
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Haidar pun menghela nafasnya untuk sejenak. "Apa yang lu liat itu cuma salah paham, Va.."
Vanya seketika menaikkan sebelah alisnya. "Cuma?"
"Ok gua ralat, itu kesalah pahaman.." Sahut Haidar cepat.
Vanya lantas bersedekap dada seraya memalingkan wajahnya untuk menatap pemandangan luar melalui jendela kaca, menyimak apa yang akan Haidar katakan selanjutnya.
"Khem.." Haidar berdehem kecil lalu mulai memberikan penjelasan kepada Vanya. "Dengerin gua baik-baik. Gua ga mungkin ngelakuin hal itu, Va.. Ya ok, gua akuin di sini gua juga salah gara-gara kecolongan. Tapi demi Tuhan, gua sama sekali ga ada niat buat ngelakuin hal itu. Jangankan niat, kepikiran buat ngelakuin hal itu aja engga, Va."
Vanya lantas menghela nafasnya untuk sejenak. "Gua ga tau harus ngasih respon kaya gimana." Gadis itu berkata tanpa menatap Haidar.
Namun, saat Haidar hendak menyahuti perkataan Vanya. Dia harus menelan kembali kalimatnya tat kala si gadis berambut ikal datang dengan membawa pesanan mereka.
"1 minuman special buat Vanya, 1 kopi item buat cowoknya Vanya." Gadis itu meletakkan pesanan mereka di atas meja.
Vanya pun melirik gadis itu sekilas. "Thanks.."
"Okay, selamat menikmati.." Gadis itu pun kembali berlalu pergi dari sana.
Entah kenapa, tepat setelah si gadis ikal berlalu pergi, Haidar tiba-tiba saja merasakan hawa dingin yang begitu menusuk ke dalam dirinya. Yang mana, hal itu benar-benar membuat Haidar merasa canggung setengah mati.
Haidar lantas memilih untuk meneguk kopinya kemudian menatap Vanya yang masih enggan untuk menatapnya.
"Va.. Lu harus percaya sama gua.." Ucap Haidar setelah mereka melewati keheningan untuk beberapa saat.
"Apa yang bisa bikin gua percaya sama lu?" Sahut Vanya cepat.
"Gua bakal buktiin kalo gua emang ga salah.."
Vanya seketika menyunggingkan senyum simpulnya. Gadis itu menyalakan ponselnya seraya berkata. "Mau buktiin pake apa? Nyuruh Wulan buat ngaku kalo emang dia yang nyium lu duluan?"
Haidar terdiam untuk beberapa saat. "Kalo emang itu yang lu mau.. Gua bakalan ngelakuin hal itu, gua bak.."
Haidar seketika menghentikan kalimatnya tat kala Vanya meletakkan ponselnya di depan Haidar.
"Apa ini?" Tanya Haidar dengan sedikit bingung.
"Baca." Ucap Vanya dengan acuh tak acuh.
__ADS_1
Haidar lantas membaca isi pesan dari Wulan.
(Tadinya kakak ga mau wa kamu, cuma kayaknya kakak harus bilang ini ke kamu. Seriusan Va, kakak niatnya pengen ngilangin perasaan kakak ke Haidar. Tapi ga tau kenapa pas di parkiran, Haidar tiba-tiba aja narik kakak terus nyium kakak gitu aja.. Kakak juga ga tau maksudnya Haidar apa.. Maafin kakak ya Va.. Kakak ga ada maksud buat nyakitin perasaan kamu.. Kakak beneran ga tau apa-apa.)
Setelah membaca pesan teks dari Wulan, seketika membuat Haidar mengembangkan senyum tidak percayanya. Dia tidak menyangka jika Wulan akan bertindak sejauh ini.
"Terus lu percaya gitu aja sama apa yang cewek gila itu bilang ke elu?" Tanya Haidar kemudian.
Vanya mengedikkan bahunya. "Gua ga tau harus percaya sama siapa. Toh juga ga ada bukti rekaman atau saksi mata yang ngeliat kelakuan kalian.. Jadi gua ga tau harus percaya sama siapa.."
Haidar seketika terdiam membisu. Tangan kanan pria itu terangkat untuk memijat pangkal hidungnya yang terasa sedikit kaku, dia benar-benar tidak tau harus berkata apa lagi untuk meyakinkan Vanya.
Namun, Haidar tiba-tiba saja menatap Vanya saat teringat akan kata 'rekaman' yang sebelumnya Vanya ucapkan.
"Kamera dashboard.. Gua bisa ngebuktiin hal itu lewat kamera dashboard." Haidar berkata cepat.
Vanya yang mendengar hal itu lantas menatap Haidar dengan menaikkan sebelah alisnya.
Tanpa menunggu tanggapan dari Vanya, Haidar segera menelpon salah satu pegawai Andi yang ada di rumahnya untuk mengirimkan rekaman kamera dashboardnya pada saat hari kejadian.
Vanya yang melihat hal itu pun hanya bisa menghela nafasnya, gadis itu lantas kembali bersedekap dada seraya menatap tajam pada Haidar yang tengah berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Ketahuilah, gadis itu diam-diam mengulum senyumnya karena rasa percayanya terhadap Haidar tidaklah berakhir dengan sia-sia.
Karena ya.. Sejujurnya, dari awal Vanya sangat mempercayai Haidar. Hanya saja, Vanya ingin melihat, sejauh apa Haidar bisa mempertahankan kepercayaan yang Vanya berikan kepadanya.
Toh waktu itu juga Vanya tidak tau pasti tentang situasi yang sebenarnya terjadi. Jadi, Vanya ingin mendapatkan bukti yang bisa meyakinkan tentang kepercayaan yang di berikannya untuk Haidar.
"Buktinya," ucap Haidar seraya memberikan ponselnya pada Vanya.
Vanya pun menerima ponsel Haidar lalu menonton video rekaman kamera dashboard itu.
"Okay.." Ucap Vanya dengan acuh tak acuh seraya meletakkan ponsel Haidar di atas meja.
Melihat reaksi Vanya yang seperti itu seketika membuat Haidar menatap Vanya dengan sedikit melongo tidak percaya. "Okay? Udah, gitu doang?"
Vanya mengangkat bahunya acuh, gadis itu memalingkan wajah seraya mengulum senyumnya.
"Ga ada respon lain selain 'Okay'?" Haidar tidak menyadari senyum kecil yang mengembang di bibir Vanya.
"Khem.." Vanya kembali menampilkan ekspresi datarnya kemudian menatap Haidar dengan acuh tak acuh. "Terus harus gimana? Yang udah ya udah aja.."
Haidar pun hanya bisa menyunggingkan senyum simpulnya. "Tapi lu udah maafin gua kan?"
"Hmm.." Vanya menganggukkan kepalanya. "Tapi gua masih kesel sama lu.."
"Ga papa, yang penting lu udh maafin gua.."
__ADS_1
Vanya lagi-lagi hanya mengangkat bahunya acuh seraya kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca.
Haidar yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafasnya dengan sedikit pasrah. Karena ya.. Haidar pun mengerti kenapa Vanya masih merasa kesal kepadanya.
"Jadi gimana? Kita udah baikan kan?" Tanya Haidar kemudian.
"Hmmm.." Vanya mengangguk kecil.
"Kalo gitu, kita pulang ya.."
Vanya terlihat berpikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. Gadis itu lantas beranjak dari duduknya kemudian melangkah menuju kasir.
Haidar pun ikut beranjak dari duduknya kemudian menyusul Vanya.
"Ca, tulis dulu ya.. Besok gua bayar, dompet gua di bawah.. Males naik turun.." Vanya berkata pada Caca, gadis yang bertugas untuk menjaga kasir.
Caca pun tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Kalem, kaya sama siapa aja.."
Namun, Haidar segera meletakkan selembar uang 100 ribu di atas meja. "Ga usah, bayar sekarang aja.. Kembaliannya ambil aja.." Pria itu berkata kemudian menarik tangan Vanya agar segera berlalu pergi dari sana.
"Thank youuuu.." Teriak Caca.
Setibanya di bawah, Vanya meminta Haidar untuk menunggu di dekat pintu sementara Vanya mengambil barang-barangnya.
"Loh, ga jadi latihan Va?" Ayas bertanya saat melihat Vanya membawa barang-barangnya.
"Minggu depan aja." Sahut Vanya kemudian berlalu pergi dari sana.
"Udah?" Tanya Haidar.
Vanya menganggukkan kepalanya.
Mereka pun segera berlalu pergi dari sana dengan membawa mobil mereka masing-masing.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..