
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian...
"Va.." Haidar memanggil Vanya seraya nenurunkan kaca jendela mobilnya.
Vanya yang tengah melangkah menuju kios pun menghentikan langkahnya lalu berbalik untuk menatap Haidar dengan sedikit bingung.
"Kenapa?" Tanya Gadis itu.
"Besok lu berangkat bareng Nisa ya.. Besok pagi gua harus nganterin papah dulu ke bandara, soalnya *Pak Asep lagi pulang kampung.. Guda tadi juga udah ijin telat kok ke pihak kantor."
*Pa Asep : Supir pribadi Pak Andi / Ayah Haidar.
"Oooo.. Ok.." Ucap Vanya seraya menganggukan kepalanya.
"Yaudah, gua balik ya."
"Hmm.." Vanya kembali menganggukkan kepalanya. "Bye." Ucap gadis itu seraya melambaikan tangannya.
"Bye.." Ucap Haidar lalu mulai melajukan mobilnya.
Setelah memastikan mobil Haidar tidak terlihat lagi, Vanya pun segera masuk ke dalam kios.
Namun, saat Vanya hendak membuka pintu kios, gadis itu tiba-tiba saja terdiam mematung seraya menggenggam pegangan pintu dengan sangat erat tat kala mendengar suara seorang wanita yang sangat di kenalinya.
"Oooh.. Jadi di sini to tempat kamu tinggal sekarang.."
Vanya lantas menghela nafasnya sejenak kemudian membalikan tubuhnya. "Maaf, siapa ya?" Gadis itu bertanya dengan dahi yang sedikit mengerut seolah olah tengah merasa bingung.
Ayu yang mendengar hal itu pun seketika tertawa mengejek. "Setelah apa yang kamu lakuin ke saya, kamu sekarang pura-pura ga kenal saya?? Waaaah.. Hebat kamu Vanya.." Wanita itu berjalan mendekat ke arah Vanya.
"Selama ini saya udah nyari kamu buat bikin perhitungan sama kamu!! Kamu tau, gara-gara kamu, sekarang saya jadi perempuan mandul!!" Wanita itu berkata dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan rasa amarah seraya mendorong-dorong bahu kiri Vanya menggunakan jari telunjuk tangan kanannya.
Vanya yang mendengar hal itu pun seketika menaikkan sebelah alisnya. Kemudian dengan gerakan cepat, gadis itu mencengkram pergelangan tangan kanan Ayu dengan sangat kuat.
"Ada 2 hal yang perlu anda sadari.. Pertama, saya yang sekarang, bukan saya yang dulu mudah di tindas.. Dan yang kedua, saya bukan penyebab kemandulan anda." Gadis itu berkata dengan nada dinginnya yang sangat mengintimidasi kemudian menghempaskan tangan kanan Ayu.
__ADS_1
"Ah, dan satu hal lagi.." Vanya menatap Ayu dengan sangat tajam kemudian kembali berkata dengan penuh penekanan seraya mendorong-dorong bahu kanan Ayu menggunakan jari telunjuk sebelah kirinya. "Anda, harusnya, berkaca, kenapa, Tuhan, tidak, mengijinkan, anda, untuk, memiliki, seorang, keturunan!!"
Vanya lantas sedikit menghela nafasnya kemudian bersedekap dada. "Lebih baik anda sekarang pergi dari hadapan saya, saya terlalu muak melihat wajah anda." Gadis itu berkata kemudian masuk ke dalam kios.
Mengabaikan Ayu yang kini sedang menahan emosinya. "Awas ya kamu!!! Liat aja, saya bakalan bikin perhitungan sama kamuuu!!!" Wanita itu berteriak kemudian berlalu pergi dari sana.
Setelah tidak lagi mendengar tanda-tanda keberadaan Ayu, Vanya yang kini tengah menyandarkan tubuhnya pada pintu pun seketika memegang dadanya.
"Fwuuuuh.. Lawan Vanya.. Lawan.." Gadis itu bergumam seraya berusaha menetralkan detak jantungnya yang tengah berdetak dengan sangat cepat.
Saat detak jantungnya sudah kembali normal, Vanya lantas kembali menegakkan tubuhnya kemudian segera membersihkan diri lalu segera melakukan kegiatan rutin sehari-harinya. Apa lagi jika bukan mengurus pakaian laundryan.
*****
Ke esokan harinya..
"Nis.." Ucap Vanya pada Nisa yang kini tengah mengemudikan mobilnya.
"What happened?? Aya naon??" Nisa bertanya tanpa mengalihkan fokusnya dari mengemudi.
"Kalo gua pindah nge kos, kira-kira mamah lu bakalan ngijinin ga ya?" Vanya bertanya dengan sedikit ragu.
Nisa yang mendengar hal itu pun seketika mengerutkan keningnya. "Kok lu tiba-tiba nanya kaya gitu.. Ada apa?"
"Hah!! Ngapain?? Mau minta maaf?? Atau malah gangguin elu?"
"Katanya sih mau bikin perhitungan, alesannya sih katanya gara-gara gua, dia jadi mandul.."
"Whaaat!!!" Nisa berseru dengan di penuhi rasa terkejutnya. "Kok ga masuk akal banget sih tu orang!!"
Vanya menggelengkan kepalanya. "Ga tau juga gua, padahal waktu itu dia sendiri yang ga mau gua tolongin.."
"Parah si tu orang.. Tapi kok dia bisa tau kalo lu ada di situ?"
"Ga tau.." Ucap Vanya seraya mengedikkan bahunya. "Cuma beberapa hari yang lalu, gua sempet ketemu sama bokap gua di kantor.."
"Kok lu ga bilang ke gua sih??" Nisa bertanya dengan sedikit kesal.
"Ya maap, gua lupa." Vanya menjawab seraya menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Lha terus bokap lu gimana?"
__ADS_1
Vanya mengangkat bahunya acuh. "Ya gitu, dia bersikap seolah olah kaya ga kenal sama gua.."
"Ck, ck, ck, ck.." Nisa berdecak seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Untung aja gua ga punya bapak yang kaya gitu.. Ya meskipun bapa gua juga bereng...sek sih.."
"Haaaaaah..." Vanya menghela nafasnya dengan sangat panjang. "Ga tau ah, pusing gua mikirinnya.."
"Terus mau lu gimana?"
Vanya kembali menghela nafasnya. "Gua pengen pindah nge kos.. Gua males aja kalo harus berurusan sama mereka lagi.. Gua lebih baik ngehindar dari pada harus ada masalah lagi.."
Mendengar hal itu, Nisa tampak berpikir untuk beberapa saat lalu berkata. "Gini.. Kalo misal nih ya, misal mamah ngijinin lu buat pindah, terus lu mau dapet duit dari mana? Ga mungkin kan elu bolak balik dari kos, ke tempat magang, terus ke kios, terus balik ke kos elu. Capek banget loh Va.. Belum lagi kalo kita nanti udah masuk sekolah lagi, gimana coba?"
"Kalo buat masalah duit sih, kemaren manager gua nawarin job freelance. Katanya sih dia suka sama hasil kerja gua.. Cuma belum gua iyain, gua pengen ngomong dulu ke elu sama tante Rima."
"Yaudah, nanti gua coba omongin ke mamah ya.. Siapa tau mamah ngijinin.."
Vanya lantas menoleh pada Nisa kemudian mengembangkan senyum manisnya. "Makasih banyak Nis.."
"Ck, kaya sama siapa aja lu ah.." Nisa berkata seraya memukul bahu Vanya main-main.
Ya, setelah memikirkan hal itu semalam suntuk, Vanya memutuskan untuk berpindah tempat tinggal..
Bukannya Vanya tidak tau terima kasih pada Rima hingga ingin meminta pindah begitu saja. Hanya saja, Vanya sudah benar-benar merasa enggan jika harus kembali berurusan dengan Ayu maupun Bagas.
Anggap saja Vanya menghindari masalah. Namun, apa lagi yang bisa dia lakukan selain menghindar.. Vanya memanglah sudah berubah menjadi gadis yang lebih kuat dari pada sebelumnya. Tapi Ayu tentu saja lebih kuat dari Vanya.
Bukan dalam hal kekuatan fisik maupun mental. Tapi secara finansial dan kehidupan sosial. Jadi, jika Vanya bersikukuh untuk menghadapi Ayu, maka sudah di pastikan hasilnya kalau Vanya yang akan kalah.
Oleh sebab itu, yang Vanya bisa lakukan saat ini adalah menghindar untuk sementara waktu. Hingga suatu saat nanti, dia bisa membuktikan jika dia bukanlah seseorang yang mudah untuk di tindas.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..