
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Hmmm.. Ngobrolin apa ya?"
Winda berpikir untuk sejenak, sampai tiba-tiba matanya melirik ke arah buku yang sebelumnya di baca oleh Vanya.
"Itu tuh.." Winda mengedikkan dagunya ke arah buku itu.
Vanya menaikkan sebelah alisnya kemudian melirik ke arah buku sejarah tentang Vatikan itu.
"Ini?" Vanya bertanya kemudian seraya mengangkat buku itu.
"He, em.." Winda menganggukkan kepalanya.
"Emang apa yang mau di obrolin tentang buku ini?"
"Kenapa kakak suka banget baca buku sejarah tentang Vatikan itu? Perasan nih ya.. Setiap kali kita belajar di sini, kakak pasti aja selalu baca buku yang ada sangkut pautnya sama negara Vatikan. Emang apa sih yang menarik dari negara itu?"
Mendengar apa yang di katakan Winda, seketika saja membuat Vanya menyunggingkan senyum simpulnya. Dia sedikit tidak menyangka kalau selama ini Winda selalu memperhatikannya.
"Hmm.." Vanya lantas menghela nafasnya untuk sejenak. "Kenapa ya.. Ga ada alesan khusus sih sebenernya. Cuma ya, emang dasarnya kakak tertarik aja sih sama negara Vatikan. Jadinya ya, kakak selalu baca buku yang ada sangkut pautnya sama negara itu."
"Ooohh.." Winda mengangguk-anggukkan. "Terus, suatu saat, kakak ada rencana buat berkunjung ke negara itu ga?"
Vanya tiba-tiba saja terkekeh kecil, "Kakak ga mikir sampe sejauh itu.. Tapi ya, kalo misalkan suatu saat nanti kakak punya rejeki lebih, ya kakak sih mau-mau aja buat kesana. Mau banget malah.."
"Emangnya kakak se tertarik itu ya sama negara itu?"
"He, em.." Vanya menganggukkan kepalanya.
"Bentar deh kak, besok kan hari minggu. Kalo kakak emang tertarik sama negara Vatikan, kakak mau ga aku ajak ke museum galeri punya nya Om aku?"
Vanya sedikit mengernyitkan dahinya karena tidak pernah tau kalau di kota ini ada museum galeri tentang negara itu.
"Museum galeri?" Vanya bertanya dengan sedikit bingung.
"He, em.." Winda menganggukkan kepalanya. "Di sana banyak banget hal tentang negara Vatikan. Itu museum pribadi Om aku, namanya Om Heru."
"Ooohh.. Museum pribadi.. Pantes aja kakak ga pernah tau.."
Winda lantas mengeluarkan ponsel yang sebelumnya sudah dia masukkan ke dalam tas. Gadis itu membuka sosial media milik om yang di sebutkannya itu.
"Nih.. Kakak liat deh, itu museum yang aku maksud."
Winda menyerahkan ponselnya kepada Vanya.
Vanya pun menerima ponsel milik Winda kemudian menggulirkan setiap foto yang di unggah di akun sosial media milik om nya itu.
__ADS_1
Melihat banyaknya hal yang ada di museum itu, seketika saja membuat Vanya merasa tertarik untuk mengunjungi tempat itu.
Vanya lantas menatap Winda dengan mata yang sedikit berbinar.
"Emang boleh dateng kesana?" Vanya bertanya seraya menyerahkan kembali ponsel itu kepada Winda.
"Boleh-boleh aja.. Kan aku yang ngajak kakak.. Jadi ya, ga mungkin dong Om Heru ga ngasih ijin.."
"Beneran ga papa?"
"Iya kak, ga papa.." Winda mengembangkan senyum kecilnya. "Anggap aja itu sebagai hadiah dari aku karena kakak selama ini udah ngajarin aku sampe aku ngerti."
Mendengar hal itu, lantas membuat Vanya mengembangkan senyumnya.
"Boleh deh.." Ucap Vanya kemudian.
"Okay.. Besok ya.." Sahut Winda senang.
Vanya menganggukkan kepalanya. "Mau jam berapa?"
Saat Winda hendak menjawab, gadis itu harus menelan kembali kalimatnya tat kala mendapat satu panggilan.
"Bentar kak.." Gadis itu berkata kemudian mengangkat panggilan yang di terimanya.
"Okay.." Ucap Winda pada sang penelpon kemudian mematikan sambungan.
Setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, Winda lantas menatap Vanya kemudian berkata. "Kak, papahku udah di depan.. Besok, kakak aku jemput jam 5 sore, soalnya aku ada janji sama temen-temenku dulu.. Ga papa kan?"
Vanya menganggukkan kepalanya.
Vanya pun tersenyum kemudian membalas lambaian tangan Winda.
Gadis itu tidak sabar menunggu esok hari akan tiba, hari di mana dia akan mengunjungi museum galeri yang berisi tentang negara Vatikan yang menjadi ketertarikannya. Tanpa dia ketahui, kalau ada niat terselubung yang akan di lakukan Winda dalam ajakanya itu.
.....
Haidar yang kini tengah mengemudi lantas melirik sekilas pada Vanya yang duduk kursi penumpang yang ada di sampingnya.
"Capek ga?" Tanya Haidar kemudian.
"Engga sih.." Sahut Vanya cepat. "Kenapa emangnya?"
"Mau jalan dulu ga? Malem mingguan gitu.."
Mendengar hal itu, lantas membuat Vanya menoleh pada Haidar.
"Tumben malem mingguannya ngajak jalan.." Gadis itu berkata dengan sebelas alisnya yang naik.
Kalian harus tau, selama mereka berpacaran, ini adalah kali pertama Haidar mengajaknya keluar di malam minggu. Karena biasanya, mereka hanya akan menghabiskan malam minggu mereka dengan menonton film di apartemen milik Haidar.
Atau kalau tidak, karena Vanya telah mengunjungi rumah Andi. Mereka akan menghabiskan malam minggu mereka dengan berkunjung ke rumah Andi.
__ADS_1
Jadi, ketika saat ini Haidar mengajaknya jalan-jalan di hari minggu, Vanya pun merasa sedikit terkejut.
Bukannya Vanya tidak senang atau pun berniat untuk menolak. Hanya saja, Vanya merasa sedikit heran, ada angin apa hingga pria itu mengajaknya menghabiskan malam minggu mereka dengan berjalan-jalan.
Setelah hening untuk beberapa saat, Haidar pun berkata.
"Ya ga papa sih.. Pengen ganti suasana aja.. Biar sama gitu kayak anak muda yang lainnya.."
Pria itu mengakhiri kalimatnya dengan mengusap tengkuknya canggung.
Melihat hal itu, lantas membuat Vanya tiba-tiba saja terkekeh geli.
Haidar yang mendengar kekehan Vanya pun menoleh pad gadis itu dengan wajah yang sedikit di tekuk, dia bisa menoleh pada Vanya karena kebetulan mereka tengah berhenti di lampu merah.
Menyadari ekspresi Haidar, seketika saja membuat Vanya menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa?" Gadis itu bertanya seraya mengulum senyumnya.
Karena sungguh, melihat wajah Haidar yang di tekuk, benar-benar membuat Vanya merasa gemas sendiri.
Setelah menghela nafasnya, Haidar pun kembali mengalihkan pandangannya pada jalanan.
"Emang aneh ya kalo gua ngajak jalan di malem minggu?"
"Engga aneh sih.." Sahut Vanya cepat. "Cuma ya, tumben aja gitu.."
"Yaudah si.. Pada intinya mau apa engga?"
Vanya mengembangkan senyum kecilnya. "Ya mau lah.. Emang mau jalan kemana?"
Haidar lantas berpikir untuk sejenak.
"Alun-alun?" Tanya pria itu kemudian.
"Hmmmm.. Boleh.. Beli jagung bakar ya?" Vanya menampilkan senyum lebarnya.
"Siaaap.." Haidar membalas senyuman Vanya. "Mau di beli se abang-abangnya yang jualan juga boleh kok."
Mendengar hal itu, lantas membuat Vanya kembali terkekeh geli.
Yang mana, hal itu membuat tangan kiri Haidar terangkat untuk mengusak gemas kelala Vanya sebelum akhirnya dia kembali melajukan mobilnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..