
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
3 tahun kemudian..
Vanya dan Nisa kini telah menginjak bangku kelas 11 Sekolah Menengah Kejuruan. Dua gadis remaja itu memutuskan untuk mengambil jurusan Multimedia dan sebentar lagi akan memasuki masa PKL.
Ibarat bunga yang baru saja mekar, dua gadis remaja bak saudara kembar itu kini tumbuh menjadi gadis cantik yang di incar oleh banyak pria. Dua gadis cantik itu kini menjadi dua gadis yang paling di incar di sekolah mereka, hingga tak hanya satu atau dua orang pria yang mencoba untuk mendekati mereka.
Namun, berbeda dengan Nisa yang terkadang menanggapi setiap pria yang mendekatinya. Vanya justru dengan terang-terangan menolak setiap pria yang mendekatinya.
Karena meskipun dua gadis itu bak saudara kembar yang tak terpisahkan, mereka tetap tumbuh menjadi dua gadis yang memiliki sifat yang sangat bertolak belakang.
Lain halnya dengan Nisa yang tumbuh menjadi gadis ceria dan mudah bergaul, Vanya justru tumbuh menjadi gadis pendiam dan sangat introvert.
Tapi, mereka tetap sama seperti remaja pada umumnya yang menikmati masa-masa remaja mereka dengan bermain dan membicarakan pria-pria tampan. Meskipun Vanya hanya sekedar menjadi pendengar yang baik bagi Nisa, tapi setidaknya dia tetap mengenal bagaimana itu pria.
Seperti sekarang ini.. Nisa yang tengah membicarakan seorang pria dengan temannya lewat aplikasi chating pun sekilas melirik Vanya yang kini tengah sibuk mencatat tugas sejarah.
"Va.." ucap Nisa dengan sedikit berbisik karena mereka kini tengah berada di sebuah perpustakaan umum.
"Hmmm.." Vanya menjawab tanpa mengalihkan fokusnya dari buku.
"Lu denger kabar ga??"
"Kabar apa?"
"Katanya bakalan ada murid baru.."
"Apa iya??"
Nisa menganggukan kepalanya. "He em.. Katanya sih datengnya besok.."
"Emang bisa ya pindah pas mau PKL kaya gini?"
"Katanya sih bisa.."
Vanya seketika menaikkan sebelah alisnya lalu menghentikan kegiatan menulisnya sejenak. "Kok lu bisa tau? Emang lu tau dari mana?" tanya gadis itu lalu kembali melanjutkan kegiatan menulisnya.
"Biasalah.. Gosipnya anak-anak kelas B, soalnya katanya sih salah satu anak kelas B ada yang jadi temannya gitu, makanya dia tau.. Tapi ga tau sih tu murid baru masuk kelas mana.."
Vanya lantas meletakkan alat tulisnya lalu menatap Nisa dengan menopang dagunya.
Pict by: Baifern Pimchanok Luevisadpaibul
"Tumben lu peduli sama anak baru.. Pasti cowok yaaa.." ucap Vanya kemudian.
__ADS_1
"Hehe.. Iya.. Katanya sih cakep" sahut Nisa seraya tersenyum lebar.
Pict by : Mintranch
Vanya seketika memutar bola matanya malas. "Heleh.. Elu mah, soal cowok cakep aja semanget.. Kak Bayu aja belum lu gaet, kok ya udah pindah ke cowok lain yang belum tau mukanya kaya gimana"
"Ya emang ga tau sih.. Tapi kan rata-rata cowok yang sekolah di SMK Garuda tu mukanya cakep-cakep Vaaa.."
"Hah?? SMK Garuda??"
Nisa menganggukkan kepalanya.. "Kenapa emangnya?"
"Lu tau namanya ga?"
"Kalo ga salah sih namanya... Bentar-bentar, gua buka WA dulu" ucap Nisa seraya membuka aplikasi chattingnya dengan sedikit terburu-buru.
Vanya yang melihat itu pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalem Nis.. Kalem.."
"Iya-iya.. Kalem ini udah.." ucap Nisa lalu menunjukkan ponselnya pada Vanya. "Naaah.. Ketemu.. Kalo kata si Tiya sih namanya ini nih.. Haidar Jarvis Oktavio"
Vanya sedikit mengerutkan keningnya. "Kek pernah denger, tapi dimana ya...." gadis itu berkata seraya mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan bolpoin. "Coba lu tanya si Tiya, punya fotonya ga dia.."
Nisa lantas segera menanyakan apa yang Vanya minta.. Dan tak butuh waktu lama, Tiya segera memberikan balasan berupa sebuah foto.
"Nih" ucap Nisa kemudian menunjukkan ponselnya pada Vanya.
Nisa seketika menaikkan sebelah alisnya. "Emang lu kenal? Tumben-tumbenan lu kenal cowok.."
"Hemmm.." Vanya menggelengkan kepalanya cepat. "Kenal sih engga, cuma tau aja.. Soalnya dia pernah jadi lawan debat gua pas olimpiade debat Bahasa Inggris taun lalu.."
"Whatt!!! Serius?? Pinter dong dia" Nisa berseru dengan sedikit terkejut..
Yang mana, hal itu mengundang perhatian orang-orang di sekitar mereka, hingga membuat sang penjaga perpustakaan mendekati mereka.
"Shuuuut.. Di perpus ga boleh teriak-teriak..." ucap penjaga perpustakaan itu.
Vanya dan Nisa pun menampilkan cengiran lebar mereka.
"Hehe, iya Bu maap, ga sengaja.." ucap Nisa seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Yaudah, jangan berisik, nanti ganggu yang lain" ucap si penjaga perpus itu kemudian berlalu pergi dari sana.
"Elu sih.. Pake teriak-teriak segala..." ucap Vanya.
Nisa seketika memanyunkan bibirnya. "Ya namanya juga orang kaget..."
"Udah ah, balik yuk.. Bagian gua udah kelar, lu cuma tinggal nyatet bagian-bagian yang gua garis bawahi" Vanya berkata seraya merapikan alat-alat tulisnya.
"Siap Bu Bosss..." ucap Nisa seraya mengangkat tangannya untuk memberi hormat pada Vanya.
__ADS_1
"Husss berisik.. Udah ayok ah, nanti ganggu yang lain.."
"Hehe, yaudah ayok.. Sini gua bawain bukunya" ucap Nisa lalu membawa beberapa buku yang tadi sempat di pinjam Vanya.
Setelah mengembalikan buku-buku itu, Vanya dan Nisa pun memutuskan untuk pulang.
Namun, ketika mereka hendak berpisah, Nisa segera mencekal tangan Vanya. "Va, nginep di rumah gua yuk.. Mamah kangen katanya"
Vanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Tapi kita ke ruko dulu ya, ngambil seragam gua buat besok"
"Ok.. Let's go.." ucap Nisa seraya menarik tangan Vanya untuk masuk ke dalam mobilnya..
Ya, satu tahun yang lalu, tepat saat mereka akan memasuki ajaran baru kelas 10 Sekolah Menengah Kejuruan, Vanya memutuskan untuk berpisah dengan Rima dan Nisa.
Awalnya, Vanya berniat mencari kamar sewa dan mencari uang dengan mencari pekerjaan paruh waktu. Tapi, Rima jelas menentang keras keinginan gadis yang kini sudah menjadi bagian dari keluarganya itu.
Namun, setelah melewati perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Rima mengijinkan Vanya untuk hidup terpisah darinya. Tapi, Rima tentu tidak melepaskan Vanya dengan begitu saja. Rima melepaskan Vanya dengan memberikan gadis itu tanggung jawab penuh untuk mengurus salah satu cabang laundrynya yang letaknya tepat berada di titik tengah antara sekolah dan rumah Rima.
Dengan begitu, Rima bisa memastikan jika Vanya mendapatkan tempat tinggal yang layak dan mendapatkan uang yang cukup untuk kebutuhan hidup sehari-harinya, juga untuk membeli kebutuhan perlengkapan sekolahnya.
Beruntungnya, berkat kepintaran yang di miliki Vanya, gadis itu mampu mendapatkan beasiswa penuh untuk bersekolah di SMK Pelita Jaya. Sehingga gadis itu tidak perlu memikirkan tentang biaya sekolahnya yang sangat mahal.
Dan berkat beasiswa yang di dapatkan Vanya. Gadis itu bisa sedikit tenang dalam menjalani hari-harinya yang di isi dengan sekolah, belajar, dan mengurus salah satu cabang usaha laundry milik Rima. Gadis itu juga bisa mengisi hari minggunya dengan mengistirahatkan tubuh dan pikirannya selama satu hari penuh.
Tak jarang, dia juga mengisi hari liburnya itu dengan bermain bersama Nisa.
Dan ya.. Begitulah kehidupan Vanya setelah menginjak bangku kelas 10 Sekolah Menengah Kejuruan hingga sekarang.
Namun, ada satu hal yang hingga saat ini tidak di ketahui Nisa dan Rima.. Setelah mengalami kejadian halusinasi di dalam gudang, Vanya hingga saat ini selalu mengalami mimpi buruk yang sama di setiap harinya.
Yaitu bermimpi tentang halusinasi itu sendiri..
Yang mana, hal itu membuat Vanya akhir-akhir ini mengalami gejala insomnia akut. Bahkan gadis itu sempat tidak tidur selama 2 hari 2 malam.
Tapi, gadis itu tetap menyimpan hal itu untuk dirinya sendiri. Karena pikirnya, sudah cukup dia merepotkan Rima dan Nisa.
Jadi, untuk hal ini, biarlah dia menyimpan semuanya untuk dirinya sendiri.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokonya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1