Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Alasan


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tanpa ada sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya, Vanya beranjak dari kasur. Dia hendak berlalu pergi dari sana.


Namun, Haidar dengan sigap segera menahan Vanya.


"Tunggu Va."


Haidar menggenggam tangan Vanya dengan erat.


"Lepas ga?!"


Vanya menatap Haidar dengan sangat nyalang.


"Jangan pergi dulu, gua mohon.."


"Oohh.. Gua lupa, lu udah nge beli gua. Apa gua harus ngelepas baju gua sekarang? Apa gua harus ngelayanin lu sekarang?"


Vanya menarik tangannya dari genggaman Haidar, gadis itu hendak membuka pakaiannya.


"Engga gitu Va.." Haidar menghentikan niat Vanya. "Bukan gitu maksud gua."


"Terus gimana? Bukannya seharusnya gua ngelayanin elu?"


"Vaa.."


Haidar menatap Vanya dengan tatapan memelas.


"Apa? Kenapa Dar? Ha? Kenapa?"


"Kenapa lu ngelakuin ini ke gua??"


"Kenapa?"


"Salah gua apa Dar??"


Habis sudah ketahanan Vanya. Air mata yang sedari tadi dia tahan, kini luruh juga. Buliran bening itu perlahan mulai membasahi pipinya.


"Lu sadar ga sih, lu tu jahat Dar. Jahat banget.."


Bahkan suaranya kini terdengar sedikit parau akibat menahan isakan pilu yang mungkin saja sebentar lagi akan lolos.


"Maaf."


Hanya sepatah kata singkat itu yang mampu terucap dari mulut Haidar.


Semua kalimat penjelasan yang tersusun rapi di kepalanya tiba-tiba saja buyar setelah melihat air mata Vanya.


"Di sini tu sakit banget Dar." Vanya menunjuk dadanya sendiri.

__ADS_1


"Sakit akibat 3 tahun lalu lu ninggalin gua tanpa ada kabar, tanpa ada penjelasan, tanpa gua tau salah gua apa, itu masih kerasa sampe sekarang."


"Semenjak hari di mana lu ninggalin gua. Ga cuma satu atau dua hari, bahkan sampe sekarang, gua masih sering nanya sama diri gua sendiri. Kesalahan apa yang udah gua lakuin ke elu sampe-sampe lu ninggalin gua gitu aja."


"Dan sekarang, di saat gua udah mulai mau berdamai sama hati gua sendiri. Di saat gua udah mulai bisa ngelupain elu, kenapa lu harus dateng lagi? Kenapa lu harus nunjukkin batang hidung lu?!"


"Dan kenapa lu harus dateng di saat kayak gini?? Kenapa lu harus dateng di saat gua udah mulai kehilangan harapan buat hidup gua sendiri?"


"Apa jangan-jangan ini semua rencana lu?"


Haidar menggelengkan kepalanya. "Engga gitu Va.."


"Terus kenapa??"


"Apa jangan-jangan gua harus mati dulu baru lu mau nunjukkin batang hidung lu ke hadepan gua?"


"Haa??!! Jawab Dar!!"


"Jawaaaab!!"


Haidar tidak tahu harus berkata apa. Yang bisa dia lakukan hanyalah menarik Vanya masuk ke dalam pelukannya.


Meskipun Vanya sempat memberontak, namun akhirnya Vanya hanya bisa pasrah. Dia membiarkan Haidar memeluknya dengan sangat erat. Isakan pilu tidak hentinya keluar dari mulut Vanya.


Kedua tangan Vanya mencengkram baju bagian dada Haidar dengan sangat kuat. Gadis itu mencoba untuk menyalurkan rasa sakit, marah dan kesal yang dia rasakan selama ini.


"Sakit Dar.. Hati gua sakit.."


"Gua tau.. Maaf.. Maafin gua.."


Sakit.. Haidar juga merasakan sakit yang sama.


Sakit karena selama ini telah meninggalkan Vanya begitu saja. Sakit karena selama ini dia harus membiarkan Vanya hidup susah sendirian.


Haidar juga marah pada dirinya sendiri yang tega berbuat jahat pada Vanya.


Tapi, Haidar melakukan itu bukan tanpa alasan.. Haidar melakukan hal itu karena sebuah alasan yang bisa merubah hidupnya dan juga Vanya. Haidar melakukan hal itu karena sebuah alasan yang bisa menyatukan dirinya dan juga Vanya.


Kala itu, 3 tahun yang lalu. Tepat setelah Haidar mengantarkan Vanya pulang. Sang kakek yang merupakan ayah dari mendiang ibunya, tiba-tiba saja di kabarkan tengah terbaring di atas brankar rumah sakit.


Mau tidak mau, hal itu mengharuskan Andai dan Haidar segera berangkat ke Santa Barbara, California di malam itu juga.


Sialnya, saat Haidar berada di parkiran bandara. Ketika dia hendak mengabari Vanya tentang keberangkatannya ke California, ponselnya tiba-tiba saja terjatuh hingga terlindas mobil. Menyebabkan ponselnya mati saat itu juga.


Panik, tentu saja. Bagaimana cara dia mengabari Vanya kalau ponselnya mati. Sedangkan nomor ponsel Vanya saja tersimpan di memori ponselnya, bukan di kartu simnya.


Haidar sempat ingin berbalik arah untuk menemui Vanya. Namun, jadwal keberangkatannya tidak mendukung Haidar untuk melakukan hal itu.


Setibanya di California, Haidar berniat untuk segera mengabari Vanya. Tapi sialnya lagi, ponselnya tiba-tiba saja menghilang.


Haidar sempat merasa frustasi. Namun, karena dia berniat hanya untuk menjenguk kakeknya saja, Haidar pun berusaha bertahan tanpa mengabari Vanya.


Tapi sayangnya, niatnya itu harus berubah saat kakeknya sudah sembuh. Di mana kakeknya memintanya untuk melanjutkan studynya di sana dan melanjutkan perusahaan milik kakeknya.

__ADS_1


Haidar tentu saja menolak hal itu. Alasannya tidak lain dan tidak bukan adalah karena Vanya. Bahkan Haidar sempat berusaha untuk kabur hanya demi kembali ke jogjakarta.


Namun, kakeknya sudah lebih dulu mengikatnya dengan memblokir semua kartu akses miliknya. Passport, Visa, bahkan kartu identitas, semuanya di blokir oleh kakenya.


Tidak, bukan karena kakeknya tidak merestui hubungannya dengan Vanya.


Hanya saja, kakeknya ingin Haidar sukses terlebih dahulu. Kakeknya ingin Haidar menjadi pria yang bisa menghidupi anak orang dengan layak terlebih dahulu.


Akan di beri makan apa anak orang jika kau tidak memiliki hidup yang mapan? Apa kah kau tega membawa anak orang hidup dalam kesusahan? Toh, jika dia memang mencintaimu. Dia pasti akan setia menunggumu.


Sederet kalimat itulah yang di katakan oleh kakeknya yang akhirnya membuat Haidar memutuskan untuk bertahan di California.


Meskipun Haidar memutuskan untuk mengikuti keinginan kakeknya. Haidar tidak serta merta bisa langsung menghubunginVanya.


Banyak perjuangan yang Haidar lewati di sana. Hingga akhirnya, satu setengah tahun yang lalu, Haidar mulai bisa memantau kehidupan Vanya melalui orang-orang suruhannya.


Haidar memang berniat untuk langsung menghubunginVanya. Tapi Haidar tidak melakukan niatnya itu. Haidar terlalu malu untuk melakukannya.


Ah, tidak.. Lebih tepatnya takut. Haidar terlalu takut.. Takut akan segala hal. Tidak hanya soal kemarahan Vanya, tapi juga untuk hal yang lainnya.


Haidar sebenarnya berniat untuk menemui Vanya 7 bulan yang akan datang, sesuai dengan jadwal yang sudah di tentukan.


Tapi, Haidar tidak bisa menundanya akibat hal yang terjadi hari ini.


Haidar membuang jauh-jauh rasa takutnya untuk menemui Vanya. Haidar bahkan tidak lagi peduli jika Vanya akan sangat marah padanya. Karena mau bagaimana pun, Vanya sudah tentu akan marah padanya.


Hanya saja, yang Haidar pedulikan di hari kemarin dan untuk saat ini, hanyalah keselamatan Vanya.


Haidar tidak bisa membayangkan, akan seperti apa jadinya jika Vanya sampai jatuh ke tangan orang lain.


Biarlah Vanya memakinya, atau bahkan mungkin memukulinya. Yang terpenting untuk saat ini, Vanya sudah aman berada di tangannya.


Haidar berjanji pada dirinya sendiri. Setelah ini, Haidar tidak akan pernah melepaskan Vanya untuk yang kedua kalinya.


Haidar tidak peduli kalau perjuangannya kali ini akan lebih sulit di bandingkan dengan saat pertama kali dia berusaha untuk mendapatkan Vanya.


Karena yang jelas, mau sampai kapan pun, dan dalam keadaan seperti apa pun. Bahkan sekali pun Vanya meminta Haidar untuk melepaskannya. Haidar tidak akan pernah melakukan hal itu.


Haidar akan mempertahankan Vanya untuk selalu berada di sisinya. Mau bagaimana pun caranya, sesulit apa pun caranya. Haidar akan berusaha untuk mempertahankan Vanya.


Cukup sudah dia membuat Vanya menderita. Dia tidak akan pernah mengulangi hal itu lagi.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2