
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ada yang ketinggalan ga?" Bagas bertanya seraya memasukkan beberapa barang-barang yang akan di bawanya ke pantai ke dalam bagasi mobil.
"Engga pah" jawab Vanya.
"Terus tante Ayu nya mana?"
"Tuh" ucap Vanya seraya mengedikkan dagunya ke arah belakang Bagas.
"Banyak banget makanan yang kamu bawa, emangnya kalian bisa ngabisinnya?" ucap Bagas saat melihat Ayu yang menghampirinya dengan menenteng beberapa tas berisi makanan.
"Ini tu bungkusnya aja yang gede, isinya mah dikit" Ayu berkata seraya meletakkan tas itu ke dalam mobil.
"Tapi kan perjalanan juga palingan cuma 2 jam, terus kan nanti pasti disana kita jajan lagi" sanggah Bagas.
"Justru itu, 2 jam tu ga sebentar, itu juga kalo ga macet. Kalo macet kan lebih lama, daripada bengong kan mending ngemil. Ya ngga Va" ucap Ayu.
"He em, bener, mending ngemil dari pada bengong. Lagian juga papah kayak ga tau aja kalo camilan itu 70% isinya angin" sahut Vanya.
"Iya-iya.. Susah emang kalo ngelawan dua bidadari, ga akan pernah menang" ucap Bagas pasrah lalu masuk ke dalam mobil.
Dua wanita beda usia itu saling menatap, mereka seketika terkekeh geli lalu melakukan tos tangan dan segera masuk ke dalam mobil.
"Semuanya udah siap kan, kita berangkat sekarang" ucap Bagas.
"Let's gooooooo" sahut Vanya dengan riang.
Bagas tersenyum lalu segera melajukan mobilnya untuk menuju pantai.
Selama di dalam perjalanan, tak ayal Bagas menjadi sasaran empuk kejahilan dua wanita beda usia itu. Namun, hal itu tidak membuatnya jengkel atau pun marah. Justru itu lah yang membuat Bagas merasa bahagia. Dia merasa bersyukur karena meskipun dia tidak merawat Vanya sedari bayi, setidaknya untuk saat ini hingga nanti, dia bisa merawat dan memberikan kebahagiaan untuk Vanya.
Begitu pula dengan kehadiran Ayu. Bagas merasa sangat bersyukur karena wanita itu sudah hadir di dalam hidupnya. Bagas juga merasa sangat bersyukur karena Ayu mau menerima Vanya, bahkan merawat Vanya layaknya merawat anak dia sendiri.
Sungguh, rasanya Bagas seperti tidak lagi menginginkan hal lain selain melihat tawa bahagia dari dua wanita beda usia yang hadir di dalam hidupnya itu.
*****
"Nah kan bener, perjalanannya lebih dari 2 jam" ucap Ayu ketika mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Bagas seketika terkekeh saat melihat Ayu yang sedikit mencebikkan bibirnya.
"Iya sayang iyaaaa.." ucap Bagas lalu segera memarkirkan mobilnya di temoat parkir yang sudah di sediakan.
"Kalian mau es kelapa ga?"
Dua wanita beda usia itu menggelengkan kepala.
"Kalo gitu kalian main aja, kalo udah selesai main nanti kita beli makan" ucap Bagas.
__ADS_1
"Emangnya papah ga ikut main?" tanya Vanya.
"Engga, papah mau ngopi. Nanti papah nungguin kalian di sana" jawab Bagas seraya menunjuk salah satu pohon yang di bawahnya ada sebuah tikar yang memang di sewakan.
"Ok" ucap Vanya dan Ayu serentak lalu segera keluar dari dalam mobil.
"Uwaaaaaaahhhh, pantai" Vanya berkata dengan riang seraya berlari mendekati air laut.
"Vanya hati-hati, nanti kamu jatuh" teriak Ayu lalu berjalan menyusul Vanya.
"Tante siniiii, main air sama Vanya" Vanya membalas teriakan Ayu.
Ayu pun sedikit berlari untuk mengejar Vanya.
Ketika sudah berada di dekat Vanya yang memunggunginya, Ayu dengan sengaja menyipratkan air ke tubuh bagian belakang gadis kecil itu dengan main-main.
Vanya membalikan tubuhnya lalu menatap Ayu dengan sedikit memicingkan matanya
"Waaah.. Tante mainnya curang, nyerangnya dari belakang" ucap Vanya dengan sedikit bersungut-sungut lalu segera membalas perbuatan Ayu.
Tapi Ayu bisa menghindar dengan sangat cepat, hingga air laut itu tidak mengenai tubuh Ayu.
Ayu tertawa saat melihat Vanya yang mencebikkan bibirnya
"Yeeee.. ga kena" ucap Ayu lalu berlari menjauhi Vanya.
"Ish, tante curang, sini Vanya bales" teriak Vanya lalu mengejar Ayu yang terus saja berlari kecil untuk menghindarinya.
"Tante, udahan yuk, panas banget" Vanya berkata setelah melerai tawanya.
"Yaudah yuk, tante juga capek" ucap Ayu lalu menggandeng tangan Vanya, mereka menghampiri Bagas yang sedang menunggu mereka seraya menghisap sebatang rokok.
"Kalian udahan mainan airnya? Kok sebentar banget" Bagas bertanya ketika Ayu dan Vanya sudah mendudukan diri di atas tikar.
"Udah, soalnya panas banget" jawab Vanya.
"Pasti panas, ini udah siang banget. Tuh, matahari aja udah pas banget ada di atas" ucap Bagas.
"Salahin kamu tuh yang bangunnya kesiangan, jadi kita juga dateng kesininya pas udah siang" Ayu menyahut dengan cepat.
"He em, janjinya berangkat jam 5, eh jadinya malah berangkat jam 7" ucap Vanya.
"Ya namanya juga orang ngantuk" ucap Bagas.
"Papah mah tiap hari juga gitu" ucap Vanya seraya mencebikkan bibirnya.
Bagas hanya bisa terkekeh gemas lalu berkata "udah-udah.. dari pada kalian ngomelin papah, mendingan kalian ganti baju dulu sana. Terus kita cari makan, papah laper"
Ayu dan Vanya mengangguk lalu bergegas untuk membersihkan diri mereka.
Setelahnya, mereka pun segera menuju tempat makan dan membeli ikan bakar sebagai santapan siang mereka.
"Aaah... Terima kasih, Vanya kenyang" ucap Vanya saat makanan di atas piringnya sudah tandas.
__ADS_1
"Yakin udah kenyang? ga mau nambah lagi?" tanya Ayu.
"Engga ah tan, perut Vanya udah buncit banget" jawab Vanya seraya menepuk-nepuk perutnya lalu terkekeh geli.
"Yaudah kalo gitu, papah bayar makanannya dulu" ucap Bagas lalu segera beranjak menuju kasir.
Setelah membayar makana mereka , Bagas kembali menghampiri Vanya dan Ayu lalu bertanya "masih mau kemana lagi?"
"Duduk di sana aja gimana?" tanya Ayu seraya menunjuk salah satu kursi yang terletak di bawah pohon.
"Boleh, yok.." ucap Bagas.
Mereka pun segera menuju tempat yang tadi di tunjuk oleh Ayu.
Setelah mereka duduk di sana, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Mereka asik memandangi langit sore seraya menikmati semilir angin yang terasa sejuk.
Hingga Ayu membuka suaranya
"Vanya, tante ngomong serius ke kamu boleh?"
"Boleh, emang tante mau ngomong apa?"
Ayu merubah posisinya agar berhadapan dengan Vanya, lalu menggenggam tangan Vanya dengan lembut.
"Kalo misalnya tante pengen jadi mamahnya Vanya gimana? Vanya mau ga punya mamah kaya tante?"
"Tante mau nikah sama papah?" Vanya bertanya setelah menatap Ayu sejenak.
Ayu menganggukkan kepalanya lalu berkata "iya, kalo Vanya ngebolehin terus juga kalo Vanya mau punya mamah kaya tante. Rencananya tante sama papah kamu bulan depan mau nikah. Gimana?"
Vanya tidak langsung memberikan tanggapan untuk perkataan Ayu, gadis kecil itu sekilas melirik Bagas yang tengah menatapnya, lalu kembali menatap Ayu.
Sejujurnya, Vanya masih ragu akan kehadiran Ayu di dalam hidupnya. Tapi, saat melihat Bagas yang sangat berharap kepadanya, membuat Vanya menjadi tidak tega. Karena jika dia menolak, itu akan membuatnya menjadi sangat egois. Tapi, Vanya juga bimbang atas hatinya sendiri, haruskah Vanya mulai menerima kehadiran Ayu?
Bagas dan Ayu seketika tersenyum bahagia ketika melihat Vanya yang menganggukkan kepalanya.
Ayu lantas menarik Vanya ke dalam pelukannya lalu berkata "Makasih banget ya sayang.. Tante ga bisa janji buat jadi mamah yang baik, tapi tante bakalan berusaha buat jadi mamah yang bisa selalu kamu andalkan. Tante sayang banget sama kamu.."
Vanya pun hanya bisa menganggukkan kepalanya lalu membalas pelukan Ayu.
Karena pada akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, Vanya tetap harus menyetujuinya. Dia tidak mau menjadi anak egois yang menghalangi kebahagiaan Bagas.
Dan ya, lagi dan lagi.. Vanya hanya bisa berharap agar semuanya baik-baik saja..
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1