
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari setelah meninggalnya nenek Indah, Vanya sedikit berubah menjadi gadis yang pemurung. Bahkan, selama beberapa hari ini dia menolak untuk pergi ke sekolah.
Bagas yang sudah tidak tau lagi bagaimana harus membujuk Vanya, akhirnya meminta Rima agar mengijinkan Nisa bermain di rumahnya.
Rima pun menyetujuinya, karena memang pada dasarnya, Nisa sudah beberapa kali bermain di rumah Bagas.
Karena Bagas fikir, mungkin jika Vanya bersenda gurau dengan teman sebayanya, Vanya tidak akan terlalu bersedih lagi. Lagi pula, setau Bagas, Nisa adalah teman terdekat Vanya akhir-akhir ini.
Tanisa na Kinan, atau kita sebut saja sebagai Nisa. Dia adalah anak tunggal dari Rima Setyaningsih, seorang janda yang bisa terbilang sukses dalam berkarir. Seorang janda yang sukses karena memiliki usaha laundry, bahkan sudah memiliki beberapa cabang yang tersebar di beberapa penjuru jogja.
Nisa merupakan gadis kecil yang terlahir 3 bulan lebih awal dari Vanya. Gadis kecil yang memiliki paras imut dengan kepribadian ceria juga baik hati.
Bahkan, kedekatan Vanya dan Nisa pun terjalin karena kepribadian Nisa yang ceria itu. Awalnya Vanya memang enggan untuk berteman dengan Nisa, karena Vanya sedikit takut jika Nisa akan sama seperti teman-temannya yang terdahulu.
Namun karena kegigihan Nisa yang terus berusaha mendekati Vanya, juga karena kebaikan Nisa yang selalu membantu Vanya, Vanya pun akhirnya luluh dan mau berteman dengan Nisa, hingga mereka menjadi dekat seperti sekarang ini.
Namun, kedekatan yang mereka jalin bukan hanya tentang canda tawa, tapi juga berbagi nasib yang hampir sama. Bedanya, jika Vanya tidak mendapat kasih sayang dari seorang ibu. Lain hal nya dengan Nisa yang tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.
Begitulah hasil dari perceraian orang tua, membuat anak yang seharusnya masih asik bermain tanpa beban, menjadi anak yang tumbuh dewasa sebelum waktunya.
Belum lagi, pertengkaran demi pertengkaran yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Membuat mereka mengetahui bagaimana kerasnya kehidupan. Bahkan mungkin, membuat mental mereka menjadi sedikit tertekan.
Begitu pula dengan Nisa. Terkadang, gadis kecil itu juga merasa iri kepada teman-temannya yang lain karena bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Bahkan, terkadang juga Nisa sering menangis sendirian karena berharap, agar ayahnya bisa sedikit saja mencurahkan kasih sayangnya kepada Nisa. Namun, harapan hanyalah sebuah harapan yang hanya bisa Nisa pendam sendirian.
Tapi, di balik itu, Nisa juga bersyukur karena masih bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Karena Nisa yakin, dibalik kesedihannya, di balik masalah yang di hadapinya, masih banyak orang yang juga merasakan apa yang Nisa rasakan. Bahkan mungkin lebih menderita dari pada Nisa.
Contohnya Vanya, gadis kecil yang sekarang menjadi teman dekat Nisa. Gadis kecil yang memiliki nasib lebih buruk dari pada Nisa. Gadis kecil yang sengaja Nisa pancing agar menceritakan segala kesedihannya.
Nisa tidak bermaksud ingin mengetahui tentang kehidupan pribadi Vanya. Hanya saja, setelah melihat raut sedih Vanya, Nisa tau jika Vanya juga mengemban kesedihan yang sangat berat. Karena Nisa pun juga merasakannya, dan Nisa juga tau bagaimana rasanya memendam kesedihan itu sendirian.
__ADS_1
Oleh sebab itu, Nisa berusaha agar Vanya melepaskan bebannya. Begitu pula dengan Nisa, dia tidak takut untuk menceritakan segala keluh kesahnya kepada Vanya. Karena Nisa yakin, entah untuk saat ini, ataupun suatu saat nanti, Nisa dan Vanya akan menjadi teman dekat.
Hingga ketika Vanya menceritakan kesedihannya, membuat Nisa menjadi lebih sering bersyukur. Nisa bersyukur karena meskipun ayahnya tidak pernah memberikan kasih sayang, setidaknya ayahnya tidak pernah menganggap Nisa sebagai anak pembawa sial. Nisa sungguh tidak bisa membayangkan, akan seperti apa rasanya jika ayahnya sampai tega mengatakan hal itu kepada Nisa.
Sampai akhirnya Vanya membuyarkan lamunan Nisa dengan menyentil hidung temannya itu.
"Awwwwww... Sakit Iv.." pekik Nisa seraya mengusap hidungnya.
Ya, jika Nisa merasa sedikit kesal dengan Vanya, dia akan memanggil temannya itu dengan nama awalannya.
"Lagian juga kamu tuh ya, di deket papahku ga sampe 1 jam aja langsung ketularan jadi tukang ngelamun" ucap Vanya dengan sedikit bersungut-sungut.
"Hehe.. Ya maap.. Abisnya liat muka kamu yang sekarang tu ya, aku jadi keinget waktu kamu pertama kali masuk sekolah"
Vanya sedikit memicingkan matanya lalu berkata "Hah.. Emangnya muka aku kaya gimana?"
"Kaya gini nih.." ucap Nisa lalu menirukan wajah Vanya yang sangat datar.
"Dih, mana ada aku kaya gitu" ucap Vanya.
Nisa menunjukkan buku gambarnya yang kosong
"Suram, ga ada warnanya.." sambung Nisa lalu tertawa terbahak-bahak.
"Lah kamu, waktu pertama kali ketemu sama aku, mukanya kaya ondel-ondel" balas Vanya lalu ikut tertawa.
"Lagian nih ya, ga ada anak kelas 5 SD yang dandan kaya kamu" sambung Vanya dengan sedikit tersendat-sendat karena menahan tawa.
Nisa yang mendengar itu pun semakin di buat tertawa terbahak-bahak, bahkan saat ini air matanya sedikit mengalir karena terus tertawa.
"Haha, iyaa... Waktu itu aku abis ikut lomba nari jaipong. Aku aja ketawa liat muka ku sendiri" ucap Nisa seraya menghapus air matanya.
"Udah ah, perut ku sakit" ucap Vanya seraya memegang perutnya.
Setelah melerai tawanya, Vanya tiba-tiba memeluk Nisa dengan sangat erat.
__ADS_1
"Eeeeh..."
Nisa yang tidak siap dengan pelukan Vanya pun seketika berjengkit karena kaget. Tapi beruntungnya dia, Vanya memiliki postur tubuh yang lebih kecil darinya hingga tidak membuatnya terjengkang ke belakang. Namun saat dia hendak melayangkan protesannya, dia kembali menelan kalimatnya ketika mendengar isakan kecil yang keluar dari bibir Vanya.
Nisa pun akhirnya diam, dia lebih memilih untuk membalas pelukan Vanya lalu menepuk-nepuk punggung temannya itu dengan lembut.
Puas menangis di dalam pelukan Nisa, gadis kecil itu segera melepaskan pelukannya.
"Maaf ya Nis, baju kamu jadi basah" Vanya berkata dengan suaranya yang parau seraya menghapus air matanya yang masih sedikit mengalir..
Alih-alih menanggapi perkataan Vanya, Nisa justru melontarkan pertanyaan untik temannya itu.
"Dih, kok udahan sih kamu nangisnya?"
"Emangnya kenapa?"
"Soalnya kamu keliatan lebih cantik kalo lagi nangis"
Vanya pun seketika terkekeh karena tanggapan Nisa yang selalu berbeda dari kebanyakan orang yang menghiburnya.
Gadis kecil itu kembali memgeluarkan air matanya.
"Loh loh, mentang-mentang di bilang cantik kalo lagi nangis. Eh, malah di ulangin lagi" ucap Nisa lalu kembali memeluk Vanya.
Itulah yang di sukai Vanya dari Nisa, temannya itu tidak akan berusaha menenangkannya dengan ucapan penyemangat. Nisa akan lebih memilih menghiburnya dengan ucapan-ucapannya yang menyebalkan.
Karena pada dasarnya, Vanya juga sedikit lelah jika harus selalu mendengar perkataan yang menyemangatinya untuk bersabar agar semuanya baik-baik saja. Karena sejatinya, tanpa harus di semangati pun Vanya pasti akan selalu berusaha untuk bersabar.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..