
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di saat Vanya sedang berkutat dengan pekerjaannya, terlihat seorang pria yang cukup gagah dan tampan datang menghampiri mejanya.
"Va.." Ucap pria itu.
Vanya lantas menoleh pada pria itu. "Ada apa kak Vin? Ada yang bisa di bantu?
Pria yang di panggil Vanya dengan sebuatn Vin itu menatap Vanya untuk sejenak.
"*Teach me how to operate CMD mode. Gua dah nyoba berkali-kali, tapi gagal terus."
*Note : Ajarin gua gimana caranya mengoperasikan mode CMD.
Vabya menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua lantas kembali ke meja pria yang di sebuat sebagai Vin itu.
Pict by : Bobby_II
Pria itu adalah Galvino Derendra. Atau kita sebut saja sebagai Vino.
Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, pria berusia 26 tahun dengan tinggi badan 180cm itu merupakan putra kedua dari Tomi Derendra.
Perlu kalian ketahui, sebenarnya, Pak Tomi adalah pemilik perusahaan terbesar di jakarta. Pak Tomi juga memiliki restoran yang sangat sukses di negara jepang.
Lantas, kenapa dia waktu itu menjabat sebagai seorang manager? Hal itu dia lakukan semata-mata hanya untuk menambah kesibukannya. Hal yang membuat dia berhenti dari jabatan managernya karena dia akan membuka cabang restoran baru di jepang.
Baiklah, sudah cukup penjelasannya tentang siapa pak Tomi sebenarnya, mari kita kembali ke Vino.
Vino merupakan pria yang memiliki kepribadian hampir sama persis dengan Haidar. Atau bahkan mungkin bisa di bilang lebih jika di bandingankan dengan Haidar.
Karena jika Haidar masih bisa menampilkan ekspresi di depan ayahnya, berbeda dengan Vino yang benar-benar tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Vanya bisa mengetahui hal itu karena dia sempat beberapa kali melihat Vino sedang melakukan percakapan dengan pak Tomi.
Selama beberapa waktu terakhir ini Vanya mengenal Vino, Vanya atau sia pun itu belum pernah melihat Vino menampilkan ekspresi selain poker face nya.
Pria itu benar-benar merupakan pria yang sangat dingin dan datar. Dinginnya mengalahkan gunung es, datarnya pun mengalahkan tembok.
Memikirkan hal itu, membuat Vanya merasa tidak mengerti lagi. Setelah Haidar pergi, kenapa dirinya kini harus berhadapan dengan orang yang memiliki seperti itu lagi.
__ADS_1
Karena ketika Vanya menghadapi kepribadian Vino yang seerti itu, benar-benar menbuat Vanya teringat akan sosok Haidar.
Karena sejujurnya, meskipun mulut dan pikirannya sudah tidak lagi membahas Haidar. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, Vanya masih memiliki sedikit rasa untuk Haidar.
Karena, oh ayolah.. Haidar merupakan pria pertama yang membuatnya jatuh cinta. Haidar merupakan pria pertama yang memperlakukannya selayaknya seorang wanita. Haidar juga merupakan pria pertama yang mengukir kenangan manis di hatinya. Membuat Vanya benar-benar sangat kesulitan untuk melupakan pria itu.
"Va?" Vino menepuk pelan bahu Vanya karena gadis itu sudah melamun selama hampir 5 menit.
"Ah, ya?" Vanya seketika menoleh pada Vino yang duduk di sampingnya dengan sedikit kikuk.
"Ini jadinya gimana?" Pria itu bertanya dengan ekspresi datarnya.
Hal itu membuat Vanya merasa sedikit bingung.. Pria itu kini sedang mengajukan pertanyaan? Atau sebuah pernyataan? Sama sekali tidak ada nada di setiap perkataan yang terucap dari mulutnya.
Karena meskipun Haidar juga merupakan pria yang sangat dingin, namun Haidar akan berubah menjadi pria yang hangat jika bersama dengan dirinya.
Jadi, ketika dia di hadapkan dengan pria yang bersikap dingin padanya, benar-benar membuat Vanya merasa sedikit enggan untuk menghadapinya.
Bukan karena dia tidak suka. Hanya saja, Vanya merasa bingung harus memberikan respon seperti apa.
"Ah iya, ini.. Setelah gua liat ulang, lu salah nyantumin kode. Ini harusnya *slash, bukan tanda tutup kurung." Vanya menunjukkan di mana letak kesalahan yang di lakukan oleh Vino menggunakan *cursor.
*- Note : Cursor adalah pointer atau penunjuk pada monitor komputer/laptop yg digerakkan menggunakan mouse.
*- Note : Slash adalah tanda baca yang berupa garis miring.
Vino pun menggeserkan kursinya.
Vanya lantas menempatkan diri di depan komputer milik Vino kemudian segera mengetikkan kode yang benar.
"Titik, 22 113 slash 44 titik 1 slash." Gumam Vanya kemudian menekan tombol enter.
"Jadi, sebelum tanda titik terakhir, yang harus lu cantumin itu tanda slash, bukan tutup kurung. Ngerti kan?" Vanya melirik Vino.
Vino mengangguk kecil.
"Yaudah, kalo gittu gua balik ke meja gua ya. Kalo ada apa-apa, tanyain lagi aja."
Vino kembali mengangguk kecil.
Vanya lantas beranjak dari duduknya, dia menggeret kursi yang kakinya di pasangi roda itu untuk dia kembalikan ke tempat semlula sebelum akhirnya kembali ke meja kerjanya.
Tanpa Vanya sadari, kalau dari semenjak dia beranjak dari duduknya, ada sepasang mata elang yang terus memperhatikannya. Siapa lagi jika bukan Vino.
Hingga ketika Vanya sedikit tersandung karena dia menoleh ke arah Winda yang menyebabkan dia tidak memperhatikan jalan dengan benar, Vino seketika saja menyunggingkan senyum tipisnya. Sangat tipis.. Hingga siapa pun tidak dapat meyadarinya.
__ADS_1
"Ceroboh.." Vino bergumam seraya kembali memfokuskan pandangan matanya ke layar komputer miliknya.
Namun, fikirannya tiba-tiba saja tertuju pada gadis yang baru saja mengajarinya mengoperasikan mode CMD. Ya, siapa lagi jika bukan Vanya. Gadis yang selama beberapa waktu terakhir ini di berikan tanggung jawab oleh ayahnya untuk membimbingnya dalam mengoperasikan sesuatu hal yang tidak dia pahami.
Sejujurnya, pada awalnya Vino merasa enggan jika orang yang membimbingnya adalah seorang gadis. Vino bahkan menolak keras perintah dari ayahnya itu.
Vino menolak perintah dari ayahnya itu karena sejauh dia mengenal para gadis, para gadis itu selalu memanfaatkan kesempatan yang ada untuk semakin dekat dengannya dengan cara selalu menggodanya.
Vino juga tidak menyukai perintah dari ayahnya itu karena setiap gadis yang dia temui, merupakan seorang gadis yang selalu berdandan berlebihan dan juga berpakaian seksi hanya demi untuk dekat dengan dirinya.
Tapi, setelah Pak Tomi mengancam Vino dengan tidak akan mengijinkan Vino untuk kembali ke jogja dan akan menutup segala akses miliknya. Membuat Vino akhirnya mau tidak mau menerima perintah dari ayahnya.
Awalnya, Vino berpikir kalau Vanya merupakan seorang gadis yang tidak jauh berbeda dengan para gadis yang lainnya. Membuat Vino sempat meremehkan gadis itu.
Namun, setelah dia bertemu secara langsung dengan Vanya. Semua yang ada di pikirannya tentang penampilan gadis itu tiba-tiba saja hilang entah kemana.
Dandanan yang sederhana, pakaian yang sepantasnya, benar-benar membuat Vino kehilangan ekspetasinya tentang penampilan gadis itu. Dari situ Vino berpikir, bahwa Vanya sedikit berbeda dengan para gadis yang di kenalnya.
Bahkan, ketika dia berbincang secara langsung dengan Vanya. Benar-benar membuat Vino sadar kalau gadis itu sangatlah berbeda dengan gadis yang selama ini di kenalnya.
Tidak ada tatapan memuja, tidak ada kata-kata manis, tidak ada tindakan-tindakan kemayu seperti gadis yang lainnya. Melainkan hanya ada tatapan datar, kata-kata singkat, dan sikap yang menunjukkan seolah gadis itu tidak berminat kepadanya.
Hal itu membuat Vino merasa sedikit nyaman berdekatan dengan Vanya. Tidak ada rasa keingin tahuan yang tinggi dari gadis itu yang di tunjukkan untuknya mengenai kehidupan pribadinya. Gadis itu hanya akan mengatakan hal yang di tanyakan oleh Vino. Gadis itu hanya akan menjelaskan apa yang tidak di mengerti oleh Vino. Gadis itu benar-benar hanya melakukan apa yang menjadi tugasnya.
Tapi, di lain sisi, Vino merasa penasaran pada Vanya. Apa gadis itu tidak tertarik padanya?
Rasa penasarannya itu membuat Vino merasa sedikit tidak percaya diri akan penampilannya selama ini. Apa kah dirinya kurang tampan? Apa dirinya kurang mempesona? Apa kah dirinya kurang berkharisma? Kenapa Vanya hanya menatapnya dengan tatapan datar seolah tidak berminat kepada dirinya?
Karena dari sekian banyaknya gadis yang bekerja di perusahaan ini, hanya Vanya satu-satunya gadis yang tidak menunjukkan ketertarikan padanya.
Ah, memikirkan hal itu terkadang membuat Vino merasa sedikit pusing.
Setelah mengenyahkan Vanya dari pikirannya, Vino pun kembali memfokuskan dirinya untuk mengerjakan apa yang menjadi tugasnya.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..