Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Pulang Malam Ini Juga!!!


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelumnya...


Mereka yang sudah melihat kondisi Haidar pun kini menatap Wulan dengan sangat sinis.


*****


Irwan yang melihat Wulan mendapatkan tatapan seperti itu lantas menghadapkan Wulan ke arahnya, pria itu meremat kedua bahu Wulan dengan sedikit keras.


"Bener apa yang di omongin Vanya?" Irwan mencoba untuk menyangkal apa yang sedang terjadi.


"Tcih.." Vanya menampilkan senyum sinisnya. "Selama ini kalian ketipu sama sikap lemah lembutnya!! Kalian harus tau kalo selama ini dia nutupin sikap jalangnya dengan sikap lemah lembutnya.. Gua udah ga peduli lagi sama acara ini, gua bakalan bawa Haidar balik malem ini juga!!"


Vanya kemudian segera untuk masuk ke dalam kamar.


Tidak ingin ada keributan lebih jauh, Irwan lantas memutuskan untuk segera membawa Wulan untuk pergi dari sana.


Mereka yang ada di sana pun hanya bisa terdiam tanpa ada niat untuk berkata apa pun. Mereka hanya melihat apa yang di lakukan oleh Vanya.


Tapi, ada juga sebagian dari mereka yang memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing. Terlebih mereka yang tidak termasuk dengan rombonhan Vanya. Mereka memutuskan untuk kembali ke kamar mereka masing-masing karena mereka tidak mengenal Vanya atau pun Haidar.


Setelah Vanya naik ke atas kasur, gadis itu duduk di samping Haidar kemudian menepuk-nepuk pipi Haidar dengan sedikit keras.


"Daaar... Bangun dar.." Vanya berkata dengan suara yang sedikit bergetar.


Karena entah kenapa, setelah melihat wajah Haidar yang terlihat sangat tidak berdaya, seketika membuat hati Vanya terasa sedikit sakit.


"Daaar.. Bangun yukk..." Vanya terus menepuk-nepuk pipi Haidar.


"Haidaaar... Banguuuun..."


"Haidar Jarvis Oktavio!! Banguuuun!!!"


Vanya kini memukul dada Haidar dengan cukup keras, gadis itu merasa sedikit frustasi karena Haidar tak kunjung membuka matanya.


Namun, apa yang di kalukannya itu berhasil membuat Haidar mengerjapkan matanya.


"Sssssh..." Haidar berdesis seraya memegang kepalanya yang terasa sedikit berdenyut. "Ada apa?" Pria itu bertanya dengan mata yang masih mengerjap.


"Banguuuun.. Ayok pulang.." Vanya berkata dengan suara yang semakin bergetar.

__ADS_1


Haidar memejamkan matanya sejenak, pria itu menoleh pada Vanya. Melihat mata Vanya yang berkaca-kaca, seketika membuat kesadaran Haidar terkumpul saat itu juga.


Haidar lantas beringsut untuk duduk dengan gerakan cepat. Pria itu menatap Vanya dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Kedua tangan Haidar terangkat untuk menangkup kedua belah pipi Vanya. "Hey, hey, hey.. Sayang, lu kenapa?"


Mereka yang mendengar kata sayang yang terucap dari bibir Haidar pun kini mengerti, kenapa Vanya bisa se marah itu ketika Wulan berniat melakukan hal buruk kepada Haidar.


Karena yang mereka ketahui, Vanya dan Haidar hanyalah seorang teman. Tapi sekarang, setelah mereka mengetahui hubungan Vanya dan Haidar. Mereka pun memaklumi kemarahan yang Vanya tunjukkan atas apa yang di lakukan oleh Wulan.


Karena mereka juga pasti akan marah se marah-marahnya jika mereka sedang berada di posisi Vanya. Karena ya, jika Vanya dan Haidar hanyalah sekedar berteman, akan sangat aneh jika Vanya se marah itu kepada Wulan.


Tapi satu hal yang membuat mereka terkejut. Mereka terkejut akan sikap, tatapan mata dan nada bicara Haidar yang terdengar sangat lembut. Karena dari apa yang mereka ketahui, Haidar merukapan pria dingin dan irit berbicara.


Sekali pun Haidar berbicara, pria itu hanya akan mengeluarkan suara dinginnya, seakan terlalu malas untuk menganggapi lawan bicaranya. Para gadis yang ada di sana pun merasa sedikit iri kepada Vanya. Karena pria yang menjadi incaran banyak gadis itu hanya menampilkan sisi lembutnya itu hanya kepada Vanya seorang.


Namun, Haidar tidak sadar jika kini ada beberapa pasang mata yang tengah menatap ke arah mereka.


"Sayang, lu kenapa?" Haidar kembali bertanya dengan nada suara yang terdengar semakin di penuhi kekhawatiran.


Alih-alih menjawab, Vanya hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Ayok pulang.. Sekarang.." Gadis itu berkata dengan suara yang sedikit tertahan.


Air mata kini mulai menetes membasahi pipi Vanya.


"Iya ayok pulang sekarang, tapi elu kenapa? Hmmm??" Haidar menghapus air mata Vanya menggunakan ibu jarinya.


Namun, Vanya kembali menggelengkan kepalanya. "Pulaaang.." Suara gadis itu kini terdengar sedikit serak karena menahan tangis.


"Iya udah iya sayang, ayok pulang sekarang.." Haidar pun akhirnya menyerah untuk terus bertanya, dia akan menanyakan hal itu nanti ketika Vanya sudah merasa tenang.


Haidar lantas berniat untuk beranjak dari kasur. Namun, saat Haidar menoleh ke arah pintu, pria itu sedikit terkejut karena ada beberpa orang yang tengah menatap ke arahnya.


"Loh, ada apa ini? Kok rame-rame?" Haidar bertanya dengan di penuhi rasa kebingungan.


Namun, mereka yang ada di sana tidak menanggapi Haidar. Mereka memutuskan untuk membubarkan diri, kembali ke kamar mereka masing-masing.


Haidar yang benar-benar merasa bingung pun kembali menatap Vanya.


"Ini ada apa sebernya?"


"Ayok ih pulang aja.." Vanya kini merengek kecil.


"Ok, ok.. Kita pulang.."


Haidar lantas beranjak dari kasur kemudian segera mengemasi barang-barangnya ke dalam tas. Setelah memastikan tidak ada barang-barangnya yang tertinggal, Haidar pun memakai sepatunya kemudian menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja.

__ADS_1


Karena ya, beruntungnya, mereka melakukan rekreasi tidak menggunakan kendaraan umum. Tapi, tidak semua orang membawa mobil pribadi, hanya ada 7 orang yang membawa mobil. Sisanya, mereka menumpang pada orang yang membawa mobil


Karena jika masing-masing dari mereka membawa kendaraan pribadi, maka akan tidak terlalu efficient. Jadi ada sebagian dari mereka yang memilih untuk menumpang.


Mereka memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi karena lebih mudah jika mereka mengalami suatu hal, termasuk apa yang tengah di alami Vanya dan Haidar saat ini.


Haidar lalu mengulurkan tangannya kanannya pada Vanya, membantu gadis itu untuk beranjak dari kasur. Sedangkan tangan kirinya sudah membawa tas berisi barang-barangnya.


Vanya pun menggenggam tangan Haidar kemudian beranjak dari kasur. Mereka lantas segera turun ke bawah menuju kamar Vanya.


Gadis itu segera mengemasi barang-barangnya, dengan Haidar yang menunggu di luar kamar.


"Lu mau balik beneran Va?" Tanya Falen, teman 1 kamar Vanya.


Vanya pun hanya menanggapinya dengan menganggukkan kepala.


Falen menghela nafasnya sejenak. "Ya udah kalo gitu.."


Falen beranjak dari kasurnya kemudian membantu Vanya untuk mengemasi barang-barangnya.


Vanya pun hanya menerima bantuan dari Falen tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Setelah semua barang-barang milik Vanya berhasil di kemas, Vanya pun segera mengganti keluar dari kamar itu.


"Hati-hati ya.." Ucap Falen.


Vanya menghentikan langkahnya kemudian menatap Falen, gadis itu menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya benar-benar berlalu pergi dari sana.


"Udah?" Tanya Haidar.


Vanya menganggukkan kepalanya.


Haidar lantas menggandeng tangan kiri Vanya, mereka pun akhirnya pulang saat itu juga.


Dengan Haidar yang menekan rasa penasarannya akan hal apa yang sebenarnya sudah di alami oleh Vanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2