Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Masih Bisa Selamat


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Fyuuuuhh.."


Vino menghembuskan nafas untuk yang ke sekian kalinya.


Jam makan siang sudah berlalu sejak 10 menit yang lalu, dan dia belum juga melihat Vanya menunjukkan batang hidungnya.


Tidak, bukan karena dia merindukan gadis itu. Ah, meskipun tidak bisa di pungkiri kalau Vino memang sedikit merindukan gadis itu. Namun Vino lebih mengkhawatirkan makan siang gadis itu.


Terlebih lagi, Vino tau kalau gadis itu memiliki riwayat penyakit lambung, benar-benar membuat Vino merasa khawatir.


Masih baik kalau pagi tadi dia mengajaknya untuk sarapan terlebih dahulu. Karena biasanya, jika Vino menjemput Vanya untuk berangkat kerja, Vino akan mengajak Vanya untuk sarapan terlebih dahulu. Pria itu selalu memastikan kalau perut Vanya terisi dengan benar.


Tapi tidak dengan pagi ini, Vino sedikit kesiangan menjemput Vanya sehingga tidak sempat mengajak gadis itu untuk sarapan.


Salahkan saja Vino yang tiba-tiba saja lupa meletakkan kunci mobilnya.


Tak tahan dengan rasa khawatirnya, Vino pun menghampiri Lidia.


Pria itu mengetuk meja kerja Lidia dua kali.


Lidia mendongakkan kepalanya untuk menatap pria itu. "Ya kak, ada apa?"


Lidia sedikit heran, tumben sekali pria dingin itu mengajaknya untuk berbicara.


"Vanya mana?" Vino mengabaikan raut wajah heran yang di tunjukkan Lidia.


"Ooh.. Vanya di ruangannya pak Ridwan. Ga tau deh ngapain."


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Vino kembali ke meja kerjanya sendiri. Meninggalkan Lidia yang berdecak sebal.


"Ck! Bilang makasih atau apa kek gitu! Bisa-bisanya si Vanya tahan sama cowok yang kakunya ngelebihin kanebo kering." Gadis itu mendumal seraya kembali mengerjakan pekerjaannya.


Sedangkan Vino, pria itu berlalu pergi dari sana dengan membawa beberapa berkas.


Pria itu berniat melihat keadaan Vanya seraya hendak menyerahkan beberapa berkas yang sebelumnya memang di minta oleh pak Ridwan.


Ya meskipun sejatinya Vino hanya berniat untuk melihat keadaan Vanya, tapi setidaknya dia memiliki alasan kenapa harus memasuki ruangan pak Ridwan.


"Tok, tok, tok.."

__ADS_1


Vino mengetuk ruang kerja pak Ridwan.


1 detik, 2 detik..


Tidak mendapatkan sahutan apa pun, Vino kembali mengetuk pintu ruang kerja pak Ridwan.


Masih tidak mendapatkan jawaban, Vino memutuskan untuk membuka pintu ruangan itu.


Vino mengernyitkan dahinya karena pintu ruangan itu terkunci.


Mungkin kah mereka pergi bertemu dengan client? Tapi, kenapa pak Ridwan harus mengunci pintu ruangannya? Bukannya meskipun pak Ridwan pergi bertemu client bersama dengan Vanya, dia akan membiarkan ruangannya tidak terkunci?


Berbagai pertanyaan muncul di dalam benak Vino.


Ah sudahlah, mungkin mereka memang benar-benar pergi untuk bertemu dengan client.


Vino pun memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu.


Namun, ketika dirinya melewati jendela ruang kerja pak Ridwan, dirinya sekelebat melihat bayangan seseorang yang ada di dalam ruangan itu dari celah korden yang sedikit tersingkap.


Apa kah dirinya salah melihat?


Vino lantas mengintip ruangan kerja pak Ridwan dari celah korden yang sedikit tersingkap itu.


Betapa terkejutnya dia setelah melihat apa yang terjadi di dalam sana.


Giginya bergemelutuk membuat garis rahangnya tergaris sempurna, bahkan hingga membuat urat lehernya tercetak dengan sangat jelas.


"Hassshh!!!"


Pria itu menggedor-gedor pintu ruang kerja pak Ridwan dengan sangat brutal.


Tak puas dengan itu, Vino berusaha membuka pintu ruang kerja pak Ridwan. Dia mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga. Vino tidak peduli jika saja pintu kaca itu akan pecah akibat aksinya. Vino kini lebih memperdulikan keselamatan Vanya.


Sontak, keributan itu mengundang atensi para karyawan yang ada.


Mereka semua keluar dari ruangan mereka masing-masing untuk melihat apa yang tengah Vino lakukan.


"Apa ini? Ada apa Vin?" Irwan mendekati Vino yang masih berusaha membuka pintu ruang kerja pak Ridwan.


Irwan berusaha menghentikan aksi Vino yang menurutnya sedikit di luar kendali.


Namun, Vino tidak menghiraukan Irwan. Dia mendorong Irwan untuk menjauh darinya, Vino kembali berusaha mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga.


Hingga ketika pintu itu terbuka, betapa terkejutnya semua orang melihat apa yang tengah terjadi di dalam sana.

__ADS_1


Pak Ridwan kini jatuh terduduk dengan penampilan yang sangat acak-acakan. Bekas cakaran di wajah, bahu dan dada pak Ridwan tercetak dengan sangat jelas.


Pria itu sebelumnya berusaha menahan pintu yang di buka paksa oleh Vino. Namun, karena tenaganya kalah kuat di bandingkan tenaga Vino, pria itu pun terdorong ke belakang setelah pintu itu berhasil terbuka.


Atensi mereka kini teralihkan pada Vanya yang berusaha menutupi tubuhnya yang sedikit terekspos akibat bajunya yang sudah robek di beberapa bagian. Gadis itu terisak pilu dengan kepala yang menunduk dalam.


Tak kuasa lagi menahan amarahnya, Vino segera mendekati pak Ridwan. Dia mencengkram kerah baju pak Ridwan dengan penuh emosi, urat-urat di kedua tangannya benar-benar menonjol dengan sangat apik, pukulan demi pukulan dia layangkan pada wajah pak Ridwan.


Pak Ridwan yang tidak sempat menghindar pun hanya bisa pasrah menerima setiap pukulan yang di layangkan oleh Vino. Wajah pria itu kini babak belur disertai dengan darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.


Semua orang yang menyaksikan hal itu tidak berani memberikan reaksi apa pun, bahkan hanya untuk sekedar menolong Vanya pun mereka tidak berani melangkahkan kaki karena Vino dan Ridwan berada di ambang pintu.


Sungguh, Vino saat ini seperti seekor singa buas yang tengah mengoyak mangsanya.


"Udah Vin, udah cukup. Liat Vanya, dia lebih butuh pertolongan, biar gua yang ngurus baj*ing*an tengik ini." Irwan menarik Vino yang tidak hentinya memukuli pak Ridwan.


"Cuih!" Vino meludah tepat di wajah pak Ridwan.


Vino menghampiri Vanya seraya melepaskan kemeja yang di pakainya, membuat tubuh bagian atasnya kini toples memperlihatkan otot-otot kekar yang di milikinya.


Tunggu, ini bukan saatnya untuk mengagumi bentuk tubuh Vino yang menjadi idaman setiap kaum hawa.


Vino lantas memakaikan kemejanya pada Vanya. Dia menggendong tubuh Vanya ala bridal dengan sangat mudah seolah tengah menggendong kapas.


Mereka yang ada di sana pun hanya melihat kepergian Vino dan Vanya dalam diam. Mereka tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa.


Ingin rasanya Vino mengeluarkan kata-kata manisnya untuk menenangkan Vanya. Dia benar-benar merasa sakit hati mendengar isakan pilu yang tidak hentinya keluar dari bibir mungil gadis itu.


Tapi apalah daya, semua kata-kata yang tersusun rapi di otaknya tidak dapat dia ucapkan, lidahnya seakan terasa kaku hanya sekedar untuk mengucapkan kata 'Apa kau baik-baik saja?'.


Karena sejatinya, keadaan Vanya tidak lah baik-baik saja.


Pria itu pun hanya memeluk Vanya dalam diam, tangannya tidak berhenti mengelus punggung Vanya dengan lembut. Dia tidak segera melajukan mobilnya, dia akan menunggu hingga Vanya merasa sedikit tenang.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2