Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa waktu pun berlalu...


"Va, lu yakin ga papa?" Tanya Nisa.


Vanya menggelengkan kepalanya. "Ga papa Nis.. Yang udah ya udah aja si.. Terus mau gimana lagi?"


Nisa yang tengah berbaring terlentang pun sedikit beringsut untuk memiringkan tubuhnya agar menghadap ke arah Vanya. "Tapi Va, sejak kapan lu sadar tentang ujian kelulusan? Kok lu ga pernah bahas hal ini?" Gadis itu bertanya dengan di penuhi rasa penasaran.


Vanya yang tengah tidur terlentang pun menoleh pada Nisa kemudian mengedikkan bahunya. "Sejak gua sadar dari pingsan."


Ya, saat ini Vanya tengah berada di kediaman Rima. Setelah melewati perbincangan yang cukup panjang, Vanya pun akhirnya memutuskan untuk tinggal sementara waktu di kediaman Rima.


Awalnya, Haidar ingin agar Vanya tinggal di apartmentnya. Tapi, Vanya tidak ingin terlalu merepotkan Haidar. Terlebih lagi, Haidar kini tengah di sibukkan dengan urusan pekerjaan yang di berikan oleh Andi. Sehingga membuat Vanya merasa enggan jika harus terus merepotkan Haidar.


Dan ya, begitulah.. Haidar pun mau tidak mau akhirnya menyetujui permintaan Vanya untuk tinggal di kediaman milik Rima.


Saat ini, setelah menghabiskan makan malam, Vanya dan Nisa tengah berbaring di kamar milik Nisa.


Setelah memperhatikan mimik wajah Vanya untuk sejenak, Nisa lantas kembali bertanya. "Tapi kok lu kayak yang biasa aja?"


"Ya terus gua harus bereaksi kayak gimana? Gua harus ngamuk-ngamuk gitu? Atau marah-marah gitu?"


Nisa seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya ga gitu juga sih.."


"Yaudah, makanya. Di terima aja.. Toh mau ngajuin ujian susulan juga ga bisa kan."


Nisa lantas kembali tidur terlentang, dia menatap langit-langit kamarnya kemudian menganggukkan kepalanya. "He em sih, bener apa kata lu.. Terus, apa yang bakalan lu lakuin selanjutnya buat masa depan lu?"


Vanya juga menatap langit-langit kamar Nisa untuk sejenak kemudian berkata. "Entah.. Gua juga masih bingung soal itu." Gadis itu menghela nafasnya sejenak kemudian melanjutkan kalimatnya. "Jangankan mikirin hal itu, Nis. Mikirin alesan kenapa Winda bisa sampe ngelakuin hal ini ke gua aja, gua masih bingung."


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Vanya, sontak saja membuat Nisa duduk dengan gerakan yang sedikit tergesa kemudian menatap gadis itu lekat-lekat.


"Jadi, lu inget semua kejadian yang lu alamin di galeri waktu itu?" Nisa bertanya dengan dahi yang mengernyit bingung.

__ADS_1


Vanya menganggukkan kepalanya.


Nisa menatap Vanya dengan sedikit sanksi. "Terus, hypnotherapy yang kemaren lu jalanin itu gagal dong??"


Vanya kembali menganggukkan kepalanya.


"Waaaah.." Nisa kini menatap Vanya dengan wajah melongo tak percaya. "Serius Va?"


Vanya lagi-lagi menganggukkan kepalanya, gadis itu lantas menoleh pada Nisa. "Kenapa sih emangnya? Muka lu kok kayak gitu banget ngeliat gua nya."


"A ha ha.. Haa.. Haaa.. Ha ha.." Nisa tertawa garing. "Sia-sia dong berarti therapynya.."


Namun, Vanya hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya acuh.


"Berarti dari awal, lu sama sekali ga pernah ngelupain kejadian itu dong?"


Vanya menghela nafasnya kemudian berkata. "Sebenernya sih gua sempet lupa, tapi cuma bertahan selama 4 hari setelah gua balik dari RS. Gua juga ga tau kenapa, tiba-tiba aja keinget kejadian itu."


"Aaaahh.. Pantes aja waktu itu lu tiba-tiba jadi planga plongo ga jelas.. Ternyata gara-gara inget lagi kejadian yang waktu itu.."


Vanya seketika menatap Nisa dengan mata yang memicing tajam. "Tcih! Planga plongo pala lu!!" Gadis itu berkata seraya memukul Nisa menggunakan guling yang ada di sampingnya.


Vanya pun hanya menanggapinya dengan memutar bola matanya malas.


"Tapi lu ga papa kan Va?" Nisa kini menatap Vanya dengan sedikit khawatir.


Vanya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian berkata. "Gua baik-baik aja Nis.. Apa lagi yang bisa gua lakuin selain berdamai dengan keadaan. Bukannya dari dulu juga gua cuma bisa kayak gitu kan? Berdamai dengan keadaan.."


Nisa menghela nafasnya dengan sangat lelah. "Hemm.. Iya sih, bener apa kata lu.. Yang bisa di lakuin ya cuma berdamai dengan keadaan. Mau mutar waktu pun ga bisa. Ga ada lagi yang bisa di lakuin selain hal itu.."


"Hmm.." Vanya menganggukkan kepalanya.


"Eh va, mending lu ikut gua aja ke bali."


Vanya menatap Nisa dengan menaikkan sebelah alisnya. "Ngapain?"


"Ck, ya ngapain kek gitu.." Nisa mencebikkan bibirnya. "Kan lu kalo di sana bisa bantu-bantuin mamah buka resto. Dari pada di sini, belum tau kan lu harus ngelakuin apa.."


Ya, Nisa hendak melanjutkan pendidikannya di bali. Hal itu di sebabkan karena Rima yang akan memulai bisnis baru berupa sebuah restoran di provinsi yang terkenal dengan pulau dewatanya.

__ADS_1


Awalnya, Nisa tidak ingin mengikuti Rima karena dia tidak ingin meninggalkan Vanya sendiri di jogja. Namun, karena Rima yang tidak bisa tinggal jauh dari Nisa. Nisa pun akhirnya mau ikut bersama dengan Rima.


Rima pun sebenarnya sudah meminta Vanya untuk ikut bersama dengan mereka. Namun sayangnya, Vanya menolak hal itu. Gadis itu berpikir kalau lebih baik dia hidup mandiri tanpa bergantung pada siapa pun lagi.


Toh Vanya pun sekarang tidak sendiri, ada Haidar yang akan selalu menemaninya. Jadi, Rima dan Nisa pun hanya bisa menerima keputusan Vanya walaupun dengan sedikit berat hati.


Lantas, bagaiman dengan usaha laundry yang di miliki oleh Rima? Itu semua akan di kelola oleh orang kepercayaan Rima.


Sebenarnya, Rima ingin Vanya saja yang mengurus semua bisnis laundry yang di milikinya. Namun ya, begitulah.. Vanya tetaplah Vanya, gadis yang akan menolak bantuan materi dari Rima dalam bentuk apa pun itu.


Karena Vanya sudah tau betul. Jika Vanya yang mengurusi semua bisnis laundry yang di miliki oleh Rima. Wanita yang sudah di anggap sebagai ibu kandungnya itu pasti akan memberikan bayaran lebih dari yang seharusnya.


Oleh sebab itu, Vanya selalu menolak bantuan berupa materi dari Rima. Karena apa yang Rima berikan untuk Vanya selama ini, sudah lebih dari cukup. Jadi, Vanya tidak ingin selalu bergantung pada Rima dalam bentuk materi.


Yang Vanya inginkan dari Rima untuk saat ini hingga nanti bukan lah materi, tapi kasih sayang dan perhatian seorang ibu. Itu yang selalu Vanya katakan pada Rima ketika wanita itu hendak memberikan materi kepada Vanya.


"Beneran ga mau nih?" Nisa kembali bertanya dengan sedikit memelas.


"Udah ah, kita kan udah ngebahas hal ini kemaren.. Mending kita tidur.. Sini peluk gua, mumpung masih bisa tidur sambil pelukan." Vanya merentangkan tangannya meminta Nisa untuk masuk ke dalam pelukannya.


Nisa pun hanya bisa menghela nafasnya kemudian masuk ke dalam pelukan Vanya.


"Belum pisah aja, gua udah kangen sama lu.. Gimana kalo nanti kita beneran pisah." Rengek Nisa.


"Ck! Udah diem! Tidur!"


Nisa kembali menghela nafasnya kemudian mulai memejamkan matanya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2