" ucap Sinta dan berlalu pergi.
Tak lama kemudian, Vanya mulai mengerjapkan matanya.
Bagas pun mengelus kepala Vanya dengan lembut.
"Apa yang kamu rasain sayang, hmmm??" tanya Bagas.
Alih-alih menjawab, Vanya justru terisak pilu seraya bertanya "Nenek mana pah?"
__ADS_1
"Sini peluk papah" ucap Bagas lalu menarik Vanya ke dalam pelukannya.
Bagas pun menepuk-nepuk punggung Vanya dengan lembut lalu berkata "Vanya kalo mau nangis gpp, tapi nangisnya disini aja ya".
"Vanya pengen liat nenek pah" gadis kecil itu berkata dengan suara yang tersendat-sendat.
"Iya, nanti Vanya liat nenek. Tapi janji sama papah, Vanya jangan nangis. Nangisnya di selesein disini aja.. Kalo kamu nangis di sana, nanti nenek ikut sedih, hmm.."
Bagas sejenak mengecup kepala Vanya
"Inget, Vanya masih punya papah yang sayang banget sama Vanya. Papah janji, papah ga bakalan ninggalin Vanya"
Gadis kecil itu hanya bisa terisak pilu di dalam pelukan Bagas, dia tidak tau lagi harus berkata apa. Rasanya seperti dia sudah tidak lagi memiliki semangat untuk hidup. Karena nenek Indah adalah orang yang telah membesarkannya hingga sekarang ini.
Meskipun akhir-akhir ini Bagas juga memperlakukan dia dengan baik, namun tetap saja ada rasa yang sangat mengganjal di hatinya, hingga membuat Vanya tetap belum bisa mempercayai Bagas sepenuhnya. Gadis kecil itu hanya bisa berharap agar bisa menjalani hidup dengan baik-baik saja.
Tak lama setelah Vanya melerai tangisannya, Sinta datang menghampiri.
"Kalian mau ikut ke makam apa nunggu disini?" tanya Sinta.
Vanya melepas pelukannya, dia menatap sinta sejenak lalu menatap Bagas masih dengan berlinang air mata
"Vanya mau ikut" ucap gadis kecil itu.
"Tapi nanti janji engga nangis ya" ucap Bagas seraya menghapus air mata Vanya.
Setelahya, mereka dan para warga bergegas untuk mengantarkan nenek Indah ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Selama ini, nenek Indah di kenal sebagai wanita yang sangat baik juga banyak membantu warga sekitar. Bahkan, baikya wanita tua itu, dia rela mengajar anak-anak yang tidak mampu secara gratis, hingga berhasil membuat anak-anak yang di berikan pengajarannya mampu menjadi orang-orang sukses.
Tidak hanya itu saja, semasa hidupnya, nenek Indah memberikan sebagian lahan sawahnya di kelola oleh warga yang tidak mampu. Itu juga dia memberikannya secara cuma-cuma, bahkan dia tidak mau menerima 1 butir beras pun dari hasil tani mereka.
Waktu itu dia berkata "jika aku menerimanya, itu sama saja aku tidak ikhlas membantu kalian. Jika kalian ingin membalas budiku, maka garaplah sawah itu sebaik mungkin. Melihat sawah itu tumbuh dengan subur saja sudah lebih dari cukup untukku"
Hingga sesaat sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya pun, dia berpesan kepada anak-anaknya agar tidak mengambil kembali lahan itu. Oleh sebab itu, banyak orang yang merasa kehilangan atas kepergian nenek Indah.
Terutama Vanya, kepergian nenek Indah adalah pukulan terbesar bagi gades kecil itu.
Namun, seperti yang kita ketahui, Vanya adalah anak yang akan selalu berakhir dengan memendam perasaannya sendiri. Bahkan ketika nenek Indah di makamkan, gadis kecil itu benar-benar tidak mengeluarkan air matanya setetes pun.
Karean sebelum dia keluar dari kamarnya, dia teringan kembali akan ucapan nenek Indah
"Kau boleh bersedih sepuasmu, kau boleh menangis se puasmu. Tapi ingat, jangan pernah membawa pergi seluruh rasa keterpurukanmu keluar dari rumah. Kareana ketahuilah, rasa terpurukmu adalah salah satu senjata untuk orang bisa nenjatuhkanmu, bahkan hingga sedalam-dalamnya"
Oleh sebab itu, ketika Vanya keluar dari kamar. Gadis kecil itu berusaha sekuat tenaga untuk terlihat baik-baik saja. Dia akan berusaha untuk tidak mengecewakan nenek Indah.
__ADS_1
Setelah pemakaman selesai, saat Bagas dan Vanya hendak memasuki kamar tiba-tiba saja Dewi menghentikan langkah mereka.
"Semuanya sudah selesai.. Cepat kemasi barang-barang kalian dan segera pergi dari sini , aku muak melihat wajah kalian" ucap Dewi.
"Tapi Dew, biarkan Vanya beristirahat terlebih dahulu. Dia lelah.. Aku berjanji akan membawanya pulang besok pagi" ucap Bagas.
"Aku tidak mau tau. Angkat kaki dari rumah ini sekarang juga, aku tidak sudi satu atap bersama kau dan anak pembawa sial itu"
Saat Bagas hendak kembali menyahut, Vanya sudah lebih dulu berkata
"Udah ayo pah, pulang aja. Vanya bisa istirahat di mobil"
"Tapi Vanya..."
"Gapapa pah, ayo pulang aja"
"Cih, cepat hentikan drama kalian dan bergegaslah angkat kaki dari rumah ini" ucap Dewi lalu pergi meninggalkan mereka.
Akhirnya, mau tidak mau, Bagas pun membawa Vanya pulang saat itu juga. Di sepanjang perjalanan, Bagas hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa Dewi begitu tega mengatakan Vanya sebagai anak pembawa sial di depan anak itu langsung.
Bagas sekilas melirik Vanya yang terlihat sedang melamun memandang ke arah luar jendela.
"Vanya, kamu baik-baik aja sayang?" Bagas bertanya seraya mengusap kepala Vanya.
Vanya menoleh pada Bagas, lalu menyunggingkan senyum kecil di wajah sembabnya itu
"Vanya baik-baik aja pah.. Mungkin emang Tuhan udah ga sabar buat bawa nenek ke sisiNya" ucapnya.
Bagas yang mendengar perkataan putri kecilnya yang begitu dewasa pun seketika tidak kuat menahan air mantanya. Namun Bagas segera menghapus air matanya. Dia sungguh ingin tau tentang apa yang selama ini di alami oleh Vanya, hingga membuat putri kecilnya itu bisa berpikir begitu dewasa.
"Vanya yang ikhlas ya" hanya itu yang bisa di ucapkan Bagas, dia terlalu bingung bagaimana harus menghibur Vanya.
"Vanya belum ikhlas pah, tapi Vanya bakalan coba buat nge ikhlasin nenek" ucap gadis kecil itu lalu kembali menatap ke arah luar jendela.
Bagas pun memilih untuk membungkam mulutnya seraya mengelus kepala Vanya sejenak.
Karena pada akhirnya, mau tidak mau, bagaimana pun kondisinya, sesulit apapun perasaannya, Vanya tetap harus mencoba untuk mengikhlaskan kepergian nenek Indah..
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..